UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SMASH DALAM BOLA VOLLY MELALUI METODE BERMAIN MELEMPAR BOLA PADA SISWA KELAS VA SD NEGERI 1 KARANGLEWAS LOR SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2016/2017

ADI MUSTOPO, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian ini menerapkan tindakan dengan metode melempar bola dalam upaya meningkatkan hasil belajar bola volly pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor. Penelitian ini dilakukan mengingat data awal menunjukkan banyak siswa yang kemampuanya dalam melakukan smash masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan smash dalam pembelajaran bola volly bagi siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Karanglewas Lor dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VA. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes praktek smash dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode bermain melempar bola dapat meningkatkan kemampuan melakukan smash dalam pembelajaran bola volly pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 24 siswa (85,2%) mampu mencapai nilai 75 atau lebih dalam tes praktek smash. Hasil ini melampaui kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu minimal 70% siswa dapat memperoleh skor sebesar ≥75 dalam tes praktek smash. Selain itu, hasil pengamatan pembelajaran menunjukkan siswa menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator yang digunakan. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini diterima. Saran yang diajukan: 1) siswa agar tidak cepat berpuas diri dengan hasil belajar yang dicapai dalam pembelajaran bola volly, namun harus terus belajar dan berlatih lebih tekun agar kemampuan melakukan smash dapat terus meningkat dan hasil belajar juga semakin baik; 2) metode bermain melempar bola perlu diterapkan secara lebih intensif dalam pembelajaran bola volly pada khususnya maupun cabang olahraga lain pada umumnya untuk mendukung peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PJOK.

Kata kunci: Hasil belajar, metode melempar bola, bola volly.

Latar Belakang Masalah

Salah satu gerakan dasar dalam bola volly adalah smash. Smash adalah suatu tindakan memukul bola dengan keras agar bola bisa memasuki lapangan lawan main dengan harapan tidak bisa dibendung oleh regu lain sebagai lawan dalam permainan, sehingga bisa meraih nilai. Smash sangat penting dalam bola volly karena menjadi sumber utama yang sangat diandalkan untuk mendapatkan angka. Oleh sebab itu, gerakan smash harus dapat dikuasai dengan baik oleh setiap pemain bola volly agar dapat melakukan smash dengan baik.

Berdasarkan pengamatan pada saat pembelajaran PJOK siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor, kemampuan siswa dalam melakukan smash masih rendah. Kelemahan tersebut baik pada teknik melakukan smash, tingkat kekerasan pukulan, hingga penempatan bola pada bidang lapangan lawan. Siswa kebanyakan melakukan smash secara asal-asalan, tanpa teknik yang baik. Selain itu, siswa juga terlihat kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran bola volly.

Dalam upaya meningkatkan kemampuan smash siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor maka diperlukan metode yang dipandang tepat. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode bermain melempar bola.

Tujuan Penelitian

Meningkatnya kemampuan smash dalam pembelajaran bola volly bagi siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor semester II tahun pelajaran 2016/2017.

Kajian Teori

Belajar merupakan suatu kegiatan yang melibatkan terjadi perubahan tingkah laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000:24).

Berdasarkan pendapat Darsono (2000:25) maka ciri-ciri pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut :

1.Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.

2.Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.

3.Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.

4.Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.

5.Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.

6.Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.

7.Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.

Prinsip pengaturan kegiatan dalam pembelajaran dibagi menjadi tiga sebagai berikut:

a) Prinsip pengaturan kegiatan kognitif,

Pembelajaran hendaknya memperhatikan bagaimana mengatur kegiatan kognitif yang efisien. Caranya mengatur kegiatan kognitif yang efisien menggunakan sistematika alur pemikiran dan sistematika proses pembelajaran itu sendiri.

b) Prinsip pengaturan kegiatan afektif

Pembelajaran afektif perlu memperhatikan  dan menerapkan tiga pengaturan kegiatan afektif, yaitu factor conditioning, behavior modification, human model. Factor conditioning yaitu perilaku guru yang berpengaruh terhadap rasa senang atau rasa benci siswa terhadap guru. Factor behavior modification yaitu pemberian penguatan seketika. Factor human model yaitu contoh berupa orang yang dikagumi dan dipercaya oleh siswa.

c) Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik

Pembelajaran psikomotorik mementingkan faktor latihan, penguasaan prosedur gerak-gerak dan prosedur koordinasi anggota badan.   Untuk itu diperlukan pembelajaran fase kognitif. (Sugandi, 2004:11).

Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah termasuk sekolah dasar. Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada siswa berupa aktivitas jasmani, bermain dan beraktivitas yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik, keterampilan motorik, keterampilan berfikir, emosional, sosial dan moral.

Menurut Husdarta (2009:4) pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Definisi tersebut, mengukuhkan bahwa PJOK merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Jadi PJOK diartikan sebagai proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga. Inti pengertiannya adalah mendidik anak. Yang membedakannya dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan adalah gerak insani, manusia yang bergerak secara sadar. Gerak itu dirancang secara sadar oleh gurunya dan diberikan dalam situasi yang tepat, agar merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak didik.

Permainan bola voli adalah memasukan bola ke daerah lawan melewati suatu rintangan berupa tali atau net dan berusaha memenangkan permainan bola itu di daerah lawan. Memvoli artinya memainkan atau memantulkan bola sebelum jatuh atau sebelum menyentuh lantai (M. Yunus, 1992: 1). Dalam hal ini permainan bola voli mini menggunakan tinggi net 2,00 meter dan besar lapangan 12,00 x 6,00 meter. Permainan bola voli mini merupakan salah satu permainan atau cabang olah raga yang ada dalam pembelajaran PJOKorkes di Sekolah Dasar.

Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 3-5 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu. Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan. (M. Yunus. 1992)

Dalam permainan bola volly ada beberapa teknik yang harus dilakukan dan dikuasai oleh seorang pemain, baik saat memulai atau ketika permainan sedang berlangsung. Salah satunya adalah smash. Smash adalah suatu tindakan memukul bola dengan keras menggunakan teknik tertentu agar bola bisa memasuki lapangan lawan main dengan harapan tidak bisa dibendung oleh regu lain sebagai lawan dalam permainan, sehingga bisa meraih nilai. Tindakan ini dilakukan ketika bola sedang melambung di atas net baik yang dihasilkan dari umpan atau passing teman sepermainan atau bola yang berasal dari arah lawan yang dimanfaatkan untuk melakukan pukulan keras.

Cara melakukan smash yang baik memerlukan beberapa tahapan atau langkah, yaitu :

1.Awalan – Run up (lari menghampiri)

2.Tolakan (tumpuan) – Take off  (lepas landas)

3.Pukulan – Hit (memukul saat melayang di udara)

4.Pendaratan – Landing (mendarat)

Untuk menunjang keberhasilan dalam melakukan smash diperlukan faktor pendukung bagi seorang smasher berupa pemberian atau umpan (passing) bola tinggi dari teman satu regu sehingga smasher dapat menentukan sasaran dan jatuhnya bola di daerah lawan sesuai keinginan smasher. Faktor penentu keberhasilan seseorang smasher saat akan bertindak memukul diperlukan timing/ ketepatan, meliputi : ketepatan saat melakukan awalan, ketepatan saat meloncat dan ketepatan saat memukul bola

Jenis smash terbagi menjadi beberapa macam tergantung pada jenis umpan yang diberikan pada seorang smasher dan tingkat kekerasan pukulan yaitu :

1.Smash berdasarkan jenis umpan yang diberikan terhadap smasher meliputi: Open Spike, Semi Spike, Quick Spike, Back Attack Spike.

2.Jenis smash berdasarkan tingkat kekerasan dan lemahnya pukulan terbagi menjadi : Hard driven Spike, Off speed Spike (placing), Tip (feint).

Bermain merupakan kesatuan yang teratur dalam latihan. Menurut Suharno (1980: 2) metode bermain (metode latihan siap) merupakan metode yang lazim dipergunakan untuk menguasai gerakan-gerakan secara otomatis untuk mencapai kecakapan, keterampilan sesuatu cabang olahraga. Dalam teori connectionisme oleh Thorndike yang dikutip oleh Suharno (1980: 2) yang ada hubungannya dengan metode bermain menyatakan bahwa dengan latihan yang terus menerus, hubungan antara rangsang dan jawaban menjadi otomatis.

Metode bermain adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari (Sudjana, 2009). Metode bermain merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada penguasaan teknik suatu cabang olahraga yang dalam pelaksanaanya dilakukan secara berulang-ulang, (Sugiyanto, 1998: 371) menyatakan, dalam metode bermain siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diinstruksikan guru dan melakukannya secara berulang-ulang. Latihan berulang-ulang gerakan ini dimaksudkan agar terjadi otomatisasi gerakan. Oleh karena itu, dalam metode bermain perlu disusun tata urutan pembelajaran yang baik agar siswa terlibat aktif, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

Hipotesis Tindakan

Penerapan metode bermain melempar bola dapat meningkatkan hasil belajar bola volly pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor semester II tahun pelajaran 2016/2017.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Karanglewas Lor dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VA di sekolah tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

1.Kondisi Awal

Berdasarkan pengamatan pada saat pembelajaran pendidikan jasmani pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor Kecamatan Purwokerto Barat, diperoleh data bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran bola volly secara umum belum memuaskan.

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel di atas terlihat jumlah siswa yang telah tuntas dalam pembelajaran bola volly hanya 14 (51,9%), sedangkan sisanya sebanyak 13 atau 48,1% belum mencapai ketuntasan. Nilai rata-rata kelas sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain melempar bola adalah 67,63. Nilai tersebut masih di bawah nilai KKM sebesar 75.

2.Deskripsi Hasil Siklus I Penelitian

Hasil tes praktek smash bola volly Siklus I dapat disusun ringkasan nilai tes sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai tes praktek smash siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor pada Siklus I penelitian belum memuaskan. Ditandai dengan masih banyak siswa yang belum mencapai nilai KKM yang menjadi indikator keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini. Dari 27 siswa, 17 orang atau 63 persen mampu mencapai KKM atau lebih. Lainnya sebanyak 10 orang atau 37 persen nilainya belum mencapai KKM. Nilai rata-rata pada siklus I penelitian sebesar 72,04 yang masih berada di bawah KKM pembelajran PJOK kelas V SD Negeri 1 Karanglewas Lor sebesar 75.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel 4.5 menunjukkan hasil pengamatan pada siklus pertama masih belum memuaskan. Belum tercapainya aktifitas pembelajaran disebabkan antara lain karena interaksi belajar belum maksimal, keterlibatan siswa juga belum maksimal, sehingga secara keseluruhan proses pembelajaran belum bisa mencapai target yang diharapkan.

3.Deskripsi Siklus II Penelitian

Hasil tes praktek smash dalam Siklus II dapat disusun ringkasan nilai sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai tes praktek smash siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor pada Siklus II penelitian sudah memuaskan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya siswa yang mampu mencapai nilai 75 atau lebih yang menjadi indikator keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini. Dari 27 siswa, sebanyak 23 orang atau 85,2 persen nilainya sudah mencapai KKM atau lebih. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan metode bermain melempar bola sudah berhasil karena sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini.

 

 

 

 

 

 

Hasil Siklus II penelitian di atas juga didukung dengan hasil observasi pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan proses pembelajaran juga menunjukkan kondisi yang baik, seperti tersaji pada tabel berikut ini

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa respon siswa semakin berkembang dibandingkan siklus sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya respon yang baik pada seluruh indikator yang digunakan.

4.Perbandingan Antarsiklus

Berikut ini disajikan data perbandingan hasil penelitian antara Siklus I dan Siklus II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa nilainya mengalami peningkatan pada Siklus II penelitian. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode bermain melempar bola memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan hasil belajar bola volly pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor.

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa  nilai siswa pada kedua siklus mempunyai perbedaan yang cukup menyolok. Pada Siklus I siswa nilainya di bawah 70 sebanyak 12 orang atau 35.29%. Sementara pada Siklus II, mayoritas siswa, yaitu 25 orang atau 73.53% mampu mencapai nilai 70 atau lebih, yang berarti melampaui kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini. Jadi, metode bermain melempar bola terbukti memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan smash pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor

5.Pembahasan

Pada kondisi awal yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa permasalahan dalam penelitian ini adalah hasil belajar bola volley siswa yang rendah. Oleh karena itu dilakukan penelitian tindakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam kaitan ini, perlu pemilihan metode pembelajaran yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Adapun metode yang dipilih untuk diterapkan adalah metode bermain melempar bola.

Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran passing dengan metode bermain melempar bola berdampak pada aktivitas siswa menjadi lebih baik. Perubahan pada siswa mulai terjadi pada pertemuan kedua siklus I. Siswa mulai menunjukkan adanya peningkatan pada teknik atau gerakan passing yang benar. Meskipun secara keseluruhan hasil tindakan belum mencapai kriteris keberhasilan dalam penelitian ini, namun perubahan sudah mulai terlihat. Setelah siklus II, materi pembelajaran yang diberikan dari guru bisa difahami dengan cepat, sehingga aktivitas lebih baik dan hasil belajar menjadi meningkat, sehingga mayoritas nilai siswa dapat mencapai nilai KKM. Hal ini menunjukkan bahwa metode bermain melempar bola memberikan dampak yang positif terhadap kemampuan melakukan smash dalam pembelajaran bola volly bagi siswa.

Hasil yang dicapai oleh siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor dalam pembelajaran bola volly materi smash sesuai dengan manfaat metode bermain melempar bola secara teori. Menurut Sugiyanto (1998:371) menyatakan, dalam metode bermain siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diinstruksikan guru dan melakukannya secara berulang-ulang. Latihan berulang-ulang gerakan ini dimaksudkan agar terjadi otomatisasi gerakan. Oleh karena itu, dalam metode bermain perlu disusun tata urutan pembelajaran yang baik agar siswa terlibat aktif, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan metode bermain melempar bola dapat meningkatkan kemampuan melakukan smash dalam pembelajaran bola volly pada siswa kelas VA SD Negeri 1 Karanglewas Lor. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 24 siswa atau 85,2 persen mampu mencapai nilai 75 atau lebih dalam tes praktek smash. Hasil ini melampaui kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu minimal 70% dari siswa dapat memperoleh skor sebesar ≥75 dalam tes praktek smash dalam pembelajaran bola volly. Selain itu, hasil pengamatan pembelajaran menunjukkan siswa menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator yang digunakan. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini diterima. Saran yang diajukan: 1) siswa agar tidak cepat berpuas diri dengan hasil belajar yang dicapai dalam pembelajaran bola volly, namun harus terus belajar dan berlatih lebih tekun agar kemampuan melakukan smash dapat terus meningkat dan hasil belajar juga semakin baik; 2) metode bermain melempar bola perlu diterapkan secara lebih intensif dalam pembelajaran bola volly pada khususnya maupun cabang olahraga lain pada umumnya untuk mendukung peningkatan hasil belajar siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Press.

Husdarta, H.J.S. 2009 Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung: Alfabeta

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugandi, Achmad. 2000, Teori Pembelajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya

Sugiyanto. 1998, Belajar Gerak.Jakarta. KONI Pusat.

Suharno. H. P. 1980/1981. Metodik Melatih Permainan Bola Volley. Yogyakarta. IKIP Yogyakarta.

Yunus, M. 1992. Bolavoli Olahraga Pilihan. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *