PTK SD Matematika Soal Cerita Penjumlahan dan Pengurangan

PTK SD Matematika Soal Cerita Penjumlahan dan Pengurangan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA TENTANG MENYELESAIKAN SOAL CERITA  PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MELALUI MEDIA KONKRET

Disusun oleh : Risukamtini

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan meningkatkan kemampuan matematika tentang menyelesaikan soal cerita penjumlahan dan pengurangan melalui media konkret. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri Bajing 02 pada semester II tahun pelajaran 2014/2015. Tindakan dilakukan dalam dua kegiatan, setiap kegiatan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan media kongkrit dapat meningkatkan kemampuan Matematika tentang menyelesaikan soal cerita bentuk penjumlahan dan pengurangan. Nilai rata-rata pada studi awal adalah 56,25 , sedangkan pada siklus I nilai rata-rata 68,5. Dari data tersebut berarti ada peningkatan sebanyak 16,5 atau naik 28,45%. Pada siklus II nilai rata-rata meningkat lagi menjadi 88,50, berarti ada peningkatan sebanyak 15 atau naik 20,13%. Begitu juga tentang ketuntasan belajar siswa. Dari data studi awal siswa yang tuntas ada 9  siswa atau 45%. Sedangkan pada siklus I siswa tuntas naik menjadi 14 siswa, berarti ada kenaikan sebanyak 5 siswa. Pada siklus II siswa tuntas naik menjadi 100% atau 20 siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Berdasarkan keterangan di atas maka sebagai : Melalui penggunaan media konkret dalam pembelajran matematika tentang penyelesaian soal cerita penjumlahan dan pengurangan  dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar  siswa kelas I SD Negeri Bajing 02.

 

Kata kunci : media konkret, matematika, penjumlahan, pengurangan

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam perananya dimasa akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi agama, masyarakat, keluarga dan negara. Merupakan suatu kenyataan bahwa pemerintah dalam hal ini diwakili lembaga yang bertanggung jawab didalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, akan tetapi pendidikan menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah dan masyarakat yang sering disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan adalah mengenai rendahnya mutu pendidikan atau output yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Dalam hal ini yang menjadi kambing hitam adalah guru dan lembaga pendidikan tersebut, orang tua tidak memandang aspek keluarga dan kondisi lingkungannya. Pada hal lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat menentukan terhadap keberhasilan pendidikan.

        Sekolah memegang  peranan sangat penting dalam kehidupan masa mendatang. Anak didik memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menafsirkan data, dapat menggunakan kalkulator dan komputer. Selain itu, juga  membantu memahami bidang studi lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya, dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, beserta bersikap positif dan berjiwa kreatif.

       Namun dalam kenyataan dilapangan bagi sebagian besar anak sekolah terutama sekolah dasar matematika dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan. Hal ini bisa disebabkan oleh bebarapa hal. Pertama, pelajaran matematika selalu berhubungan dengan angka dan rumus yang harus dihafalkan. Kedua, pada saat pembelajaran peneliti menggunakan metode pembelajaran yang kuno sehingga menyebabkan kebosanan pada anak. Ketiga adalah usia anak yang berbeda – beda tingkat berfikirnya. Dari permasalahan tersebut peneliti menyimpulkan ada beberapa penyebab mengapa hasil belajar siswa kurang antara lain kondisi kelas yang kurang nyaman, alat peraga yang belum lengkap dan metode pembelajaran yang digunakan peneliti kurang menarik. Hal ini mengakibatkan kurangnya konsentrasi siswa terhadap pelajaran dan menjadikan siswa pasif dalam kegiatan belajar mengajar.

Hasil pengamatan yang dilakukan dalam pembelajaran Matematika di kelas I SDN Bajing 02 menunjukkan  bahwa : 1. Pembelajaran masih berpusat pada guru sebagai satu-satunya sumber belajar. 2. Kurangnya motivasi guru terhadap siswa. 3. Media pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga pembelajaran terkesan sangat monoton. 4. Kurangnya buku-buku matematika yang tersedia. Dari identifikasi masalah-masalah diatas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas dan hasil belajar masih rendah. Hal ini disebabkan media pembelajaran kurang menarik. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan: Bagaimana melalui penerapan media konket dapat meningkatkan kemampuan Matematika tentang menyelesaikan soal cerita penjumlahan dan pengurangan siswa kelas 1 SD Negeri Bajing 02?

 

KAJIAN PUSTAKA

Konsep Matematika

Menurut Reys dalam Ruseffendi (1992: 28), ” Matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat ”. Sedangkan Menurut buku karangan Wahyudi (2008:3), ” Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima sehingga kebenaran antar konsep dalam matematika bersifat kuat dan jelas ”. Catur Supatmono (2009:5-6) menuliskan pengertian matematika, secara   etimologi, matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathemata  yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’ (“things that are learned”). Dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.

            Sedangkan Ruseffendi E. T (1988:23) mengatakan bahwa matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil yang telah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif. Sementara, menurut Soedjadi (2000: 1) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi atau pengertian matematika berdasarkan sudut pandang pembuatnya, yaitu sebagai berikut: 1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisirsecara sistematik. 2. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi. 3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan. 4. Matematika adalahpengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. 5. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logic. 6. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat

       Dari beberapa pendapat para ahli di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pengertian matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisirsecara sistematik yang terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil yang telah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum.

        Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan  bahwa matematika adalah ilmu tentang berbagai bilangan yang merupakan suatu jalan atau pola berpikir abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga kebenaran antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

Pengertian Penjumlahan

            Menurut Sukayati, (2011:24) penjumlahan merupakan suatu aturan yang mengaitkan setiap pasangan bilangan dengan bilangan yang lain. Penjumlahan ini mempunyai beberapa sifat yaitu: sifat pertukaran (komutatif), sifat identitas, dan sifatpengelompokan asosiatif. Muchtar A Karim, dkk (1997: 184) menyatakan apabila a dan b bilangan bulat, maka definisi penjumlahannya adalah sebagai berikut: a + b = (a + b), jika a dan b bilangan bulat tak negatif. a +(-b)= a – b, jika a dan b bilangan bulat tak negatif serta a > b. a + (-b) = 0, jika a dan b adalah bilangan bulat tak negatif serta a = b. Serta a + (-b) = -(b – a), a dan b adalah bilangan bulat tak negatif dan a < b.

Pengertian Pengurangan 

            Mochtar A Karim, dkk (1997: 186) mendefinisikan pengurangan bilangan bulat sebagai berikut: Jika a dan b adalah bilangan bulat, maka a – b adalah sebuah bilangan bulat x yang bersifat b + x = a. dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa a – b = x jika dan hanya jika a = b + x. Sedangkan jika a dan b bilangan bulat, maka a – b = a + (-b). Sifat ini menyatakan bahwa a – b sama nilainya dengan a + lawan b. Oleh sebab itu, operasi pengurangan merupakan invers dari operasi penjumlahan. Pengurangan merupakan kebalikan dari penjumlahan, tetapi pengurangan tidak memiliki sifat yang dimiliki oleh penjumlahan. Pengurangan tidak memenuhi sifat pertukaran, sifat identitas, dan sifat pengelompokan.(Sukayati, 2011:24)

Pengertian Media Konkret

            Menurut pendapat Purwodarminto (1988:455) kongkret adalah nyata, benar-benar ada ( berwujud, dapat dilihat, diraba dsb). Kata kongkret biasanya sering dihubungkan dengan benda-benda, baik benda-benda di rumah, di jalan atau dilingkungan sekitar. Benda adalah segala yang ada di alam yang berwujud atau barjasad (bukan roh) misal bola, kelereng, kayu, kerikil dansebagainya. .

Mulyani Sumantri, (2004:178) mengemukakan bahwa secara umum media konkret berfungsi sebagai (a) Alat bantu untuk mewujudkan situasi bejar mengajar yang efektif, (b) Bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar, (c) Meletakkan dasar-dasar yang konkret dan konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme, (d) Mengembangkan motivasi belajar peserta didik, (e). Mempertinggi mutu belajar mengajar.

Menurut Winataputra, media konkret adalah segala sesuatu yang nyata dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan efesien menuju kepada tercapainya tujuan yang diharapkan. Media realia (media bantu konkret) adalah merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada para siswa, yaitu merupakan model dan objek nyata dari suatu benda, seperti meja, kursi, mata uang, tumbuhan, binatang, dan sebagainya.

Mulyana Sumantri (2004:178) menjelaskan bahwa keuntungan penggunaan media konkret dalam pembelajaran adalah: 1) Membangkitkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya, 2) Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran, 3) Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar, 4) Dapat mengambangkan jalan pikiran yang berkelanjutan, 5) Menyediakan pengalaman- pengalaman yang tidak mudah di dapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam. Sedangkan menurut Ibrahim dan Syaodih (2010:119) keuntungan menggunakan media konkret dalam pembelajaran adalah : 1) Dapat memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada siswa untuk mempelajari sesuatu ataupun melaksanakan tugas-tugas dalam situasi nyata. 2) Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami sendiri situasi yang sesungguhnya dan melatih keterampilan mereka dengan menggunakan sebanyak mungkin alat inderakelemahan menggunakan objek nyata ini antara lain : a) Membawa murid-murid ke berbagai tempat di luar sekolah kadang-kadang mengandung resiko dalam bentuk kecelakaan dan sejenisnya. b) Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai objek nyata kadang-kadang tidak sedikit, apalagi ditambah dengan kemungkinan kerusakan dalam menggunakannya. c) Tidak selalu dapat memberikan semua gambaran dari objek yang sebenarnya, seperti pembesaran, pemotongan, dan gambar bagian demi bagian, sehingga pengajaran harus didukung pula dengan media lain.

            Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemanfaatan media konkret pada siswa kelas I adalah: 1) Dengan menggunakan benda konkret lain seperti kelereng, konsep pengurangan siswa diminta mengambil 9 buah kelereng, kemudian dari sembilan kelereng tersebut diberikan4 buah kelereng kepada temannya, jadi sisa kelereng tersebut menjadi 5 buah kelereng. 2) Dengan menggunakan media lidi. Dalam menjelaskan konsep pengurangan siswa diminta mengambil 16 buah lidi, kemudian dari enam belas lidi tersebut diberikan 4 buah lidi kepada temannya, jadi sisa lidi tersebut menjadi12 buah lidi. 3) Dengan menggunakan media permen. Dalam menjelaskan konsep penjumlahan dan pengurangan siswa A diminta mengambil 20 permen kemudian diberikan kepada temannya siswa B 5 buah, kemudian guru memberikan lagi 8 buah permen kepada siswa A, jadi sekarang siswa A mempunyai 23 permen. 4) Dengan menggunakan media kerikil. Konsep penjumlahan, siswa A diminta mengambil kerikil sebanyak 13 buah, kemudian siswa B diminta mengambil kerikil sebanyak 7 buah, maka jumlah kerikil dari siswa A dan B adalah 20 buah.

Kerangka Berfikir

Pada kondisi awal peneliti belum menggunakan media konkret dalam materi penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I SDN Bajing 02, hasil belajarnya siswa masih rendah. Setelah dilakukan refleksi kemudian dirumuskan untuk tindakan perbaikan, yaitu melalui penggunaan media konkrit dalam proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan Dalam siklus yang pertama peneliti menggunakan media konkret dalam pembelajaran klasikal. Pada Siklus kedua juga menggunakan media konkret tetapi dalam pembelajaran kelompok. Setelah dilakukan tindakan, siklus pertama dan kedua, diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat.

Hipotesis Tindakan

            Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berfikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan untuk penelitian ini adalah sebaga berikut :Diduga melalui penggunaan media konkret dapat meningkatkan hasil belajar matematikatentangmenyelesaikan soal cerita  penjumlahan dan pengurangan siswa kelas I SD Negeri Bajing 02.

METODE  PENELITIAN

Jenis Penelitian

       Penelitian ini merupakan penelitian tindakan(action research). Karena dalam penelitian ini peneliti melakukan  sesuatu tindakan,  mengamati  dan melakukan perubahan terkontrol dan  dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana  suatu  teknik  pembelajaran  diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Penelitian ini juga disebut eksperimen karena peneliti mencoba melakukan perubahan model pembelajaran pada materi yang sama. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan langsung oleh guru sebagai penanggung jawab. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas, dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.

          Dalam penelitian  tindakan kelas ini, peneliti menggunakan model PTK dari Kemmis &Tagart. Peneliti menggunakan model tersebut karena dirasa sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.

Subjek Penelitian

         Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas I SD Negeri Bajing 02 dengan jumlah siswa sebanyak 20 siswa, yang terdiri dari laki-laki 12 dan 8 perempuan. Sebagian besar nilai Matematikanya rendah, nilai rata-rata sebesar 58,00.

Waktu Penelitian

         Pelaksanaan penelitian ini di Sekolah Dasar Negeri Bajing 02 Tahun Ajaran 2014/2015 dibagi dalam 2 jangka waktu. Tiap jangka waktu 6 bulan disebut semester. Dengan demikian dalam Tahun Ajaran terdapat 2 semester. Penulis melaksanakan penelitian tindakan kelas pada semester II. Tepatnya pada bulan Februari sampai bulan Maret tahun 2015.

Variable Penelitian

       Variabel pada penelitian tindakan kelas ini antara lain; 1. Penggunaan media konkret pada materi penjmlahan dan pengurangan pada siswa kelas I SDN Bajing 02. 2. Kemampuan siswa menyelesaikan soal cerita materi penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas ISDN Bajing 02.

Siklus penelitian

Kondisi Awal (Prasiklus)

           Pada kondisi awal ditemukan permasalahan rendahnya hasil belajar siswa kelas I SD Negeri Bajing 02 pada mata pelajaran matematika pada kompetensi dasar melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Masalah yang muncul pada pembelajaran tersebut disebabkan oleh kurang berminatnya siswa mengikuti pembelajaran, siswa merasa bosan sehingga tidak dapat memahami materi yang diberikan oleh guru dengan baik, siswa tidak dapat mencerna konsep abstrak tentang penjumlahan dan pengurangan yang dijelaskan oleh guru. Sedangkan masalah yang ditemukan pada guru sebagai penyaji materi adalah guru kurang kreatif dalam menyajikan materi, model pembelajaran yang digunakan tidak bervariasi, dan guru belum menggunakan media yang tepat untuk menjelaskan materi tersebut.

           Dari permasalahan tersebut di atas, maka peneliti ingin meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SD Negeri Bajing 02  pada materi menyelesaiakn soal cerita yang berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan media konkret.

Siklus 1

Rancangan Perencanaan

       Sebelum melaksanakan tindakan  pembelajaran, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan: materi pembelajaran, sumber  dan media yang tepat untuk tindakan perbaikan dengan media konkret berupa buku paket Matematika, lidi, kerikil, permen  dan  media lain yang dapat digunakan untuk pembelajaran, dan alat evaluasi berupa lembar soal.

Rancangan Pelaksanaan

Kegiatan Awal

Guru mengucap salam, guru mengkondisikan kelas mulai  dari   ruang   kelas   sampai   dengan

Absensi, guru mempersilahkan salah satu siswa memimpin doa, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan  langkah-langkah  pembelajaran  dengan  menggunakan   media konkret.

Kegiatan  Inti         

Guru  menerangkan   secara   singkat   tentang   konsep   penjumlahan   dan  pengurangan.Guru menjelaskan dengan contoh benda nyata/ media konkret tentang konsep penjumlahan dan pengurangan.Guru menggunakan media konkret untuk  menyelesaikan soal cerita yangberhubungan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan. Guru  bertanya   pada   siswa   mengenai   proses   penyelesaian   masalah

penjumlahan  dan  pengurangan   yang   didemonstrasikan   guru   dengan media konkret.

Kegiatan Akhir

Guru bersama siswa rangkuman atau kesimpulan dari hasil  kegiatan.Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu. Guru memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas rumah. Guru memberikan pesan moral yang terkandung dalam materi. Guru menutup pelajaran dengan memberikan salam.

Rancangan Observasi

       Mengamati kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Siswa melaksanakan evaluasi. Guru mengevaluasi hasil pekerjaan siswa.

Refleksi

        Mengadakan wawancara dengan siswa   untuk   mengungkap   kesulitan yang  dialami maupun  hal  yang   mempermudah   dalam   mengerjakan   soal.    Sehingga kekurangan yang terjadi pada siklus 1 dapat terpecahkan pada siklus 2. Dilaksanakan siklus 2, dikarenakan pada siklus 1 belum memenuhi target.

Siklus II

Rancangan Perencanaan

       Sebelum  melaksanakan   tindakan    perbaikan    pembelajaran,    peneliti  terlebih dahulu mempersiapkan: (1) Renana Pelaksanaan Pembelajaran Perbaikan untuk pembelajaran pada siklus II.  (2) Sumber dan  media  yang  tepa  untuk  tindakan  perbaikan  dengan   media  benda konkret.

(3) Alat evaluasi berupa lembar soal. (4) Menyiapkan lembar pengamatan untuk observer.

Rancangan Tindakan

Kegiatan Awal

         Berdoa bersama siswa,  mengabsen seluruh siswa,  apersepsi/motivasi, Guru mempersiapkan siswa untuk duduk  bersama  kelompok  kerja  yang sudah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Guru mengulas materi minggu lalu.

Kegiatan Inti

        Guru menyampaikan  tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru  memberikan  media  berupa  permen,  lidi,  congklak,   dan   kerikil  kepada siswa disetiap kelompok. Guru menjelaskan cara kerja yang harus dilakukan siswa terhadap benda-benda tersebut. Siswa dipandu guru mulai  menerangkan  cara  menyelesaikan soal  cerita  yang berhubungan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan dengan  menggunakan bantuan media tersebut. Tanya jawab bersama siswa mengenai materi yang telah diberikan.Guru   memberikan   penjelasan   mengenai   kejadian    sehari-hari   yang berkaitan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan.

Kegiatan Akhir

        Guru bersama siswa rangkuman atau   kesimpulan   dari   hasil   kegiatan kelompok.   Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu. Guru memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi.

Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas rumah. Guru memberikan pesan moral yang terkandung dalam mater. Guru menutup pelajaran dengan memberikan salam.

Rancangan Observasi

Mengamati kemampuan siswa selama proses pembelajaran.Siswa melaksanakan evaluasi.Guru mengevaluasi hasil pekerjaan siswa.

 Refleksi

Setalah melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II diperoleh hasil yang samagt memuaskan. Seluruh siwa telah berhasil mencapai ketuntasan belajar dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimum sebesar. Dari hasil tersebut peneliti telah menyatakan penelitian tindakan kelas meningkatkan prestasi belajar matematika tentang penjumlahan dan pengurangan di kelas I SD Negeri Bajing 02 dengan menggunakan media konkrettelah memenuhi target yang diharapkan.

Jenis Data

        Data yang dikumpulkan adalah berupa data primer dan sekunder. Data primer berupa hasil prestasi belajar siswa, dan data sekunder berupa respon, opini, dan pendapat siswa tentang peran metode dalam mempermudah siswa dalam pemahaman materi dan motivasi belajar,

Sumber Data

        Sumber data dalam penelitian ini menggunakan 2 sumber data yaitu : Sumber data primer, sebelum perbaikan rata-rata nilai tes formatif di kelas I SDN  Bajing  02    yaitu sebesar  56,25 dan jumlah siswa yang tuntas 9 siswa (45 %) dari 20 siswa. Sumber data sekunder, data sekunder  diperoleh  dari  respon  atau  pendapat   siswa   mengenai metode  pembelajaran  yang   dilakukan,   sebelum   perbaikan   motivasi belajar siswa sebesar 8 siswa (40%)  dari  20  siswa,  sedangkan  metode  yang digunakan yaitu ceramah.

Teknik Pengumpulan Data

         Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan diantaranya: 1) Tes, tes  adalah  serentetan  pertanyaan  atau  latihan   serta   alat lain yang digunakan untuk  mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.Tes peneliti  gunakan untuk  memperoleh data keterampilan  siswa materi penjumlahan dan pengurangan.Untuk mendapatkan data yang diperoleh peneliti menggunakan langkah- langkah pengumpulan : 1) Menyediakan perangkat tes beserta petunjuk pengerjaan dan kunci jawaban. 2) Memberikan tes keseluruh subyek penelitian. 3) Mengumpulkan lembar jawaban yang sudah diselesaikan oleh subyek penelitian. 4) Mengidentifikasi jawaban peserta didik berdasarkan kunci  jawaban,  dan  lembar  penilaian yang  berisikan  indikator  pencapaian  keterampilan  materi  penjulahan dan pengurangan .

Observasi (Pengamatan)

Observasi  atau   yang   disebut   pula   dengan   pengamatan   meliputi  kegiatan pemuatan perhatian terhadap  sesuatu  objek   dengan  menggunakancontoh soal cerita dalam   kehidupan   sehari   teknik   penelitian menjelaskan  bahwa observasi yaitu pengamatan  secara langsung ke objek penelitian untu    melihat daridekat kegiatan yang dilakukan. Observasi peneliti  gunakan  untuk memperoleh data tentang penggunaan media konkret untuk materi penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I. 2) Dokumentasi,dokumentasi dari asal  katanya dokumen   yang   artinya   barang-barang  tertulis .  Di d alam   melaksanakan  model  dokumentasi  peneliti  menyelidiki  benda benda tertulis   seperti   permen,   batu   kerikil   dan   lain   sebagainya. Dokumentasi  peneliti  gunakan  untuk memperoleh  data tentang nilai   siswa sebagai hasil keterampilan siswa dalam materi  penjumlahan  dan  pengurangan dengan media konkret.

Teknis Analisis Data

Terhadap perolehan hasil tes formatif pada pelajaran matematika dianalisis menggunakan tehnik data primer dan sekunder  dengan  memberikan  nilai  pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus I dan siklus  II. Hasil    perhitungan    dikonsultasikan    dengan    kriteria    keberhasilan,   untuk mengetahui tuntas atau belum tuntas.   Hasil  observasi  dianalisis  menggunakan  teknik data primer dan  sekunder   yang   digambarkan dengan   kata-kata   atau kalimat sebagai berikut :Sumber data primer,sebelum perbaikan rata-rata nilai tes formatif di kelas I SDN Bajing  02   yaitu   sebesar  56,25 dan jumlah siswa yang tuntas 9 siswa (45%) dari 20 siswa.Sumber data sekunder,data sekunder diperoleh dari respon  atau  pendapat   siswa  mengenai  metode   pembelajaran yang  dilakukan,   sebelum   perbaikan   motivasi   belajar   siswa sebesar 8 siswa (40%) dari 20  siswa, sedangkan metode yang digunakan yaitu ceramah.

Indikator Kinerja

Sebagai tolak ukur keberhasilan PTK ini,   peneliti menetapkan indikator.Adapun kriteria indikator penelitian adalah 80 % siswa dapat memperoleh nilai di atas KKM yaitu (75).

Hasil Penelitian

Deskripsi Hasil Belajar Prasiklus

            Kondisi awal pada mata pelajaran matematika pada standar kompetensi melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dengan dua angka dalam pemecahan masalah pada siswa kelas I SD Negeri Bajing 02 masih jauh dari harapan guru. Jumlah siswa yang tuntas belajar dengan perolehan nilai lebih dari 65 sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan baru mencapai 9 siswa atau 45%. Dengan nilai  rata-rata yang diperoleh sebesar 58,00.

Deskripsi Hasil Belajar

Siklus 1

 Perencanaan

            Perencanaan  pada  bab  ini  pada  dasarnya  sama  seperti   yang   di rencanakan    pada bab III,   pada  bab   ini  merupakan   realisasinya   atau yang dilaksanakan oleh peneliti, yaitu menyiapkan:   1) Materi pembelajaran. 2) Sumber dan media yang tepat untuk tindakan perbaikan dengan  media konkret berupa  buku  paket  Matematika,   lidi,   kerikil,  permen  dan  media lain yang dapat digunakan untuk pembelajaran. 3) Alat evaluasi berupa lembar soal.

Pelaksanaan

Kegiatan Awal

            Guru mengucap salam. Guru  mengkondisikan   kelas  mulai  dari   ruang   kelas   sampai   dengan absensi. Guru mempersilahkan salah satu siswa memimpin doa.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.  Menjelaskan   langkah-langkah   pembelajaran   dengan   menggunakan    media konkret.

Kegiatan  Inti         

Guru  menerangkan   secara   singkat   tentang   konsep   penjumlahan   dan  pengurangan.Guru menjelaskan dengan contoh benda nyata/ media konkret tentang konsep penjumlahan dan pengurangan.Guru menggunakan media konkret untuk  menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan. Guru  bertanya   pada   siswa   mengenai   proses   penyelesaian   masalah penjumlahan  dan  pengurangan   yang   didemonstrasikan   guru   denganmedia konkret, sebagai berikut :

risukam

Guru mengoreksi hasil kerja siswa sebagai berikut :  a) Betul 2 sebanyak 2 anak (10 %), b) Betul 1 sebanyak 11 anak (55 %), c) Betul 0 sebanyak  7 anak (35 %).  Untuk selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan latian soal-soal, sehingga  anak mengerti bentuk penjumlahan dan  pengurangan  dengan  lancar.   Setelah kegiatan terasa cukup pada siklus  I  ini,   maka   siswa   mendapat   tugas   untuk  mengerjakan soal-soal yang hasilnya sebagai berikut:  a) Yang mendapat 100 sebanyak 2 anak (10 %), b) Yang mendapat 90 sebanyak 2 anak (10 %), c) Yang mendapat 80 sebanyak 7 anak (35 %), d) Yang mendapat 70 sebanyak 3 anak (15 %), e) Yang mendapat 60 sebanyak 5 anak (25 %), f) Yang mendapat 50 sebanyak 0 anak (0 %), g) Yang mendapat 40 sebanyak 1 anak (5 %), h) Yang mendapat 30 sebanyak 0 anak (0 %). Berdasar hasil tersebut selanjutnya  dikelompokan  dan dicsri nilai rata-rata seperti   pada   tabel berikut ini :

  Tabel 1 Skor Hasil Kerja Siswa I

Skor (x) f % fx
100 2 10 200
90 2 10 180
80 7 35 560
70 3 15 210
60 5 25 300
50 0 0 0
40 1 5 40
Jumlah 20 100 1490

Skor rata-rata = 1490  =  74,5

                                  20

          Hasil tersebut selanjutnya diberi skor. Tiap soal  dijawab  benar diberi skor 10 (sepuluh)  skor maksimal 100.  Nilai rata-rata kelas dapat dilihat  pada tabel berikut ini. Dari data tersebut dijelaskan, bahwa skor edial untuk materi penjumlahan dan pengurangan adalah 100. Sedangkan skor yang diperoleh tersebut, skor  rata-ratanya  adalah 74,5    Skor  tersebut belum menuhi target , maka dilanjutkan pada kegiatan berikutnya.

Kegiatan Akhir

      Guru bersama siswa rangkuman atau kesimpulan dari hasil  kegiata. Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu. Guru memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas rumah. Guru memberikan pesan moral yang terkandung dalam materi. Guru menutup pelajaran dengan memberikan salam.

Observasi

      Mengamati kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Hasil pengamatan selanjutnya diberi skor, yaitu diawali dengan penentuan obyek  termasuk  katagori  sangat  baik,  baik,  cukup   baik, dan kurang  baik. Hasil diperoleh  dalam  pekerjaan  siswa  yang   sangat  baik  4 dari 20 siswa atau  20 %, siswa baik 10 dari 20  siswa atau 50 %; siswa  cukup   5 dari 20 siswa atau 25 %; siswa kurang  1 dari 20 siswa atau 5 %. Mengerjakan soal-soal tes 1, siswa mulai suka mengerjakan soal-soal latian, kelihatan beberapa siwa berambisi ingin cepat-cepat giliran mengerjakan soal. namun tidak menutup mata ada beberapa anak yang masih acuh tak acuh untuk mengerjakan soal alasannya itu ini-itu ini. Maka anak diajak untuk mengerjakan soal-soal yang hasilnya adalah diperoleh nilai rata-rata tes 1sebesar 74,5 atau mengalami peningkatan sebesar 16,5 atau 28,45 % dari nilai rata pasiklus.

Refleksi

Mengadakan    wawancara    dengan     siswa     untuk     mengungkap  kesulitan    yang    dialami    maupun    hal    yang    mempermudah     dalam   mengerjakan   soal.   Sehingga kekurangan yang terjadi pada siklus  1  dapat terpecahkan pada siklus 2. Dilaksanakan siklus  2,  dikarenakan  pada  siklus 1 belum memenuhi target.

Siklus II

Perencanaan

         Sebelum  melaksanakan   tindakan    perbaikan    pembelajaran,    peneliti terlebih dahulu mempersiapkan yaitu: Rencana Persiapan Pembelajaran Perbaikan untuk pembelajaran pada siklus II. Sumber dan  media  yang  tepa  untuk  tindakan  perbaikan  dengan   media  benda konkret. Alat evaluasi berupa lembar soal.Menyiapkan lembar pengamatan untuk observer.

Pelaksanaan

Kegiatan Awal

           Berdoa bersama siswa,  mengabsen seluruh siswa, dan apersepsi.Guru mempersiapkan siswa untuk duduk  bersama  kelompok  kerja  yang sudah dibuat pada pertemuan sebelumnya.

Kegiatan Inti

          Guru menyampaikan  tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru  memberikan  media  berupa  permen,  lidi,  congklak,   dan   kerikil kepada siswa disetiap kelompok. Guru menjelaskan cara kerja yang harus dilakukan siswa terhadap benda benda tersebut. Siswa dipandu guru mulai  menerangkan  cara  menyelesaikan soal  cerita yang berhubungan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan dengan  menggunakan bantuan media tersebut. Tanya jawab bersama siswa mengenai materi yang telah diberikan. Guru   memberikan   penjelasan   mengenai   kejadian    sehari-hari   yang berkaitan dengan konsep penjumlahan dan pengurangan. Siswa mengerjakan soal dari guru sebagai berikut:

risukamt

Guru mengoreksi hasil pekerjaan siswa sebagai berikut : 1) Betul 2 sebanyak 11 anak (55 %). 2) Betul 1 sebanyak 9 anak (45 %). 3) 3) Betul  0 sebanyak  0 anak (0 %).  Memperhatikan hasil yang diperoleh tersebut, siswa semakin paham apa  yang harus dikerjakan sehingga hasilnya semakin baik. Untuk memperdalam materi  yang telah disampaikan, maka siswa diajak untuk mengerjakan soal yang hasilnya adalah: 1) Yang mendapat 100 sebanyak 9 anak (45 %). 2) Yang mendapat 90 sebanyak 2 anak (10 %). 3) Yang mendapat 80 sebanyak 8 anak (40 %). 4) Yang mendapat 70 sebanyak 1 anak (5 %). Berdasar hasil tersebut selanjutnya  dikelompokan  dan dacari nilai rata-rata. Hasil tersebut selanjutnya diberi skor. Tiap soal  dijawab  benar diberi skor 10 (sepuluh)  skor maksimal 100.  Nilai rata-rata kelas dapat dilihat  pada tabel berikut ini.

    Tabel 2 Skor Hasil Kerja Siswa

Skor (x) F % fx
100 9 45 900
90 2 10 180
80 8 40 640
70 1 5 70
60 0 0 0
20 100 1790

      Nilai rata-rata =   1790    = 89,5

                                        20

       Dari data tersebut dijelaskan, bahwa skor edial adalah 100.    Sedangkan skor yang diperoleh tersebut, skor rata-ratanya adalah 89,5    Skor  tersebut elum menuhi target , maka dilanjutkan pada kegiatan berikutnya.

Kegiatan Akhir

            Guru bersama siswa rangkuman atau kesimpulan dari hasil  kegiatan. Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu. Guru memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi. Guru memberikan tindak lanjut berupa tugas rumah. Guru memberikan pesan moral yang terkandung dalam materi.Guru menutup pelajaran dengan memberikan salam.

Observasi

Mengamati kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Hasil pengamatan selanjutnya diberi skor, dan sebelumnya menentukan obyek  termasuk  katagori  sangat  baik,  baik,  cukup   baik, dan kurang  baik. Hasil diperoleh  dalam  pekerjaan  siswa  yang   sangat  baik 4 dari 20 siswa atau  20 %, siswa baik 10 dari 20  siswa atau 50 %; siswa  cukup baik 5 dari 20 siswa atau 25 %; siswa kurang aktif 1 dari 20 siswa atau 5 %.Mengerjakan soal-soal tes 2, siswa mulai suka mengerjakan soal-soal latian, kelihatan beberapa siwa berambisi ingin cepat-cepat giliran mengerjakan soal. namun tidak menutup mata ada beberapa anak yang masih acuh tak acuh untuk mengerjakan soal alasannya itu ini-itu ini. Maka anak diajak untuk mengerjakan soal-soal yang hasilnilai rata-rata tes 1sebesar 89,5 atau mengalami peningkatan sebesar 15 atau 20,13 % dari nilai rata-rata siklus I.

Refleksi

             Setalah  melaksanakan  tindakan  perbaikan  pembelajaran  pada   siklus II  diperoleh hasil yang samagt memuaskan. Seluruh siwa  telah  berhasil  mencapai ketuntasan   belajar   dengan   standar Kriteria   Ketuntasan    Minimum.    Dari hasil    tersebut    peneliti    telah    menyatakan  penelitian tindakan kelas meningkatkan    prestasi    belajar    matematika    tentang penjumlahan  dan pengurangan di  kelas  I SD  Negeri  Bajing  02  dengan   menggunakan    media konkrettelah memenuhi target yang diharapkan.

 

Pembahasan

         Hasil belajar siswa kelas I SD Negeri Bajing 02  pada semester II tahun pelajaran 2014/2015 mengalami peningkatan yang cukup signifikan mulai dari kondisi pra siklus sampai tindakan perbaikan pembelajaran siklus II. Peningkatan hasil perolehan nilai rata-rata kelas terjadi secara terus menerus hingga mencapai kriteria yang telah ditetapkan. Nilai rata-rata pada studi awal adalah 58, sedangkan pada siklus I nilai rata-rata 74,5. Dari data tersebut berarti ada peningkatan sebanyak 16,5 atau naik 28,45%. Pada siklus II nilai rata-rata meningkat lagi menjadi 89,5, berarti ada peningkatan sebanyak 15 atau naik 20,13%.

        Begitu juga tentang ketuntasan belajar siswa. Dari data studi awal siswa yang tuntas ada 9  siswa atau 45%. Sedangkan pada siklus I siswa tuntas naik menjadi 14 siswa, berarti ada kenaikan sebanyak 5 siswa atau 25 %. Pada siklus II siswa tuntas naik menjadi 100% atau 20 siswa telah mencapai ketuntasan belajar.

Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan dan ketuntasan siswa serta hasil belajar siswa. Penguasaan materi pelajaran mudah dan cepat dikuasai anak dengan menggunakan media kongkrit sehingga prestasi belajar meningkat.

       Peningkatan hasil belajar Matematika kelas 1 SDN Bajing 02 setelah siswa dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran dengan menggunakan media kongkrit yang hasilnya dapat meningkat yaitu:

 Tabel 3 Tabel Perbandingan Nilai Tes

    Prasiklus Siklus
No Skor (x)   I II
    f % fx f % fx f % fx
1 20 1 5 20 0 0 0 0 0 0
2 30 3 15 90 0 0 0 0 0 0
3 40 1 5 40 1 5 40 0 0 0
4 50 3 15 150 0 0 0 0 0 0
5 60 3 15 180 5 25 300 0 0 0
6 65 4 20 260 1 5 65 0 0 0
7 70 1 5 70 3 15 210 1 5 70
8 75 1 5 75 2 10 150 4 20 300
9 80 3 15 240 4 20 320 4 20 320
10 90 0 0 0 1 5 90 2 10 180
11 100 0 0 0 2 10 200 9 45 900
Jumlh 20 100 1125 20 100 1375 20 100 1770
Rata-rata 56,25 68,75 88,5

Sumber : Data primer diola

Dari tabel tersebut dapat dijelaskan :

1)Nilai tertinggi tes 1 sebesar 100,   dan  terendah   40.   Sedangkan   nialai  tertinggi tes II adalah 100, dan terendah 70. 2)Nilai hasil tes dari  20  siswa  tersebut  menunjukan  nilai  rata-rata  tes 1  sebesar 68,5;  tes II   sebesar   88,5. Hasil   ini   menunjukan   adaanya peningkatan    kemampuan   nilai Matematika   kelas  1    SD     Negeri Bajing 01.

Simpulan

Pada siklus I, dengan menggunakan media konkret pada pembelajaran Matematika tentang menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan  kelas 1 SD Negeri Bajing 02 semester II tahun pelajaran 2014/2015dalam pembelajaran klasikal dapat meningkatkan hasil belajar siswa yakni 14 atau 70 % siswa tuntas, ini berarti naik 25 % dari hasil evaluasi pada prasiklus. Sedangkan hasil observasi terhadap kinerja peneliti dalam melaksanakan pembelajaran baru 60 % atau kategori Cukup. Meskipun terjadi peningkatan, tetapi belum memenuhi indikator kriteria ketuntasan yang harapkan. Dilanjutkan siklus II, terjadi peningkatan sebanyak 30%. Jumlah siswa yang tuntas  pada siklus ini ada 20 siswa atau 100 %. Hal ini menunjukan pembelajaran telah mencapai indikator kriteria ketuntasan yang diharapkan peneliti yaitu Minimal 80% dari seluruh siswa mengalami ketuntasan belajar individual sebesar  ≥ 65. Dan  hasil observasi terhadap kinerja peneliti dalam melaksanakan pembelajaran sudah 82 % atau kategori Baik, ini juga sudah sesuai indikator yang diharapkan yaitu kategori Baik (76 % – 85%).Dengan hasil tersebut bahwa melalui penggunaan media konkret dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penyelesaian soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan kelas1 SD Negeri Bajing 02

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. dkk.  2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Armstrong, Thomas. 2011. The Best Schools : Mendidik Siswa Menjadi Insan Cendikia seutuhnya Bandung : Kaifa

A Karim, Muchtar dkk,1996/1997,Penelitian Matematika I, Dirjen Pendidikan Tinggi

Daryanto. 2010 . Belajar dan Mengajar. Jakarta : Yrama Widya

Kemmis, S. dan Taggart, R. 1986. The Action Research  Planner. Deakin:Deakin University.

Kemmis, S. dan Taggart, R. 1988.The Action Research  Planner. Deakin:    Deakin University.

Nurhayati,  Eti. 2011. Psikologi pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka belajar

Poerwadarminta, WJS. 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai. Pustaka.

Ruseffendi, dkk. 1992. Pendidikan Matematika 3. Jakarta: Depdikbud

Ruseffendi, E.T. (1988). Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini   Untuk   Guru  dan SPG Bandung : Tarsito

Soedjadi. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia (Konstatasi ) Masa KiniMenuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

Soewito, dkk. (1992). Pendidikan Matematika I. Jakarta: PPTK Dirjen Dikti Depdikbud

Sukayati,2011, Pembelajaran Pecahanan di Sekolah Dasar. Yogyakarta:Widyaiswara

Sumantri M. Dan Syaodih, N 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sumantri Mulyani., dkk.(1999).Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud Dirjen.

Wahyudi. 2008. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar.Surakarta : Universitas Sebelas Maret

Winataputra, U.S. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

PENULIS :

RISUKAMTINI, S.Pd.

SD NEGERI BAJING 2




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *