UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI WONOREJO KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2016/2017

BIODATA PENULIS

NAMA                        : PUJARWATI, S. Pd

NIP                             : 19661211 198803 2 011

JABATAN / GOL      : Pembina / IV a

UNIT KERJA             : SD NEGERI WONOREJO

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar IPA dapat diupayakan melalui pendekatan scientific siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun 2016/2017.

Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan melalui 2 siklus. Model PTK yang digunakan adalah model spiral dari Kemis, S. dan Mc Taggart, R, masing-masing siklus terdiri dari tiga tahap yaitu 1) perencanaan tindakan, 2) pelaksanaan tindakan dan pengamatan, serta 3) refleksi. Masing-masing siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo yang berjumlah 34 siswa. Variabel dalam penelitian ini yaitu pendekatan scientific dan hasil belajar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar IPA dapat diupayakan melalui pendekatan scientific siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun 2016/2017. Hal ini nampak pada hasil belajar pra siklus yaitu 26%, pada siklus I hasil belajar berdasarkan ketuntasan dengan KKM ≥ 75 sebesar 82% dan siklus II hasil belajar meningkat menjadi 100%. Sedangkan hasil belajar berdasarkan perbandingan nilai tertinggi pra siklus: siklus I: siklus II adalah: 80:100:100. Perbandingan nilai terendah pra siklus:siklus I: siklus II adalah 35:50:75. Rata-rata nilai pra siklus adalah 52,64, siklus I menjadi 79,41, dan siklus II menjadi 90,29. Saran yang diberikan adalah guru kelas V SD hendaknya mengukur hasil belajar mencakup 3 aspek (kognitif, afektif dan psikomotor) melalui pengukuran tes dan non tes, untuk itu perlu mendesain pembelajaran dengan memilih pendekatan scientific.

Kata Kunci: Pendekatan Scientific, Hasil Belajar.

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA yang berpusat pada guru, berdampak pada hasil belajar siswa yang belum maksimal. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil belajar akhir semester I pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SD Negeri Woorejo dari 34 siswa 26% yaitu 9 siswa yang tuntas KKM ≥ 75, dengan nilai terendah yang diperoleh siswa sebesar 35 sedangkan nilai tertinggi yang diperoleh siswa sebesar 80 dan rata-rata nilai secara klasikal 52,64. Hasil observasi siswa kelas V SD Negeri Wonorejo pelajaran IPA kelas V menunjukkan bahwa peran siswa dalam proses pembelajaran rendah, kurang efektifnya pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Dari temuan masalah tersebut, berdasarkan hasil analisis data wawancara dan observasi ditemukan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo yaitu antara lain, dari pihak siswa:

1.Sajian materi yang kurang menantang bagi siswa

2.Kurangnya peran siswa dalam proses belajar, sehingga daya kemenarikan yang dimiliki siswa terhadap mata pelajaran IPA menjadi rendah

Dari pihak guru, ditemukan antara lain:

1.Guru tidak melatih siswa dalam menerapkan metode ilmiah dalam pembelajaran IPA

2.Pembelajaran berpusat pada guru

Setelah mempelajari beberapa pendekatan pembelajaran, maka secara hipotesis pendekatan pembelajaran yang mungkin dapat meningkatkan tercapaianya hasil belajar adalah pendekatan scientific.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah peningkatan hasil belajar IPA dapat diupayakan melalui pendekatan scientific siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun ajaran 2016/2017?”. Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar IPA dapat diupayakan melalui pendekatan scientific siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun ajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD

Pembelajaran IPA di SD menekankan pemberian pengalaman secara langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa, agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Sehingga pembelajaran IPA perlu mengutamakan peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu pembelajaran IPA di SD haruslah berpusat pada siswa sedangkan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran IPA timbul dari rasa ingin tahu manusia, dari rasa keingintahuan itu membuat manusia selalu mengamati terhadap gejala-gejala alam yang ada disekitarnya dan mencoba memahaminya. Nash (dalam Usman Samatowo, 2006: 2) IPA adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam yang bersifat analisis ,lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang di amati.

Hakekat IPA yang dinyatakan oleh Sri Sulistyorini (2007:9) dapat dipandang dari:

1.IPA Sebagai Produk merupakan akumulasi hasil upaya para perintis IPA terdahulu dan umumnya telah tersusun secara lengkap dan sistimatis dalam bentuk buku teks. Buku IPA merupakan body of knowledge dari IPA.

2.IPA Sebagai Proses adalah proses mendapatkan IPA, IPA disusun dan diperoleh melalui metode ilmiah.

Pendekatan Scientefic

Pendekatan scientific merupakan suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan ketrampilan (psikomotor). bahwa langkah–langkah pendekatan scientific adalah sebagai berikut:

a.Mengamati

b.Menanya

c.Menalar

d.Mencoba

e.Menarik kesimpulan

f.Menyajikan informasi

Hasil Belajar

Menurut Juliah dalam Asep Jihad dkk, (2013: 15) hasil belajar adalah  segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Kegiatan belajar itu terdiri dari proses belajar dan hasil belajar (Wardani NS, 2012: 24). Selanjutnya Sudjana (2004: 22) hasil belajar adalah keampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Wardani, N. S. (2012:24) “hasil belajar adalah kemampuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru”. Artinya bahwa hasil belajar diukur dari poses belajar dan hasil belajar. Penilaian yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar menggunakan teknik tes dan non tes.

Kerangka Berpikir

Secara ringkas kerangka berfikir tersebut dapat digambar melalui gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut: “Peningkatan hasil belajar IPA dapat diupayakan melalui pendekatan scientific siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun 2016/2017”.

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini merupakan penelitian jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas V SD Negeri Wonorejo pada semester II tahun pelajaran 2016/2017. SD Negeri Wonorejo merupakan SD yang terletak di Jl. Banyumas Km 03, kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Wonorejo yang berjumlah 34 siswa terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan selama 3 bulan. Dimulai dari bulan Januari dan berakhir bulan Maret 2017. Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya yaitu pendekatan scientific dan varibel terikatnya hasil

belajar IPA. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes digunakan dalam memperoleh data hasil

belajar siswa, teknik non tes digunakan untuk memperoleh data penilaian unjuk kerja kelompok. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian yaitu lembar observasi dan butir tes. Bentuk tes yang digunakan berupa

tes objektif.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif, yaitu teknik presentase dengan membandingkan hasil belajar pra siklus, siklus I dan siklus II. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau PTK. Penelitian ini menggunakan model spiral dari Kemmis dan Mc Taggart R (Arikunto, 2006:98). Pelaksanaan PTK dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga tahap yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting) dan pengamatan (observing), serta refleksi (reflecting). Indikator kinerja dari penelitian ini adalah adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Wonorejo yang diupayakan melalui pendekatan scientific. Penelitian ini dianggap berhasil apabila hasil belajar IPA berdasarkan ketuntasan siswa kelas V SD Negeri Wonorejo secara klasikal mencapai ketuntasan belajar sebesar 90% dari seluruh siswa dengan KKM ≥ 75

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo mata pelajaran IPA pada kondisi awal atau pra siklus belum maksimal. Belum maksimalnya hasil belajar IPA dikarenakan guru dalam menyampaikan materi IPA dengan metode ceramah, dimana konsep IPA disampaikan dengan ceramah. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang dijelaskan oleh guru. Guru mendominasi kegiatan  pembelajaran sehingga pada akhirnya siswa hanya bisa melakukan kegiatan mencatat dan mendengarkan saja. Siswa kurang tertarik dengan penjelasan materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Guru memberikan materi  pembelajaran dengan ceramah tanpa mengunakan media ataupun alat peraga yang

mendukung proses pembelajaran. Hasil belajar siswa pada pra siklus dapat dilihat melalui tabel berikut ini.

 

 

 

 

Berdasarkan tabel diatas siswa yang belum mencapai KKM ≥ 75 hanya sebanyak 9 siswa atau 26%. Sedangkan siswa yang sudah mencapai KKM ada 25 siswa atau 74%. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 80, sedangkan nilai terebdah 35. Rata-rata kelas hanya mencapai 52,64.

Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Rencana Tindakan

            Perencanaan siklus I ini terdiri dari dua perencanaan pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II. Peneliti menuangkan rincian kegiatan tersebut dalam RPP. Pada akhir pertemuan II diadakan tes formatif.

Pelaksanaan dan Pengamatan Tindakan

            Pelaksanaan pembelajaran dan pengamatan dua kali pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran (2 x 35 menit) dan terdiri dari tiga kegiatan pembalajaran, yaitu kegiatan awal, inti dan akhir. Berdasarkan hasil pengamatan implementasi pendekatan scientific siklus I keseluruhan sudah dilakukan oleh guru dengan baik, namun ada beberapa kegiatan pembelajaran yang belum dilakukan oleh pengajar. Selanjutnya akan diperbaiki pada siklus II.

Refleksi

Pembelajaran yang nampak pada siklus I adalah:

1.Pembelajaran sudah berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang ada pada RPP.

2.Siswa terlihat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

3.Terlihat keharmonisan siswa dalam kelompok baik. Hal ini terlihat dari cara siswa berkomunikasi dengan teman kelompok ketika melakukan diskusi dan percobaan.

4.Terlihat kecerian siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Namun di sisi lain juga terdapat kelemahan antara lain:

1.Dalam pembentukan kelompok masih terlalu gaduh dan lama, solusinya guru harus mendampingi dan membimbing siswa dalam membentuk kelompok.

2.Kerjasama antar siswa dalam kelompok masih belum maksimal solusinya guru harus memantau dan mendampingi setiap kelompok

3.Penguasaan kelas masih kurang maksimal solusinya perhatian siswa difokuskan pada materi pembelajaran.

4.Alokasi waktu kurang terkontrol dengan baik ketika siswa melakukan kegiatan yang diperintah oleh guru. Solusinya guru harus memberi waktu siswa ketika memrintahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Dari hasil analisis penelitian setelah menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan scientific yang terdiri dari 2 pertemuan pada siklus I diperoleh ketuntasan hasil belajar yang diperoleh dari penilaian tes melalui tes obyektif pilihan ganda dan non tes melalui unjuk kerja seperti pada tabel berikut ini.

 

 

 

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan antara pra siklus dan siklus I. Jumlah siswa yang mencapai KKM ada 28 siswa atau 82%. Sedangkan yang belum mencapai KKM ada 6 siswa atau 18%. Nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 100. Sedangkan nilai terendah 50. Rata-rata kelas yang dicapai yaitu 79,41. Hasil tersebut belum mencapai indikator kinerja yang telah ditentukan yaitu 90% siswa mencapai KKM, maka penelititan berlanjut pada siklus II.

Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Rencana Tindakan

Pada siklus II ini terdiri dari dua kali pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II. Pada akhir pertemuan II diadakan tes formatif.

Pelaksanaan dan Pengamatan Tindakan

            Pelaksanaan pembelajaran dan pengamatan dilaksanakan pada 2 kali pertemuan masing-masing selama 2 jam pelajaran (2x 35 menit) dan terdiri dari tiga kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan awal, inti dan akhir. Berdasarkan hasil pengamatan implementasi pendekatan scientific siklus II keseluruhan sudah dilakukan oleh guru dengan baik, semua kegiatan pembelajaran yang direncanakan daam RPP semua sudah dilakukan oleh pengajar.

Refleksi

Pembelajaran yang nampak pada siklus I adalah:

1.Rencana pembelajaran sudah sesuai dengan langkah-langkah pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan scientific.

2.Pembelajaran nampak berjalan dengan baik dan sesuai dengan RPP

3.Kerjasama kelompok berjalan dengan baik dan dan setiap kelompok kompak dalam melakukan kegiatan.

4.Siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Dari hasil analisis penelitian setelah menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan scientific yang terdiri dari 2 pertemuan pada siklus II diperoleh hasil belajar yang diperoleh dari penilaian tes melalui tes obyektif pilihan ganda dan non tes melalui unjuk kerja seperti pada tabel berikut ini.

 

 

 

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan antara pra siklus, siklus I dan siklus II. Seluruh siswa yaitu 34 atau 100% sudah mencapai KKM. Nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 100. Sedangkan nilai terendah 75. Rata-rata kelas yang dicapai yaitu 90,29. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan scientefic dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun pelajaran 2016/2017.

Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil belajar siswa pada pra siklus dapat dinyatakan semua siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo hasil belajarnya masih banyak yang belum tuntas, dengan nilai tertinggi 80, nilai terendah 35 dan rata-rata secara klasikal 52,64. Siswa dinyatakan tuntas apabila total skor hasil belajar yang diperoleh siswa dari nilai tes dan nilai non tes mencapai KKM ≥ 75. Pada pembelajaran siklus I sudah berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang ada pada RPP dan siswa terlihat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Terlihat juga kerja sama siswa dalam kelompok kompak. Hal ini terlihat dari kerjasama yang dilakukan siswa ketika melakukan percobaan. Dalam pembelajran terlihat kecerian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Namun juga masih ada kendala-kendala seperti dalam pembentukan kelompok masih terlalu gaduh dan lama, kerjasama antar siswa atau kekompakan dalam kelompok masih belum maksimal, penguasaan kelas masih kurang maksimal, alokasi waktu kurang terkontrol dengan baik ketika siswa melakukan kegiatan yang diminta oleh guru.

Hasil belajar siklus I menunjukkan peningkatan yang cukup baik dibanding perolehan hasil belajar pra siklus namun masih ada beberapa siswa yang belum mencapai KKM ≥ 75. Dari 34 siswa yang sebanyak 6 siswa atau 18% dari jumlah seluruh siswa hasil belajarnya belum memenuhi KKM ≥ 75,  sedangkan siswa yang hasil belajarnya memenuhi KKM ≥ 75. Nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50. Rata-rata yang dicapai yaitu 79,41. Sehingga indikator kinerja yang ditetapkan dalam penelitian ini belum tercapai karena indikator kinerja dalam penelitian ini bahwa 90% dari jumlah siswa secara klasikal hasil belajarnya tuntas KKM ≥ 75. Oleh karena itu diadakan perbaikan pada siklus II.

Pembelajaran siklus II jalan dengan baik sesuai dengan desain yang direncanakan. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, kerjasama kelompok berjalan dengan baik dan dan setiap kelompok kompak dalam melakukan kegiatan siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran.

Hasil belajar siklus II menunjukkan peningkatan yang cukup baik dibanding hasil belajar siklus I dan pra siklus. Dari 34 siswa, tidak ada siswa yang hasil belajarnya belum memenuhi KKM ≥ 75, atau dapat dikatakan hasil belajar secara klasikal 100% tuntas dengan KKM ≥ 75, dengan nilai tertinggi 100 sedangkan nilai terendah 75 dan rata-rata secara klasikal 90,29. Sehingga indikator kinerja yang ditetapkan dalam penelitian ini telah tercapai karena indikator kinerja dalam penelitian ini bahwa 90% dari jumlah siswa hasil belajarnya secara klasikal tuntas dengan KKM ≥ 75, sementara pada siklus II 100% hasil belajar siswa secara klasikal tuntas. Berikut ini dapat dilihat tabel perbandingan distribusi hasil belajar pra siklus, siklus I dan siklus II pada tabel berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan analisis siklus I dan siklus II nampak bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan scientific pada materi “Sifat-sifat Cahaya dan Merancang Karya Sederhana dengan Memanfaatkan Sifat Cahaya” kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Wonorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semeseter II Tahun Pelajaran 2016/2017 dapatdiupayakan melalui pendekatan scientific dengan materi “sifat-sifat Cahaya” pada siklus I dan “Membuat Karya Sederhana dengan Memanfaatkan Sifat Cahaya” pada siklus II terbukti. Hal ini nampak pada hasil belajar pra siklus yaitu 26%, pada siklus I hasil belajar berdasarkan ketuntasan dengan KKM ≥ 75 sebesar 82% dan siklus II hasil belajar meningkat menjadi 100%. Sedangkan hasil belajar berdasarkan perbandingan nilai tertinggi pra siklus: siklus I: siklus II adalah: 80:100:100. Perbandingan nilai terendah pra siklus:siklus I: siklus II adalah 35:50:75. Rata-rata nilai pra siklus adalah 52,64, siklus I menjadi 79,41, dan siklus II menjadi 90,29.

Saran

Saran bagi guru, karena keberhasilan meningkatkan hasil belajar IPA dengan pendekatan scientific diharapkan guru dapat menggunakan pendekatan scientific pada mata pelajaran lain juga. Bagi siswa, dapat berlatih dalam mengikuti langkah-langkah pendekatan scientific pada mata pelajaran lain sehingga dapat meningkatkan hasil belajar yang lain. Bagi sekolah, Kepala Sekolah juga menyarankan pada guru-guru lain agar menggunakan pendekatan scientific dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Jihad, Asep & Abdul Haris, 2012, Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta: Multi Pressindo.

Samatowo, Usman, 2006, Bagaimana Membelajarkan IPA Di SD. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan

Sulistyorini, Sri, 2007, Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar dan Penerapannya Dalam KTSP, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Wardani, Naniek Sulistya, dkk, 2012. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar. Salatiga: Widya Sari.

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *