MENDALAMI TEORI WAHDATUL WUJUD IBNU AL-ARABI

PENDAHULUAN

Tasawuf adalah kajian pendekatan menuju pada Tuhan. Ibnu al-`Arabi merupakan tokoh tasawuf yang fundamental dalam sejarah peradaban sejarah Islam. Ibnu Arabi merupakan seorang filusuf yang juga seorang sufi. Pemikiran-pemikiran spiritualis kelahiran Spanyol ini sering kali menghentak-hentak kesadaran dan kemampuan. Terlebih tema-tema yang diusung sering kali menyangkut hakikat dan makna hidup, yang juga menjadi perhatian dan problem manusia dari zaman ke zaman, yang tak akan pernah berhenti.

Membahas tentang Ibnu al-`Arabi sang tokoh tasawuf dengan teori wahdat al-wujud yang dikemukakannya, menuai reaksi dari berbagai pandangan yang kontroversial, yaitu adanya pandangan yang menerima dan pandangan yang menolak. Pandangan yang menerima adalah mereka kaum penganut teori wahdatul wujud itu sendiri karena istilah wahdatul wujud menurut mereka mengandung pengertian yang positif, lebih dari itu istilah wahdat al-wujud bagi mereka adalah bersinonim dengan tauhid. Sedangkan pandangan yang menolak adalah para fuqoha, mereka mengecam doktrin wahdatul wujud berkonotasi negatif, yang diberi label kufr, zandaqoh, dan bid`ah.

Ketika membahas tentang teori wihdatul al-wujud, maka ada beberapa tokoh Islam yang melahirkan sebuah konsep-konsep baru yang berbeda antara satu dengan lainnya yang menyerupai teori wihdatul al-wujud, seperti kesatuan wujud yang mutlak yaitu teori dari Ibnu Saba`in, paham ini berpendapat bahwa segala apa saja tidak terbuktikan kecuali wujud allah semata.  Seperti pula manunggaling kawulo gustinya Syeh Siti Jenar dan statmen Ana Al-Haqqnya al-Hallaj.

Dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan teori wahdatul wujud yang dicetuskan oleh Ibnu al-`Arabi, menurut beliau bahwa realitas wujud ini hakikatnya tunggal, namun sebelum memaparkan, penulis akan memperkenalkan Ibnu al-`Arabi melalui biografi dan karya-karyanya.

PERMASALAHAN

Bagaimanakah teori-teori dan pemahaman wahdat al-wujud Ibnu Arabi?

PEMBAHASAN

Biografi Ibnu Al-`Arabi

Menurut Harun Nasution (1995)  nama lengkap Ibnu  al-`Arabi adalah Muhammad Ibnu `Ali ibnu Muhammad ibn al-`Arabi al-Tha`i al-Haitami, seorang sufi termasyhur dari Andalusia. Ia lahir  pada tanggal 17 Ramadhan 560 H, bertepatan dengan tanggal 28 Juli 1165 M di Mursia, Spanyol bagian Tenggara. Pada waktu kelahirannya, Mursia diperintahkan oleh Muhammad Ibnu Sa`ad Ibnu Mardanisy. Ia keturunan dari keluarga yang shaleh. Ayah dan kedua pamannya termasuk golongan sufi. Pada tahun 568 H/1172 M, keluarganya terpaksa pindah ke Selvia karena situasi politik memburuk di Mursia. Di Saville ini, ia dibimbing oleh ayahnya, dengan tekun mempelajari ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadits, fiqih, theology dan tasawuf pada sejumlah ulama. Ibnu Arabi memang memiliki latar belakang pengetahuan filsafat dari guru-gurunya. Maka tidak aneh jika Ibnu Arabi berfilsafat ketika melakukan pendekatan tasawuf. Menurut Shamad (2012) “di antara pemikiran-pemikiran Ibnu Arabi adalah sebagai berikut: Wihdatu al-Wujud, Wihdatu al-adyan, Epistemologi dan Teori manifestasi”. Pemahaman Wahdatul al-wujud (penyatuan wujud) yang mengundang pro dan kontra dan sangat berpengaruh bagi tokoh-tokoh tasawuf falsafi setelahnya.

Keberasilan Ibnu al-`Arabi dalam pendidikannya mengantarkan sebagai sekretaris Gubernur Seville. Pada periode itu ia menikahi seorang wanita muda yang saleh bernama Maryam. Ia memasuki jalan sufi (tarekat) secara formal pada tahun 580 H / 1198 M, saat berusia 20 tahun . Selama menetap di Seville, Ibnu al-`Arabi ketika masih muda sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika. Pada tahun 595 H. / 1198 M, berjumpa dengan Ibnu Rusyd di Kordova. Percakapannya dengan filosuf besar ini membuktikan kecemerlangannya yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual. Pada usia 30 tahun menurut perhitungan tahun lunar, atau 28 tahun menurut perhitungan tahun solar, yakni pada tahun 590 H / 1193 M. Ibnu al-`Arabi mengadakan perjalanan keluar semenanjung Iberia. Pada tahun ini beliau berkunjung ke Tunis di sana ia belajar Khal al-Na`lyn (melepas kedua sandal) kepada Ibnu Qasi (pemimpin sufi), Beliau juga mengunjungi  Abdul al-Aziz al-Mahdawi. Pada tahun 591 H / 1194 M, berkunjung ke Fez, di sana pada tahun 594 H / 1197 – 1198 M. Beliau menulis Kitab al-Isra`, Pada tahun 595 H / 1199 M, berada di Kordova menghadiri pemakaman Ibnu Rusyd. Pada tahun yang sama ia pindah ke Almeria, tempat ia menulis Mawaqi al-Nujum. Pada tahun 598 H / 1201 M. ia kembali ke Tunis. Demikian fase pertama perjalanan Ibnu al-`Arabi.

Pada fase kedua berlangsung sejak tahun 598 H / 1201 M sampai 620 H / 1223 M. Padas fase kedua ini melakukan pengembaraan ke berbagai tempat di Timur Dekat. Ibn al-`arabi sampai di Mekkah di penghujung tahun 598 H / pertengahan 1202 M. Mekkah menurut Ibnu al-`Arabi bukan tempat melakukan ibadah haji, tawaf di sekitar Ka`bah dan ibadah-ibadah lain. Tetapi Mekkah baginya merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas kehidupan mistiknya. Selama menetap di Mekkah Ibnu al-`Arabi mempergunakan banyak waktu untuk belajar dan menulis, pada masa itu ia mulai menulis karya ensiklopedi monumentalnya al-Futuhat al-Makiyyah.

Dari tahun 601 H / 1207 M, kota-kota yang dikunjungi oleh ibnu al-`Arabi ialah; Madinah , Yerusalem, Baghdad, Mosul, Konya, Damascus, Herbon, dan Kairo. Pada tempat ini pada umumnya ia tinggal tidak lama di kota-kota yang dikunjunginya kecuali di Kairo dan di Mosul masing-masing selama 1 tahun. Kemudian ia ke Konya atau Quniyah pada tahun, 607 H / 1210 M. Dari  Kunya meneruskan perjalanannya ke arah timur menuju Armenia dan ke arah selatan menuju lembah Eufrat dan sampai di Baghdad tahun 608 H / 1211 M. di Baghdad ia bertemu dengan sorang sufi yang terkenal yaitu Syihab al-Din `Umar al-Suhrawardi.

Ahirnya Ibnu al-`Arabi memutuskan menetap di Damaskus sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada 22 Robiul Tsani 638 H / November 1240 M di Damaskus. Ia dimakamkan di Salihiyyah, di kaki bukit Qasiyun di bagian utara kota Damaskus. Demikian sekilas sejarah singkat perjalanan sang sufi sekaligus seorang filosuf muslim yang cukup dikenal di dunia Islam.

Karya-Karya Ibnu Al-`Arabi

Di antara pemikir muslim, Ibnu al-`Arabi adalah salah seorang penulis yang produktif, jumlah yang pasti karya-karyanya tidak diketahui. Menurut C. Brockelmann karya Ibnu al-`Arabi tidak kurang dari 239 karya. Karya-karya itu sangat beragam ukuran dan isinya; dari uraian-uraian pendek dan surat-surat yang hanya terdiri dari beberapa halaman sampai karya ensiklopedik besar, dari risalah-risalah metafisis yang abstrak sampai puisi-puisi sufi yang mengandung aspek kesadaran ma`rifah yang muncul dalam bahasa cinta. Pokok persoalan dalam karya-karyanya juga bervariasi secara luas, yang mencakup metafisika, kosmologi, psikologi, tafsir al-Qur`an dan hampir setiap lapangan pengetahuan lain, yang semuanya didekati dengan tujuan menjelaskan makna estetiknya.

Dua karya Ibnu al-`Arabi yang paling penting dan paling masyhur yaitu, pertama Kitab al-Futuhat al-Makkiyah fi Ma`rifatal-al-Asrar al-Malikiyah wa al-Mulkiyah terdiri dari 560 bab dan yang kedua adalah fusus al-Hikam.

  1. Insya` al-Dawa`ir
  2. `Uqlat al-Mustawfiz
  3. Al-Tabirat al-Ilahiyyah
  4. Kitab al-Fana` fi al-Musyahadah
  5. Kitab al-Isra`
  6. Risalah fi Su`al Isma`il Ibnu Sawdakin
  7. Risalah ila al-Imam Fakhr al-Din al-Razi
  8. Kitab al-Wasaya
  9. Kitab Hilyat al-Abdal
  10. Kitab al-Naqsy al-Fusus
  11. Kitab al-Wasiyyah
  12. Kitab Istilahat al-Sufiyyah
  13. Dzakha `ir al-Alaq
  14. Al-Durrat al-Fakhirah
  15. Misyikat al-Anwar
  16. Mahiyyat al-Qalb
  17. Anqa` Mughrib
  18. Al-Ittiha al-Kawni fi Hadrat al-Isyhad al-Ayni.
  19. Isyarat Qur`an
  20. Al-Insan al-Kulli.
  21. Bulghat al-Ghawwas.
  22. Taj al-Rasa`il
  23. Kitab al-Khalwah
  24. Syarh al-Na`layn
  25. Ma`rifat al-Kanz al-Azim
  26. Mir`at al-`Arifin
  27. Mafatih al-Ghayb. Dll.

Teori Wahdat Al-Wujud Ibnu Al-`Arabi.

Berikut beberapa pemikiran Ibnu al-`Arabi tentang wahdatul wujud, masalah yang terkait dengan ini secara tertib, yaitu:

Wujud

         Untuk memperoleh pemahaman tentang wahdatul wujud secara lengkap, maka penulis akan terlebih dahulu menguraikan tentang definisi wihdatul wujud menurut beberapa ahli. Di antaranya adalah menurut Mochtar Efendi, bahwa wihdatul wujud berasal dari bahasa Arab merupakan istilah tasawuf yang artinya kesatuan semua yang ada. Sementara itu, Harun Nasution mendefinisikan kata wahdatul wujud sebagai kesatuan wujud. Unity of existence.

         Sebelum mengartikan wahdatul wujud Ibnu al-`Arabi, terlebih dahulu orang harus mengerti arti istilah wujud. Kautsar Azhari Noer, menuturkan bahwa kata wujud biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yaitu kata “being” atau “existence”. Lebih lanjut ia mengatakan wujud tidak dapat diterjemahkan secara tepat dalam bahasa apa pun. Oleh sebab itu, sebaiknya kata itu tidak diterjemahkan tetapi diterangkan saja artinya. Sebagaimana disampaikan oleh Marjian Mole yang mengaku kesulitan menterjemahkan kata wujud secara tepat, W.C. Whittic sependapat dengan Marjian Mole, ia menghindari penerjemahan kata wujud, karena kata itu menurutnya tidak bisa diterjemahkan secara memuaskan ke dalam kata apa pun dalam bahasa Inggris. Kata wujud, bentuk masdar dari wajada atau wujida, yang berasal dari akar w j d, tidak terdapat dalam al-Qur`an, bentuk masdar dari akar yang sama yang terdapat dalam Al-Qur`an adalah wujd (QS.65:6), sedangkan bentuk fi`il dari akar yang sama banyak terdapat dalam al-Qur`an misalnya :(QS.3:37, 18:86,27:23, 93:7, 4:43 18:69, dan 7:157).

          Kata wujud tidak hanya mempunyai pengertian “obyektif”, tetapi juga subyektif, dalam pengertian obyektifnya, kata wujud adalah masdar dari wujida, yang berarti “ditemukan”. Dalam pengertian inilah kata wujud biasanya diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan “being” atau “existence”. Dalam pengertian subyektifnya, wujud adalah masdar dari wajada, yang berarti menemukan. Dalam pengertian yang kedua ini kata wujud diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “finding”.

         Dalam pengertian subyektif kata wujud terdapat aspek epistemologis dan dalam pengertian obyektifnya terdapat aspek ontologis. Menurut Ibu Al-`Arabi kedua aspek ini menyatu secara harmonis, hal ini nampak jelas ketika Ibnu Arabi membicarakan wujud hubungannya dengan Tuhan. Pada satu pihak, wujud, atau satu-satunya wujud, adalah wujud Tuhan sebagai realitas absolut. Selanjutnya kata wujud oleh Ibnu `Arabi digunakan untuk menyebut wujud Tuhan. Satu-satunya wujud adalah wujud Tuhan, tidak ada wujud lain selain wujud-Nya. Ini berarti apapun Tuhan (ma siwa Allah), alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ibnu Arabi juga menggunakan kata wujud untuk menunjukan segala sesuatu selain Tuhan. Tetapi ia menggunakannya  dalam pengertian metaforis (majaz), untuk tetap mempertahankan bahwa wujud hanaya milik Allah, sedangkan wujud yang ada pada alam, pada hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya. Itulah pengertian wahdatul al-wujud menurt Ibnu Arabi.

         Adapun wihdatul wujud dalam pandangan Ibnu Al-`Arabi berbeda dengan pandangan para ulama sufi yang ada di dunia Islam, menurut mereka (ulama sufi) bahwa yang ada secara hakiki hanyalah satu yaitu Tuhan. Sedangkan wujud dari alam ini yang diciptakan oleh Tuhan, bukanlah wujud hakiki, tetapi wujud bayangan, ala mini diciptakan oleh Tuhan sedemikian rupa, sehingga alam ini merupakan bayangan bagi-Nya. Tuhan menciptakan alam  ini agar melalui alam itu Ia dapat dikenal. Manusia tidak akan bisa secara lansung mengenal-Nya, seperti yang dikatakan-Nya dalam hadis Qudsi: “Aku adalah perbendaharaan yang terpendam, yang tidak dikenal, Aku ingin supaya dikenal, maka aku ciptakan ala mini sehingga dengannya mereka mengenal Aku”, alam sebagai bayangan tentulah lain dari Tuhan, wujud hakiki, namun demikian alam itu sampai taraf tertentu menyerupai-Nya. Karena itulah maka alam tersebut merupakan tempat Tuhan menyatakan atau menampakan diri-Nya secara tidak langsung. Sehingga tepat kiranya ketika Muchtar Efendi menyatakan bahwa bagi Ibnu al-`Arabi wujudnya makhluk adalah `ainnya wujud Al-Khaliq. Berkaitan dengan wujud (teori wahdatu al-wujud Ibnu al-`Arabi) Cryil Glasse, menyatakan bahwa al-`Arabi telah merumuskan konsep tentang wahdatul wujud (kesatuan wujud, atau nn dualita) yang merupakan konsep Islam tentang advaita vedanta dan ia seperti dengan tao. Konsep tersebut menyatakan bahwa tidak ada satupun eksistensi yang terwujud melainkan hanyalah Allah. Dengan demikian benarlah dalam pemikirannya terkandung pengertian ganda, sehingga dimungkinkan Ibnu al-`Arabi adalah seorang pantheis.

Al-Haqq dan Al-Khalq

       Pengertian al-Haqq dibatasi dalam konteks hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-Khalq. Dalam pandangan Ibnu `Arabi bahwa yang dimaksud Al-Haqq adalah Allah, sang pencipta, yang Esa, wujud dan wajib al-wujud, sedangkan Al-Khalq adalah alam, makhluk yang banyak, al-mawjudat dan al-mumkinat. Sebagaimana kesatuan wujud bahwa satu-satunya wujud adalah Allah, tidak ada wujud selain wujud Allah. Demikian juga pengertian hakiki hanya milik Al-Haqq, segala sesuatu selain Al-Haqq tidak memiliki wujud karena itu wujud hanya satu yaitu Al-Haqq.

       Selanjutnya Ibnu `Arabi menjelaskan bahwa alam adalah al-Khalq dan bukan al-Khaqq (huwa la huwa), berikut penjelasannya :

“Maka tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat-sifat dari entitas-entitas, dan tidak ada suatupun dalam alam kecuali entitas-entitas al-mumkinat yang dipersiapkan untuk diberi sifat dengan wujud. Karena itu dalam wujud adalah ia (entitas-entitas al-mumkinat) dan bukan dia. Karena yang nampak (al-Zahir) adalah sifat-sifatnya, maka (itu) ia adalah dalam wujud. … Karena alam menjadi tampak sebagai yang hidup, yang mendengar, yang melihat, yang mengetahui yang berkehendak, yang berkuasa dan yang berbicara. Ia (alam) bekerja sesuai dengan cara-Nya.”

          Menurut Harun Nasution, bahwa dalam wahdatul wujud nasut (sifat manusia) yang ada dalam huludirobah oleh Ibnu al-`Arabi menjadi khalq (makhluk) dan lahut (sifat ketuhanan) menjadi Haq (Tuhan). Khalq dan Haq adalah dua aspek bagi tiap sesuatu. Aspek yang disebelah luar disebut khalq dan aspek sebelah dalam disebut Haq. Kata-kata khalq dan Haq merupakan sinonim dari al-`ard (accident) dan al-jawhar (substance) dan dari al-Zahir (lahir, luar) dan al-batin ((batin, dalam).

         Harun Nasution menambahkan bahwa menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek. Aspek luar, yang merupakan `ard dan khlaq yang mempunyai sifat ketuhanan. Dengan kata lain dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan atau Haq dan sifat kemakhlukan atau khalq.

Hubungan Ontologis Antara Al-Khaqq dan Al-Khalq

        Dalam memahami hubungan ontologism antara al-Khaqq dan al-Khalq yang dipaparkan oleh Ibnu al-`Arabi benar-benar sulit, kesulitan ini diakui oleh beliau sendiri, sebagaimana dikutip oleh Kautsar Azhari, Ibnu al-`Arabi mengatakan, “betapa sulit dan rumitnya memahami hubungan ontologism antara Tuhan dan alam”.

        Kesulitan memahami hubungan ontologis antara Tuhan dan alam timbul, menurut Kautsar Azhari, karena hubungan itu selalu bersifat amb igius, mengandung pertentangan-pertentangan dalam dirinya tetapi merupakan satu kesatuan utuh yang harmonis.

        Menurut Ibnu Al-Arabi, alam adalah penampakan diri (tajalli) al-Khaqq dan dengan demikian segala sesuatu dan segala peristiwa di alam ini adalah entifikasi (ta`ayyun) al-Khaqq. Karena itu baik Tuhan maupun alam, keduanya tidak bisa dipahami kecuali sebagai satu kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis baik secara vertical maupun secara horisontal. Kontradiksi-kontradiksi itu antara  yang tampak (al-Zahir) dan yang batin (al-batin), antara yang awal (al-awwal) dan yang akhir (al-akhir), antara yang satu (al-wahid) dan yang banyak (al-katsir), dan antara  ketidak setaraan (tanzih) dan keserupaan (tasybih).

Ibnu `Arabi memandang realitas adalah satu, tetapi mempunyai dua sifat yang berbeda, yaitu sifat ke-Tuhanan dan sifat kemakhlukan, sifat ini hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam ini. Dan wujud hanya ada satu realitas yang dapat dipandang dari dua aspek yang berbeda. Dipandang dari satu aspek, realitas itu yang benar, pelaku dan pencipta, dipandang dari aspek lain, realitas itu ciptaan, penerima dan makhluk. Tetapi al-khaqq adalah dua aspek bagi wujud yang satu atau realitas yang satu.

Untuk mempermudah memahaminya, Ibnu `Arabi menggunakan symbol matahari dan cahayanya dan lilin dengan apinya, yaitu :

“Maka setiap wujud adalah cahaya dari cahaya-cahaya matahari. Cahaya matahari serta matahari tidak mempunyai “tingkat kesetaraan” (rubat al-ma`iyyah), tetapi “tingkat kjelilinan” (rubat al-syam`iyyah), maka ketahuilah realitas demikian itu, niscaya engkau akan memahami bnahwa setiap sesuatu dalam waktu yang bersamaan hancur. Kehancuran segala sesuatu dalam keadaan wujudnya diumpamakan seperti kehancuran nyala api lilin ketika ia membakarnya.”

Perumpamaan di atas melukiskan bahwa cahaya matahari seperti nyala api lilin yang seolah-olah tetap tetapi sebenarnya ada ketika menyala. Maka kita melihat api yang tetap ada tetapi sebenarnya mata kita tertipu. Sebenarnya nyala api muncul dan lenyap setiap ada nyala api baru, yang kemudian hilang, disusul nyala api yang lain, yang kemudian juga hilang dan begitu seterusnya.

Teori Tajalli.

Tajali biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan “self-diselosure” (penyingkapan diri, pembukaan diri), “self-revelation” (pembukaan diri, penyataan diri), “self-manifestation” (penampakan diri) dan “theophany” (penampakan Tuhan). Dan dalam bahas Prancis dengan “development” (pembukaan), “irradiation” (pancaran, penyinaran), “theophanie” (penampakan Tuhan), “epiphaniedivine” (penampakan Tuhan), dan “manifestation” (penampakan). Sinonim yang digunakan Ibnu Al-Arabi untuk “tajalli” adalah “fayd” (emanasi, pemancaran, pelimpahan), “zuhur” (pemunculan, penampakan, pelahiran), “tanazzul” (penurunan, turunya) dan “fath” (pembukaan).

Kautsar menambahkan tajalli terjadi terus-menerus tanpa awal dan tanpa ahir, “yang selama – lamanya ada dan akan selalu ada” (al-da`im alladzi lam yazal wa la yazal). Tajalli adalah proses penampakan diri al-Khaqq, yang tidak dikenal secara absolut, dalam bentuk yang konkrit. Karena itu tajalli tak lain adalah penampakan diri al-Khaqq dalam bentuk-bentuk yang telah ditentukan dan telah dikhususkan ini. Penampakan diri ini disebut ta`ayyun (entifikasi). Tuhan melakukan tajalli dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Bentuk-bentuk itu tidak ada yang sama  dan tidak akan pernah terulang secara persis sama. Semuanya terjadi dalam perubahan terus menerus tanpa terhenti.

Teori Tajalli Ibnu `Arabi terbagi menjadi dua, yaitu;

  1. Penampakan diri Al-Khaqq pada dirinya dalam bentuk-bentuk “entitas-entitas” permanen. Ini adalah realitas yang hanya ada dalam ilmu Tuhan, tetapi tidak ada dalam alam nyata. Entitas-entitas permanen ini adalah bentuk-bentuk penampakan nama-nama Tuhan pada taraf kemungkinan-kemungkinan ontologis. Dan selama-lamanya tidak berubah dan tidak dapat diubah, memberikan “persiapan azali” kepada lokus untuk tajalli kedua. Tajalli kedua terjadi ketika “kesiapan azali” diterima oleh lokus ini, yang menjadi tempat penampakan al-Khaqq.
  2. Penampakan “entitas-entitas” permanen dari alam ghaib kea lam nyata, dari kepotensialitas kea rah aktualitas, dari ke-Esaan ke-anekaan, dari batin ke zahir. Pada tajalli kedua ini al-Khaqq menampakan diri-Nya dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas dalam alam nyata (`alam al-syahadah). Totalitas semua bentuk ini merupakan alam nyata. Alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya mempunyai wujud persis seperti apa yang ada sejak zaman azali dalam “entitas-entitas” permanen.[i] (Kautsar, 65-66).

Hal ini senada dengan pendapat Henry Corbin, bahwa epifani (tajalli) ada dua macam, yaitu :

  1. Epifani yang satu terjadi di alam misteri (`alam al-Ghoib), yakni epifani wujud Ilahi kepada diri-Nya sendiri dan bagi diri-Nya sendiri dalam zat-zat arketipe, entitas-entitas abadi nama-nama-Nya yang menghendaki manifestasi konkrit mereka. Inilah pemancaran Mahasuci (fayd aqdas) melalui hadir-Nya nama-nama (hadhroh al-asma`).
  2. Dalam alam fenomenal (`alam asy-syahadah), yakni epifani (mazhar) atau wadah bagi nama-nama Ilahi. Inilah pemancaran suci yang “bersifat suci(hieratic) dan berupa “penampakan suci” (hierophany, fayd muqaddas) yang mendatangkan cahaya bagi bentuk-bentuk yang laksana cermin, menerima pantulan esensi Ilahi murni sesuai kadar kapasitas penerimaan mereka. Epifani ganda tadi dinamai dengan nama-nama Tuhan “yang tersembunyi dan yang terungkap, yang awal dan yang akhir”.

       Adapun tajalli Ibnu `Arabi menurut Shahrawardi ada lima tingkatan tajalli atau tanazzul zat Tuhan yaitu :

  1. Tajalli (penampakan) zat Tuhan dalam bentuk-bentuk al-a`yan as-Sabithah, yang disebut dengan `alam al-ma`ani.
  2. Tanazzul zat Tuhan dari `alam al-ma`ani, kepada realitas orangnya, yang disebut dengan alam al-arwah.
  3. Tanazzul zat Tuhan dalam rupa realitas-realitas an-Nafsiyah yang disebut dengan alam an-nafus, An-Natiqoh.
  4. Tanazzul zat Tuhan dalam bentuk jasad tanpa materi yang disebut `alam al-Misal.
  5. Tanazzul zat Tuhan dalam bentuk bermateri, yang disebut pula dengan `alam al-Ajsam, al-Madiyah. Dan disebut pula alam al-Hissi atau `Alam as Syahdah. (Abu Al-Wafa al-Ghonimi Al-Taftazani, Madkhal …, 1985, h. 147).

Peringkat pertama sampai peringkat ke empat adalah maratabat ghoib (alam metafisik), sedang tingkatan terakhir atau kelima adalah alam fisik atau alam materi.

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pandangan Ibnu Arabi tentang teori wihdatul wujud, bahwa semua yang maujud di alam ini adalah merupakan pancaran atau manifestasi dari wujud asal yaitu wujud Tuhan. Alam beserta isinya merupakan bayangan atau pelimpahan wujud yang hakiki yakni Tuhan. Suatu misal cahaya akan selalu memancar, tinggal cermin atau sesuatu yang menerima mau menerima atau tidak, tergantung sesuatu itu sendiri yang terkena pancaran cahaya.

       Wujud di alam syahadah adalah wujud al-jadid, tajalli tingkat awal merupakan potensi, antara ruh dan jasad ada dalam alam misal, arrojak dan anadhor itu menjadi satu.

Konsep Ibnu `Arabi tentang wihdatul al-wujud dapat diketahui melalui konsepnya tentang wujud, al-Haqq, dan proses penampakan Tuhan ke dalam wujud alam yang disebut dengan emanasi.

  1. Teori wihdatul al-`Arabi berbeda dengan konsep manunggaling kawulo gusti yang dicetuskan oleh Syeh Siti Jenar, dan statemen Ana Al-Haqqnya al-Halaj.
  2. Teori wihdatul wujud yang diungkapkan oleh Ibnu al-`Arabi ada yang menganggap lebih cenderung pengertian pantheisme, dimana wujud tunggal hanyalah Allah tidak ada eksistensi di dunia ini selain Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghonimi, al-Taftazani, Abu al-Wafa. 1985. Madkhal ila al-Tashawwuf al-Islam, terj. Ahmad Rofi` Utsmani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Bandung : Pustaka.

Azhari Noer, Kautsar. 1995. Ibnu al-`Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan. Jakarta : Paramadina.

Chittic, William C.. 2001. Dunia Imajinasi  Ibnu Arabi Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Deversitas Agama. Surabaya: Risalah Gusti.

Corbin, Henry. 2002. Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnual-`Arabi, Yogyakarta : LKIS.

Efendi, Muchtar. 2001. Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Universitas Sriwijaya.

Glasse, Cryil. 2002. The Concise Ensyclopedia of Islam, terj. Gufron A. Mas`adi, Ensiklopedi Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

Nasution, Harun. 1995. Falsafah dan Mitisisme dalam Islam, Jakarta, PT. Bulan Binatang.

Nasution, Harun, dkk. Indonesia Ensiklopedi, tt.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *