Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) Melalui Bimbingan Berkelanjutan Di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Tahun 2016/2017

Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam  Menyusun Rencana  Kegiatan Harian (RKH) Melalui  Bimbingan Berkelanjutan Di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Tahun 2016/2017

Oleh : Herning Estiningsih, S. Pd

 

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Menyusun Rencana  Kegiatan Harian Melalui  Bimbingan Berkelanjutan   Di  TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Tahun 2016/2017.

Permasalahan yang ditemukan adalah guru belum paham dalam penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) yang nantinya akan berdampak pada profesionalisme kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) melalui bimbingan berkelanjutan di sekolah tempat peneliti bekerja

Penelitian ini meliputi dua siklus.Subjek pada penelitian ini adalah guru TK di TK Pertiwi 1 Karangpucung.Metode pada penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif yang menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan diskusi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif Berdasarkan temuan penelitian, pada data awal perolehan nilai prosentase penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) yaitu sebanyak 25% (kurang), sedangkan pada siklus 1 perolehan nilai prosentase penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) yaitu sebanyak 75% (cukup), dan pada siklus II perolehan nilai prosentase penyusunan rencana kegiatan harian (RKH)  meningkat yaitu sebanyak 85%.

Kata kunci: Bimbingan berkelanjutan, kompetensi guru menyusun rencana kegiatan harian (RKH).

A. PENDAHULUAN

Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan supervisi kepala sekolah. Pada pelaksanaan KTSP dan Kurikulum 2013 menuntut kemampuan baru pada guru untuk dapat mengelola proses pembelajaran secara  efektif dan efisien. Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran  berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran dan lain sebagainya. Dalam hal ini Rencana Kegiatan Harian (RKH) memuat tingkat pencapaian perkembangan, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Guru pada satuan pendidikan berkewajiban dalam menyusun rencana kegiatan harian (RKH) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,  dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun rencana kegiatan harian (RKH) dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana kegiatan harian (RKH) sangat penting bagi seorang guru  karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Hal yang sama berlaku pula pada guru di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru yang belum bisa memperlihatkan rencana kegiatan harian (RKH) yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah, atau sudah  membuat rencana kegiatan harian (RKH) namun masih ditemukan adanya masalah yaitu belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian, serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Pada  komponen penilaian (penskora) guru yang bersangkutan tidak lengkap dalam membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen metode pembelajaran, alat dan sumber belajar guru yang bersangkutan sudah  membuatnya. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai kepala sekolah  berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas dalam menyusun rencana kegiatan harian (RKH) secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan.

Berangkat dari latar belakang tersebut, maka peneliti melakukan penelitian tindakan dengan judul ”Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Menyusun Rencana Kegiatan Harian Melalui Bimbingan Berkelanjutan Di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Tahun 2016/2017”.

Kajian teoretis

Pengertian Guru

Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13)  menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar”. Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar.Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan  2005:13) menyatakan, ”guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak”.Undang-Undang Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik  profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

Kompetensi  Guru

Di dalam PP RI No. 19 tahun 2005 tentang SNP pada apasal 28 ayat 3 disebutkan ada 4 dimensi kompetensi guru, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (BSNP, 2005). Kompetensi pedagogik adalah tuntutan agar guru memahami metodik didaktik, memiliki perangkat pembelajaran termasuk menyusun melaksanakan kegiatan belajar mengajar.Kompetensi kepribadian guru memiliki akhlakul kharimah, dapat diteladani. Kompetensi profesional adalah menguasai mata pelajaran yang akan disampaiakan kepada siswa dan menguasai administrasi untuk mengajar. kopetensi soisal adalah tuntutan berkomunikasi dengan baik.

a. Pengertian Kompetensi Guru

Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan  oleh  seseorang  tersebut  dapat  diperoleh  baik  melalui  pendidikan formal maupun pengalaman.

Syah (2000:229) mengemukakan pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan  atau  kecakapan.  Usman  (1994:1)  mengemukakan  kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. McAhsan (1981:45). Muhaimin  (2004:151) menjelaskan kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab  yang  harus  dimiliki  seseorang  sebagai  syarat  untuk  dianggap  mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Menurut Syah   (2000:230),   “kompetensi”   adalah   kemampuan,   kecakapan,   keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.

Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap  yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru (dikutip dari Kompetensi Guru oleh Rastodio, 29 Juli 2009).

b. Pengertian Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).

Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya”.

Berdasarkan definisi  di atas dapat disimpulkan  standar kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk  penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen  yang  saling berkaitan,  yakni:  1) pengelolaan pembelajaran, 2) pengembangan  profesi, dan 3) penguasaan akademik.

Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) menyatakankan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan.

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.

Rencana Kegiatan Harian (RKH)

Rencana Kegiatan Harian (RKH) merupakan penjabaran dari (Rencana Kegiatan Mingguan) RKM.Rencana kegiatan harian (RKH) memuat kegiatan-kegiatan pembelajaran, baik yang dilaksanakan secara individual, kelompok, maupun klasikal dalam satu hari.RKH terdiri atas kegiatan pembukaan, kegiatan inti, istirahat atau makan, dan kegiatan penutup.

a. Prinsip-Prinsip Penyusunan RKH

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan  dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) memperhatikan perbedaan individu   peserta    didik, 2) mendorong      partisipasi    aktif peserta  didik, 3) mengembangkan budaya membaca dan menulis, 4) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, 5) keterkaitan dan keterpaduan.

b. Langkah- langkah Menyusun RKH

(1) Mengisi   kolom   identitas, (2) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, (3) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, (4) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, (5) Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, (6) Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, (7) Merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir, (8) Menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, (9) Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban.

Bimbingan Berkelanjutan

a. Pengertian Bimbingan dan berkelanjutan

Bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara  berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua,  ”berkelanjutan adalah  berlangsung terus menerus, berkesinambungan”.

Berdasarkan pengertian bimbingan dan  berkelanjutan dapat ditarik suatu kesimpulan  bahwa bimbingan berkelanjutan    adalah  pemberian bantuan  yang diberikan seorang ahli kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.

B. KERANGKA BERPIKIR

Hipotesis tindakan

Diduga dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana kegiatan harian (RKH). Ada peningkatan kompetensi guru dalam menyusun rencana kegiatan harian setelah dilakukan bimbingan secara berkelanjutan.

Metode Penelitian

Setting penelitian/lokasi penelitian

Tempat penelitian adalah TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. TK ini berada di Jl. Gerilya No. 13 Karangpucung

Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada semester 1 tahun 2016/2017.

Subyek penelitian

Subyek penelitian adalahguru di TK Pertiwi 1 Karangpucung yang beralamat di Jl. Gerilya No. 13 Karangpucung

Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah  rencana kegiatan harian (RKH) yang  sudah  dibuat oleh guru yang bersangkutan.

Teknik Pengumpul Data

1. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi  tentang  pemahaman guru terhadap rencana kegiatan harian (RKH).

2. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui kompetensi guru dalam menyusun rencana pembuatan program harian dengan lengkap.

3. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.

Alat pengumpul data

1. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang rencana kegiatan harian (RKH).

2. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen rencana kegiatan harian (RKH) yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh  guru

3. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.

Teknik Analisis data

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian tindakan sekolah ini yaitu menggunakan analisis deskriptif kualitatif.

Indikator Keberhasilan

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru dalam membuat komponen rencana kegiatan harian (RKH).

Prosedur Penelitian

3.2 Alur proses tindakan

Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian kondisi awal

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap rencana kegiatan harian (RKH) yang dibuat oleh guru yang bersangkutan pada data awal, diperoleh informasi atau data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi rencana kegiatan harian (RKH) dengan komponen dan sub-sub komponen rencana kegiatan harian (RKH) tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.Perhatikan tabel di bawah ini:

4.1 Tabel Data Awal Prosentase Kesesuaian rencana kegiatan harian (RKH)

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa aspek indikator, kegiatan pembelajaran, dan metode sudah sesuai dengan yang diharapkan sehingga aspek-aspek tersebut mendapat prosentase 100% .Sedangkan pada aspek penentuan alat atau sumber belajar hanya diperoleh 75 %, yang ditemui dalam penentuan sumber belajar ini untuk referensi hanya menyebutkan sumber yang relevan. Pada aspek alat dan hasil penilaian pengembangan peserta kesesuaiannya hanya mendapat prosentase 25% saja.

Pembahasan Siklus 1

4.2 Tabel Prosentase Kesesuaian rencana kegiatan harian (RKH) Siklus I

Dengan melihat tabel prosentase kesesuaian rencana kegiatan harian (RKH) pada siklus I hasil tentang rencana kegiatan harian (RKH)  di atas, dapat diketahui bahwa aspek indikator, kegiatan pembelajaran, dan metode prosentase kesesuaian masih sama dengan data awal yaitu  mendapatkan prosentase 100%. Sedangkan pada aspek alat atau sumber belajar, alat (penilaian pengembangan peserta) dan hasil (penilaian pengembangan peserta) prosentase kesesuaiannya sudah meningkat yaitu dari  25% menjadi 75%.

4.6 Tabel Perbandingan Data Awal dan Siklus I

Meskipun perolehan prosentase yang diperoleh masih belum maksimal namun perolehan prosentase tersebut sudah dalam kategori baik. Namun kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan saja karena akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

PEMBAHASAN SIKLUS 2

4.4 Tabel Prosentase Kesesuaian rencana kegiatan harian (RKH) Siklus II

Dengan melihat tabel prosentase kesesuaian rencana kegiatan harian (RKH) pada siklus II hasil observasi tentang rencana kegiatan harian (RKH)  di atas, dapat diketahui bahwa aspek indikator, kegiatan pembelajaran, dan metode prosentase kesesuaian masih sama dengan data awal dan data siklus I yaitu  mendapatkan prosentase 100%. Sedangkan pada aspek alat atau sumber belajar, alat (penilaian pengembangan peserta) dan hasil (penilaian pengembangan peserta) prosentase kesesuaiannya sudah meningkat yaitu dari  75% menjadi 85%.

4.7 Tabel Perbandingan Data Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan penjabaran mulai dari data awal, keadaan akhir siklus I sampai dengan keadaan akhir siklus II, telah terbukti dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan rata-kompetensi guru dalam menyusun rencana kegiatan harian (RKH).

Berdasarkan analisa hasil yang sudah ada, hasil perolehan nilai prosentase pada penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) juga sudah naik dibandingkan pada kondisi awal. Perolehan nilai prosentase yang didapat tersebut juga sudah dikategorikan baik. Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa adanya peningkatan kompetensi guru dalam membuat rencana kegiatan harian (RKH) setelah diberikan bimbingan berkelanjutan oleh kepala sekolah. Oleh karena itu penelitian ini berhenti pada siklus 2 dan penelitian tindakan ini telah selesai.

Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan

Sebagaimana yang telah diuraikan tentang bimbingan berkelanjutan telah berhasil meningkatkan kompetensi guru dalampenyusunan rencana kegiatan harian (RKH) . Hal tersebut dapat dibuktikan dengan nilai prosentase pada penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) komponen alat atau sumber belajar yaitu pada data awal 25%, pada siklus I meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 85 %. Alat (penilaian pengembangan peserta) yaitu pada data awal 25%, pada siklus I meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 85 %. Hasil (penilaian pengembangan peserta) yaitu pada data awal 25%, pada siklus I meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 85 %.

Bimbingan secara berkelanjutan sangat baik dalam upaya peningkatan kompetensi guru menyusun rencana kegiatan harian (RKH) pada guru TK di TK Pertiwi 1 Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas.3.   Dengan bimbingan berkelanjutan menjadikan kompetensi guru TK Pertiwi 1 Karangpucung meningkatkan kemampuan dan kemauannya dalam menyusun rencana kegiatan harian (RKH).

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, dalam upaya peningkatan penilaian prestasi kerja  ada bebrapa hal yang perlu disampaikan anatara lain :

1. Kepada para guru agar selalu mengutamakan penyusunan rencana kegiatan harian karena dengan perencanaan yang matang maka pembelajaran akan maksimal.

2. Kepada para kepala sekolah agar selalu melaksanakan perannya sebagai supervisor dengan melaksanakan kegiatan bimbingan berkelanjutan agar dapat diketahui permasalahan dan kesulitan yang dihadapi guru..

3. Kepada para pengawas agar selalu mengadakan pembinaan penyusunan rencana kegiatan harian (RKH) secara terprogram.

Daftar Pustaka

Wahidin.13 Faktor untuk menjadi Kepala Sekolah Yang Efektif, 2008

Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru EfektifYogyakarta: Hikayat Publishing.

Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.

Depdiknas. 2008. Alat  Penilaian  Kemampuan Guru. Jakarta:  Depdiknas.

Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra Publishing.

Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua

 


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *