Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Lembaga Tinggi Negara Melalui Metode Simulasi

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn
MATERI LEMBAGA TINGGI NEGARA MELALUI METODE SIMULASI
PADA SISWA KELAS IV SDN 3 PERNASIDI SEMESTER II
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

OLEH

BURHANUDIN, SE

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SDN 3 Pernasidi, bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn materi Lembaga Tinggi Negara dengan simulasi. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Subyek penelitian siswa kelas IV SDN 3 Pernasidi yang difokuskan pada penerapan simulasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pelaksanaan penelitian melibatkan guru lain sebagai kolaborator. Prosedur penelitian tindakan kelas meliputi : 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan Tindakan, 3) Observasi, dan 4) Refleksi. Data hasil penelitian diperoleh melalui observasi, dokumen dan tes. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus satu sebesar 63,86 dengan ketuntasan belajar 50 %. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus dua sebesar 77,52 dengan ketuntasan belajar 95,2 %. Hasil belajar PKn mengalami peningkatan sebesar 13,66. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 45,2 %. Jadi penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 3 Pernasidi khususnya materi Lembaga Tinggi Negara.

Kata Kunci : Hasil Belajar PKn, Metode Simulasi

PENDAHULUAN

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dikembangkan berdasarkan dimensi pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kewarganegaraan untuk dapat dikaji dari aspek kemampuan siswa yang mencakup konsep dasar, mengkomunikasikan konsep dan pengembangan kesadaran dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Langkah-langkah untuk mencapai tujuan di atas diperlukan partisipasi siswa. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang aktif melibatkan siswa dalam pembelajaran.

Berdasarkan studi pendahuluan, dari data tentang hasil belajar PKn dengan materi Lembaga Tinggi Negara di kelas IV semester II diperoleh hasil dengan nilai rata-rata 55. Nilai rata-rata tersebut bersumber dari daftar nilai siswa. Dari data tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata ulangan harian mencerminkan tingkat pemahaman siswa kelas IV belum mencapai standar ketuntasan minimal yang ditetapkan sekolah yaitu 67. Harapan peneliti minat belajar siswa kelas IV akan meningkat selama proses pembelajaran berlangsung agar hasil belajar meningkat.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 67, sedangkan target yang diharapkan jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas atau sama dengan 67 sebanyak 75%. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Melihat kenyataan tersebut guru dituntut untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa melalui proses pembelajaran yang tepat.

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah pembelajaran simulasi dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi Lembaga Tinggi Negara di kelas IV semester II SDN 3 Pernasidi tahun pelajaran 2015 / 2016?”.

KAJIAN TEORI

Simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya “berpura-pura atau berbuat seakan-akan”. Di dalam Kamus Bahasa Inggris- Indonesia dinyatakan bahwa simulate adalah “pekerjaan tiruan atau meniru, sedang simulate artinya menirukan, pura-pura atau berbuat seolah-olah” Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan “cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu”.

Menurut Udin Syaefudin Sa’ud, simulasi dalam perspektif model pembelajaran adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata. Sementara menurut Sri Anitah, W. dkk,  metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar.

Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Jadi metode simulasi adalah peniruan atau perbuatan yang bersifat menirukan suatu peristiwa seolah-olah seperti peristiwa yang sebenarnya.

Sebagai sebuah metode pembelajaran yang bersifat peniruan suatu peristiwa, metode simulasi memiliki Karakteristik yang mencerminkan metode ini berbeda dengan metode-metode lain, di antaranya: 1) Banyak digunakan pada pembelajaran PKn, IPS, pendidikan agama dan pendidikan apresiasi, 2) Pembinaan kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan interaksi merupakan bagian dari keterampilan yang akan dihasilkan melalui pembelajaran simulasi; 3) Metode ini menuntut lebih banyak aktivitas siswa; 4)  Dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis kontekstual; 5)  bahan pembelajaran dapat diangkat dari kehidupan sosial, nilai-nilai sosial, maupun masalah-masalah sosial.

Prinsip-prinsip Simulasi

Agar Pemakaian simulasi dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka dalam pelaksanaannya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) simulasi itu dilakukan oleh kelompok peserta didik dan setiap kelompok mendapat kesempatan untuk melaksanakan simulasi yang sama maupun berbeda; 2) semua peserta didik harus dilibatkan sesuai peranannya; 3) penentuan topik dapat dibicarakan bersama; 4) petunjuk simulasi terlebih dahulu disiapkan secara terperinci atau secara garis besarnya, tergantung pada bentuk dan tujuan simulasi;  5) dalam kegiatan simulasi hendaknya mencakup semua ranah pembelajaran; baik kognitif, afektif maupun psikomotorik; 6) simulasi adalah latihan keterampilan agar dapat menghadapi kenyataan dengan baik; 7) simulasi harus menggambarkan situasi yang lengkap dan proses yang berurutan yang diperkirakan  terjadi dalam situasi yang sesungguhnya; dan 8) hendaknya dapat diusahakan terintegrasinya beberapa ilmu, terjadinya proses sebab akibat, pemecahan masalah dan sebagainya.

Prinsip-prinsip tersebut  harus menjadi acuan dalam pelaksanaan simulasi agar benar-benara dapat dilakukan sesuai konsep simulasi dalam berbagai bentuknya. Prinsip ini berlaku dalam setiap mata pelajaran dan standar kompetensi yang sesuai dengan prinsip-prinsip  tersebut yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Oleh sebab itu untuk memilih materi atau topik mana yang akan digunakan dengan metode simulasi sangat bergantung pada karakteristik dan prinsip-prinsip simulasi dihubungkan dengan karakteristik mata pelajaran sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh sebab itu tidak semua mata pelajaran,   kompetensi dasar, indikator, dan   topik pembelajaran berbagai mata pelajaran dapat digunakan dengan simulasi. Disinilah pentingnya pemahaman  dan analisa guru tentang karakteristik dan prinsip metode simulasi dihubungkan dengan karakteristik mata pelajaran setiap kompetensi dasarnya.

Tujuan Metode Simulasi

Metode simulasi bertujuan untuk: 1) Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari; 2) Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip; 3) Melatih memecahkan masalah; 4) Meningkatkan keaktifan belajar; 5) Memberikan motivasi belajar kepada siswa; 6) Melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok; 7) Menumbuhkan daya kreatif siswa; dan 8) Melatih Peserta didik untuk memahami dan menghargai pendapat serta peranan orang lain.

Dengan demikian penggunaan metode simulasi dalam proses pembelajaran sesuai dengan kecenderungan pembelajaran modern yang menuju kepada pembelajaran peserta didik yang bersifat individu dan kelompok kecil, heuristik (mencari sendiri perolehan) dan aktif. Sesuai dengan hal ini simulasi menurut Derick, U dan Mc Aleese, R, bahwa simulasi memiliki tiga sifat utama yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, yaitu: 1) Simulasi adalah bentuk teknik mengajar yang berorientasi pada keaktifan peserta didik dalam pembelajaran di kelas, baik guru maupun peserta didik mengambil peran did dalamnya; 2) Simulasi pada umumnya bersifat  pemecahan masalah yang sangat berguna untuk melatih peserta didik melakukan pendekatan interdisiplin di dalam pembelajaran. Di samping itu dapat juga mempraktekkan keterampilan-keterampilan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat; 3) simulasi adalah model pembelajaran yang bersifat dinamis dalam arti sangat sesuai untuk menghadapi situasi-situasi yang berubah yang membutuhkan keluwesan dalam berpikir dan memberikan jawaban terhadap keadaan yang cepat berubah.

Bentuk-bentuk Simulasi

Ditinjau dari peran yang dibawakan atau dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajaran, menurut ramayulis, bentuk-bentuk simulasi dapat dibedakan menjadi:  1) Pre-Teaching/Micro Teaching; berguna untuk latihan mengajar oleh calon pendidik yang mana peserta didiknya adalah teman-teman calon pendidik; 2) Sosiodrama; permainan peranan yang diselenggarakan dimaksudkan untuk menentukan alternatif pemecahan sosial; 3) Psikodrama; permainan peranan yang diselenggarakan dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh pemahaman yang lebih tentang dirinya, penemuan konsep diri, reaksi terhadap tekanan yang menimpa dirinya; 4) Simulasi game; adalah permainan peranan dimana para pemainnya berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu dengan mentaati peraturan yang di tetapkan; 5) Role Playing; permainan peranan yang diselenggarakan untuk mengkreasi kembali peristiwa-peristiwa sejarah, mengkreasi kemungkinan masa depan, mengekspos kejadian-kejadian masa kini dan sebagainya.

Dilihat dari keluasan pelaksanaan simulasi, menurut Abu Ahmadi dkk, simulasi dapat dilakukan dari yang paling sederhana sampai kegiatan yang paling kompleks. Yang sederhana, seperti tiruan perbuatan atau peranan anggota-anggota keluarga dalam menghadapi suatu masalah atau tiruan kehidupan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat, seperti jual beli di pasar. Sementara tiruan yang agak lebih kompleks dari itu adalah kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat seperti, sidang DPRD, Sidang PBB, perundingan diplomasi, atau kejadian-kejadian sejarah. Dapat juga simulasi dilakukan dalam kegiatan yang lebih kompleks dari itu seperti, simulasi latihan penerbangan pesawat terbang, astronot, awak kapal selam, pemecahan masalah perusahaan dan sebagainya.

Peranan Guru dalam Metode simulasi

Ada tiga peranan yang dapat dilakukan guru dalam memimpin dan mengelola simulasi bagi peserta didik, pertama, Menjelaskan (Explaining); peserta didik sebagai pemegang peran perlu memahami garis besar berbagai aturan dari kegiatan atau peralatan yang diperlukan, atau tentang implikasi dari setiap tindakan yang ia lakukan. Dalam hal ini dapat menjelaskan sekedarnya kepada peserta didik, pemahaman peserta didik terhadap pokok kegiatan simulasi serta implikasi-implikasinya akan menjadi lebih jelas setelah peserta didik melakukannya sendiri atau setelah dilakukan diskusi. Kedua, mewasiti (refereeing); guru harus membentuk kelompok-kelompok dan membagi peserta didik dalam kelompok atau peran sesuai dengan kemampuan dan keinginan peserta didik. Selain itu guru harus mengawasi partisipasi peserta didik dalam permainan simulasi. Ketiga, melatih (Ciaching) guru juga harus bertindak sebagai seorang pelatih yang memberikan petunjuk-petunjuk kepada peserta didik agar mereka dapat berperan dengan baik. Keempat, memimpin diskusi (discussing); selama permainan berlangsung guru akan memimpin kelas dalam suasana diskusi, misalnya membicarakan tanggapan peserta didik dan kesukaran yang dijumpai, cara-cara untuk menguji kebenaran permainan dan bagaimana permainan simulasi itu dinyatakan dengan kehidupan yang sebenarnya.

Langkah-langkah Penggunaan Metode Simulasi

Pada dasarnya Simulasi dilaksanakan oleh sekelompok peserta didik meskipun dalam beberapa hal dapat dilakukan secara individu atau berpasangan. Bila dilakukan secara kelompok kecil, tiap kelompok dapat melakukan simulasi yang sama atau berbeda dengan kelompok lainnya. Oleh sebab itu dalam prinsip pelaksanaannya harus terjadi proses kegiatan yang menghasilkan domain efektif, (seperti menyenangkan, menggairahkan, suka, sedih, terharu, simpati, solidaritas, gotong royong, dan sebagainya), psikomotor (misalnya, keterampilan berbicara, bertanya, berdebat, mengemukakan pendapat, memimpin, mengorganisir, dan sebagainya) dan kognif. (misalnya, memahami konsep-konsep tertentu, pengertian teori dan sebagainya). Simulasi juga harus menggambarkan situasi yang lengkap dan proses atau tahap dalam situasi tersebut. hubungan sebab akibat, percobaan-percobaan, fakta-fakta dan pemecahan masalah.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dirancang dalam dua siklus. Setiap siklus mempunyai tahap perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Penelitian dilakukan tanggal 1 Maret 2016-30 Juni 2016 tahun pelajaran 2015 / 2016 di SDN 3 Pernasidi UPK Cilongok. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 3 Pernasidi tahun pelajaran 2015 / 2016 dengan jumlah siswa 24 anak. Sedangkan tingkat kemampuan siswa relatif sama.

Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah dicapai melalui tes dan observasi. Hasil analisis pada siklus satu digunakan untuk perbaikan kegiatan siklus berikutnya. Pada mata pelajaran PKn di SDN 3 Pernasidi, siswa dikatakan tuntas belajar PKn apabila siswa mendapat nilai minimal 67 dengan ketuntasan klasikal 75%. Teknik yang digunakan dalam menganalisis data adalah analisis deskriptif komparatif sebagai berikut: 1) Membandingkan nilai hasil belajar antar siklus; 2) Membandingkan hasil observasi aktivitas belajar siswa antar siklus; 3) Learning Log dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif bersama hasil refleksi dan disimpulkan untuk perbaikan dan peningkatan pada siklus berikutnya.

Indikator Keberhasilan

Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian ini, siswa dikatakan telah tuntas belajar apabila hasil belajar siswa telah mencapai rata-rata ≥ 67 dengan ketuntasan klasikal ≥ 75%.

HASIL PENELITIAN

Pada siklus satu penerapan metode simulasi dalam proses pembelajaran belum optimal, sehingga siswa masih tampak canggung dalam melaksanakan simulasi. Peran guru masih sangat dominan dalam pembelajaran, hal ini berdampak pada hasil tes siklus satu belum mengalami kenaikan signifikan dari 55 menjadi 63,86.

Pada siklus dua penerapan metode simulasi dalam proses pembelajaran sudah optimal, sehingga siswa dalam melaksanakan simulasi sudah tampak sangat meningkat. Pembelajaran PKn dengan metode simulasi sangat positif dan menambah banyak pengetahuan serta pengalaman bagi siswa. Berdasarkan hasil dari learning log pada umumnya siswa berpendapat bahwa pembelajaran dengan metode simulasi membuat siswa merasa senang, pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan.

Adapun hasil penelitian dari pelaksanaan siklus satu dan siklus dua sebagai berikut :

Hasil perolehan skor rata-rata aktivitas guru melalui metode simulasi dapat disajikan dalam gambar berikut :

Pada grafik tersebut, aktivitas guru melalui metode simulasi dari siklus satu sampai siklus dua mengalami peningkatan. Aktivitas guru pada Siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,35 yang termasuk dalam kriteria sangat baik. Pada Siklus II diperoleh nilai rata-rata aktivitas guru sebesar 3,49 yang termasuk kriteria baik sekali. Jadi aktivitas guru dari Siklus I ke Siklus II mengalami peningkatan sebesar 0,14. Hal ini disebabkan guru sangat mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Guru juga telah mempunyai kinerja yang meningkat dalam pembelajaran. Dan guru sudah mengoptimalkan metode simulasi.

Hasil Belajar Siswa

Dari hasil tes evaluasi belajar siswa terjadi peningkatan pada setiap siklusnya, yaitu rata-rata pada siklus satu 63,86 dan pada siklus dua 77,52 maka hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus satu sampai siklus dua sebesar 13,66 dengan ketuntasan belajar 95,2%. Hasil belajar siswa selama proses pembelajaran pada siklus satu dan siklus dua dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ada peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar dari siklus satu sampai siklus dua yaitu dari nilai rata-rata 63,86 menjadi 77,52 dan peningkatan ketuntasan belajar dari 50% menjadi 95,2%. Peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa dapat disajikan dalam gambar sebagai berikut :

Berdasarkan analisis data dapat dikemukakan bahwa penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV pada Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 lebih khusus materi Lembaga Tinggi Negara.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari serangkaian tindakan pembelajaran siklus satu dan siklus dua dapat disimpulkan bahwa: Penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada proses pembelajaran PKn siswa kelas IV pada Semester II Tahun Pelajaran 2015 / 2016.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siswa kelas IV SDN 3 Pernasidi, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Metode simulasi dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar PKn.

2. Perlu mengoptimalkan waktu dan proses pembelajaran dengan metode simulasi terutama pada waktu simulasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S, 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta. Bumi Aksara.

http://cenatcenutpgsd.blogspot.co.id/p/hakikat-dan-fungsi.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Tinggi_Negara

http://ariplie.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-dan-tujuan-pembelajaran-pkn.html

http://www.charlesmalinkayo.com/2012/11/penggunaan-metode-simulasi-dalam.html

______________. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Echols dan Shadily. 1996. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta : Gramedia.

Sugiyono. 2005. Statistik Untuk Penelitian. Jakarta : Alfabeta.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *