TRI SENTRA PEDIDIKAN DALAM MEMBANGUN EKOSISTEM PENDIDIKAN YANG KONDUSIF

 

Nurmalia Fitri, S.Pd

Kemitraan  sekolah, masyarakat dan keluarga dalam peningkatan hasil belajar peserta didik sangatlah penting, Kemitraan ketiga sektor ini dalam membangun ekosistem pendidikan sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Dan kemitraan yang terjalin secara positif akan dapat mendnkrak prestasi belajarpeserta didik secara nyata.

Pendidikan peserta didik merupakan tanggung jawab bersama antara oarangtua siswa, masyarakat dan pemerintah. Selama ini orangtua hanya menyerahkan pedidikan anaknya hanya kepada pemerintah atau hanya dari pihak sekolah saja, padahal peserta didik bisa belajar optimal jika didukung oleh semua komponen. Dukungan orang tua mempunyai andil yang paling dominan karena sebagian besar hidup dari duapuluh jam sehari tiga perempatnya peserta didik bersama keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang  tua  adalah  pendidik  utama  dan  terpenting,  namun  juga  yang paling tak tersiapkan. Pasalnya, mereka harus mencari sendiri informasi dan pengetahuan tentang bagaimana menumbuhkan dan mendukung pendidikan  anak-anak  mereka  dalam  kondisi  positif.  Selama  ini,  jika berbicara pendidikan maka fokus pembicaraan hanya kerap jatuh kepada siswa dan guru. Sementara orangtua seperti diabaikan dalam pendidikan. Padahal, orang tua memiliki peran sangat besar dalam pendidikan anak. Keberhasilan pendidikan anak bergantung kepada keterlibatan keluarga.

Banyak penelitian menunjukan bahwa keterlibatan orang tua di sekolah bermanfaat, antara lain:

(1) bagi peserta didik mendukung prestasi akademik, meningkatkan kehadiran, kesadaran terhadap kehidupan yang  sehat,  dan  meningkatkan  perilaku  positif;

(2)  bagi  orang  tua memperbaiki pandangan terhadap sekolah, meningkatkan kepuasan terhadap guru, dan mempererat hubungan dengan anak; dan

(3) bagi sekolah memperbaiki iklim sekolah, meningkatkan kualitas sekolah, dan mengurangi masalah kedisiplinan. Sekolah tidak dapat memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya, sehingga diperlukan keterlibatan bermakna dari orangtua/keluarga dan anggota masyarakat. Anak-anak belajar dengan lebih baik jika lingkungan sekitarnya mendukung, yakni orang tua, guru, dan anggota keluarga lainnya serta masyarakat sekitar. Artinya,  sekolah,  keluarga,  dan  masyarakat  merupakan  “tri  sentra pendidikan” yang sangat penting untuk dapat menjamin pertumbuhan anak secara optimal. Untuk itu, perlu dibangun kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Kemitraan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Oleh karena itu, diharapkan kemitraan antar tri sentra pendidikan tersebut dapat berjalan dengan baik dan bermakna.

Sebagai unsur dalam ekosistem yang terdekat dengan anak, keluarga mempunyai banyak kesempatan melalui interaksi dan komunikasi seharihari. Bentuk dan cara-cara interaksi dengan anak di dalam keluarga akan mempengaruhi tumbuh kembangnya karakter anak. Proses interaksi yang diterima anak dari keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk proses perkembangan selanjutnya di luar rumah, termasuk di sekolah dan masyarakat.

Jika kemitraan tri sentra itu dibangun dengan rasa kesadaran yang optimal dan   kemitraan dengan keluarga dan masyarakat yang harmonis diharapkan dapat memberikan dampak kepada keluarga, antara lain:

 

(1)menigkatnya prestasi akademik anak,

(2)meningkatnya komunikasi antara orang tua dan an

(3)meningkatnya kehadiran siswa di sekolah,

(4)berkurangnya perilaku destruktif anak,

(5)meningkatnya kepercayaan diri orang tua,

(6)meningkatnya kepuasan orang tua terhadap sekolah,

(7)orang tua berhasil mendidik anak,

(8)meningkatnya ekspektasi orang tua pada anak,

(9)meningkatnya kebiasaan belajar anak,

(10)meningkatnya keinginan anak untuk melanjutkan sekolah,

(11)meningkatnya kecenderungan peserta didik melanjutkan pendidikan,

(12)sikap dan perilaku anak yang lebih positif,

(13)meningkatnya moral peserta didik,

(14)iklim belajar menjadi lebih baik, dan

(15)mendukung kemajuan pendidikan secara keseluruhan

Program kemitraan  dengan orang tua siswa ini dapat untuk menjalin kerjasama dan keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tri sentra pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk menumbuh kembangkan karakter dan budaya berprestasi peserta didik.

Secara lebih khusus, kemitraan satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat mempunyai manfaat yang lebih fokus antara lain:

1) menguatkan jalinan kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung lingkungan belajar yang dapat mengembangkan potensi anak secara utuh;

2) meningkatkan keterlibatan orang tua/wali dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak di rumah dan di sekolah; dan

3) meningkatkan peran serta masyarakat dalam mendukung program pendidikan di sekolah dan di masyarakat.

Model kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat secara konseptual  dapat  digambarkan  seperti  tampak  pada  infografis disebelah. Model ini dapat dikembangkan atas dasar pendayagunaan potensi dan sumber daya keluarga dan masyarakat secara  kolaboratif.  Kemitraan  dibangun  di  atas  dasar  kebutuhan  anak sehingga orang tua/wali dan masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan sekolah. Model kemitraan melibatkan jejaring yang luas dan melibatkan peserta didik, orang tua, guru, tenaga kependidikan, masyarakat, kalangan pengusaha, dan organisasi mitra di bidang pendidikan.

Model operasional kemitraan ini dikembangkan dengan mendaya-gunakan semua potensi sumberdaya yang dimiliki sekolah, keluarga dan masyarakat secara kolaboratif. Pada model kemitraan sekolah, keluarga dan masyarakat seperti ini yang berperan aktifadalah sekolah, jadi sekolah berperan sebagai:

1.Pemrakarsa dalam kemitraan, yaitu pihak yang mengawali untuk membangun kemitraan, misalnya pada hari pertama masuk sekolah, sekolah dalam hal ini diwakili oleh wali kelas memimpin pertemuan dengan orang tua/wali untuk membahas program sekolah dan agenda pertemuan orang tua/wali.

2.Fasilitator kemitraan, yaitu pihak yang memfasilitasi terwujudnya kemitraan dengan keluarga dan masyarakat, misalnya menyediakan tempat penyelenggaraan kelas orang tua/wali; dan

3.Pengendali kemitraan, yaitu pihak yang mengendalikan secara proaktif sehingga kemitraan terus berjalan semakin baik, misalnya melakukan evaluasi perubahan perilaku orang tua/wali dalam keterlibatannya mendukung proses pendidikan anak di rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, pihak sekolah membangun kapasitas warganya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pendidikan keluarga serta berbagi pengetahuan dengan orang tua terkait dengan pola pengasuhan anak.

Keluarga atau orang tua diharapkan membantu dan mendukung anak melalui  bimbingan,  arahan,  motivasi,  dan  tindakan  mendidik  lainnya yang selaras dengan program pendidikan yang dilaksanakan pihak sekolah, misalnya ketika sekolah mengajarkan agar anak selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah, di rumah juga diajarkan untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Masyarakat sesuai kapasitasnya dapat mendukung program pendidikan keluarga di sekolah melalui berbagai cara misalnya salah satu tokoh masyarakat menjadi narasumber dalam kegiatan kelas orang tua/wali, menjadi guru model, atau menjadi konsultan bagi pihak sekolah.

Pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra pendidikan tersebut diharapkan dapat membentuk ekosistem sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga bisa menjamin tumbuh kembang fisik, intelektual, sosial, emosional dan spiritual peserta didik.

Kemitraan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dirancang agar terbentuk ekosistem pendidikan yang dapat mendorong tumbuhnya karakter dan budaya prestasi semua warga sekolah. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka kemitraan dilaksanakan dengan mengacu pada

prinsip-prinsip yang dapat dikembangkan dalam model kemitraan sekolah dan keluarga adala sebagai berikut:

1.Kesamaan Hak, Kesejajaran, dan Saling Menghargai.

Kemitraan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dapat terjalin secara dinamis dan harmonis apabila semua unsur yang terlibat memiliki kesamaan hak, kesejajaran, dan saling menghargai sesuai dengan peran dan fungsinya. Prinsip ini akan mendorong peran aktif dan sukarela dari semua pihak untuk terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kemitraan.

2.Semangat Gotong-Royong dan Kebersamaan.

Kemitraan dibangun atas dasar semangat gotong royong dan kebersamaan. Prinsip ini akan terjadi apabila semua pihak merasakan ada kebutuhan dan kepentingan yang sama terkait dengan pendidikan anak atau peserta didik. Prinsip ini akan menumbuhkankan keinginan dari semua pihak untuk berkolaborasi dan bersinergi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang dapat memberi pengalaman belajar yang kaya kepada peserta didik.

3.Saling Melengkapi dan Memperkuat.

Pihak  sekolah  tidak  mungkin  mampu  melayani  semua  kebutuhan belajar peserta didiknya dengan segala keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Untuk itu, perlu dijalin kemitraan dengan orang tua dan masyarakat sehingga tercipta tri sentra pendidikan yang saling melengkapi dan memperkuat sesuai perannya masing-masing.

4.Saling Asah, Saling Asih, dan Saling Asuh.

Prinsip saling asah, saling asih, dan saling asuh diharapkan dapat mewujudkan terjadinya proses berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan nilai/norma antara satu dengan lainnya. Serta terjadi proses saling membelajarkan antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang dalam rangka menciptakan ekosistem pendidikan yang baik bagi peserta didik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bentuk-bentuk kemitraan sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat dilakukan sebagai berikut:

1.Penguatan Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah bertujuan untuk mendapat informasi dan masukan tentang perkembangan peserta didik, baik dari keluarga kepada sekolah maupun sebaliknya.

Komunikasi sekolah dengan keluarga dan masyarakat dapat dilakukan dalam beragam bentuk dan media. Misalnya informasi yang dituliskan rutin melalui buku penghubung, pertemuan rutin wali kelas dengan orang tua/wali, komunikasi dalam wadah paguyuban orang tua per kelas,  komunikasi  melalui  media  komunikasi  seperti  melalui  pesan singkat (SMS), dan lain-lain yang sesuai.

2.Pendidikan bagi orang tua (Parenting Education)

Bentuk kemitraan ini ingin membantu orang tua/wali dalam membangun kesadaran akan pendidikan anak, termasuk di antaranya adalah dengan mengembangkan lingkungan belajar di rumah yang kondusif (aman, nyaman dan menyenangkan). Pendidikan orang tua ini bisa berupa kelas orang tua/wali yang dilakukan  rutin  oleh  sekolah  atau  masyarakat  (komite  sekolah, organisasi mitra dan komponen masyarakat lain).  Kelas ini diharapkan dapat membantu orang tua/wali untuk: a.  memperoleh pemahaman yang benar tentang kondisi anak dan upaya-upaya yang dapat dilakukan; b.  meningkatkan  peran  positif  dan  tanggung  jawab  sebagai  orang tua/wali dalam mengatasi permasalahan anak; dan c.   meningkatkan kerjasama yang lebih harmonis antara orang tua/wali dan sekolah dalam membantu permasalahan anak.

3.Kegiatan Sukarela Kegiatan ini bertujuan untuk menyalurkan aspirasi masing-masing pihak dalam mendukung dan membantu kemajuan pendidikan anak.

4.Belajar di Rumah Sekolah mengkomunikasikan orang tua/wali mengenai materi yang sebaiknya diperkaya dan diperdalam kembali di rumah.

5.Kolaborasi dengan Masyarakat Kemitraan ini  bertujuan  untuk  mengoptimalkan  peran  masyarakat dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan anak. Masyarakat dalam hal ini adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, ahli pendidikan atau lainnya, pengusaha, professional, dan lembaga yang relevan baik bagi sekolah maupun bagi peserta didik.

Unsur-unsur yang memiliki peran utama dalam program pendidikan keluarga di sekolah adalah:

1.Kepala Sekolah;

1) menetapkan kebijakan yang mendukung penyelenggaraan program pendidikan keluarga;

2)  menyusun rancangan kegiatan program pendidikan keluarga;

3)  mengelola warga sekolah dan anggaran yang ada di sekolah maupun dari pihak mitra untuk mendukung pencapaian  tujuan program;

4)  menjalin hubungan dengan keluarga dan masyarakat untuk menunjang pelaksanaan program; dan

5)  melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dengan melibatkan seluruh mitra.

2.Wali kelas;

1) mendukung kebijakan program pendidikan keluarga;

2)  menjadi fasilitator antara pihak sekolah dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat;

3)  menjadi  motivator  dan  inisiator  dalam  kegiatan  pendidikan karakter dan budaya prestasi bagi peserta didik; dan

4)  mengevaluasi pencapaian hasil program peserta didik yang mencakup terbentuknya prestasi dan karakter.

3.Komite Sekolah ;

1) mendukung kebijakan program kemitraan yang telah ditetapkan sekolah;

2)  memantau pelaksanaan program kemitraan yang telah ditetapkan bersama sekolah;

3)  memberi saran perbaikan atas pelaksanaan program kemitraan; dan

4)  melakukan evaluasi program kemitraan yang telah dilaksanakan di sekolah.

5.Peran Orang Tua/Wali;

a.menciptakan lingkungan belajar di rumah yang menyenangkan dan mendorong perkembangan budaya prestasi anak;

b.menjalin interaksi dan komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak;

c.memberikan motivasi dan menanamkan rasa percaya diri pada anak;

d.menjalin  hubungan  dan  komunikasi  yang  aktif  dengan  pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif;

e.berpartisipasi  aktif  dalam  kegiatan  pembelajaran  dan  kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan anak di sekolah; dan f.memiliki  inisiatif  untuk  menggerakan  orang  tua/wali  lain  agar terlibat dalam pengambilan keputusan di sekolah dan masyarakat.

6.Peranan Masyarakat;

a.mengembangkan dan menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga; dan

b.menyelenggarakan dan mengendalikan mutu layanan pendidikan, baik dilakukan secara perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dunia usaha, maupun organisasi kemasyarakatan.

Perubahan yang diharapkan:

Perubahan perilaku yang diharapkan dari keluarga, khususnya orang tua/wali adalah sebagai berikut:

1)  keluarga terbiasa menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya;

2)  anak terbiasa sarapan/makan sebelum berangkat sekolah;

3)  anak terbiasa berpamitan saat mau berangkat sekolah;

4)  orang tua menghubungi wali kelas saat anak tidak dapat masuk sekolah (dapat melalui telpon/SMS atau cara lain);

5)  keluarga memiliki aturan yang disepakati bersama (misalnya: memberi tahu saat pulang terlambat, menentukan jam belajar, dll.).

6)  orang tua memiliki nomor HP Kepala Sekolah, Wali Kelas, dan Ketua Komite sehingga dapat menghubungi sewaktu-waktu diperlukan);

7)  orang tua menjalin komunikasi positif dengan anak;

8)  keluarga memberi dukungan yang memungkinkan anak belajar  di  rumah  dengan  nyaman  (tidak  melakukan  aktivitas yang mengganggu);

9)  keluarga terbiasa melakukan kegiatan bersama (ibadah, makan, olahraga, rekreasi);

10) orang tua hadir pada kegiatan di sekolah (sesuai program yang  disepakati).

Indikator  pelaksanaan  pendidikan  keluarga  ditinjau  dari perubahan yang diharapkan terjadi di satuan pendidikan adalah sebagai berikut:

1)  Pertemuan dengan orang tua/wali pada hari pertama masuk sekolah;

2)  Pertemuan dengan orang tua/wali pada tengah semester pertama ;

3)  Pertemuan dengan orang tua/wali pada awal semester kedua;

4)  Pertemuan dengan orang tua/wali pada tengah semester kedua;

5)  Fasilitasi tempat untuk pertemuan atau kegiatan kelas orang tua/wali (parenting);

6)  Sekolah (wali kelas) menghubungi orang tua/wali jika ada anak yang tidak hadir tanpa pemberitahuan *);

7)  Sekolah (wali kelas) menghubungi orang tua/wali untuk memberi ucapan selamat atas prestasi istimewa yang dicapai anak*);

8)  Sekolah (wali kelas) menghubungi orang tua/wali untuk memberi tahu perilaku negatif yang dilakukan anak *);

9)  Sekolah mengundang orang tua/wali yang berkompeten sebagai  nara  sumber  inspiratif  pada  upacara  bendera  atau waktu lain minimal sebulan sekali; dan

10) Sekolah memfasilitasi tempat untuk pentas kelas pada akhir tahun pembelajaran.

Dengan dukungan tri sentrra yaitu sekolah,keluarga, dan masyarakat yang harmonis dan sinergis akan  tercipta ekosistem pendidikan yang kondusif. Sehingga Sekolah dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik secara optimal sesuai dengan bakat dan minat masing-masing

 

Sumber:

Hurlock, Elizabeth. Perkembangan Anak: Edisi Kelima. Penerbit Erlangga , Jakarta. 1980

Juknis Kemitraan Sekolah Menengah Pertama dengan keluarga dan masyarakat. kementrian pendidikan dan kebudayaan. 2016

Seri pendidikan Orang Tua pengasuhan Anak Positif, Kemdikbud. Jakarta 2016

Zakaria, Mohamad Roland. Modul Bimbingan Teknis. Kemdikbud, Jakarta.2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *