UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI SIDOREJO KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2016/2017

BIODATA PENULIS

NAMA                        : MARTINA SUPRAPTINI, S. Pd. SD

NIP                             : 19610303 198201 2 016

JABATAN / GOL      : Pembina / IV a

UNIT KERJA             : SD NEGERI SIDOREJO

ABSTRAK

Penelitian dilakukan karena hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo masih rendah. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial melalui model pembelajaran make a match. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah melalui model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pokok bahasan koperasi dan perkembangan teknologi bagi siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo semester II tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan model Kurt Lewin dengan menggunakan siklus yang langkahnya adalah perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan 2 siklus. Teknik pengumpulan data adalah tes. Teknik analisis menggunakan deskriptif kuantitatif yang terdiri dari persentase, nilai terendah-tertinggi, dan rata-rata. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini nampak ada peningkatan ketuntasan belajar, yakni dari 38% sebelum siklus, meningkat menjadi 69% pada siklus I dan 100% pada siklus II. Peningkatan nilai terendah dari 40 sebelum tindakan, menjadi 50 pada siklus I, dan menjadi 70 pada siklus II. Peningkatan nilai tertinggi dari 80 sebelum tindakan, menjadi 90 pada siklus I, dan menjadi 100 pada siklus II. Terjadi peningkatan rata-rata kelas dari 60,38sebelum tindakan, meningkat menjadi 72,30 pada siklus I dan menjadi 88,07 pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran make a match pada mata pelajaran IPS pokok bahasan koperasi dan perkembangan teknologi bagi siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun pelajaran 2016/2017 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV.

Kata kunci: Model pembelajaran make a match, hasil belajar IPS, Penelitian Tindakan Kelas

PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran IPS di SD, guru sering dihadapkan pada permasalahan rendahnya mutu hasil belajar siswa. Fenomena ini dapat dilihat dari hasil tes formatif maupun tes sumatif, nilai IPS ada di bawah nilai-nilai mata pelajaran lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, selain faktor yang datang dari siswa sendiri, guru juga merupakan faktor yang dominan dalam menentukan keberhasilan siswa dalam belajar.           Dari hasil observasi yang peneliti lakukan di SD Negeri Sidorejo khususnya di kelas IV, guru dalam kurang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi tetapi yang digunakan guru dalam mengajar selalu menggunakan model pembelajaran yang konvensional yaitu hanya dengan ceramah, serta kurangnya guru dalam memberi contoh-contoh yang kongkret dalam pembelajaran. Dari masalah itulah peneliti ingin mengubah model pembelajaran yang digunakan guru tersebut, sehingga PTK menjadi alternatif pembaharuan pembelajaran yang peneliti tempuh untuk meningkatkan hasil belajar siswa-siswi kelas IV SD Negeri Sidorejo, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, karena hasil belajar salah satunya di tentukan oleh bagaimana kondisi yang berlangsung pada saat pembelajaran dilakukan oleh guru dan siswa.

Hasil belajar siswa-siswi di SD Negeri Sidorejo pada hasil mata pelajaran IPS masih rendah. Hal ini terlihat dari nilai siswa-siswi yang telah terkumpul. Hanya 10 siswa (38%) dari 26 siswa kelas IV yang telah mencapai batas tuntas, selebihnya belum mencapai batas ketuntasan (KKM). Batas tuntas untuk mata pelajaran IPS adalah 70, tapi kenyataannya para siswa-siswi kelas IV di SD Negeri Sidorejo banyak yang mendapat nilai dibawah 70. Data ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang telah dicapai, yang mana untuk mengetahui apakah siswa sudah mencapai atau belum mencapai batas ketuntasan minimum sesuai KKM yang sudah ditetapkan pada mata pelajaran IPS. Pada kesempatan ini penulis ingin mencoba menggunakan salah satu bentuk model pembelajaran yaitu penggunaan model pembelajaran make a match (mencari pasangan).

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

1.Secara umun siswa beranggapan bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan pelajaran yang membosankan sehingga siswa kurang berminat dalam belajar IPS dan siswa kurang aktif ketika proses pembelajaran.

2.Model pembelajaran yang digunakan oleh guru belum efektif hanya menggunakan model pembelajaran yang konvensional yakni ceramah, sehingga terkesan monoton; 3. Rendahnya mutu hasil belajar IPS siswa, nampak dari ketuntasan yang hanya 38% dari 26 siswa. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melalui model pembelajaran Make a Match siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun pelajaran 2016/2017”.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Hasil Belajar

            Menurut Winkel (1996: 45), mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Sedangkan pendapat lain disampaikan Arif Gunarso (dalam Lunandar, 2010: 5), yang menyatakan bahwa “hasil belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha-usaha belajar”. Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Adapun faktor yang mempengaruhinya adalah mendapat pengetahuan, penanaman konsep, ketrampilan, dan pembentukan sikap.

Pembelajaran IPS

Secara umum manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa menjalani kehidupan secara individu melainkan harus hidup bermasyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Dari penjelasan di atas, dapat di simpulkan bahwa IPS adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, lingkungan sosial maupun budaya. Mata Pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.Mengenal konsep- konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya

2.Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir secara logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampailan dalam kehidupan sosial.

3.Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai- nilai sosial dan kemanusiaan.

4.Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional dan global.

Ruang lingkup pembelajaran IPS dalam penelitian ini mencangkup materi koperasi dan perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportassi pada masa dulu dan masa sekarang.

Model Pembelajaran Make a Match

Anita Lie (dalam Isjoni, 2011: 112) Make a Match merupakan model pembelajaran dimana siswa mencari pasangan sendiri sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Menurut Suprijono, (2011: 94) hal-hal yang perlu disiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan Make a Match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu terdiri dari kartu berisi pertanyaan dan kartu-kartu yang lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Adapun kelemahan dan keunggulan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

Keunggulan model pembelajaran Make a Match adalah:

a.Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan.

b.Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa.

c.Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran.

d.Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis.

e.Munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa.

Kelemahan model pembelajaran Make a Match:

a.Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan

b.Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran.

c.Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.

d.Pada kelas yang gemuk (> 30 siswa/kelas) jika kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali.

Pembelajaran IPS dengan Model Pembelajaran Make a Match

Dengan diterapkannya model pembelajaran Make a Match dalam pembelajaran IPS, maka pembelajaran akan lebih menyenangkan karena siswa dapat belajar sambil bermain. Langkah-langkah pembelajaran Make a Match:

1.Guru menyiapkan kartu pembelajaran, yaitu kartu soal dan kartu jawaban

2.Guru membagikan kartu (soal/jawaban) pada setiap siswa

3.Siswa mencari pasangan, berdiskusi dengan teman untuk menemukan jawabannya.

Kerangka Berfikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diungkapkan, maka hipotesis tindakan adalam penelitian ini adalah sebagai berikut: ”Melalui model pembelajaran Make a Match pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017”.

METODE PENELITIAN

            Peneliti melaksanakan penelitian ini di kelas IV SD Negeri Sidorejo kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo pada semester II tahun pelajaran 2016/2017. Peneliti memilih tempat penelitian tersebut karena merupakan instansi bekerja peneliti. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu dari bulan Januari sampai dengan Maret 2017. Subyek dari penelitian ini adalah 26 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Dalam penelitian terdapat beberapa variabel, yaitu variabel bebas (X) adalah model pembelajaran Make a Match, dan variabel terikat adalah hasil belajar siswa. Prosedur penelitian ini terdiri dari dua siklus yang masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang masing-masing terdiri dari beberapa kegiatan. Untuk mendapatkan data yang akan dijadikan acuan penelitian, peneliti menggunakan teknik:

1.Dokumentasi, yang ditempuh peneliti dengan cara mengambil data dari nilai ulangan siswa kelas IV semester I mata pelajaran IPS

2.Tes, dengan mengadakan tes untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep siswa.

Teknik analisis data dengan menggunakan deskriptif kuantitatif yaitu dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dan siklus II dan dalam bentuk diagram kemudian dideskripsikan berdasarkan data yang telah dianalisis yang selanjutnya ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, sebagai patokan keberhasilan penelitian pembelajaran IPS kelas IV dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match, ini yaitu 80% dari seluruh siswa kelas IV telah mencapai atau melebihi KKM ≥ 70.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas IV SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 26 siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, terlihat bahwa tingkat pemahaman siswa masih rendah. Hal ini bisa terlihat dari nilai sekunder hasil evaluasi peserta didik pada mata pelajaran IPS yang telah dilakukan dimana sebagian besar peserta didik memperoleh nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 70). Ditunjukkan dengan deskpripsi hasil belajar IPS sebelun dilakukan tindakan (Pra siklus) pada tabel sebagai berikut:

 

 

 

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa hanya ada 10 siswa atau 38% yang mencapai KKM yang ditentukan yaitu ≥70. Sedangkan 16 siswa lainnya atau 62% belum mencapai KKM. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 80, nilai terendah 40 dan rata-ratanya hanya 60,38. Berdasarkan data hasil belajar yang rendah dari siswa kelas IV di SD Negeri Sidorejo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017, penulis akan melakukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan model pembelajaran Make a Match.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Perencanaan Tindakan

          Pada perencanaan tindakan siklus I yang dilakukan peneliti adalah pemilihan materi dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar “Mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat”. Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang terdiri dari dua pertemuan.

Pelaksanaan Tindakan

                Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, peneliti menerapkan apa yang sudah tertuang dalam RPP di pembelajaran di kelas. Terdiri dari dua kali pertemuan yang masing-masing dengan alokasi waktu 2 x 35 menit.Pada akhir pertemuan kedua peneliti melaksanakan tes evaluasi.

Observasi

            Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan guru pada saat melakukan pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada pertemuan berikutnya. Pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif yang dikerjakan siswa pada akhir pembelajaran siklus I. Deskripsi hasil belajar tes formatif I pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

 

 

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 18 siswa atau 69% mencapai KKM yang ditentukan yaitu ≥ 70. Sedangkan 8 siswa lainnya atau 31% belum mencapai KKM. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 90, nilai terendah 50 dan rata-ratanya adalah 72,30.

Refleksi

Berdasarkan pembelajaran yang dilaksanakan dengan model Make a Match, hasil belajar siswa pada siklus I telah mengalami peningkatan. Tetapi masih ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM dan belum mencapai ketuntasan 80%. Siswa yang mencapai nilai tuntas menjadi 18 orang siswa, yang sebelumnya hanya 8 orang siswa. Selain itu, sebagian besar siswa sudah aktif dalam mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Make a Match. Berdasarkan kekurangan hasil belajar dari pembelajaran siklus I, maka peneliti akan memperbaiki hasil belajar dengan melakukan pembelajaran pada siklus II.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

Perencanaan Tindakan

            Perencanaan tindakan pada siklus II diuraikan sebagai berikut : Pemilihan materi dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar “Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi serta pengalaman menggunakannya”. Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Pelaksanaan Tindakan

            Peneliti melaksanakan apa yang sudah tertuang dalam RPP di dalam pembelajaran di kelas. terdiri dari dua kali pertemuan dengan masing-masing alokasi waktu 2 x 35 menit. Pada akhir pertemuan kedua, peneliti mengadakan evaluasi untuk memperoleh data hasil belajar siswa.

Observasi

Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan guru pada saat melakukan pembelajaran. Pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada siklus II. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif yang dikerjakan siswa pada akhir pembelajaran siklus II. Deskripsi hasil belajar tes formatif pada siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa seluruh siswa yaitu 26 siswa atau 100% sudah mencapai KKM yang ditentukan yaitu ≥ 70. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 100, nilai terendah 70 dan rata-ratanya adalah 88,07. Hal ini tentu mengalami peningkatan yang signifikan apabila dibandingkan dengan pra siklus dan siklus I.

Refleksi

Berdasarkan pembelajaran yang dilaksanakan dengan model Make a Match, hasil belajar siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan. Nilai seluruh siswa kelas IV 100% tuntas pada siklus II dan mencapai KKM. Dan sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu 80%. Siswa sudah aktif dalam pembelajaran dengan model pembelajaran Make a Match dan indikator keberhasilan penelitian untuk variabel hasil belajar sudah tercapai pada siklus II.

Pembahasan Seluruh Siklus

Proses pembelajaran sebelum dilakukan tindakan menunjukkan hasil belajar yang rendah yaitu siswa yang nilainya memenuhi KKM sebanyak 10 siswa atau 38% dari 26 siswa dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 40 dengan rata-rata hanya 60,38. Adanya perbandingan antara jumlah siswa yang tuntas dan belum tuntas karena siswa yang sudah mencapai ketuntasan (10 siswa) telah mampu menangkap materi yang disajikan oleh guru walaupun hanya dengan ceramah, dan mempunyai kemampuan belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang lain, sedangkan 16 siswa yang belum bisa menangkap materi yang disampaikan guru dengan ceramah karena kemampuan dalam belajar mereka masih rendah jika menerima pembelajaran dengan bentuk ceramah. Oleh karena itu diperlukan tindakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas agar lebih baik dalam memahami materi pembelajaran. Peningkatan hasil belajar siswa didapatkan dari hasil perolehan nilai siklus I dan II adalah sebagai berikut:

1.Siklus I

Pada Siklus I melalui model pembelajaran Make a Match, rata-rata kelas meningkat menjadi 72,30. Siswa yang mendapat nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) sebanyak 8 siswa atau 31% dan siswa yang memenuhi KKM sebanyak 18 siswa atau 69%. Dengan nilai terendah siswa yaitu 50 dan nilai tertinggi siswa yaitu 90.

2.Siklus II

Pada Siklus II melalui model pembelajaran Make a Match, rata-rata kelas meningkat menjadi 88,07. Siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) sebanyak 26 siswa atau 100% dan artinya semua siswa telah tuntas. Dengan nilai terendah siswa yaitu 70 dan nilai tertinggi siswa 100.

Dari uraian diatas dapat dilihat kondisi sebelum dilakukan tindakan nilai rata-rata siswa 60,38 dan terdapat 10 siswa tuntas (38%) dari 26 siswa. Pada Siklus I nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 72,30 dan terdapat siswa yang tuntas sebanyak 18 siswa (69%) dari 26 siswa. Pada Siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 88,07 dari 26 siswa tuntas (100%). Perbandingan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo dapat kita lihat pada tabel berikut ini.

 

 

 

 

 

Dari tabel di atas, peningkatan hasil belajar terjadi pada setiap siklus. Jumlah siswa yang tuntas pada pra siklus hanya 10 siswa atau 38% meningkat menjadi 69% pada siklus I dan 100% pada siklus II. Sedangkan untuk siswa yang belum tuntas pada pra siklus ada 16 siswa atau 62%, pada siklus I menjadi 8 siswa atau 31% dan siklus II tidak ada. Peningkatan juga terjadi pada perolehan nilai tertinggi. Pada pra siklus hanya 80 naik menjadi 90 pada siklus I, dan 100 pada siklus II. Nilai terendah pada pra siklus adalah 40, pada siklus I menjadi 50, dan pada siklus II 70. Rata-rata yang iperoleh pada pra siklus hanya 60,38, naik menjadi 72,30 pada siklus I, dan 88,07 pada siklus II. Untuk peningkatan pesentase ketuntasan lebih jelasnya dapat kita lihat pada gambar berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dapat dilihat dari hasil tersebut bahwa pembelajaran melalui model pembelajaran Make a Match lebih baik digunakan pada saat proses pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bagus Edi Rosanto “Penerapan Model Pembelajaran Make a Match Pada Mata Pelajaran IPS Tentang Keadaan Alam Indonesia Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V di SD Negeri Semanggi 02 Kecamatan Jepon Kabupaten Blora“. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Rejeki, Edi Sukrisno, Raehanum, dan Heny Ambarwati. Peneliti menggunakan model pembelajaran Make a Match dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran sebelum dilakukan tindakan, siklus I dan siklus II terjadi peningkatan rata-rata kelas dan persentase ketuntasan hasil belajar. Adanya peningkatan ini menunjukan bahwa model pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar.

PENUTUP
Simpulan

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini nampak ada peningkatan persentase ketuntasan hasil belajar, yakni dari 38% sebelum tindakan (Pra siklus), meningkat menjadi 69% pada siklus I dan 100% pada siklus II.  Peningkatan nilai terendah dari 40 sebelum tindakan, menjadi 50 pada siklus I, dan menjadi 70 pada siklus II. Peningkatan nilai tertinggi dari 80 sebelum tindakan, menjadi 90 pada siklus I, dan menjadi 100 pada siklus II. Terjadi peningkatan rata-rata kelas dari 60,38 sebelum tindakan, meningkat menjadi 72,30 pada siklus I dan menjadi 88,07 pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Make a Match pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat meningkatakan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017.

Saran

a.Bagi Siswa

Dengan menggunakan model pembelajaran make a match pada saat pembelajaran, siswa dapat lebih aktif terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dapat menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa, meningkatkan motivasi dan daya tarik siswa terhadap pembelajaran terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

b.Bagi Guru

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaiknya menerapkan model pembelajaran Make a Match pada mata pelajaran yang lain.

c.Bagi Sekolah

Supaya dapat mengembangkan proses pembelajaran dengan baik, dan menggunakan model pembelajaran Make a Match. Selain itu, menyediakan serta melengkapi fasilitas pembelajaran secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Isjoni. 2011. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kunandar. 2010. Guru Profesional. Jakarta: Rajawali Press

Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *