PTK SMP Mata Pelajaran IPS Pembelajaran Kooperatif Model STAD

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 2 PURWOJATI PADA PELAJARAN IPS  MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD

karsun

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS melalui pembelajaran kooperatif model STAD di kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran Kooperatif Model STAD dalam pembelajaran IPS pada materi pelaku ekonomi (rumah tangga, masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara) dapat berpengaruh terhadap peningkatkan hasil belajar siswa setelah melaksanakan tes akhir siklus II, sebanyak 25 siswa (83,3%) telah mencapai ketuntasan belajar (KKM = 75) (indikator kinerja : 80%). Siswa dapat memberikan respon positif dalam berbagai aktivitas belajar melalui diskusi kelompok dengan tingkat partisipasi mencapai 77,8% bahkan pada siklus II siswa kelihatan senang dalam melaksanakan pembelajaran dengan model STAD, siswa aktif mau membantu kesulitan teman dan saling tolong menolong agar skor peningkatan kelompoknya meningkat.

Kata Kunci  : Pembelajaran Kooperatif, STAD, Hasil belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsepdangeneralisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis (Permendiknas No 22 Tahun 2006).

Tetapi dalam kenyataannya pembelajaran IPS kurang menarik, karena guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran, Hal ini sejalan dengan pendapat Sumantri dkk (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran IPS di sekolah selalu disajikan dalam bentuk faktual, konsep yang kering, guru hanya mengejar target pencapaian kurikulum, tidak mementingkan proses. Proses pembelajaran sebagian besar masih berpusat pada kegiatan mendengarkan dan ceramah, belum diarahkan pada kegiatan belajar secara efektif dan kolaboratif, sehingga menyebabkan rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rendahnya perhatian siswa pada mata pelajaran IPS, ditambah dengan strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.

Berdasarkan observasi awal, terdapat dua permasalahan dalam pelaksanakan  pembelajaran  IPS di  SMP N 2  Purwojati kelas VIII A. Pertama, sebagian besar siswa (60%) tampak kurang berminat, kurang aktif, dan cenderung tidak kreatif. Hal ini ditunjukkan dengan sikap kurang antusias ketika pelajaran berlangsung, rendahnya respon positif dan umpan balik dari siswa terhadap pertanyaan dan penjelasan guru serta pemusatan perhatian yang kurang selama pelajaran. Kedua, berdasarkan nilai hasil Ulangan Harian sebanyak 16 siswa (53,3%) belum mencapai KKM (75).

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

“Apakah hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati pada pelajaran IPS dapat ditingkatkan melalui “Pembelajaran Kooperatif Model STAD ?” dengan tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD di Kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati.

 

KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Hakekat Belajar 

Muhibin Syah (2002:92), menjelaskan bahwa belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif  menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kongnitif.

Sedangkan menurut Asri Budiningsih, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon (Asri Budiningsih 2004:20).

Slameto (2010:2) juga menjelaskan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannnya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat diatas didukung oleh Zainal Aqib (2010:43) yang menyebutkan bahwa belajar yaitu proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar.

Dari beberapa teori tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa belajar merupakan suatu aktivitas yang dapat menimbulkan pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, hasil pengalaman dan latihan. tingkah laku yang baru tersebut misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila dan emosional. Perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemampuan.

Hasil  Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250-251) mengemukakan hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Oemar Hamalik (2000:30) menjelaskan hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Widyantini 2008) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada 4 unsur penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok, (2) adanya aturan kelompok, (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, (4) adanya tujuan yang harus dicapai.

Prisip dasar dalam pembelajaran kooperatif (Muslimin dkk, 2000) adalah sebagai berikut :

  1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggungjawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya
  2. Setiap anggota (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama
  3. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi tugas dan bertanggungjawab yang sama di antara anggota kelompoknya
  4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dievaluasi
  5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar
  6. Setiap anggota kelompok akan diminta untuk mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok.

Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat  ditarik  kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang  menempatkan siswa  dalam  kelompok-kelompok  kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar semua anggota maksimal.

Pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) (Widyantini, 2008) adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langklah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi lebih dari satu.
  2. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa.
  3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana setiap kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan keseteraan gender.
  4. Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikan secara bersama-sama, saling membantu anggota lain serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahkan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai.
  5. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
  6. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
  7. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari awal ke nilai berikutnya.

Penghargaan kelompok berdasarkan nilai rata-rata peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik dan sempurna.Kriteria untuk status kelompok menurut (Muslimin dkk, 2000) adalah sebagai berikut  :

  1. Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata-rata peningkatan kelompok < 15).
  2. Baik, bila rata-rata peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 ≤ rata-rata peningkatan kelompok < 20).
  3. Sangat baik, bila rata-rata peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20 ≤ rata-rata peningkatan kelompok < 25).
  4. Sempurna, bila rata-rata peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (rata-rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25).

Hipotesis Tindakan :

Berdasarkan  kajian  teori  dan kerangka pikir di atas, hipotesis  tindakan penelitian ini adalah “Pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Division) pada pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa  kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati.”

METODOLOGI  PENELITIAN

Setting Penelitian dan Karakteristik Kelas

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan untuk mata pelajaran IPS pada kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati. Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh satu orang guru (serumpun) sebagai kolaborator/observer.

Kelas VIII A berjumlah 30 siswa, terdiri dari 16 laki-laki dan 14  perempuan. Kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian dengan beberapa pertimbangan : pertama, 16 orang (53,3%) siswa kelas VIII A memiliki hasil  belajar yang relatif rendah pada mata pelajaran IPS dengan nilai rata-rata Ulangan Harian mencapai 68 (KKM : 75), kedua siswa kelas VIII A adalah kelas yang paling banyak menunjukkan respon negatif dalam pembelajaran IPS (kurang aktif, tidak kreatif dan kurang antusias dalam setiap KBM IPS).

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik  pengumpulan  data  menggunakan  instrumen  berupa      wawancara,  observasi  aktivitas  kelas,  pengamatan,  catatan harian, pengukuran hasil belajar, dan learning logs.

  1. Pengamatan : dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru lain sebagai pengamat kelas. Pengamatan juga menggunakan lembar obeservasi meliputi pengamatan terhadap guru dan siswa dalam berbagai aktivitas belajar, baik di kelas maupun di luar kelas.
  2. Catatan harian/jurnal : meliputi pengamatan perubahan tingkah laku siswa selama kegiatan belajar dalam berbagai aktivitas untuk berinteraksi dengan guru, siswa lain dan sumber belajar.
  3. Observasi aktivitas kelas : dilakukan untuk merekam interaksi guru dan siswa dalam hal penanaman konsep yang meliputi suasana kelas, dan aktivitas (partisipasi) siswa pada kegiatan pembelajaran dan diskusi kelompok.
  4. Pengukuran hasil belajar : dilakukan menggunakan tes prestasi belajar yang disusun dalam bentuk soal uraian dan dilaksanakan pada akhir siklus.
  5. Learning Logs : siswa menyampaikan kesan dan pengalamannya secara tertulis setelah mengikuti pembelajaran IPS menggunakan pembelajaran kooperatif Model STAD yang dilaksanakan di dalam dan di luar kelas dengan menggunakan berbagai sumber belajar.

Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini dilakukan untuk melakukan analisis pencapaian indikator kinerja yang telah ditentukan melalui beberapa cara, diantaranya :

  • Aktivitas Belajar Siswa

Kesiapan siswa dalam menerima pelajaran, kemampuan mengingat kembali materi/pengetahuan prasyarat, konsentrasi dalam mengikuti pelajaran dan tahapan pembelajaran, kemampuan berperan dalam diskusi kelompok, dinilai melalui lembar pengamatan (observasi). Skor pengamatan menggunakan Skala Likert dengan rentang 1 – 5, dengan rincian sebagai berikut :

  1. Skor 1 :  menunjukkan siswa sangat pasif
  2. Skor 2 :  menunjukkan siswa pasif
  3. Skor 3 :  menunjukkan siswa cukup aktif
  4. Skor 4 :  menunjukkan siswa aktif
  5. Skor 5 :  menunjukkan siswa sangat aktif

       Nilai pengamatan = skor x 2

Kemampuan menyelesaikan tugas secara berkelompok dalam bentuk hasil diskusi kelompok dinilai melalui bentuk fisik hasil  pekerjaan siswa dengan menggunakan skala dengan rentang 0 – 10. Skor 0 menunjukkan hasil pekerjaan siswa sangat salah dan skor 10 menunjukkan hasil pekerjaan siswa sangat tepat/benar.

  • Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dinilai melalui tes tertulis diakhir siklus (pembelajaran) yang dianalisis menggunakan format analisis ulangan harian dengan skor 1 – 5.

  • Respon Siswa

Untuk mendiskripsikan respon siswa terhadap penerapan teknik Ilustrasi Masalah  dalam pembelajaran IPS dilakukan melalui learning logs dengan menggunakan analisis persentase (%) yakni banyaknya setiap siswa yang memberikan respon positif dibagi dengan seluruh siswa kelas VIII A dikali 100.

Indikator Kinerja

Indikator untuk mengetahui keberhasilan penelitian ini ditetapkan sebagai berikut :

Sekurang-kurangnya 80% siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM IPS Kelas VIII) ≥ 75 setelah mengikuti pembelajaran kooperatif model STAD”.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus Pertama

Siklus pertama dilaksanakan dalam 4 (empat) pertemuan dengan rincian waktu kegiatan setiap pertemuan selama  2 x 40 menit. Rancangan kegiatan pada Siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut : Pertemuan pertama, dalam bentuk tatap muka kelas dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan media LCD Proyektor dengan penyampaian materi pelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai dilanjutkan dengan memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa. Kegiatan dilanjutkan dengan pembentukan kelompok setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana setiap kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah) untuk persiapan kegiatan pada pertemuan selanjutnya. Pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam bentuk kerja kelompok untuk mengerjakan tugas berkaitan dengan materi yang telah diberikan dengan cara berdiskusi secara bersama-sama dalam satu kelompok, saling membantu anggota lain serta membahas jawaban tugas yang diberikan. Kegiatan dilanjutkan memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual serta memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, kegiatan yang terakhir adalah memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari awal ke nilai berikutnya. Pertemuan ketiga, , Kegiatan pada pertemuan ini yaitu kegiatan presentasi hasil diskusi kelompok untuk dikomunikasikan dengan kelompok lain. Kegiatan presentasi hasil diskusi kelompok disampaikan oleh ketua kelompok untuk ditanggapi oleh kelompok lain. Hasil diskusi disimpulkan secara bersama-sama oleh guru dan siswa. Pertemuan keempat. Merupakan pertemuan terakhir dari kegiatan siklus I berupa  tes akhir siklus I dalam bentuk tes ulangan harian (tertulis)  dengan bentuk soal uraian. Jumlah soal 5 (lima) butir dan penilaian dilakukan dengan rumus : jumlah skor x 4 (dengan rentang skor tiap butir soal 0 – 5).

Perencanaan (planing)

Rencana tindakan yang akan disampaikan pada siklus I akan dilaksanakan dalam empat kali pertemuan pertama dengan tahap  perencanaan sebagai berikut :

  1. Guru menyusun rencana pembelajaran untuk empat kali pertemuan dengan jenis kegiatan : 1 kali tatap muka (pertemuan) untuk pemahaman konsep/materi, 1 kali tatap muka (pertemuan) untuk kegiatan diskusi kelompok, 1 kali tatap muka (pertemuan) untuk pembahasan dalam diskusi kelompok dan mengomunkasikan dengan kelompok lain, dan 1 kali untuk tes akhir siklus pertama.
  2. Guru membagi kelas menjadi 7 (tujuh) kelompok dengan rincian (5 kelompok 4 anak) dan (2 kelompok 5 anak ) dengan teknik random, tidak berdasarkan klasifikasi tertentu.
  3. Guru membuat lembar kegiatan peserta didik dan format laporan diskusi kelompok sebagai panduan aktifitas belajar siswa
  4. Guru menyiapkan media belajar berupa materi pelajaran Pelaku ekonomi : rumah tangga , masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara dalam bentuk (print out) rangkuman materi maupun foto/gambar yang ditampilkan melalui LCD.
  5. Guru menyusun perangkat soal sebagai alat evaluasi di akhir siklus.

Pelaksanaan (acting)

1

Rencana tindakan yang telah disusun dapat dilaksankan dan mendapat respon dari peserta didik meskipun belum optimal. Pertemuan pertama dalam bentuk tatap muka kelas dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan media LCD Proyektor, digunakan untuk memberikan penjelasan dan pemahan tentang konsep-konsep dasar yang terkait dengan materi Pelaku ekonomi : (rumah tangga , masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara), serta pembagian kelompok kerja dan tahapan pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Model “STAD” dalam pembelajaran berikutnya. Kegiatan belajar diawali dengan setting kelas karena menggunaan media LCD sehingga harus diatur sedemikian rupa agar dapat diakses dengan baik oleh seluruh peserta didik. Guru memeriksa kehadiran peserta didik, pertemuan pertama dihadiri oleh 30 siswa dari 30 siswa di kelas VIII A. Guru memberikan apersepsi dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyebutkan berbagai permasalahan pelaku ekonomi di masyarakat.

2

Kegiatan selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan pendapat terhadap materi yang diamati sesuai dengan pemahaman masing-masing. Ada 1 (satu) siswa memberikan respon dengan memberikan pendapatnya meskipun argumentasinya belum tepat, bahwa kegiatan ekonomi keluarga berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi masyarakat dan negara. Guru memberikan apresiasi kepada siswa yang berpendapat. Kemudian guru memberikan penekanan dan menyimpulkan bersama-sama siswa bahwa kegiatan ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi masyarakat dan negara.

Memasuki kegiatan inti, guru menjelaskan tentang peranan dan tujuan tiga sektor usaha formal sambil diselingi dengan tanya jawab. Tahap berikutnya guru menjelaskan materi pokok-pokok pekoperasian Indonesia,  pendirian usaha koperasi dan tata cara mendirikan koperasi diselingi dengan tanya jawab. Kegiatan diakhiri dengan pembentukan kelompok kerja/diskusi, rencana kegiatan di pertemuan kedua serta membaca dan mempelajari materi bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam bentuk kerja kelompok untuk mengerjakan tugas berkaitan dengan materi yang telah diberikan dengan cara berdiskusi secara bersama-sama dalam satu kelompok, masing-masing anggota kelompok diharuskan saling membantu anggota lain  dalam membahas jawaban tugas yang diberikan. Kegiatan dilanjutkan memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual serta memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, kegiatan yang terakhir adalah memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari awal ke nilai berikutnya dengan menggunakan format nilai jumlah poin peningkatan nilai individu, nilai kelompok dan kriteria penghargaan kelompok yang telah disediakan oleh guru. Pembagian tugas dan teknik penyelesaian tugas kelompok menjadi tugas dan tanggung jawab semua anggota dalam kelompok tersebut. Proses diskusi kelompok dan aktivitas masing-masing anggota kelompok diamati dengan menggunakan lembar pengamatan oleh guru mitra. Sedangkan laporan hasil diskusi kelompok dinilai menggunakan lembar penilaian tersendiri yang telah disiapkan. Secara umum kegiatan diskusi kelompok berjalan sesuai dengan perencanaan, tetapi belum sesuai yang diharapkan karena, masing-masing anggota dalam kelompok masih kelihatan ragu-ragu dan belum mau membantu/menolong anggota yang lain yang mengalami kesulitan.

Pertemuan ketiga, Kegiatan pada pertemuan ini yaitu kegiatan presentasi hasil diskusi kelompok untuk dikomunikasikan dengan kelompok lain. Kegiatan presentasi hasil diskusi kelompok disampaikan oleh ketua kelompok untuk ditanggapi oleh kelompok lain. Hasil diskusi disimpulkan secara bersama-sama oleh guru dan siswa.

Pertemuan keempat. Merupakan pertemuan terakhir dari kegiatan siklus I berupa  tes akhir siklus I dalam bentuk tes ulangan harian (tertulis)  dengan bentuk soal uraian. Jumlah soal 5 (lima) butir dan penilaian dilakukan dengan rumus : jumlah skor x 4 (dengan rentang skor tiap butir soal 0 – 5).

Pengamatan (observing).

Selama siklus I berlangsung, Guru mitra mengamati berbagai hal yang telah ditentukan pada setiap tahap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Dari berbagai data hasil pengamatan guru mitra diperoleh data kegiatan siklus I sebagai berikut :

3

      Grafik Aktivitas Belajar Siswa pada   Siklus I

           Berdasarkan data di samping, dapat diketahui bahwa tingkat aktivitas belajar siswa pada (siklus I) untuk aspek (1) Kesiapan siswa mengikuti/menerima pelajaran, jumlah siswa  yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 19 siswa atau 63,3%; aspek (2) kemampuan mengingat materi/pengetahuan prasyarat, jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 16 siswa atau 53,3%; aspek (3) konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, jumlah siswa mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 21 siswa atau 70%; dan aspek (4) kemampuan menjawab pertanyaan guru, jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 16 siswa atau 53,3%. Rerata keseluruhan aspek pada pertemuan 1 (siklus I) yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 18 siswa atau 60%. Lebih jelasnya tabulasi data hasil observasi aktivitas belajar peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

4

Tabel Aktivitas Siswa dalam Diskusi Kelompok (Siklus I)

Berdasarkan data pada tabel 3, dapat diketahui bahwa tingkat keterlibatan  siswa dalam aktivitas diskusi kelompok (siklus I) untuk aspek (1) kemampuan dalam mengambil inisiatif,  jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 21 siswa atau 70%; (2) kemampuan dalam berkomunikasi dan argumentasi , jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 22 siswa atau 73,4%; dan aspek (3) kemampuan berperan dalam penyelesaian tugas, jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 19 siswa atau 63,4%. Rerata keseluruhan aspek pada pertemuan ketiga (kegiatan diskusi kelompok) jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 20,6 (dibulatkan = 21 siswa) atau 68,9%.

Kesimpulan dari keseluruhan tabulasi data hasil observasi pada siklus I sebagai berikut : tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan pada aktivitas belajar belajar mencapai 60% (18 siswa), tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan pada aktifitas diskusi kelompok mencapai 70% (21 siswa), tingkat keberhasilan dari hasil pengamatan pada ketuntasan hasil belajar mencapai 56,67 (17 siswa).

Keseluruhan proses dan hasil analisis data pada siklus I direfleksi sebagai dasar untuk perencanaan siklus II. Berdasarkan hasil pengamatan guru mitra dan dukungan data observasi, selama pembelajaran kooperatif model STAD pada pembelajaran IPS materi pelaku ekonomi : rumah tangga , masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara pada Siklus I diperoleh simpulan data sebagai berikut :

Keberhasilan :

  1. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPS pada materi Pelaku Ekonomi di Masyarakat dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD selama pelaksanaan siklus I secara keseluruhan berjalan lancar dan mendapat respon positif dari sebagian besar siswa dalam proses belajar-mengajar.
  2. Perencanaan tindakan yang dilakukan secara matang telah memperlancar jalannya skenario pembelajaran pada siklus I.
  3. Interaksi siswa dalam proses belajar berlangsung optimal meskipun belum dapat dikatakan maksimal.
  4. Siswa lebih mudah memperoleh pemahaman dan mengimplementasikan pemahamannya tersebut setelah mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif model STAD

Kendala dan kelemahan  :

  1. Keterlibatan siswa dalam partisipasi belajar belum sepenuhnya optimal, hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya persentase siswa yang aktif dalam pembelajaran dan kegiatan diskusi kelompok.
  2. Efektivitas waktu dalam kegiatan pembelajaran belum maksimal, guru terlalu lama dalam melakukan apersepsi sehingga kesulitan membagi waktu dalam kegiatan inti.
  3. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dalam pembelajaran IPS adalah hal baru, sehingga siswa masih sedikit canggung, ragu-ragu dan belum sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dengan cepat.
  4. Masih rendahnya tingkat kesadaran pada sebagian siswa bahwa masing-masing siswa harus berperan dalam kelompok, karena perolehan nilai individu akan berpengaruh terhadap perolehan nilai penghargaan kelompok.
  5. Tidak meratanya tingkat penguasaan siswa terhadap materi, berpengaruh pada rendahnya kontribusi peserta didik dalam diskusi di masing-masing kelompok.
  6. Pencapaian indikator kinerja pada siklus I :
  • Sekurang-kurangnya 80% siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 75) setelah mengikuti pembelajaran kooperatif model STAD, pada siklus I baru mencapai . 56,67% (belum tercapai).
  • Rekomendasi : karena indikator kinerja belum tercapai, maka penelitian tindakan dilanjutkan pada siklus II.

Deskripsi Siklus Kedua

Perencanaan (planing)

Rencana tindakan yang akan diberikan pada siklus II merupakan tindak lanjut dari hasil refleksi siklus I dengan tahap  perencanaan sebagai berikut :

  1. Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk 3 (tiga) kali pertemuan dengan Kompetensi Dasar (KD) : 4.3. Mengidentifikasi bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Pertemuan pertama penyampaian materi melalui kegiatan tatap muka kelas, pertemuan kedua kegiatan dalam bentuk diskusi kelompok (tahap 2), sedangkan pertemuan ketiga digunakan untuk tes akhir siklus II.
  2. Guru membuat format laporan diskusi kelompok sebagai panduan aktifitas belajar siswa.
  3. Guru menyiapkan media belajar berupa materi pengertian, fungsi, peranan, syarat-syarat terjadinya pasar dan macam-macam pasar yang ditampilkan melalui LCD.
  4. Guru menyusun perangkat soal sebagai alat evaluasi di akhir siklus.
  5. Guru (peneliti) dibantu guru mitra melakukan observasi data dan tabulasi keseluruhan data yang diperoleh untuk persiapan penyusunan laporan hasil penelitia tindakan kelas yang telah dilaksanakan.

Pelaksanaan (acting)

5

Rencana tindakan yang telah disusun dapat dilaksankan dan mendapat respon dari peserta didik meskipun belum optimal. Pertemuan pertama dalam bentuk tatap muka kelas dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan media LCD Proyektor, digunakan untuk memberikan penjelasan dan pemahan tentang konsep-konsep dasar yang terkait dengan materi (KD) 4.3. Mengidentifikasi bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan belajar diawali dengan setting kelas karena menggunaan media LCD sehingga harus diatur sedemikian rupa agar dapat diakses dengan baik oleh seluruh peserta didik. Guru memeriksa kehadiran peserta didik, pertemuan pertama dihadiri oleh 30 siswa dari 30 siswa di kelas VIII A. Guru memberikan apersepsi dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyebutkan kegiatan ekonomi di pasar.

6

Pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam bentuk kerja kelompok untuk mengerjakan tugas berkaitan dengan materi yang telah diberikan dengan cara berdiskusi secara bersama-sama dalam satu kelompok, masing-masing anggota kelompok diharuskan saling membantu anggota lain  dalam membahas jawaban tugas yang diberikan. Kegiatan dilanjutkan memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual serta memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, kegiatan yang terakhir adalah memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari awal ke nilai berikutnya dengan menggunakan format nilai jumlah poin peningkatan nilai individu, nilai kelompok dan kriteria penghargaan kelompok yang telah disediakan oleh guru. Pembagian tugas dan teknik penyelesaian tugas kelompok menjadi tugas dan tanggung jawab semua anggota dalam kelompok tersebut. Proses diskusi kelompok dan aktivitas masing-masing anggota kelompok diamati dengan menggunakan lembar pengamatan oleh guru mitra. Sedangkan laporan hasil diskusi kelompok dinilai menggunakan lembar penilaian tersendiri yang telah disiapkan. Secara umum kegiatan diskusi kelompok berjalan sesuai dengan perencanaan, kegiatan diskusi kelompok lebih dinamis, siswa sudah memahami bahwa setiap peran serta dan kontribusi akan mendapat skor. Masing-masing siswa sudah berperan dalam kelompok, karena perolehan nilai individu akan berpengaruh terhadap perolehan nilai penghargaan kelompok. Masing-masing anggota dalam kelompok kelihatan aktif dan mau membantu/menolong anggota yang lain yang mengalami kesulitan.

Pertemuan ketiga, terdiri dari 2 (dua) kegiatan yaitu presentasi hasil diskusi kelompok dan tes akhir siklus yang diamati dan dinilai hanya hasil tes akhir siklus untuk mengetahui prestasi hasil belajar karena presentasi hasil diskusi merupakan lanjutan dari kegiatan diskusi kelompok dan hanya dibacakan oleh ketua kelompok. Tes akhir siklus I berupa Ulangan Harian dari KD 4.2. Mendeskripsikan pelaku ekonomi : (rumah tangga , masyarakat, perusahaan, koperasi dan negara) Tes akhir siklus I dilaksanakan dalam bentuk tes tertulis (uraian) dengan jumlah soal 5 butir (nilai = jumlah skor x 4).

Pertemuan keempat. Merupakan pertemuan terakhir dari kegiatan siklus II berupa  tes akhir siklus II dalam bentuk tes ulangan harian (tertulis)  dengan bentuk soal uraian. Jumlah soal 5 (sepuluh) butir dan penilaian dilakukan dengan rumus : jumlah skor x 2 (dengan rentang skor tiap butir soal 0 – 5).

Pengamatan (observing).

Seperti halnya kegiatan pada siklus I, selama siklus II berlangsung, guru mitra mengamati berbagai hal yang telah ditentukan pada setiap tahap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Dari hasil pengamatan guru mitra diperoleh data kegiatan siklus II sebagai berikut :

7

Tabel  Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus II

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama (siklus II) untuk aspek (1) Kesiapan siswa mengikuti/menerima pelajaran, jumlah siswa  yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 26 siswa atau 86,7%; aspek (2) kemampuan mengingat materi/pengetahuan prasyarat, jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 24 siswa atau 80%; aspek (3) konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, jumlah siswa mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 25 siswa atau 83,3%; dan aspek (4) kemampuan menjawab pertanyaan guru, jumlah siswa yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 20 siswa atau 66,6%. Rerata keseluruhan aspek pada pertemuan 1 (siklus II) yang mencapai nilai ³ 8,00 sebanyak 23,8 (dibulatkan 24 siswa) atau 79,1%. Lebih jelasnya tabulasi data hasil observasi aktivitas belajar peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Refleksi (reflecting). Keseluruhan proses pada siklus II direfleksi untuk mengetahui pencapaian indiator kinerja yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil pengamatan guru mitra dan tabulasi data hasil observasi selama pembelajaran IPS dengan pendekatan “Pembelajaran Kooperatif Model STAD” materi Kegiatan Pelaku Ekonomi di Masyarakat pada siklus II sebagai tindak lanjut dari hasil refleksi siklus I dan perencanaan pada siklus II diperoleh hasil refleksi sebagai berikut :

Pencapaian indikator kinerja pada siklus II :

  • Sekurang-kurangnya 80% siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 75) setelah mengikuti pembelajaran kooperatif model STAD, pada siklus II mencapai 83,3 % ( tercapai).
  • Rekomendasi : karena indikator kinerja sudah tercapai, maka penelitian tindakan dihentikan sampai siklus II.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut  :

  1. Proses pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model STAD pada materi kegiatan pelaku ekonomi di masyarakat ternyata berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa setelah melaksanakan tes akhir siklus II sebesar 83,3% atau 25 siswa telah mencapai ketuntasan belajar (KKM = 75) (indikator kinerja : 80%).
  2. Dengan tercapainya indikator kinerja yang telah ditentukan setelah siklus II berakhir, maka siklus penelitian tindakan kelas ini dihentikan.

Rekomendasi

Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD perlu memperhatikan :

  1. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain.
  2. Guru harus mampu mengakomodasi beragamnya sifat anak dalam pembelajaran kooperatif model STAD.
  3. Guru harus dapat memilih dan menyusun variasi pada saat pembelajaran
  4. Guru dituntut memiliki kreatifitas dalam meyajikan, mengelola kelas dan memberikan motivasi kepada siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
  5. Guru harus mampu mendorong siswa untuk berfikir kratif dan mandiri.
  6. Penelitian ini mengalami keterbatasan fasilitas, sarana dan prasarana serta pendeknya waktu, penelitian ini hanya melibatkan satu kelas yang terdiri 30 siswa 16 laki-laki dan 14 perempuan. Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi dan hanya berlaku di kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwojati Kabupaten Banyumas.

DAFTAR PUSTAKA

Asri Budiningsih, 2004. Belajar dan Pembelajaran. Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

Dimyati dan Mudjiono,1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Rineka Cipta

Muhibbin Syah, 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Cetakan ke 7). Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Unesa University Press.

Oemar Hamalik, 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung, Bumi Aksara

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Slameto, 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempegaruhinya. Jakarta , PT. Rineka Cipta.

Sumantri, Mulyana dan Johar Permana, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bangung : Maulana

Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta : P4TK

Zainal Aqib, 2010. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya, Insan Cendekia

BIODATA

NAMA                    :  KARSUN, S.Pd

NIP                          :  19670210 199512 1 001

JABATAN               :  Guru

UNIT KERJA          :  SMP Negeri 2 Purwojati

GOLONGAN          :  IV/a




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *