PENERAPAN METODE MENCARI PASANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELAKUKAN KERJASAMA DAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SDN 2 KUTABANJARNEGARA

 wahyuni

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas ini mengangkat permasalahan bagaimana upaya menerapkan metode mencari pasangan dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara semester 1 tahun pelajaran 2015 / 2016. Mengingat hasil prestasi belajar IPS kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara belum sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) untuk mata pelajaran IPS yaitu 70. Diketahui dari rerata nilai hasil ulangan tengah semester I tahun pelajaran 2015 / 2016 yang dicapai siswa baru 60,12 serta pra siklus 61,4. Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang terdiri dari dua ( 2 ) siklus. Pada siklus 1, proses pembelajaran menggunakan metode mencari pasangan kartu pertanyaan tidak menggunakan media gambar tetapi masih menggunakan kalimat pertanyaan. Pada siklus 2, proses pembelajaran menggunakan metode mencari pasangan, pertanyaan menggunakan media kartu bergambar. Berdasarkan bukti-bukti hasil observasi tindakan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : (1). Kemampuan melakukan kerjasama meningkat  dari 3,25% pada pra siklus menjadi 5,06 % pada siklus 1, menjadi 7,9 % pada siklus 2. (2). Prestasi belajar meningkat dari 37,5 % pada pra siklus, menjadi 50 % pada siklus 1, menjadi 87,5 % pada siklus 2.

Kata Kunci : Kerjasama dan prestasi belajar IPS, tema bentuk-bentuk keragaman suku bangsa dan budaya, metode mencari pasangan

PENDAHULUAN

Nilai pra siklus, terutam mata pelajaran IPS terutama kemampuan melakukan kerjasama yang merupakan mata pelajaran menyenangkan, hanya mencapai rata- rata 65,81. Padahal menurut standart isi no 22 tahun 2006 standart nasional ketentuan KKM adalah 75 untuk semua mata pelajaran. Namun kami pihak sekolah mengambil kebijakan menyesuaiakan kondisi sekolah sehingga   standart KKM mata pelajaran IPS SDN 2 Kutabanjarnegara 70. Hal ini membuktikan kompetensi siswa dalam mata pelajaran IPS termasuk rendah, belum tuntas.

          Berdasarkan asumsi peneliti selama ini, siswa termasuk rajin berangkat sekolah. Hal ini dapat dilihat dari data absensi/kehadiran siswa yang setiap bulannya hanya 1,3% siswa yang tidak hadir, bahkan dalam semester 1 tingkat ketidak hadiran siswa 0%. Penelitipun sudah berusaha mengajar dengan maksimal. Namun nilai hasil prestasi belajar IPS terutama dalam kemampuan melakukan kerjasama sangat rendah, jauh di bawah rata- rata ketuntasan belajar dengan KKM 70. Rendahnya hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara pada mata pelajaran IPS semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 peneliti akui disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Kurangnya motivasi siswa, baik dalam diri mereka maupun lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan belajarnya
  2. Perkembangan strategi / metode / pendekatan / model pembelajaran yang kurang membangkitkan daya imajinasi siswa dan kreatifitas siswa dalam memahami konsep IPS, mengajar masih secara konvensional. Belum melibatkan peserta didik secara langsung, yaitu mengalami dan memperagakan sendiri proses pencapaian kompetensi.
  3. Guru / peneliti dalam pembelajaran hanya berceramah saja. Apabila menggunakan media sering tidak sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai, alat peraga kurang menarik, sehingga siswa terkesan jenuh, bingung dan bosan.

        Adapun upaya yang peneliti lakukan untuk mengatasi faktor – faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan melakukan kerjasama dan rendahnya prestasi belajar IPS siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara tersebut, peneliti bekerjasama dengan teman sejawat ( kolaborator ) melakukan perbaikan proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran bermain mencari pasangan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan kerjasama dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode bermain mencari pasangan   merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif.

        Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu cara keunggulan teknik ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.
Anita Lie (2008: 56) menyatakan bahwa model pembelajaran tipe Make A Match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, batasan masalah dan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan metode mencari pasangan dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama mata pelajaran IPS siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara semester 1 tahun pelajaran 2015 / 2016 ?
  2. Apakah penerapan metode mencari pasangan dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran IPS siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara semester 1 tahun pelajaran 2015 / 2016?

KAJIAN PUSTAKA

  Pengertian Kerjasama

       Teori kerjasama menurut Roucek dan Warren berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama dan merupakan suatu proses yang paling dasar. Kerjasama merupakan sutau bentuk proses social dimana didalamnya terdapat aktifitas tertentu yang duitujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami terhadap aktifitas masing-masing.Kerjasama atau belajar bersama adalah proses beregu (berkelompok) di mana anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan  untuk mencapai suatu hasil mufakat. Ruang kelas suatu tempat yang sangat baik untuk membangun kemampuan kelompok (tim), yang Anda butuhkan kemudian di dalam kehidupan.

  Pengertian Prestasi Belajar

      Prestasi belajar diartikan sebagai tingkat keterkaitan siswa dalam proses belajar mengajar sebagai Hasil evaluasi yang dilakukan guru. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan bahwa :Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu.Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), “Nilai merupakan perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu”. Dengan nilai rapor, kita dapat mengetahui prestasi belajar siswa. Siswa yang nilai rapornya baik dikatakan prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya jelek dikatakan prestasi belajarnya rendah.Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan kegiatan belajar siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran selama periode siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran.

 Pengertian Metode Mencari Pasangan

           Menurut Rusman (2011: 223-233) Model Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu cara keunggulan teknik ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan. Anita Lie (2008: 56) menyatakan bahwa model pembelajaran tipe Make A Match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match adalah suatu teknik pembelajaran Make A Match adalah teknik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.Model pembelajaran  Mencari Pasangan dapat melatih siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran secara merata serta menuntut siswa bekerjasama  dengan  anggota  kelompoknya  agar tanggung  jawab dapat  tercapai,  sehingga  semua siswa aktif dalam proses pembelajaran. 

Hipotesis Tindakan

       Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, diduga metode mencari pasangan dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama dan meningkatkan prestasi belajar, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Penerapan penggunaan metode mencari pasangan dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara.
  2. Penerapan/penggunaan metode mencari pasangan dapat meningkatkan prestasi belajar IPS siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara

METODE PENELITIAN

  Subyek Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kutabanjarnegara dengan subyek siswa kelas 4  yang terdiri dari 5 siswa perempuan dan 11 siswa laki – laki jumlah semua 16 siswa pada semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016. Adapun karakteristik siswa kelas 4  SD Negeri 2 Kutabanjarnegara kecamatan  Banjarnegara memiliki potensi dan kompetensi yang heterogen. SD Negeri 2 Kutabanjarnegara tersebut tempat peneliti melaksanakan tugas mengajar sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Alur kerangka berfikir dapat digambarkan secara praktis mengenai penerapan model pembelajaran menggunakan metode mencari pasangan dapat dilihat pada skema sebagai berikut :

 Kriteria dan Indikator Keberhasilan

             Kriteria yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kemampuan melakukan kerjasama adalah kemampuan siswa dalam aspek :

1).  Toleransi, 2). Kekompakan, 3). Bersahabat, 4). Saling membantu, 5). Kemampuan menghargai, 6). Aktif, 7). Kreatif, 8). Berani, 9). Percaya diri, 10). Memanfaatkan waktu dengan baik.Dengan kriteria skor tinggi 3, skor sedang 2 serta skor rendah 1.

     Kriteria yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar adalah tes prestasi belajar dengan tes tertulis terdiri dari pilihan ganda 20 butir soal. 10 butir soal isian singkat, dan uraian 5 butir soal dengan rentang nilai 1 – 100. Siswa dikatakan tuntas jika mencapai nilai KKM 70.

Setelah pelaksanaan penelitian ini dilakukan 2 siklus, maka indikator kinerja sebagai berikut :

  1. Kemampuan melakukan kerjasama dinyatakan berhasil , jika 7,9 % atau 11 siswa dari 16 siswa kategori tinggi dalam proses pembelajaran.
  2. Prestasi belajar dinyatakan berhasil, jika nilai rata-rata tes prestasi belajar 80,5 dengan ketuntasan belajar 87,5 % pada mata pelajaran IPS.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  1. Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) yang dilakukan peneliti pada umumnya masih ceramah saja, belum menggunakan alat peraga yang sesuai, kerjasam/kerja kelompok jarang dilakukan, siswa tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran, sehingga hanya guru yang aktif, pembelajaran masih konvensional. Kondisi proses pembelajaran ini berakibat kemampuan melakukan kerjasama rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengamatan dari 16 siswa hanya ada 1 siswa atau 6% yang kemampuan melakukan kerjasama tinggi. Secara lengkap disajikan dalam grafik atau tabel berikut :

Tabel 4.1

Kemampuan melakukan kerjasama pada pra Siklus

No Kemampuan melakukan kerjasama Jumlah siswa % St x F
1 Kemampuan melakukan kerjasama rendah 10 siswa 63 2×10 = 20
2 Kemampuan melakukan kerjasama sedang 5 siswa 31 5,5×5=27,5
3 Kemampuan melakukan kerjasama tinggi 1 siswa 6 9×1=9
Jumlah 16 100 % 56,5
Rata-rata 56,5/16=3,53 Kategori rendah

 

Kondisi rendahnya kemampuan melakukan kerjasama berdampak juga pada rendahnya prestasi belajar IPS. Hal ini ditunjukkan hasil tes prestasi belajar IPS pada akhir materi nilai rata-rata masih rendahnya yaitu secara lengkap disajikan dalam tabel berikut :

       Tabel 4.2

       Hasil Tes Prestasi belajar Pra Siklus

            No Hasil Tes Prestasi Belajar Hasil Keterangan
1 Nilai Tertinggi 80 1  siswa
2 Nilai Terendah 45 1  siswa
3 Ketuntasan Belajar 37,5 %
4 Nilai Rata-rata 61,43

              Kondisi lain pada pra siklus, siswa dalam proses belajar mengajar kurang aktif/pasif, mengobrol sendiri, bermain sendiri, ada kejenuhan, kelihatan bosan, kurang berani dan bingung.

  1. Hasil Deskripsi Tiap Siklus

SIKLUS  I

 Hasil Pelaksanaan Siklus  1

       Pelaksanaan kegiatan penerapan metode pembelajaran mencari pasangan pertemuan ke 1, 2 dan ke 3 dilaksakan pada minggu ke 1, 2 dan  ke 3 bulan Oktober 2015. Tatap muka pertama hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2015. Seluruhnya 3 jam pelajaran per  minggu.

a).  Data kemampuan melakukan kerjasama

Data tentang kemampuan melakukan kerjasama diambil setelah melakukan pembelajaran pada akhir siklus 1. Instrument data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 indikator. Dari data diperoleh kemampuan melakukan kerjasama skor 16 – 26 kategori rendah, kemampuan melakukan kerjasama skor 27 – 37 kategori sedang, kemampuan melakukan kerjasama skor 38 – 48 kategori tinggi. Hasil selengkapnya disajikan dalam tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

         Tabel 4.3

  Daftar Distribusi Frekuensi Kemampuan melakukan kerjasama pada siklus 1

Hasil Analis Tally Frekuensi % S x F
Tinggi lll 3 19 9   x 3 = 27
Sedang lllll lll 8 50 5,5x 8 =44
Rendah lllll 5 31 2   x  5 =  10
Jumlah

 

16 100 81

b).  Data tentang tes prestasi belajar

       Setelah pembelajaran berlangsung satu minggu 3 jam pelajaran ( 3 x 35 menit ) selama 3 minggu,  3 kali pertemuan ( satu siklus ) pada minggu ke 3 maka dilakukan tes tertulis tes prestasi belajar. Jumlah soal sebanyak pilihan ganda 20 butir soal, isian 10 butir soal dan uraian 5 butir soal.

         Hasil tes prestasi belajar IPS bentuk-bentuk keragaman suku bangsa dan budaya diperoleh hasil sebagai berikut : skor tertinggi 6 siswa atau 37,5 %, skor terendah 10 siswa atau 62,5 %, skor rerata 65,5, skor modus 60. Masih ada 8 siswa ( 50 % ) yang mendapat skor di bawah ketuntasan belajar minimal ( KKM ).

SIKLUS II

  Hasil Pelaksanaan Siklus  2

              Pelaksanaan kegiatan penerapan metode pembelajaran mencari pasangan siklus 2,  pertemuan ke 1, 2 dan 3 dilaksanakan pada minggu ke 2, 3 dan 4 bulan Nopember 2015. Tatap muka pertama hari Rabu, tanggal 11 Nopember 2015. Seluruhnya 3 jam pelajaran per  minggu.

Pada siklus 2 ditekankan pada permainan mencari pasangan menggunakan kartu berbentuk gambar.

a). Data kemampuan melakukan kerjasama

  Data tentang kemampuan melakukan kerjasama diambil setelah melakukan pembelajaran pada akhir siklus 2. Instrument data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 indikator. Dari data diperoleh kemampuan melakukan kerjasama skor 16 – 26 kategori rendah, kemampuan melakukan kerjasama skor 27 – 37 kategori sedang, kemampuan melakukan kerjasama skor 38 – 48 kategori tinggi. Hasil selengkapnya disajikan dalam tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

       Tabel 4.4

       Distribusi Frekuensi Kemampuan melakukan kerjasama pada siklus 2

Hasil Analis Tally Frekuensi % S x F
Tinggi lllll lllll l 11 69 9   x 11 = 99
Sedang lllll l 5 31 5,5x 5 =27,5
Rendah
Jumlah

 

16 100 126,5
Rata-rata 126,5/16=7,9

b).  Data tentang tes prestasi belajar

         Setelah pembelajaran berlangsung tiga minggu, setiap minggu satu kali pertemuan. Sehingga tiga minggu 3 kali pertemuan. Pada minggu ke tiga (3) dilakukan tes tertulis, tes prestasi belajar. Jumlah soal sebanyak pilihan ganda 20 butir soal, isian 10 butir soal dan uraian 5 butir soal..

         Hasil tes prestasi belajar IPS bentuk keragaman suku bangsa dan budaya diperoleh hasil sebagai berikut : skor tertinggi 14 siswa atau 87,5 %, skor terendah 2 siswa atau 12,5 %, skor rerata 79,87, skor modus 76. Masih ada 2 siswa (12,5 %) yang mendapat skor di bawah ketuntasan belajar minimal (KKM).

Pembahasan Siklus  II

Sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran metode mencari pasangan kemampuan melakukan kerjasama hanya 31 % atau 5 siswa dari 16 siswa. Situasi pembelajaran tidak kondusif, anak-anak tampak kurang antusias bahkan terlihat bosan, siswa pasif. Skor nilai kinerja guru pada pra siklus 73 %, meningkat pada siklus 1 menjadi 78 % serta 85 % pada siklus 2 sebagaimana diungkapkan Umar ( 2002 : 104 ) bahwa komponen-komponen aspek kinerja meliputi kualitas pekerjaan, kejujuran, inisiatif, kehadiran, sikap, kerjasama, pengetahuan, tanggung jawab serta pemanfaatan waktu. Peningkatan terjadi karena guru berusaha melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif serta menyenangkan, antara lain melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode mencari pasangan.

            Perbandingan hasil penelitian pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh sebagai berikut :

            Tabel 4.5

Perbandingan kemampuan melakukan kerjasama pra siklus, siklus 1 dan siklus

No Kemampuan melakukan percobaan Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
1 Tinggi 1 3 11
2 Sedang 5 8 5
3 Rendah 10 5

            Berdasarkan data di atas kenaikan kemampuan melakukan kerjasama yang tinggi dari pra siklus 1 siswa,  siklus 1 ada 3 siswa, siklus 2 ada 11 siswa,kemampuan melakukan kerjasama dari yang sedang pra siklus 5 siswa, siklus 1 menjadi 8 siswa, siklus 2 ada 5 siswa, sedangkan kemampuan melakukan kerjasama pra siklus rendah dari 10 siswa, siklus 1  hanya 5 siswa, pada siklus 2 tidak ada.

            Pada siklus 2 diperoleh hasil, siswa memiliki kemampuan melakukan percobaan tinggi 11 siswa atau 69 %. Siswa memiliki kemampuan melakukan kerjasama sedang 5 siswa atau 31 % siswa memiliki kemampuan melakukan kerjasama rendah tidak ada. Ini berarti ada kenaikan kemampuan melakukan kerjasama dari pra siklus hanya 1 yang memperoleh skor tinggi menjadi ada skor tinggi 3 siswa di siklus 1, dan pada siklus 2 skor tinggi meningkat 11 siswa.

            Hasil analisis kemampuan melakukan kerjasama agar menjadi lebih jelas disajikan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut :

wahyunii

            Grafik di atas menunjukkan kemampuan melakukan kerjasama pada pra siklus 10 siswa kategori rendah menjadi 5 siswa pada siklus 1, pada siklus 2 kategori rendah tidak ada. Kemampuan melakukan kerjasama kategori sedang pada pra siklus 5  siswa,  8 siswa pada siklus 1, pada siklus 2 kategori sedang 5 siswa. Kemampuan melakukan kerjasama kategori tinggi pada pra siklus 1 siswa, 3 siswa pada siklus 1, dan 11 siswa pada siklus 2.

            Selain hal tersebut kemampuan prestasi belajar siklus 2 sudah meningkat. Nilai rata-rata sudah  mencapai 80,5. Kondisi ini membuat peneliti merasa senang, karena  dalam proses pembelajaran mencari pasangan telah meningkatkan nilai prestasi belajar dalam pengelolaan belajar mengajar. Melalui diskusi , tidak perlu dilakukan perbaikan pembelajaran melalui penerapan metode pembelajaran mencari pasangan. Perbandingan hasil penelitian pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel  4.6

Perbandingan Kemampuan Prestasi Belajar IPS

No Kemampuan Prestasi Belajar Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
1 Nilai Tertinggi 80 90 100
2 Nilai Terendah 45 50 66
3 Nilai Rata-rata 61,43 68,37 80,5
4 Ketuntasan Belajar 37,5 % 50% 87,5 %

                   Pada tabel di atas terlihat siklus 2 hasil nilai tertinggi 100, nilai terendah 66,nilai rata-rata 80,5, siklus 1 hasil nilai tertinggi 90, nilai terendah 50 dan nilai rata-rata 68,37. Pada studi awal nilai rata-rata 61,43 sehingga ada kenaikan 6,9 dari pra siklus ke siklus 1, dari siklus 1 ke siklus 2 ada kenaikan 12,13.  ketuntasan belajar pra siklus 37,5 %  meningkat siklus 1 ketuntasan belajar 50  %, pada siklus 2 ketuntasan belajar meningkat lagi menjadi 87,5 %.

            Hasil selengkapnya disajikan dalam grafik berikut :

wahyunGrafik di atas menunjukkan prestasi belajar pada pra siklus nilai rata-rata 61.43 menjadi 68,37 dan siklus 2 menjadi 80,5.  Selain hal tersebut data nilai terendah ada kenaikan dari pra siklus 45 menjadi 50 dan siklus 2 tidak ada siswa yang mendapat nilai rendah.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penerapan metode mencari pasangan dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 dari pra siklus memperoleh nilai tinggi pra siklus 1 siswa, siklus 1 ada 3 siswa, siklus 2 ada 11 siswa, kemampuan melakukan kerjasama dari yang sedang pra siklus 5 siswa, siklus 1 menjadi 8 siswa, siklus 2 ada 5 siswa, sedangkan kemampuan melakukan kerjasama pra siklus rendah dari 10 siswa, siklus 1  hanya 5 siswa, pada siklus 2 tidak ada.
  2. Pada siklus 2 diperoleh hasil, siswa memiliki kemampuan melakukan kerjasama tinggi 11 siswa atau 69 %. Siswa memiliki kemampuan melakukan kerjasama sedang 5 siswa atau 31 % siswa memiliki kemampuan melakukan kerjasama rendah tidak ada. Ini berarti ada kenaikan kemampuan melakukan kerjasama dari pra siklus 1 siswa yang memperoleh skor tinggi menjadi ada skor tinggi 3 siswa, dan pada siklus 2 skor tinggi meningkat 11 siswa.
  3. Penerapan metode mencari pasangan dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) siswa kelas 4 SD Negeri 2 Kutabanjarnegara semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Pada siklus 2 hasil nilai tertinggi 100, nilai terendah 66,nilai rata-rata 80,5, siklus 1 hasil nilai tertinggi 90, nilai terendah 50 dan nilai rata-rata 68,37. Pada studi awal nilai rata-rata 61,43 sehingga ada kenaikan 6,9 dari pra siklus ke siklus 1, dari siklus 1 ke siklus 2 ada kenaikan 12,13 ketuntasan belajar pra siklus 37,5 %  meningkat siklus 1 ketuntasan belajar 50  %, pada siklus 2 ketuntasan belajar meningkat lagi menjadi 87,5 %.

Saran

Saran Untuk Penelitian Lanjut

  1. Mengembangkan dan mengorganisasikan matri pembelajaran, menentukan jenis kegiatan pembelajaran, memanfaatkan waktu dengan baik pada kegiatan kemampuan melakukan kerjasama dan prestasi belajar yang belum tercapai atau belum dapat diukur disarankan untuk dapat diteliti pada penelitian selanjutnya.
  2. Pelaksanaan penelitian ini baru 2 siklus, penelitian lain selanjutnya dapat menambah siklus 3 untuk mendapatkan temuan-temuan yang lebih signifikan.
  3. Instrument tes dan lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini masih merupakan instrument yang tingkat validasinya belum memuaskan, penelitian berikutnya dapat menggunakan instrument yang standart atau validitas dan reabilitas yang standart.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Anita Lie. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: PT Grasindo.

Hamid Moh. Sholeh, 2012. Metode EDU Tainment. Jogyakarta : DIVA Press.

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaran-cooperative learning.html

Kurikulum 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Tentang Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD, MI dan SDLB : Jakarta.

  1. Ngalim Purwanto, 1986. Prinsip-prinsip dan Tehnik Evaluasi Pengajaran. Bandung : Remaja Karya.

Mihtahul Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rusman.  2011.  Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta : Rineka Cipta.

BIODATA

Nama                           : Wahyuni,S.Pd

NIP                               : 19640618 198508 2 002

Pangkat/golongan     : Pembina / IV a

Jabatan                        : Guru Kelas IV

Unit Kerja                   : SDN 2 Kutabanjarnegara,  Banjarnegara




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *