UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MERUMUSKAN SILABUS MELALUI SUPERVISI AKADEMIK TERJADWAL

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MERUMUSKAN SILABUS MELALUI SUPERVISI AKADEMIK TERJADWAL

Oleh : Subowo, S.Pd.M.M

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus  melalui supervisi akademik terjadwal kepala sekolah. Penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah, tempat penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap  pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 yang dilaksanakan pada bulan September 2016 sampai dengan bulan November 2016. Jumlah guru yang menjadi responden sebanyak 24 guru. Hasil penelitian siklus pertama diperoleh scor rata 29,95 % dengan kategori cukup, sedangkan persentasenya baru mencapai 59,91 %. Hasil penilaian akhir siklus kedua diperoleh scor rata 32,92 % dengan kategori baik, sedangkan persentasenya mencapai 65,92 %. Hasil penilaian akhir siklus ketiga tentang kompetensi guru dalam merumuskan Silabus hasilnya mengalami kenaikan. Berdasarkan hasil siklus ketiga diperoleh scor rata 38,29 % dengan kategori baik, sedangkan persentasenya sudah mencapai 76,58 %. Berdasarkan Siklus I, II dan III maka dapat disimpulkan bahwa  supervisi akademik terjadwal dapat meningkatkan kompetensi guru dalam  merumuskan Silabus  di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017.

Kata kunci : Kompetensi Guru, Silabus, Supervisi Akademik Terjadwal

PENDAHULUAN

Berdasarkan pengamatan peneliti, kondisi guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap masih banyak yang melaksanakan pembelajaran menggunakan metode ceramah, sehingga peserta didik hanya duduk, diam dan mendengarkan.  Seharusnya guru dalam pembelajarannya dapat mengaktifkan peserta didik untuk berpartisipasi aktif dan menggali kemampuan yang dimilikinya melalui berbagai kegiatan yang dirancang dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.  Dengan demikian akan menumbuhkan motivasi belajar peserta didik yang akan meningkatkan hasil belajarnya.

Agar guru dapat memperbaiki pembelajarannya, tentunya guru merencanakan sebaik mungkin, apakah sudah menggunakan metode yang tepat dan didukung dengan media yang relevan dan apakah pembelajarannya sudah menyenangkan atau belum. Keadaaan yang ada masih banyak guru yang belum merencanakan dengan baik, yang penting mengajar apa adanya.  Bahkan dalam membuat Silabus guru-guru masih mengcopy hasil kerja MGMP Kabupaten atau mengcopy contoh dalam CD dari BSNP, tanpa dicermati dan disesuaikan dengan kebutuhan perserta didik yang mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasarnya.

Sampai saat ini belum banyak guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap yang merumuskan Silabus dengan baik. Untuk itu perlu upaya perbaikan bagi guru dalam pembelajarannya menuju pembelajaran yang lebih aktif, inovatif dan meningkatkan motivasi peserta didiknya menuju hasil belajar yang lebih optimal.

Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus, maka perlu dilakukan supervisi akademik oleh kepala sekolah, sehingga penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dengan mengadakan penelitian tentang upaya meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus melalui supervisi akademik terjadwal di SMP Negeri 3 Binanggun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017.

Kurangnya kompetensi guru dalam merumuskan Silabus, dapat diidentifikasikan permasalahannya adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman guru tentang cara merumuskan Silabus yang benar masih dirasa kurang.

2. Guru menganggap kurang pentingnya Silabus dalam merancang pembelajaran

3. Kepala sekolah dalam pembinaannya belum optimal kepada semua guru

4. Pembuatan Silabus hanya mencopy dan belum disesuaikan dengan kebutuhan perserta didik yang mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasarnya.

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah: Apakah dengan supervisi akademik terjadwal kepala sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017?

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Supervisi Akademik Terjadwal

Purwanto (dalam Zainal, 2009), menyatakan bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru. Oleh sebab itu, supervisor harus dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan keterampilan teknis. Supervisor didalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, melainkan juga harus diikuti dengan jenjang pendidikan formal yang memadai.

Pendapat senada dikemukakan oleh Supardi (2009), supervisi merupakan suatu usaha untuk memberikan pertolongan atau bantuan kepada guru-guru serta staf sekolah lainnya dengan tujuan untuk memperbaiki situasi pembelajaran di sekolah, dan mempunyai implikasi yang besar bagi usaha pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Subari (1994) supervisi adalah bantuan dan bimbingan profesional bagi guru dalam melaksanakan tugas instruksional guna memperbaiki proses belajar mengajar dengan melakukan simulasi, koordinasi dan bimbingan secara berkesinambungan untuk meningkatan pertumbuhan jabatan guru secara individual maupun kelompok sehingga ada perubahan secara berarti dari kondisi tertentu kepada kondisi yang lebih baik. Untuk itu pendidikan yang bermutu disekolah perlu adanya pengawasan yang baik sesuai dengan kaidah keilmuan.

Sudjana (2012) pengertian supervisi adalah proses bantuan untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar agar lebih baik. Hal ini  menunjukkan bahwa supervisi adalah proses bantuan, bimbingan, dan/atau pembinaan dari supervisor kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajarannya.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik suatu pelayanan untuk membantu, mendorong, membimbing serta membina guru-guru agar mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam menjalankan tugas sebagai pendidik profesional. Kegiatan supervisi dilakukan oleh pejabat yang berwewenang yaitu bisa kepala sekolah dan pengawas pendidikan, dan dalam tulisan ini supervisi yang dimaksud adalah supervisi oleh kepala sekolah.

Terjadwal dapatlah diartikan terencana, terprogram, terarah dan dikomunikasikan ke guru sebelumnya. Tidak spontan datang tanpa pemberitahuan kepala sekolah langsung mensupervisi.  Menurut Sahertian (2008 ) mengemukakan bahwa teknik supervisi dengan kunjungan kelas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

a. Kunjungan kelas tanpa diberitahukan sebelumnya (tidak terjadwal).  Seorang supervisor secara tiba-tiba datang ke kelas sementara guru mengajar.

b. Kunjungan Kelas dengan pemberitahuan sebelumnya   (terjadwal) kunjungan kelas yang mengacu pada jadwal yang sudah direncanakan, diprogramkan,  dan diberikan kepada setiap guru diawal tahun pelajaran.

Kompetensi Guru

Kompetensi merupakan kemampuan dan berwenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Kata “profesional” berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Usman, 2006).  Kompetensi guru  yaitu kemampuan dasar melaksanakan tugas keguruan yang dapat dilihat dari kemampuan pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial  (Mulyasa, 2007).

Silabus

Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (Trianto, 2010). Senada dengan pendapat tersebut adalah Munadi (2008) yang menyatakan bahwa silabus bisa dikatakan sebagai pola dasar kegiatan pembelajaran yakni menguraikan standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indicator pencapaian kompetensi untuk penilaian Yulaelawati  (2004) mengemukakan “pada dasarnya silabus merupakan rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar di kelas untuk mencapai suatu kompetensi”. Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.

Silabus merupakan salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan rancangan penilaian. Dengan kata lain silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah, yaitu penelitian untuk meningkatkan kompetensi guru dalam  merumuskan Silabus di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017.  Tempat penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap  pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 yang dilaksanakan pada bulan September 2016 sampai dengan bulan November 2016. Obyek penelitian adalah guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap  tahun pelajaran 2016/2017. Jumlah guru yang menjadi responden sebanyak 24 guru.

Dalam penelitian ini pengambilan data dilakukan dengan menggunakan Tes. Teknik tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil perumusan Silabus.  Menurut Arikunto (2007) test adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi (achievement test) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Hasil tes ini akan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan guru dalam merumuskan Silabus.

Prosedur Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) peningkatan kemampuan guru dalam merumuskan Silabus dilaksanakan melalui proses pengkajian yang berdasar yang terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting).

Hasil refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memecahkan masalah. Tahap dalam PTS ini berlangsung beberapa kali sesuai dengan pencapaian hasil setiap siklus. Jika dalam siklus pertama ditemui kendala yang menyebabkan hasil tindakan belum mencapai hasil yang diharapkan, dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Secara lebih rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini:

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Sebelum peneliti melaksanakan penelitian ini, diedarkan terlebih dahulu angket kepada seluruh guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap yang berjumlah 24 orang. Berdasarkan hasil angket diperoleh data awal tentang persepsi guru tentang perumusan Silabus. Mencermati hasil angket yang diedarkan kepada 24 guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap maka dapat diketahui bahwa masih rendahnya kompetensi guru dalam merumuskan Silabus.  Masih minimnya pemahaman mereka tentang teori dan teknik perumusan Silabus, masih kurangnya guru melaksanakan perumusan Silabus secara mandiri yang disebabkan oleh kurangnya teknik dan teori penyusunan Silabus.

Kenyataan yang ada guru masih mencopy berbagai contoh dari BSNP, MGMP maupun dari sekolah lain, sehingga belum mampu berinisiatif merumuskannya secara mandiri mengacu pada standar SKL ataupun diadaptasi dengan kebutuhan perserta didik di sekolah.  Kondisi seperti ini setelah dianalisis membuat peneliti sebagai kepala sekolah terdorong dan tertarik untuk melaksanakan penelitian tindakan sekolah seperti yang telah direncanakan dengan tindakan supervisi akademik terjadwal untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus.

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dalam tiga siklus.  Alokasi tatap muka yang dibutuhkan pada masing-masing. Sesuai dengan setting penelitian yang dilakukan secara kolaborasi, peneliti mengkaji bersama permasalahan tentang peningkatan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan Siklus I

Berdasarkan hasil data,  siklus pertama diperoleh scor rata 29,95 % dengan kategori cukup, sedangkan persentasenya baru mencapai 59,91 %. Maka peneliti akan melanjutkan tindakan penelitian pada siklus II, dengan tugas perumusan Silabus setiap guru mata pelajaran yang akan disupervisi sesuai jadwal yang sudah disepakati bersama.

Berdasarkan hasil siklus pertama, maka peneliti melakukan tindakan berupa pembinaan untuk meningkatkan:

a. Pencantuman identitas.

b. Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar

c. Pengurutan kompetensi dasar berdasarkan tingkat kesulitan

d. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran sesuai kompetensi dasar

e. Mengembangkan kegiatan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar

f. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi

g. Menenentukan jenis penilaian relevan dengan indikator dan kompetensi dasar

h. Menentukan alokasi waktu sesuai dengan kebutuhan kompetensi dasar

i. Menentukan sumber belajar yang relevan

j. Relevansi metode dan media pembelajaran dengan kompetensi dasar.

Hasil Tindakan Siklus II

Pada tahap ini, peneliti mengevaluasi hasil tindakan sekolah yang telah dilakukan, yaitu dengan mengevaluasi hasil penilaian akhir pada siklus kedua. Berdasarkan hasil siklus kedua diperoleh nilai akhir sebagai berikut. Scor rata-rata adalah 32,96 %, sedangkan yang berkategori baik baru mencapai 65,92 persen. Maka peneliti akan melanjutkan tindakan penelitian pada siklus III.

Berdasarkan hasil siklus kedua, maka peneliti melakukan tindakan berupa pembinaan untuk mengoptimalkan:

a. Pencantuman identitas.

b. Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar

c. Pengurutan kompetensi dasar berdasarkan tingkat kesulitan

d. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran sesuai kompetensi dasar

e. Mengembangkan kegiatan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar

f. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi

g. Menenentukan jenis penilaian relevan dengan indikator dan kompetensi dasar

h. Menentukan alokasi waktu sesuai dengan kebutuhan kompetensi dasar

i. Menentukan sumber belajar yang relevan

j. Relevansi metode dan media pembelajaran dengan kompetensi dasar.

Hasil Tindakan Siklus III

Berdasarkan hasil siklus ketiga diperoleh scor rata 38,29 % dengan kategori baik, sedangkan persentasenya sudah mencapai 76,58 %. Maka peneliti memutuskan untuk tidak melanjutkan, karena menurut peneliti sudah terlihat ada pengaruh supervisi akademik terjadwal dapat meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus

Pembahasan

Berdasarkan pada hasil tindakan sekolah yang dilakukan dalam 3 (tiga) siklus kegiatan supervisi akademik terjadwal di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap dapat digambarkan adanya peningkatan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus.  Kondisi awal guru SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap sebagian besar belum dapat merumuskan Silabus secara baik dan mandiri, mereka masih mencontoh dan mengcopy dari MGMP, BSNP maupun teman tanpa menyesuaikan dengan kondisi anak didik di sekolah.

Setelah melalui supervisi akademik terjadwal yang diawali dengan sosialisasi tentang teknik perumusan Silabus, diskusi dan langkah-langkah sipervisi yang komunikatif kekeluargaan dan terbuka, ternyata dapat meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus.  Terlihat pada siklus kedua dan ketiga kompetensi guru dalam merumuskan Silabus mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat pada tabel hasil supervisi sebagai berikut:

Tabel 8. Hasil penilaian siklus I, II dan III

Dengan membaca tabel di atas dapat dilihat bahwa supervisi akademik terjadwal berdampak pada meningkatnya kompetensi guru dalam merumuskan Silabus.  Dari supervisi pertama terlihat dari 24 orang guru yang dilakukan supervisi menunjukkan scor rata-rata sebesar 29,95 atau 59,91% dengan kategori cukup.  Sedangkan setelah supervisi kedua mengalami peningkatan menjadi 32,96 atau 65,92% dengan kategori baik.  Selanjutnya pada supervisi ketiga mengalami kenaikan kembali menjadi 38,29 atau 76,58% dengan kategori baik.

Peningkatan ini dapat terlihat dengan grafik perkembangan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus mata pelajarannya seperti di bawah ini:

Sehingga hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bahwa  supervisi akademik terjadwal akan meningkatkan kompetensi guru dalam  merumuskan Silabus  di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017 dapat diterima.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan sekolah dan pembahasan dapat diambil simpulan bahwa supervisi akademik terjadwal akan meningkatkan kompetensi guru dalam  merumuskan Silabus  di SMP Negeri 3 Binangun Kabupaten Cilacap Tahun 2016/2017.  Hal ini dapat dilihat pada :

Hasil penilaian akhir siklus pertama tentang kompetensi guru dalam merumuskan Silabus hasilnya sebagian besar belum baik. Berdasarkan hasil siklus pertama diperoleh scor rata 29,95 persen dengan kategori cukup, sedangkan persentasenya baru mencapai 59,91 persen. Kemudian hasil siklus kedua diperoleh skor rata 32,92 persen dengan kategori baik, sedangkan persentasenya mencapai 65,92 persen, setelah itu hasil penilaian akhir siklus ketiga tentang kompetensi guru dalam merumuskan Silabus hasilnya mengalami kenaikan. Berdasarkan hasil siklus ketiga diperoleh scor rata 38,29 persen dengan kategori baik, sedangkan persentasenya sudah mencapai 76,58 persen.

Saran

Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merumuskan Silabus, faktor yang perlu dioptimalkan adalah supervisi akademik yang terjadwal.  Hasil supervisi akademik terjadwal ini hendaknya ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Semua pihak yang terkait seperti pengawas, kepala sekolah dan guru sebaiknya mendukung dan bekerjasama dalam program pembinaan guru agar kompetensi guru selalu meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2004). Dasar-dasar Supervisi, Jakarta: Rieneka Cipta

Hamalik, Oemar. (2013). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Mulyasa, E. ( 2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muslich, Masnur, 2009, Melaksanakan PTK Penelitian Tindakan Kelas itu. Mudah, Jakarta: Bumi Aksara.

Sahertian, A.P,  (2008). Konsep  Dasar dan   Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka   Pengembangan   Sumber   Daya   Manusia,  Jakarta  : Rineka Cipta

Satori Djaman dkk. (2007). Profesi Keguruan, Jakarta , Universitas Terbuka

Subari. (1994). Supervisi Pendidikan dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Sudjana Nana. (2012). Supervisi Pendidikan Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas Sekolah. Jakarta: Binamitra Publishing

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

Uzer Usman. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja.

Yulaelawati, Ella. (2004) Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Pakar Raya

Zainal, Arifin. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *