PTS SD Memodifikasi Alat Peraga Melalui Pengembangan Keprofesian

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MEMODIFIKASI ALAT PERAGA MELALUI PEMBIMBINGAN PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

sudi-rahayu

ABSTRAK

Tujuan penelitian untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memodifikasi alat peraga yang dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelasnya. Subyek penelitian ini adalah 6 orang guru kelas SDN1 Sambeng Kulon. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan sekolahmelalui pembimbingan Kepala Sekolah, yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian nenunjukkan bahwa dengan tindakan pemberian pembimbingan Kepala Sekolah, dapat  meningkatkan kompetensi guru SDN 1 Sambeng Kulon dalam memodifikasi alat peraga. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skorguru dalam memodifikasi alat peraga yang dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelasnya melalui pembimbinganoleh Kepala Sekolah dari kondisi awal 16,70%  (1 orang) guru kelas baru sebagian, menjadi secara keseluruhan pada siklus I 66,70% (4 orang) guru kelas dan pada siklus II menjadi 100% (6 orang) guru kelas.

Kata-kata kunci :   Pembimbingan,  meningkatkan kemampuan  memodifikasi alat peraga.

PENDAHULUAN

Rendahnya kompetensi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran menyajikan bahan ajar khususnya modifikasi alat peraga, hanya saat ada pendataan/penilaian kinerja guru guna memenuhi unsur kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Setelah kegiatan kunjungan kelas dan penilaian kinerja guru selesai, mereka akan kembali bekerja seperti sebelumnya. Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) merupakan salah satu kegiatan yang dirancang untuk mewujudkan terbentuknya guru yang professional, dan merupakan salah satu komponen pada unsur utama yang kegiatannya diberikan angka kredit. Selama ini guru di SDN 1 Sambeng Kulon belum memiliki program penggunaan media atau program memodifikasi alat peraga yang baik dan terperinci. Hampir setiap guru melaksanakan kegiatan pembelajaranya tanpa menggunakan alat peraga. Sehingga kegiatan pembelajaranya seringkali tidak tepat, kurang objektif, dan tidak menggambarkan keadaan hasil belajar siswa yang sebenarnya.

Perilaku seperti itu akan merugikan siswa, guru yang bersangkutan, dan juga kepala sekolah selaku penanggung jawab. Dari segi siswa terjadi kekurangpahaman siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru secara maksimal dalam mempelajari materi. Dari segi guru, menjadikan dirinya tidak mengetahui adanya permasalahan dalam kegiatan pembelajarannya maupun dalam modifikasi alat peraga dan atau dalam pemanfaatan alat peraga. Guru tidak tahu bagian-bagian yang masih menjadi kesulitan siswa, persoalan yang menimbulkan siswa salah memahami dalam menangkap pengertian yang diberikan guru. Bagi sekolah, dengan kurangnya kreatifitas guru dalam modifikasi alat peraga berdampak pada salahnya penentuan kebijakan terkait permasalahan yang dihadapi siswa dan upaya peningkatan mutu sekolah.

Terkait permasalahan tersebut maka upaya meningkatkan kompetensi guru dalam memodifikasi alat peraga perlu mendapat perhatian serius melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan khususnya oleh Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah “bagaimanakah peningkatan kompetensi guru SDN 1 Sambeng Kulon dalam memodifikasi alat peraga setelah pemberian pembimbingan pengembangan keprofesian  berkelanjutan oleh Kepala Sekolah ?”

Kompetensi menurut Guy R. Lefrancois merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu, yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses belajar stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Oleh Richard N Cowell (1988), kompetensi diartikan sebagai suatu keterampilan/kemahiran yang bersifat aktif. Kompetensi dikategorikan mulai dari tingkat sederhana atau dasar hingga lebih sulit atau kompleks yang pada gilirannya akan berhubungan dengan proses penyusunan bahan atau pengalaman belajar, yang lazimnya terdiri dari: (1) penguasan minimal kompetensi dasar (2) praktik kompetensi dasar, dan (3) penambahan penyempurnaan atau pengembangan terhadap kompetensi atau keterampilan. Ketiga proses tersebut dapat terus berlanjut selama masih ada kesempatan untuk melakukan penyempurnaan atau pengembangan kompetensinya.

Guru sebagai pedagok perlu meningkatkan kompetensinya melalui aktivitas kolaboratif dengan kolega, menjalin kerjasama dengan orang tua, memberdayakan sumber-sumber yang terdapat di masyarakat, melakukan penelitian sederhana. Dalam pembelajaran, dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik, tetapi juga harus memiliki kompetensi profesional penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu serta mampu mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif (membuat/memodifikasi/Penggunaan Alat Peraga/Bantu). Sebagaimana kewajiban guru dalam melaksanakan tugas, di antaranya adalah meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Guru pendidikan dasar perlu memiliki kemampuan memantau atas kemajuan belajar siswanya sebagai bagian dari kompetensi pedagogik dengan menggunakan berbagai teknik asesmen alternatif seperti pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, potofolio, memajangkan karya siswanya. (Donald, 2006:279).

Guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas utama yaitu: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Untuk pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi jabatan guru sebagai profesi, diperlukan suatu sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru secara terprogram dan berkelanjutan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) merupakan salah satu kegiatan yang dirancang untuk mewujudkan terbentuknya guru yang profesional. Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat penulis simpulkan bahwa kompetensi  guru adalah kemampuan guru menggunakan dan atau memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang  dituangkan dalam bentuk  hasil modifikasi/ penggunaan alat peraga/bantu dipergunakan dalam proses pembelajaran atau bimbingan.

Modifikasi ialah pengurangan atau penggantian unsur-unsur tertentu (Supandi, 1992:107). Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan DAP (Developmentally Apropriate Practice). Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat yang tadinya lebih rendah menjadi tingkat yang lebih tinggi (Adang Suherman dan Yoyo Bahagia, 2000:1). Menurut kamus besar bahasa Indonesia “modifikasi n 1 pengubahan; 2 perubahan” (2008: 1035). Permenpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya. Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum merupakan salah satu bentuk karya Inovatif (2009: 8). Pedoman Dana Bantuan Langsung Musyawarah Kerja Kepala Sekolah,  Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2009: ix) “Karya Inovatif adalah karya hasil pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni yang baru atau hasil modifikasi yang bermanfaat”. Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa modifikasi secara umum dapat diartikan segala tindakan yang bertujuan mengubah.

Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 (2010: 80), Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran atau bimbingan. “Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari” (Elly Estiningsih, 1994). Dengan alat peraga, hal-hal yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk model-model yang berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang, diputarbalikkan sehingga dapat lebih mudah dipahami. Fungsi utamanya adalah untuk menurunkan keabstrakan konsep  agar siswa mampu menangkap arti konsep tersebut. “Alat peraga merupakan salah satu faktor untuk mencapai efisiensi hasil belajar” (Moh. Surya, 1992: 75). Alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran. Kata media sendiri berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran  terjadi (Sadiman, 2009).

Dalam  menggunakan  alat peraga  hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik (Nana Sudjana, 2002: 104-105). Prinsip-prinsipnya antara lain: a. Menentukan  jenis   alat   peraga  dengan  tepat,  artinya  sebaiknya    guru memilih  terlebih  dahulu  alat peraga  manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan; b. Menetapkan  atau  memperhitungkan  subjek  dengan  tepat,  artinya  perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik; c. Menyajikan alat peraga dengan tepat; d. Menempatkan  dan memperlihatkan  alat  peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat. Sedangkan dalam  buku 4  Pedoman  PKB  dan  Angka  Kreditnya (2010: 54) dijelaskan bahwa “Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran atau bimbingan”. Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah segala sesuatu yang digunakan untuk merangsang pikiran dalam proses pembelajaran atau bimbingan.

Pembinaan sama dengan pembimbingan. Ada enam tugas penting yang harus dilakukan sebagai pembimbing, yaitu: memunculkan kredibilitas, yaitu kejujuran, kompeten, inspirasi, dan visi; mengatur dan mengemukakan tujuan dan harapan; memiliki rencana agar berhasil; memunculkan kinerja diri dan mempermudah pekerjaan; memberi contoh; memotivasi, membangun moral dan melakukan hubungan interpersonal (Cullen, 2004: 13).  Menurut Dewa Ketut Sukardi (1988: 2) bimbingan merupakan suatu proses membantu individu mencapai suatu kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan kepuasan pribadi dan bermakna bagi masyarakat. Selain itu juga bimbingan merupakan bantuan yang integral dari pendidikan. Karena pendidikan merupakan sebuah proses dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masing-masing individu untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Dan pendidikan juga merupakan pembangunan dunia perasaan dan kesadaran (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 98). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembimbingan adalah memunculkan kompeten secara berkesinambungan, agar berhasil memunculkan kinerja diri, mempermudah pekerjaan secara wajar sesuai dengan tuntutan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat yang lebih bermakna, terarah kepada tujuan tertentu baik terhadap sekolah maupun kehidupannya. Setiap guru berhak menerima pembinaan berkelanjutan (jika memang diperlukan) dari seorang guru yang berpengalaman. Dengan demikian yang dimaksud pembimbingan terhadap kemampuan  memodifikasi alat peraga dalam penelitian ini adalah pekerjaan yang dilakukan kepala sekolah sesuai tupoksinya yang dilakukan setelah mengetahui hasil supervisi tidak sesuai dengan ketentuan yang diharapkan. Pembimbingan dilakukan menggunakan cara-cara yang dapat memotivasi dan mendorong guru guna meningkatkan kompetensi dalam memodifikasi alat pelajaran.

Berdasarkan Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009“pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya”. PKB merupakan salah satu komponen pada unsur utama yang kegiatannya diberikan angka kredit. Menurut buku Pedoman  Dana Bantuan Langsung Kelompok Kerja Guru dan Forum Kelompok Kerja Guru ( 2010: xiv), “Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya dan sekaligus berimplikasi pada perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru”. Dengan demikian yang dimaksud pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi guru untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka hipotesa tindakannya adalah dengan pemberian pembimbingan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan oleh Kepala Sekolah, maka kemampuan memodifikasi alat peraga akan meningkat dan sekaligus meningkatkan kompetensi guru profesional, secara rutin dan berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon.

METODE   PENELITIAN

Penelitian dilakukan di SDN 1 Sambeng Kulon UPK Kembaran Kabupaten Banyumas. Waktu penelitian tindakan ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada semester 2 tahun Pelajaran 2015/2016, tepatnya mulai bulan Januari – Maret  2016. Subjek penelitian adalah 6 (enam) orang guru kelas SDN 1 Sambeng Kulon Kecamatan Kembaran, yang masing-masing memiliki kriteria kemampuan proses pembelajaran berbeda-beda. Sehingga sudah sepantasnyalah mereka mendapatkan pembimbingan secara maksimal dari peneliti selaku Kepala Sekolahnya. Sedangkan sebagai kolaborator yang melakukan observasi terhadap tindakan peneliti adalah Kepala SDN Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.

Teknik dan alat pengumpul data dalam penelitian ini meliputi data yang bersumber dari siswa, guru maupun hasil dokumentasi kinerja guru sebagai berikut:

1). Teknik observasi atau pengamatan yang digunakan untuk mengetahui kinerja guru sebelum tindakan, pada saat dilaksanakan tindakan, maupun setelah diberikan tindakan oleh peneliti. Adapun bentuk alat pengumpul data adalah lembar penilaian guru yang diisi oleh kepala sekolah sesuai dengan kenyataan dan bukti-bukti kinerja guru terkait modifikasi alat peraganya. Cara mencari data tersebut menggunakan instrumen yang berupa lembar Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) unsur kegiatan inti menentukan alat peraga pemanfaatan penggunaan alat peraga (hasil modifikasi alat peraga) dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

.2). Teknik Angket/ Quetioner  ini adalah suatu alat pengumpulan data dengan cara menyampaikan pertanyaan tertulis atau dijawab secara tertulis oleh responden. Teknik ini digunakan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi guru terkait kegiatan guru dalam memodifikasi alat peraga untuk memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelas  yang dilakukan oleh masing-masing guru kelas.

3). Teknik wawancara penelitian ini digunakan untuk memperkuat dan memperdalam penilaian kinerja guru dari sudut pandang siswa. Cara pengambilan datanya adalah dengan memilih 3 siswa secara acak di tiap kelas dan selanjutnya dilakukan wawancara mengenai kinerja guru mereka dalam proses pembelajaran di kelas, dengan menggunakan instrumen yang berupa lembar Pertanyaan pada siswa tentang kinerja guru mereka dalam menggunakan alat peraga modifikasinya. Untuk memperjelas konsep/ teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelasnya.

4).Teknik Dokumen adalah cara memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi tinjauan dokumen hasil supervisi terhadap guru), tinjauan dokumen dalam modifikasi alat peraga untuk memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelasnya terhadap enam guru kelas SDN 1 Sambeng Kulon (nama alat peraga, tujuan, manfaat, rancangan/desain alat peraga yang dilengkapi dengan gambar rancangan atau diagram alir serta daftar dan foto alat/bahan yang digunakan, prosedur pembuatan alat peraga  yang dilengkapi dengan foto pembuatan, penggunaan alat peraga di sekolah/madrasah yang dilengkapi dengan foto penggunaannya, foto-foto pelaksanaan penelitian (pelaksanaan modifikasi alat peraga oleh guru, kegiatan pemberian angket pada guru, dan kegiatan wawancara dengan siswa), serta laporan proses modifikasi alat peraga yang telah dilakukan oleh guru baik sebelum maupun sesudah dilakukan penelitian.

Penelitian ini diawali dengan pra siklus. Sedangkan prosedur penelitian tindakan sekolah ini terdiri dari dua siklus, karena pada siklus kesatu belum diperoleh hasil optimal. Setiap siklusnya meliputi: tahap perencanaan (planning), tahap pelaksanaan (acting), tahap pengamatan (Observing), dan tahap refleksi (Reflecting).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal guru SDN 1 Sambeng Kulon dalam melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunaan alat peraga hasil modifikasinya masih sangat rendah. Berdasarkan hasil peninjauan dokumen guru/supervisi yang dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ditemukan fakta, dari 6 (enam) orang guru kelas ternyata hanya 1 (satu) orang guru telah melaksanakan Proses Pembelajaran dengan kriteria B (Memuaskan), dan baru sebagian melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencana- an hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan. Maka diperlukan suatu tindakan pemberian pembmbingan untuk mengembangkan penelitian “Upaya  meningkatkan  kompetensi  Guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan  pengembangan keprofesian  berkelanjutan”. Sehingga kemampuan guru secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencana- an hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan, serta dapat dijadikan sebagai bukti perwujudan guru profesional yang berkompetensi.

Deskripsi Hasil Siklus 1

Tahap ini diawali dengan penjelasan oleh Kepala Sekolah mengenai “Keterampilan dalam penggunaan sumber belajar/media pembelajaran” yakni guru terampil memanfaatkan lingkungan dan sumber belajar lainnya serta dapat menggunakan media pembelajaran (alat laboratorium, TIK, media lainnya)  untuk mencapai target sesuai dengan alokasi waktu. Dalam pelaksanaan tindakan ini peneliti berkolaborasi dengan kepala sekolah  dari SD lainnya yang terdekat dan memiliki kondisi masyarakat serta guru yang hampir sama. Kolaborator ini berperan sebagai observan tindakan peniliti, meluruskan pemberian pembimbingan apabila terjadi kesalahan, mempertegas pemberian pembimbingan yang diberikan peneliti. Pada akhir kegiatan pembimbingan, guru diberi kesempatan untuk bertanya apabila belum jelas dan juga dihimbau untuk menyusun perencanaan kegiatan modifikasi alat peraga atau rancangan/desainnya.

Observasi dilakukan oleh kolaborator terhadap guru saat pemberian pembimbingan kepala sekolah dengan menggunakan instrumen lembar Observasi. Pemberian pembimbingan Kepala Sekolah belum dapat meningkatkan kompetensi guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian  berkelanjutan. Baru ada 4 orang (66,7%) guru dari 6 orang guru kelas yang secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan.

Pengamatan kolaborator kurang memberikan penegasan-penegasan terhadap hal-hal yang mendasar. Guru tampak tidak begitu antusias, tidak aktif, tidak adanya kerja sama dalam mengerjakan instrumen dokumen pelaksanaan pembelajaran dengan bimbingan kepala sekolah. Guru masih enggan untuk bertanya, cenderung memilih untuk mengopi paste dokumen teman. Hasil pengisian (lembar angket kinerja guru, lembar penilaian kinerja guru, dan lembar pertanyaan/ wawancara pada siswa) ditandai dengan meningkatnya kriteria kinerja dari 6 orang guru kelas, ada 4 orang (66,7%) guru yang secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan, dan masih ada 2 orang (33,3%) guru yang baru sebagian melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan. Hasil tindakan pembimbingan Kepala Sekolah belum dapat meningkatkan  kompetensi  guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon. Berdasar refleksi di atas, maka penelitian ini diteruskan pada siklus II.

No.

Waktu Pengamatan

Jumlah guru kelas yang melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya

Keseluruhan

Sebagian

Tidak Sama Sekali

1.

Pra Siklus 0 1 5
2. Siklus I 4 2

0

Tabel 1. Perbandingan jumlah guru kelas yang melaksanakan kegiatan pembelajaran

data Pra Siklus dan Siklus 1

Deskripsi Hasil Siklus 2

Pemberian pembimbingan pada guru tentang “Sanksi penundaan kenaikan tingkat melalui angka kredit, dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)”. Sanksi tersebut diberikan pada guru yang tidak sama sekali melaksanakan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dalam satu kurun waktu pengajuan PAK (Penilaian Angka Kredit). Sedangkan pengembangan kompetensi guru agar dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Dalam pelaksanaan tindakan siklus II, peneliti masih berkolaborasi dengan kepala sekolah yang dekat dan memiliki kondisi masyarakat serta guru yang hampir sama. Kolaborator meluruskan pemberian pembimbingan apabila terjadi kesalahan, dan mempertegas pemberian pembimbingan yang diberikan peneliti.

Observasi dilakukan oleh kolaborator terhadap guru saat pemberian pembimbingan kepala sekolah dengan menggunakan instrumen lembar Observasi kegiatan pembimbingan (lembar angket kinerja guru, lembar penilaian kinerja guru, dan lembar pertanyaan/wawancara pada siswa terhadap masing-masing guru). Semua guru bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan.Hal ini terbukti telah diperoleh data peninjauan dokumen yang menunjukkan bahwa semua guru telah: membuat rencana pelaksanaan pembelajaran; memilih  terlebih  dahulu  alat peraga  manakah yang sesuai dengan tujuan; memilih  terlebih dahulu alat peraga  manakah yang sesuai dengan bahan pelajaran yang hendak diajarkan; memperhitungkan tingkat kemampuan anak didik; memperhitungkan tingkat kematangan anak didik; memperjelas  konsep/teori/cara kerja; melaksanaan proses pembelajaran/bimbingan menjadi lebih jelas dan lebih efektif; menempatkan  dan memperlihatkan  alat  peraga pada waktu yang tepat; menempatkan  dan memperlihatkan  alat  peraga pada tempat yang tepat; menempatkan  dan memperlihatkan  alat  peraga pada situasi yang tepat; menggunakan alat peraga buatan pabrik; membuat alat peraga sederhana dengan memanfaatkan lingkungan sekitar atau alat peraga hasil modifikasinya.

Hasil pengamatan kegiatan pembelajaran siklus II  menunjukkan bahwa 6 orang guru (100%) dari 6 (enam) orang guru kelas yang ada di SD Negeri 1 Sambeng Kulon telah secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan. Maka hasil tindakan penelitian ini menunjukkan berhasilnya “Upaya  meningkatkan  kompetensi  guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon UPK Kembaran”. Data perbandingan hasil pemberian tindakan terhadap guru Negeri 1 Sambeng Kulon dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya tersebut secara lengkap  dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

No. Waktu Pengamatan Jumlah guru kelas yang melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya
Keseluruhan Sebagian Tidak Sama Sekali
1. Siklus I 4 2 0
2. Siklus II 6 0 0

Tabel 2. Perbandingan jumlah guru kelas yang melaksanakan kegiatan pembelajaran data Siklus 1 dan Siklus 2

Pembahasan

Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dengan pemberian tindakan berupa pemberian pembimbingan oleh kepala sekolah terlihat adanya kenaikan jumlah guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan. Dari pra siklus sebanyak  16,70%  (1 orang)  guru kelas  baru  sebagian,  menjadi  secarakeseluruhan  pada siklus I  66,70%(4 orang) guru kelas dan pada siklus II menjadi 100%  (6 orang) guru kelas.

Dari penelitian tindakan sekolah ini, semua guru kelas yang berjumlah 6 (enam) orang guru kelas secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/ menggunakan alat peraga hasil modifikasinya dari perencanaan hingga tindak lanjut dengan maksimal dan berkelanjutan. Data hasil pelaksanaan tindakannya dapat dilihat pada grafik 1. Perbandingan hasil pemberian tindakan terhadap guru SDN 1 Sambeng Kulon dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya berikut:

sudiiira

Data hasil Pengamatan dapat dilihat pada grafik 2 Perbandingan hasil pengamatan jumlah guru  yang baru sebagian dan secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/ menggunakan alat peraga hasil modifikasinya berikut :

sudiiir

Berdasarkan kedua grafik tersebut di atas terlihat adanya kenaikan jumlah guru yang secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya. Dari pra siklus sebanyak 16,70% (1 orang) guru kelas baru sebagian, menjadi secara  keseluruhan  pada  siklus I  66,70%  (4 orang) guru kelas  dan pada  siklus II  menjadi 100% (6 orang) guru kelas. Sehingga “Upaya  meningkatkan  kompetensi  guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon UPK Kembaran” yang dilakukan oleh peneliti dapat dinyatakan telah berhasil.

Dengan melihat tabel 2 dan grafik 1 serta grafik 2 dapat diketahui bahwa semua guru (100%) dari (6 orang) guru kelas sudah secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/menggunakan alat peraga hasil modifikasinya. Maka hasil tindakan penelitian menunjukkan berhasilnya “Upaya meningkatkan kompetensi guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon UPK Kembaran”.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: bahwa kompetensi guru dalam memodifikasi alat peraga meningkat, hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah  guru yang secara keseluruhan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan/ menggunakan alat peraga hasil modifikasinya sejak siklus 1 hingga siklus 2. Dibuktikan dengan hasil pengamatan tindakan pemberian pembimbingan Kepala Sekolah dan penegasan Kolaborator pada guru, yang pada pra siklus sebanyak 16,70% (1 orang) guru kelas baru sebagian, menjadi secara keseluruhan pada siklus I 66,70% (4 orang) guru kelas, dan pada siklus II menjadi 100% (6 orang) guru kelas. Sehingga dapat disimpulkan  bahwa “Upaya  meningkatkan  kompetensi  guru dalam memodifikasi alat peraga melalui pembimbingan pengembangan keprofesian berkelanjutan di SDN 1 Sambeng Kulon UPK Kembaran” yang dilakukan oleh peneliti dapat dinyatakan telah berhasil.

DAFTAR  PUSTAKA

Estiningsih, Elly. 1994. Penggunaan Alat Peraga dalam Pengajar Matematika SD. Yogyakarta: PPPG Matematika

Guy R.Lefrancois.1995.Theories of Human Learning. Kro: Kros Report.

Moh. Surya.1992. Pengertian Belajar. Bandung: Pustaka Prima.

Morrison, Donald M., Mohaski, Kelly & Cotter, Kathryn. Instructional Quality Indicators Research Foundations. Cambridge,MA: Conect, 2006.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sadiman, Arief, Dkk. 2009. Media pendidikan. Jakarta: Rajawali pers.

Sudjana, Nana, 2002, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suherman, Adang dan Yoyo Bahagia. 2000. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Modifikasi Cabang Olahraga. Depdikbud.

Supandi. 1992. Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.

Richard N Cowell. 1988. Buku Pegangan Para Penulis Paket Belajar. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan.

BIODATA PENULIS
Nama : SUDI  RAHAYU, S.Pd.
NIP : 19620924 198304 2 003
Jabatan : Kepala Sekolah
Pangkat/golongan ruang : Pembina Tk 1/ IV b
Unit Kerja : SDN 1 Sambeng kulon, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas

 


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *