http://www.infopasti.net/tiada-sehelai-rambutpun-siswa-nakal/

Tiada Sehelai Rambutpun “Siswa Nakal”

TIADA  SEHELAI  RAMBUTPUN

“ SISWA  NAKAL”

ABSTRAK

Artikel ini penulis buat berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama menjadi pendidik atau guru di SMP Negeri 4 Sumbang Kabupaten Banyumas, dimana banyak orang tua atau sebagian guru menilai bahwa perubahan  sedikit negatif yang terjadi pada setiap siswa mengarah pada kenakalan. Hal ini penulis menyatakan tidak benar. 

Siswa dikatakan nakal dikarenakan banyak faktor yang dialami, misalnya dari segi integrasi, baik dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan juga dalam pergaulan sehari hari. Siswa adalah generasi penerus harapan bangsa, yang akan meneruskan perjuangan bangsa Indonesia kelak nanti.

Betapa pentingnya kepribadian dan moral bangsa Indonesia, bila orang tua dan guru sudah memvonis siswa kita nakal. Marilah Bapak dan Ibu, orang tua wali dan juga segenap pendidik atau guru untuk merenungkan, mengamati siswa-siswa kita dengan lebih mendalam lagi. Tidak sekedar kita menilai luarnya saja namun yang ada dalam pribadi anak itu yang harus mendapat perhatian. Dengan harapan siswa kita adalah anak-anak yang berahlak mulia  bagi masa depan bangsa Indonesia.

PENDAHULUAN

 Sebagai seorang guru atau pendidik yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Pertama ( SMP ) yang notabene siswanya adalah menjelang masuk usia remaja . “Nakal” adalah  hal yang biasa ada pada diri setiap anak dalam  perkembangan menuju dewasa.  Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas atau PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan siswa.  Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita sebagai seorang guru. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisi lain ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan tugas atau PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos atau tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”.

PERMASALAHAN

Seiring dengan perkembangan jaman dan ilmu teknologi yang ada saat ini, peran guru dan orang tua sangat penting, dalam rangka mencetak anak-anak bangsa yang berahlak mulia. Guru adalah orang tua ke dua saat anak berada di sekolah, dan saat berada di rumah Bapak dan Ibu lah yang menjadi orang tua pertama.
Menurut penulis  tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah:

  • Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri siswa memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  • Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
  • Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.
  • Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.
  • Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
  • Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
  • Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.

Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perilaku siswa kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai guru atau pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa.

PEMBAHASAN

Beberapa cara di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal, adalah:

  1. Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.
  2. Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
  3. Hentikan ucapan “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdoa agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.
  4. Panggilah dia ke ruang BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.
  5. Latihlah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya, tanggung jawabnya sebagai siswa.
  6. Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
  7.  Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuha atau membaca Al-Qur’an.
  8. Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP  dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
  9. Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.
  10. Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan membuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.

PENUTUP

Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi  menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Janganlah setiap kesalahan siswa  kita beri nilai “nakal”

Semoga artikel yang penulis buat  di akhir tahun pelajaran 2015/2016  bermanfaat  bagi guru di seluruh Indonesia, orang tua  siswa dan segenap pembaca yang budiman .

 selamat mencoba !

Sumber:
Pengalaman pribadi penulis

Kata Kunci : integrasi, Rohis ( rohani Islam )

Daftar Pustaka:

  1. Widyastuti, Retno. 2008. Kebaikan Ahlak dan Budi Pekerti. Semarang: PT Sindir Pres
  2. Soeprobowati, Diah, 2008. Akhlak Siswa Terhadap Alam , Semarang: PT Sindir Pres

BIODATA DIRI

Nama                                       : Drs. Totok Joko Prasetya

Tempat, Tanggal Lahir        : Magelang, 31 Oktober 1966

NIP                                          : 19661031 200801 1 002

Pangkat/ Gol                         : Penata/ IIIc

Jabatan                                   : Guru Muda

Guru Mapel                            : PKn

Instansi                                   : SMP Negeri 4 Sumbang

No. Hp                                    : 0856 4788 4972


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *