Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melalui Wawancara Dengan Narasumber

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI KEGIATAN BERWAWANCARA DENGAN NARASUMBER MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL  BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI  KELENG 01 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh :

Suminari,S.Pd.SD

 

ABSTRAK.

 

            Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas V SDN Keleng 01 pada pembelajaran bahasa Indonesia materi berwawancara sederhana dengan narasumber dalam penelitian ini peneliti mengkaji penelitian produktif siswa untuk memiliki ide, gagasan atau menghasilkan sebuah produk karena pembelajaran berbicara di kelas lebih sedikit porsinya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui kegiatan berwawancara  dengan narasumber  melalui pendekatan kontekstual di kelas V SD Negeri Keleng 01. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dengan subyek penelitian sebanyak 22 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif dengan teknik pengambilan data menggunakan instrumen tes, dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa belajar siswa diperoleh siswa yang tuntas pada siklus I sebanyak  (59,09%)  13 orang dari 22 siswa sedangkan pada siklus II siswa 21 anak (95,45%)  Hasil observasi keterampilan pada kondisi awal 27,27 %  pada siklus I siswa yang terampil 15  anak (68,19%) pada siklus II mengalami peningkatan  menjadi  21 anak (95,45%) Berdasarkan analisis tersebut maka dapat dinyatakan bahwa metode Kontekstual  pada pelajaran bahasa indonesia materi berwawancara dengan narasumber  dapat meningkatkan keterampilan dan hasil belajar  pada siswa kelas V SD Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016.

 Kata Kunci:  keterampilan,wawancara,  narasumber, pendekatan kontekstual.

PENDAHULUAN

Pembelajaran Bahasa Indonesia secara formal mencakup pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi pembelajaran mengenai asal-usul bahasa, tata bahasa, kebakuan dan sebagainya. Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat aspek keterampilan yang meliputi mendengarkan, berbicara, menulis serta membaca. Berdasarkan pengamatan pada kondisi pembelajaran bahasa Indonesia kelas 4 s/d 6,pada umumnya pembelajaran pengetahuan kebahasaan mendapatkan posisi yang lebih besar dibandingkan dengan keterampilan berbahasa. Hal inilah yang menjadikan keterampilanberbahasa siswa cenderung rendah dalam praktek di lapangan.

              Dalam proses belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang efektif. Siswa tidak hanya diberi materi-materi atau kaidah-kaidah kebahasaan saja, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan tersebut dalam praktik berkomunikasi. Meskipun demikian, masih banyak guru yang hanya berorientasi pada pembelajaran kaidah-kaidah kebahasaan dengan menggunakan pendekatan yang masih tradisional yang hanya memungkinkan komunikasi satu arah

Pada K.D 2.2 materi berwawancara sederhana sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll dengan pilihan kata yang santun berbahasa.) Pada materi tersebut hasil ulangan harian siswa kelas V SD Negeri Keleng 01, UPTD Disdikpora Kecamatan Kesugihan Tahun Pelajaran 2015/2016 dari 22  siswa hanya 5 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas. Jika hal ini di biarkan jelas akan berdampak buruk bagi proses dan hasil belajar siswa selanjutnya, keterampilan berkomunikasi siswa masih rendah.

              Hasil yang ingin dicapai peneliti dalam perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, tentang berwawancara sederhana dengan narasumber dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.

  1. a) Siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang berwawancara sederhana dengan narasumber dengan bahasa yang runtut, baik dan benar tidak mengalami kesulitan.
  2. b) Hasil belajar siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia tentang berwawancara sederhana dengan narasumber dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.

Berdasarkan  latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah  tersebut diatas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses keterampilan berbicara melalui kegiatan berwawancara dengan narasumber melalui pendekatan kontekstual, bagi siswa kelas V SD Negeri Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016?
  2. Seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara melalui kegiatan berwawancara dengan narasumber melalui pendekatan kontekstual, bagi  siswa kelas V SD Negeri Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016?
  3. Bagaimanakah perubahan prilaku yang menyertai peningkatan keterampilan berbicara melalui kegiatan berwawancara dengan narasumber melalui pendekatan kontekstual, bagi siswa kelas V SD Negeri Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016?

 

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat keterampilan berbicara

Menurut Tarigan (1981:15), berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantis dan linguistik yang sangat intensif..Sedangkan menurut Djago Tarigan (1995: 149) berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampaian sangat berat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yakni bunyi bahasa.

Faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, meliputi:
Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian harus tepat, begitu juga dengan penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai

  1. a) Pemilihan kata atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga dapat memancing kepahaman dari pendengar
  2. b) Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektifan kalimat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan

Hakikat Belajar.

            Ciri-ciri belajar senada diungkapkan oleh Burhanuddin dan Wahyuni (2007; 15-16), yaitu sebagai berikut: Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change beawior), perubahan prilaku relatif permanen.

Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori perolehan bahasa secara ilmiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara alamiah, sehingga proses belajar bahasa dilakukan melalui komunikasi langsung dalam bahasa yang dipelajari (Purwanto, 2002; 84)

Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Dalam belajar, pengetahuan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga menjadi banyak.  (Imron, 1996: 2).

Hakikat Hasil Belajar.

 Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan , nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi,dan keterampilan . menunjuk pemikiran Gagne,hasil-hasil belajar berupa hal-hal berikut (dalam Mohamad Tobrani & Arif Mustofa 2011: 23-24)

  1. Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa , baik lesan maupun tertulis. Keterampilan merespons secara sepesifik terhadap rangsangan sepesifik. Keterampilan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.
  2. Keterampilan intelektual, yaitu keterampilan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari keterampilan mengategorisasi, keterampilan analilitis sintetia, fakta-konsep, dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan keterampilanmelakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
  3. Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan menggairahkan aktivitas kognitifnya. Keterampilan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  4. Keterampilan motorik, yaitu melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

Hakikat Wawancara

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2001: 278-291) wawancara biasanya dilakukan terhadap seseorang (pelajar) yang keterampilan bahasanya cukup memadai sehingga memungkinkan untuk membangkitkan pikiran dan perasaan dalam bahasaitu. Menurut Keraf (1993: 161) wawancara atau interviuw adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seseorang informan atau seorang autoritas (suatu ahli atau yang berwenamg dalam suatu masalah)

Supaya dapat membuat wawancara dengan baik dan terarah perlu diketahui keterangan-keterangan pribadi yang akan diwawancarai  dan mengenai tema wawancara tersebut. Menurut (Mulyadi Adhisupho: 2005), orang yang bertanya harus menguasai tema tidak hanya secara garis besar, tetapi juga secara mendetail.

Hakikat Pendekatan kontekstual.

Pengertian Contextual Teaching and Learning Pengertian kontekstual ( Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi,2002: 1

Ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam pratik pembelajaran kontekstual (Zahorik,1995: 14-22),yaitu: a. pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, b. pemerolehan pengetahuan baru, c. pemahaman pengetahuan, yaitu dengan cara (a) menyusun konsep sementara, (b)melakukan sharing kepada orang lain, dan (c) merevisi konsep dan mengembangkannya. d. mempratikan pengetahuan dan pengalaman tersebut, dan e. melakukan refleksi Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan sebuah proses pengintegrasian atau penggabungan interbidang studi yaitu berbicara dan menulis..

Menulis hasil wawancara ini dilakukan sebagai urutan setelah siswa melakukan wawancara. Bentuk laporan dapat berupa laporan dengan sistematika yang terdiri atas: bab pendahuluan, bab isi, dan bab penutup.

Menurut Hendrikus (1991: 115), dalam hubungan dengan wawancara ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan baik oleh orang yang bertanya, maupun oleh orang yang ditanya.

Hakikat Narasumber.

Nara sumber yaitu mengundang  sesorang ke sekolah untuk  memberikan menjelaskan sesuai dengan keahliannya. Di depan para siswa/ guru. Dengan kata lain seorang nara sumber adalah orang yang berpengalaman tertentu yang membagikan pengalamanya yang khusus yang diundang dalam rangka kepentingan pendidikan. Misalnya mendatangkan nara sumber dari badan narkotika, puskesmas, petugas pertanian.dll. Manfaat mendatangkan nara sumber diantaranya untuk memecahkan suatu masalah memperkaya dan memperjelas pengertian. Menyadarkan dan membantu membangkitkan minat seseorang atau kelompok.(Nur Hidayah dkk,share and educatioan 05.08).

Kerangka berfikir dideskripsikan sebagai berikut: pada kondisi awal saat pembelajaran Bahasa Indonesia, peneliti belum melaksanakan pembelajaran dengan  model pembelajaran /pendekatan yang tepat, sehingga  hasil belajar siswa rendah. Pada siklus I peneliti menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual namun belum diadakan wawancara dengan rangkaian pertanyaan hanya spontan,  Pada siklus ke II peneliti menerapkan pembelajaran Bahasa indonesia  dengan pendekatan kontekstual dan dilanjutkan unjuk kerja untuk portofolio  tentang materi berwawancara sederhana dengan narasumber, aktifitas dan  hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran bahasa Indonesia  materi berwawacara dengan narasumber SD Negeri Keleng 01 meningkat.

Berdasarkan kerangka pikir diatas,maka hipotesis yang dapat diajukan adalah terdapat peningkatan keterampilandan hasil belajar siswa kelas V pada materu berwawancara dengan narasumber dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada siswa kelas V SD Negeri Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016.

Kriteria untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Lebih dari 70 % siswa dapat menyusun pertanyaan wawancara; 2) Lebih dari 70 % siswa dapat berkomunikasi dalam wawancara dengan narasumber dengan bahasa yang santun dan benar; dan Hasil belajar lebih dari 70 %.

 

METODE PENELITIAN

Perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian bertahap, yang terdiri dari 4 tahap yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing) dan refleksi (reflecting). Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Keleng 01  Kesugihan Kabupaten Cilacap. Subyek  penelitian ini adalah siswa kelas  V   SD Negeri Keleng 01 tahun pelajaran 2015/2016 .berjumlah 22 siswa.

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V jumlah 22 siswa SD Negeri Keleng 01,Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap dan teman sejawat sebagai observer selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran PTK. Data yang akan dikumpulkan dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa proses pembelajaran dan rekanan aktivitas siswa. Data kuantitatif berupa hasil pembelajaran berbentuk nilai tes formatif.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa :

  1. a) Tes tertulis, untuk mengetahui daya serap dan restensi siswa terhadap mata pelajaran
  2. b) Lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses Data kuantitatif berupa tingkat ketrampilan siswa yang ditunjukkan dengan tes wawancara.
  3. c) Sumber data diambil pada saat dan sesudah proses belajar mengajar bahasa indonesia baik formal maupun non formal.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi  Kondisi Awal.

  Hasil tes formatif  studi  awal   mata  pelajaran  Bahasa Indonesia Kelas V  Semester II  di SD  Negeri Keleng 01,  Tahun  Pelajaran 2015/2016 dengan   materi   berwawaancara dengan narasumber hanya 14 anak yang tuntas belajar dan dalam keterampilan hanya 11 anak yang aktif dalam pembelajaran tersebut.

Deskripsi  Siklus I

Dalam   kegiatan  Penelitian   Tindakan   Kelas   untuk   memperbaiki hasil kegiatan pembelajaran  bahasa Indonesia  kelas V  tentang materi pokok wawancara. Rekapitulasi keterampilan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa yang aktif dalam pembelajaran; 1) Pada  pra siklus terdapat 6 siswa yang  aktif  dalam pembelajaran dari      22 siswa atau 27,27 %; 2) Pada siklus I terdapat 15 siswa  yang aktif dalam pembelajaran dari 22 siswa atau 68,18 %.

Data hasil pengamata: 1) Pada pra siklus dari 22 siswa, yang telah mencapai ketuntasan hanya 8 siswa atau hanya 36,36 %, sedangkan pada siklus I, terjadi peningkatan dari 22 siswa 13 siswa (59,09%) telah mencapai ketuntasan belajar .Peningkatan hasil   belajar  siswa  dari  pra siklus ke siklus I sebesar 23,23%; 2) Pada pra siklus dari 22 siswa, yang aktif dalam mengikuti pembelajaran 6 siswa atau hanya 27,27 % , sedangkan pada siklus I, dari 22 siswa 15 yang aktif (68,18%) .Peningkatan  keterampilan  belajar  siswa dari pra siklus ke siklus I sebesar 40,91%.

 

Deskripsi Siklus II        

Data hasil pelaksanaan tindakan: 1) Pada  pembelajaran  pra siklus  dari  22 siswa  yang  memperoleh nilai 70 ke atas  hanya 8 anak  atau  36,36%  yang  sudah  tuntas, sedangkan 14 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau  63,63% dari jumlah anak belum tuntas; 2) Pada  pembelajaran  siklus I  dari  22 siswa  yang  memperoleh nilai 70 ke atas  hanya  13 anak  atau  59,09% yang  sudah  tuntas , sedangkan 9  anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau 40,90 % anak belum tuntas; 3) Pada  pembelajaran  siklus II dari 22 siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas hanya 21 anak atau95,45 % yang sudah tuntas, sedangkan 1 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau 4,54 % dari jumlah anak belum tuntas.

Siswa yang aktif dalam pembelajaran: 1) Pada  pra siklus  terdapat 6 siswa yang  aktif  dalam pembelajaran dari 22siswa atau 27,27%; 2) Pada siklus I terdapat 15 siswa  yang aktif dalam pembelajaran dari 22  siswa atau 68,19%; 3) Pada siklus II terdapat 21 siswa  yang aktif dalam pembelajaran dari 22 siswa atau 95,45%.

Siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran: 1) Pada   pra siklus   terdapat   16siswa   yang   tidak     aktif    dalam  pembelajaran dari  22 siswa atau 63,63 %; 2) Pada  siklus I terdapat  9 siswa yang tidak  aktif  dalam pembelajaran dari  22  siswa atau 40,90%; 3)  Pada  siklus II terdapat  1  siswa yang tidak  aktif  dalam pembelajaran dari 22siswa  4,54 %.

Peningkatan hasil siswa dan keterampilan siswa mempengaruhi pada nilai rata – rata kelas. Peningkatan dari siklus ke siklus cukup baik Untuk mengetahui peningkatan hasil siswa dari pra siklus ke siklus II, peneliti tampilkan tabel rekapitulasi ketuntasan dan ketidaktuntasan siswa beserta nilai rata – rata dengan jumlah siswa dan presentasenya.

                  Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan rekapitulasi sebagai berikut:

  1. a) Pada pembelajaran  pra siklus  dari 22 siswa  yang  memperoleh nilai 70 ke atas  hanya  8 anak  atau 36,36 %  yang  sudah  tuntas, sedangkan 14 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau  63,63% dari jumlah anak belum tuntas .
  2. b) Pada pembelajaran  siklus I  dari  22 siswa  yang  memperoleh nilai 70

ke atas  hanya  13 anak  atau 59,09 % yang  sudah  tuntas, sedangkan 9  anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau 40,90% dari jumlah anak belum tuntas.

  1. c) Pada pembelajaran  siklus II dari 22 siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas 21 anak atau 95,45 % yang sudah tuntas, sedangkan 1 anak memperoleh nilai kurang dari 70 atau 4,54 % dari jumlah anak belum tuntas
  2. d) Peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus ke siklus I mengalami kenaikan 22,73 %,sedangkan dari siklus I ke siklus II mengalami kenaikan 36,36 % .

   Peningkatan keterampilan belajar siswa dari pra siklus ke siklus I mengalami kenaikan 40,92 demikian juga  dari siklus I ke siklus II juga mengalami kenaikan yaitu  27,26%. Peneliti melakukan refleksi untuk mengkaji, menilai dan menganalisis  pelaksanaan   perbaikan  pembelajaran. Dari  hasil refleksi selain  ditemukan  adanya   keterbatasan  yang  dapat   mengurangi validitas dan reliabilitas hasil perbaikan pembelajaran.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan temuan yang diperoleh pada siklus I , II,  dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : berwawancara sederhana dengan narasumber  di kelas V SD Negeri Keleng 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2015/2016  terjadi perubahan tingkah laku yang siknifikan, dibuktikan dengan persentase  hasil belajar yang meningkat disetiap siklusnya, dan kemampuan menulis dan berbahasa yang semakin baik.

Saran-Saran.

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut: Penggunaan model pembelajaran Integratif dapat mendorong siswa lebih aktif,   kreatif dan termotifasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu sekolah dengan karakteristik yang relatif sama dapat menerapkan strategi pembelajaran tersebut untuk meningkatkan partisipasi dan minat siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arsjad, Maidar G dan Mukti U.S. 1988.  Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Brown,H Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa ( Edisi kelima).USA; Pearson Education,Inc.

Burhanudin,& Esa Nur Wahyuni,2007.teori Belajar dan pembelajaran, Jogjakarta: Azz Ruzz Media.

Burhan Nurgiyantoro, 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Hendrikus, Dori Wuwur. 1991. Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi.

Imron Ali (1996)  Belajar dan Pembelajaran Jakarta; Pustaka jaya.

Iskandar Wassid, Dadang Suhendar (2010),Strategi Pembelajaran Bahasa, Jakarta ;  PT Remaja Rosdaya.

Keraf, Gorys. 1993. Sebuah  Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende; nusa Indah.

Mulyadi Adhisupo.Pelatihan Jurnalistik- Info Jawa 12-15/12/2005.www.info jawa.org.

Moh Thobroni & Arif Mustofa.  2011, Belajar dan Pembelajaran Jogjakarta. Ar,Ruz. Media.

Nurhadi dkk. (1993) Pembelajaran Kontekstual dan penerapannya dalam Kurikulum berbasis kompetensi, Malang : Universitas Negeri Malang.

Hidayah Nur dkk (05.08) Makalah Study Masyarakat dam Media Pendidikan.       http://komponen : nibud-study masyarakat sebagai media pendidikan htm.

https://id.wikipedia.org/wiki/Narasumber.

Purwanto, Drs.M Ngalim. 2007. Ilmu Pendidikan Toeretis dan Praktis.( cetakan kesembilanbelas). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanti Wulandari : 2008 ” Peningkatan Apresiasi Sastra pendek dengan Pendekatan kontekstual membaca dan mengarang bagi siswa kelas IX SMPN Tanjungsari Gunungkidul.

Sri Murtiningsih. 2003. “ Pembelajaran Menulis Sastra dan Nusantara di SMU kelas I secara Terpadu Berdasarkan KBK “. Yogyakarta: Balai Bahasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa.

Tarigan, Djago. 1995. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

 

BIODATA PENULIS

 

Nama               : Suminari S.Pd.SD

Nip                  : 19610114 198201  2 004

Gol                  : IV a.

Jabatan            : guru kelas

Instansi            : SDN Keleng 01 Kec Kesugihan Cilacap.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *