PTS SD Teknik Bedah Soal Untuk Rekonstruksi Struktur Kognitif Siswa

TEKNIK BEDAH SOAL UNTUK REKONSTRUKSI STRUKTUR KOGNITIF SISWA DALAM PENANAMAN KONSEP MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

sumedi

LATAR BELAKANG

Keberhasilan siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran (subject natter) terletak pada kemampuan pebelajar mengelola belajar (management of learning), kondisi belajar (condition of learning), dan membangun struktur kognitifnya pada bangunan pengetahuan awal (prior knowledge) serta mempresentasikannya kembali secara benar (Mariana Made Alit, 2003:2).

Pengelolaan belajar dan kondisi belajar seseorang mempengaruhi proses membangun pengetahuan di dalam struktur kognitifnya. Pembangunan pengetahuan pada struktur kognitif siswa, baik secara superordinat maupun secara subordinat (Piaget, 1980 : 35), membentuk suatu peta konsep dengan hirarkis dan hubungan antarkonsep secara bermakna (Novak, 1985 : 23) bergantung pada kesiapan dan kemampuan seseorang untuk membangunnya.

Untuk dapat menginternalisasikan informasi baru yang dipelajari siswa sehingga dapat mempresentasikannya ke dalam suatu bangunan baru dan/atau informasi yang telah diasimilasikan dengan pengetahuan awal siswa, diperlukan alur pemrosesan informasi. Pemrosesan informasi dapat dimulai dari reseptor informasi dari luar siswa, kemudian masuk ke register penerimaan, pengkodean pada memori jangka pendek (Short Term Memory), dimasukkan ke dalam memori jangka panjang (Long Term Memory) (Mariana Made Alit, 2003 : 2).

Sebuah informasi baru yang akan diinternalisasikan ke dalam struktur kognitif siswa, memerlukan pengetahuan awal sebagai bangunan dasar struktur kognitif siswa. Pengetahuan awal atau konsep dasar yang belum tertanam dengan baik pada struktur kognitif siswa, akan mengakibatkan gagalnya internalisasi konsep-konsep baru, karena adanya kekacauan dalam register penginderaan yang mengakibatkan masuknya informasi ke dalam memori jangka pendek dan memori jangka panjang tidak terjadi dengan baik.

Kekacauan dalam register penginderaan itulah yang menyebabkan lemahnya konsep dasar di dalam struktur kognitif siswa, sehingga konsep baru yang hendak ditanamkan tidak mampu tertangkap oleh struktur kognitif siswa.

Kelemahan konsep dasar pada struktur kognitif siswa dapat dicurigai terdapat pada mata pelajaran dengan nilai rata-rata ujian relatif rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Dari sembilan (9) mata pelajaran yang ada di sekolah dasar, matematika menempati ranking terbawah pada nilai rata-ratanya. Sampai saat ini para ahli hanya sedikit sekali mengetahui sebab-sebab kegagalan dalam mata pelajaran matematika.

Mengapa “ Suatu kelompok pelajar yang cukup cerdas dan bahkan dalam mata pelajaran lain dapat membuktikan hasil yang baik sekali, dalam pelajaran matematika banyak atau sedikit, secara sistematis menemui kegagalan ? “ (Piaget, 1974 : 2).

Di samping itu, matematika yang bagi sebagian orang merupakan suatu kesenangan mental yang mengandung sifat ilmiah, suatu kunci guna memahami gejala-gejala alam, teknik, dan masyarakat; justru bagi banyak orang lain merupakan beban berat yang terkunci dengan tujuh segel, yang dihadapi tanpa ada hubungan atau pengertian sedikitpun (Hermann Maier, 1995 : 1).

Pernyataan Hermann Maier di atas menunjukkan adanya keganjilan dalam struktur kognitif siswa mengenai konsep-konsep dasar matematika. Lemahnya daya serap yang diakibatkan oleh rendahnya penguasaan konsep dasar matematika menjadi sebuah tanda tanya besar. Mengapa suatu konsep yang diajarkan secara terprogram, terarah, sistematis dan berjenjang tidak mampu terserap oleh siswa dengan baik ? Padahal setiap konsep matematika yang dipelajari pada jenjang kelas lebih awal merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebagai dasar mempelajari konsep matematika yang lebih kompleks. Di manakah letak kelemahan utama sehingga tercipta masalah ini ? Apakah yang selama ini telah kita lakukan dengan pembelajaran matematika ? Berbagai pertanyaan tersebut hanya menjadi retorika yang belum pernah tertangani dengan baik hingga saat ini. Untuk menutup kelemahan penguasaan matematika, perlu dilakukan penanganan yang komprehensif dan holistik. Penanganan tersebut dapat dilakukan dengan analisis soal matematika dan analisis faktor-faktor penyebabnya dalam kerangka pembelajaran remedial.

Teknik analisis soal matematika dilakukan dengan melakukan analisis terhadap beberapa soal kompleks dengan daya nalar dan tingkat kesukaran tinggi. Hasil urai soal tersebut menjadi acuan untuk merenovasi bangunan dasar konsep matematika siswa yang membutuhkan program remedial.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam menyusun rencana penanganan di antaranya: 1) Mempertimbangkan sifat objektif matematika yang abstrak; 2) Memperhatikan lemahnya kemampuan prasyarat yang dimiliki siswa sebelum mempelajari kompetensi selanjutnya; 3) Mencermati tingkat kesulitan, bobot materi, dan alokasi waktu mata pelajaran matematika; 4) Mencermati perlunya pengawasan proses pembelajaran matematika secara individual dan pemeriksaan hasilnya; dan 5) Perlunya inovasi teknik-teknik tertentu dalam pembelajaran matematika.

KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Matematika secara harfiah berasal dari bahasa Yunani, Mathema atau Matheis yang berarti: ajaran, pengetahuan, ilmu pengetahuan. Oleh Hasan Shadily dalam ensiklopedia Indonesia, matematika didefinisikan sebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua, terbentuk dari penelitian bilangan dan ruangan.

Matematika berkembang sebagai pengetahuan abstrak deduktif, di mana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman keindraan tetapi atas dasar kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah tertentu melalui deduksi.

Selain definisi, matematika memiliki pengertian-pengertian khusus tertentu yang kemudian diterima sebagai kebenaran. Pernyataan-pernyataan itu disebut aksioma dan dengan cara deduksi diperoleh pernyataan-pernyataan lain yang dapat dibuktikan, yakni yang disebut teorema.

Teorema merupakan dasar untuk teori. Sebagai ilmu yang berdasar pada logika tertulis, matematika dikenal sebagai induk ilmu pengetahuan, karena matematika merupakan ilmu yang sering diaplikasikan ke dalam ilmu-ilmu lain.

Sebagai ilmu pengetahuan, matematika merupakan mata pelajaran yang telah diajarkan kepada siswa sejak abad pertengahan (Hermann Maier, 1995=17). Saat itu ilmu hitung (aritmatika) dan ilmu ukur (geometri) diajarkan di sekolah lanjutan. Sedangkan di sekolah dasar telah diajarkan ilmu hitung dagang khusus. Matematika secara garis besar terbagi menjadi 3 cabang, yaitu matematika murni, terapan, dan matematika modern.

Matematika sebagai salah satu ilmu murni (basic of science) di masa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada masa kini matematika merupakan salah satu mata pelajaran inti yang menguasai 15-20 % dari seluruh waktu pelajaran. Tidak heran apabila dasar-dasar berhitung sederhana sudah mulai diajarkan pada usia prasekolah. Oleh karena itu, matematika sekolah yaitu matematika yang diajarkan di sekolah, khususnya pada jenjang pendidikan dasar, harus selalu mempertimbangkan perkembangan-perkembangan tersebut. Dalam menyusun kurikulum matematika sekolah, pengalaman masa lalu dan kemungkinan masa depan harus menjadi bahan acuan dan pertimbangan.

Di dalam kurikulum pendidikan dasar disebutkan bahwa tujuan umum diajarkan mata pelajaran matematika adalah : mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif.

Sejalan dengan tujuan umum pada kurikulum pendidikan dasar tersebut, matematika berfungsi menumbuhkembangkan kemampuan bernalar, yaitu berpikir sistematis, logis dan kritis dalam mengkomunikasikan gagasan atau dalam pemecahan masalah. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antarkonsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian, materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika.

Dalam pembelajaran, sebuah konsep sering muncul sebagai pengalaman atau intuisi, atau pengalaman peristiwa nyata (yaitu pemahaman konsep sering diawali secara induktif), walaupun kebenarannya tetap harus dibuktikan secara deduktif. Penalaran induktif didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu, tetapi perkiraan ini tetap harus dibuktikan secara deduktif dalam argumen yang konsisten. Cara belajar secara deduktif dan induktif digunakan dan sama-sama berperan penting dalam matematika. Dari cara kerja matematika tersebut diharapkan akan membentuk sikap siswa yang kritis, kreatif, jujur, dan komunikatif.

REKONSTRUKSI STRUKTUR KOGNITIF SISWA

Karakteristik mata pelajaran matematika yang tersusun secara spiral, yaitu diawali dari hal-hal konkret ke yang abstrak dan dari fakta-fakta ke simbolisasi, memerlukan strategi pembelajaran tertentu. Penanaman konsep-konsep matematika harus dilakukan dengan Teknik Naik Tangga. Konsep yang telah dipelajari lebih dulu, akan menjadi anak tangga pertama sebagai prasyarat sebelum mempelajari konsep kedua. Konsep kedua yang telah mejadi bagian struktur kognitif siswa menjadi prasyarat untuk mempelajari konsep ketiga. Konsep keempat, kelima, keenam dan seterusnya ditanamkan dengan pola pembelajaran yang sama.

Setiap konsep matematika harus tertanam pada struktur kognitif siswa tanpa terputus. Purtusnya mata rantai pemahaman konsep matematika (missing link) berakibat pada tumpulnya kreativitas siswa menemukan jawaban sebuah soal matematika yang kompleks. Bahkan pada tataran tertentu bisa menghapus memori konsep karena terjadinya kebuntuan berpikir (blank memory).

Secara empiris, kasus ini banyak ditemukan pada siswa-siswa sekolah dasar di daerah pinggiran atau pedesaan. Hal ini terjadi karena masih rendahnya tingkat pendidikan orang tua yang berdampak pada rendahnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak. Mereka terkadang tidak menyadari atau bahkan tidak mengerti bahwa anak mengalami kesulitan tentang materi pelajaran matematika. Mereka hanya tahu tentang nilai matematika anaknya yang rendah, tetapi tidak mengerti mengapa hal tersebut terjadi.

Di samping itu, peran guru sebagai pembimbing siswa dalam memecahkan masalah-masalah belajar, belum optimal. Hal ini berkaitan dengan beban kerja guru yang berat, baik menyangkut tuntutan kurikulum, administrasi maupun tugas pokok dan fungsi guru lainnya. Namun betapapun berat tugas yang harus dihadapi, seorang guru yang profesional akan berusaha untuk mencari jawaban terhadap masalah-masalah belajar yang dialami siswanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan suatu tes diagnostik untuk menemukan hal-hal yang menjadi penyebab munculnya masalah belajar pada siswa.

Di sisi lain, masih banyak guru yang tidak menyadari bahwa beberapa siswanya mengalami missing link atau blank memory suatu unit konsep atau kehilangan satu dua anak tangga yang akan digunakan untuk memanjat pada anak tangga berikutnya. Satu atau beberapa konsep matematika yang hilang atau belum tertangkap dalam struktur kognitif siswa, akan menempatkan siswa pada situasi kebuntuan berpikir.

Konsep-konsep matematika yang tidak terekam dengan baik dalam struktur kognitif siswa, sedikit banyak disebabkan oleh: 1) Ketidaksiapan menerima konsep baru karena belum tertanamnya konsep yang menjadi prasyarat pada struktur kognitifnya; 2) Siswa belum mencapai masa peka untuk menerima konsep matematika tertentu; 3) Kondisi internal individu pada siswa saat itu; 4) Kematangan pribadi guru dan kondisi psikologisnya; 5) Pola pembelajaran atau teknik penanaman konsep yang dipilih guru; 6) Kondisi sarana prasarana yang dibutuhkan dalam penanaman konsep; dan 7) Siswa yang mengalami putus mata rantai konsep dan kebuntuan berpikir matematika, harus segera ditolong dengan cara menyusun kembali struktur kognitif siswa, yaitu memperkuat konsep yang lemah dan menemukan kembali konsep yang hilang. Penanaman kembali konsep matematika yang hilang dilakukan secara urut dan sistematis, dimulai dari konsep yang sederhana hingga konsep yang kompleks.

TEKNIK BEDAH SOAL

Konsep matematika yang belum tertanam dengan baik pada struktur kognitif siswa dapat kita ketahui melalui langkah-langkah berikut ini, setelah selesai ulangan harian atau ulangan semester, khususnya pada mata pelajaran matematika, guru melakukan kegiatan:

  1. Menganalisis soal

Analisis tersebut menyangkut format soal, tingkat kesulitan setiap soal, dan jumlah siswa yang daya serapnya di bawah 75 % maupun yang daya serapnya lebih dari 75 %, mendapat perlakuan masing-masing.

  1. Melakukan sortir soal

Sortir soal dilakukan dengan mengambil soal-soal kategori sulit sesuai hasil analisis, untuk dibedah.

  1. Membedah soal

Soal yang mengandung kompleksitas berpikir dan membutuhkan keterampilan tinggi dalam penyelesaiannya, dibedah dengan cara mengurai soal langkah demi langkah penyelesaiannya dalam pembahasan. Urai soal dilakukan untuk menemukan konsep prasyarat yang menjadi pijakan awal berpikir siswa dalam menyelesaikan soal. Konsep tersebut diimplementasikan dengan menyusun pembahasan soal secara urut dari pemahaman terendah sampai tertinggi.

  1. Menyusun secara sistematis urut-urutan penyelesaian soal dengan menambahkan catatan tentang prasyarat-prasyarat apa yang terlebih dulu harus diajarkan kembali pada siswa.
  2. Melakukan rekonstruksi struktur kognitif siswa dengan langkah-langkah: a) Menanamkan kembali konsep-konsep yang menjadi prasyarat pada setiap soal yang bersifat kompleks; b) Menjelaskan kembali cara penyelesaian soal secara sistematis; c) Menugasi siswa untuk mengerjakan kembali soal-soal dengan kategori kompleks tersebut; dan d) Menilai dan menganalisis hasilnya

Selanjutnya guru menyusun urutan soal-soal tes yang telah dibedah. Penyusunan urutan soal ini diperoleh dari prosentase siswa yang salah mengerjakan soal. Soal tersebut disusun urut dari soal yang paling sederhana sampai dengan yang tergolong kompleks dan membutuhkan daya nalar/keterampilan tinggi dalam penyelesaiannya.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tersebut pada akhirnya akan membantu siswa menyusun kembali konsep-konsep matematika yang hilang atau belum tertanam dengan baik pada struktur kognitifnya.

SIMPULAN

Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut  :

  1. Rendahnya rata-rata nilai ujian pada mata pelajaran matematika menunjukkan adanya permasalahan pada mata pelajaran ini.
  2. Kegagalan siswa pada mata pelajaran matematika utamanya disebabkan karena belum tertanamnya dengan baik konsep-konsep dasar matematika yang menjadi prasyarat untuk mempelajari konsep-konsep berikutnya.
  3. Perlu dilakukan rekonstruksi struktur kognitif siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika.
  4. Teknik analisis soal dapat dilakukan untuk menata kembali konsep-konsep dasar matematika yang hilang atau belum tertanam dengan baik di dalam struktur kognitif siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Afidun, dkk. 1986. Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar. Solo : Harapan Masa.

Dedy Junaedi, dkk. 1999. Penuntun Belajar Matematika untuk SLTP. Bandung : Mizan Pustaka.

Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 yang disempurnakan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Maier, Hermann : 1995. Kompendium Didaktik Matematika. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mariana, Made Alit. 2003. Pembelajaran Remedial. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Ischak, S.W, dkk. 1987. Program Remedial dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta : Liberty.

Shadily, Hasan. 1992. Ensiklopedia Indonesia. Jakarta : Ichtiar Baru – Van Hoeve.

Sudjatmiko. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Sukarman, Herry. 2003. Dasar-Dasar Didaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

BIODATA PENULISA

Nama              : Sumedi,S.Pd.

NIP                 : 19690503 199303 1 012

Pangkat/Gol    : Pembina , IV a

Unit Kerja       : SDN Jambusari 03, Jeruklegi, Cilacap


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *