PTK SMP Karya Tari Melalui Model Demonstrasi

5

UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MEMBUAT KARYA TARI MELALUI  MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI

ABSTRAKS

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan materi pembelajaran seni tari. Melalui model pembelajaran demonstrasi ini diharapkan bisa membantu siswa dalam meningkatkan kreativitas untuk membuat karya tari. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus menggunakan tahapan yang sama yaitu: perencanaan, tindakan, dan refleksi. Sedangkan perincian hasil belajar siswa dari prasiklus,siklusI,dan siklusII seperti berikut ini: 1) jumlah siswa yang mendapatkan nilai ketrampilan di atas KKM 75 / tuntas 6 siswa, menjadi 12 siswa kemudian meningkat lagi menjadi 32 siswa, 2) jumlah siswa yang mendapat nilai kurang dari 75/belum tuntas 26 siswa,menjadi 20 siswa, dan menurun lagi menajadi 0, 3) daya serap atau rata-rata nilai meningkat dari 70,44,menjadi 73,19,hingga mencapai 84,37. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan kreatifitas untuk membuat karya tari.

Kata kunci    :   Hasil belajar, Kreativitas, Model Pembelajaran Demonstrasi

PENDAHULUAN

Setiap sekolah diwajibkan menyampaikan mata pelajaran seni budaya minimal dua mata pelajaran, yaitu seni rupa dengan seni musik, seni tari dengan seni teater atau yang lain, oleh karena itu akan lebih ideal apabila satu sekolah memiliki dua atau bahkan tiga orang guru seni budaya sekaligus yang sesuai dengan bidangnya, siswa akan memperoleh kompetensi pengetahuan dan ketrampilan yang maksimal dari guru yang mengajar sesuai dengan kompetensinya, sehingga diharapkan kompetensi siswapun  akan bekembang lebih optimal.

Dalam kegiatan pembelajaran kurikulum 2013 meliputi 3 macam kegiatan, meliputi: a.kegiatan pendahuluan, b.kegiatan inti dan c.kegiatan penutup. Dalam kegiatan inti meliputi: kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi,dan mengomunikasikan, yang diakhiri dengan mencipta/menghasilkan suatu karya seni. Kegiatan mengamati tayangan video penyajian tari, siswa diajak untuk mengenal dan memahami suatu hasil karya tari yang wajib kita hargai dan kita hormati, kemudian kegiatan menanya yang memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya apapun yang belum dipahami,serta memberi kesempatan pada siswa untuk mengeksplor gerakan-gerakan tari sesuai dengan kompetensi dasar. Akhirnya kegiatan mengasosiasikan dimana siswa banyak melakukan kegiatan berlatih dan terus berlatih sampai batas waktu yang telah ditentukan dan diakhiri dengan menyajikan. Dalam kegiatan mengomunikasikan ini, siswa memeragakan gerak-gerak tari yang telah dirangkai menjadi sebuah karya tari (mencipta).

Tugas membuat gerak tari dilakukan secara kelompok, dan sebaiknya siswa membuat gerakannya sendiri, kemudian menularkan ke teman dan sebaliknya (semua siswa merangkai gerak tari dari masing-masing anggota menjadi sebuah tarian) kemudian setelah dikuasai ditampilkan secara kelompok pula, akan tetapi siswa hanya ikut-ikutan saja tanpa ikut serta berperan aktif  dalam mencipta juga malas latihan. Pada saat kelompok maju  meragakan  karya tari tersebut, hanya sebagian kecil siswa yang mampu menampilkan dengan baik, dan sebagian besar lagi kurang maksimal karena kurang paham serta hafal dengan rangkaian gerak tari hasil karya mereka sendiri.

Agar kreativitas siswa yang rendah lebih berkembang lagi dan bentuk karya tari yang dibuat oleh siswa dapat dikuasai dengan baik, maka siswa perlu  lebih aktif lagi untuk ikut serta semangat dalam berkarya ataupun berlatih karya tari dengan sungguh-sungguh, sehingga siswa akan berkarya tari lebih bagus lagi.

Berdasarkan uraian dan alasan di atas, peneliti memandang perlu upaya untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam membuat karya tari dengan  model pembelajaran demonstrasi pada siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Cilacap tahun pelajaran 2015/2016.

KAJIAN  TEORI

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta (KBBI, 2001:559). Moustakis  (1978)  mengemukakan kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, alam dan orang lain. Dengan membuat karya tari, kreativitas yang dimiliki oleh siswa dapat diekspresikan melalui gerak sesuai dengan ide,cirri khas (identitas) yang dimiliki siswa. Perilaku kreatif dapat dituangkan dengan membuat karya tari agar berkembang. Dengan kata lain, kreativitas akan muncul apabila seseorang banyak melakukan aktivitas atau latihan.

Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, terjadi dalam diri seseorang karena pengalaman (Mahmud, 1989 : 121- 122).

Menurut pendapat Boas ( dalam Santoso,1994 : 3 ) mengatakan bahwa seni itu sebagai suatu kegiatan yang bisa menimbulkan perasaan yang menyenangkan (pleasurable sensations). Suatu kegiatan yang dilakukan akan membangkitkan perasaan keindahan, apabila dalam mewujudkannya melalui proses yang memenuhi persyaratan teknis tertentu, sehingga mencapai standard of excellent atau nilai puncak tertinggi. Akan tetapi sebaliknya apabila dalam mewujudkanya tidak disertai dengan kemampuan, kemauan, dan pengalaman yang cukup maka bentuk karya seni yang diperoleh tidak akan mencapai nilai puncak. Sehingga dalam penerapanya pembelajaran seni di sekolah mengajak siswa melakukan kegiatan yang bisa  membangkitkan perasaan keindahan,dan dalam mewujudkannya disertai dengan kemampuan, kemauan, dan pengalaman yang cukup sehingga bentuk karya seni yang diperoleh akan mencapai nilai puncak (standard of excellent).

Mencipta merupakan dorongan untuk merasakan, menemukan, dan menuangkan ide – ide yang ada untuk dikembangkan. Proses untuk mencipta atau mmbuat karya tari dimulai dari mencari ide-ide yaitu melalui eksplorasi, improvisasi,dan pmbentukan (komposisi). Menurut Hadi (2003 :23) pengembangan kreatif dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian utama, yaitu eksplorasi, improvisasi,dan komposisi.

Menurut Smith ( 1989 : 20) ada beberapa rangsangan yang dapat memotivasi siswa bergerak kreatif, yaitu rangsang auditif, visual, kinestetik, gagasan,dan peraba. Rangsang auditif meliputi berbagai suara dan bunyi-bunyian, seperti manusia, suara binatang, suara angina, bunyi alat atau instrument musik, dsb. Rangsang visual dapat ditimbulkan dari gambar, patung, obyek alam, topeng, dsb. Rangsang kinestetik adalah rangsang yang muncul dari gerak tari/gerak yang indah, atau menampilkan pameran gerak. Rangsang gagasan berupa cerita, dongeng, cerpen, atau peristiwa tertentu. Rangsang peraba adalah rangsang yang menghasilkan respon yang kemudian menjadi motivasi untuk gerak tari. Rangsangan yang dikaitkan dengan penciptaan siswa SMP adalah rangsang visual.

Pembelajaran seni tari akan lebih aktif dan kreatif jika dilakukan dengan metode yang tepat. Perkembangan kreativitas siswa akan jauh lebih baik jika satu persatu siswa diberi kesempatan secara langsung menyampaikan atau meragakan ide gagasan ciptaanya (kreativitasnya), jadi bukan sekedar mengikuti / menirukan gerakan tari karya orang lain . Siswa membutuhkan sesuatu yang nyata dan praktek secara langsung. Realitas pembelajaran seni tari yang seperti ini belum menunjukkan keaktifan seluruh siswa untuk mencipta, tetapi hanya sekedar berlatih dan menirukan gerakan tari yang diciptakan oleh salah satu anggota yang kreatif.

Model pembelajaran demonstrasi merupakan salah satu cara mengajar, di mana guru melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievalusi oleh guru.. Dengan demikian dapat diasumsikan siswa dengan metode demonstrasi akan lebih aktif dan mudah dalam memahami materi yang disampaikan, sehingga kreativitas menciptakan gerak tari  meningkat.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di SMPN 5 Cilacap Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap pada siswa kelas VIIA Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 Cilacap sebanyak 32 siswa yang terdiri dari 14  siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu pada bulan Maret sampai dengan Mei 2016 dengan perhitungan waktu kurang lebih 12 minggu,dalam 2 siklus.

Berdasarkan tujuan penelitian, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Tindakan tersebut diberikan oleh guru dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Hal yang kurang memuaskan dalam pembelajaran dapat diperbaiki untuk menuju keadaan yang lebih baik tanpa mengganggu tugas pokoknya.

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri atas tiga siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan (planing), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Sesudah satu siklus selesai diimplementasikan, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus berikutnya.

Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan oleh peneliti melalui tes dan metode observasi.

  1. Metode Tes: Tes praktik digunakan untuk menguji sejauh mana perbandingan siswa mengalami perubahan tingkah laku serta  prestasi  sebelum diberi tindakan dan sesudah diberi tindakan  dengan metode demonstrasi.
  2. Observasi (Pengamatan): digunakan untuk mengumpulkan data melalui pengamatan terhadap subjek.Peran peneliti dalam penelitian ini yaitu sebagai pengamat sekaligus sebagai guru yang mengajar.

Teknik Analisa Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu lembar observasi, dan hasil tes. Analisis Data Observasi, pada setiap pertemuan di setiap siklus, peneliti dibantu  satu orang guru  sebagai mitra peneliti melakukan observasi tentang keterlaksanaan pembelajaran Seni tari dengan metode demonstrasi.

Hasil tes siklus I maupun siklus II mencerminkan sejauh mana tingkat pemahaman terhadap materi pembelajaran seni tari tentang meragakan gerak tari. Data yang terkumpul dianalisis dengan statistik deskriptif untuk memecahkan masalah peningkatan kreativitas siswa dalam membuat karya tari. Hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif, sedangkan skala nilai yang digunakan adalah rentang nilai 10 sampai dengan 100.

Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas dapat dilakukan beberapa siklus. Setiap siklus dilakukan dengan alokasi waktu 4 x 40 menit. Masing-masing siklus dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari perencanaan, tindakan dan observasi, serta refleksi. Tahapan-tahapan akan dijabarkan sebagai berikut. Siklus II dilaksanakan apabila hasil refleksi siklus I belum  berhasil.

Indikator Keberhasilan untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:1)Kriteria siswa tuntas belajar apabila telah mencapai tingkat penguasaan materi pembelajaran sebesar 85% ke atas atau mendapat nilai ≥ KKM minimal75, 2) Proses perbaikan pembelajaran (meningkatkan motivasi belajar siswa) dinyatakan berhasil jika 85% dari jumlah siswa mengalami peningkatan motivasi belajarnya selama proses pembelajaran berlangsung.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research). Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan ini dilakukan dalam I kelas untuk diamati dan dicatat perkembangan yang terjadi, yang terdiri dari empat tahap meliputi: perencanaan, implementasi tindakan, observasi, refleksi dan evaluasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Aktivitas pada kondisi  awal  ini   dilakukan  sebelum  melakukan penelitian yang dijadikan sebagai bahan acuan dalam tindakan penelitian. Pengamatan aktivitas belajar siswa dilakukan saat mengelompok bekerja sama dalam pembuatan gerak tari dan meragakan gerak tari yang telah diciptakan oleh masing-masing  kelompok tersebut. Hasil pengamatan aktivitas belajar seni tari nampak pada tabel berikut ini :

      Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I

Pembelajaran siklus I ini dilakukan dalam 2 kali pertemuan tatap muka, yaitu Hari Rabu tanggal 13 dan 20 April 2016. Tahap pertama (latihan dan penerapan) kemudian tahap kedua digunakan untuk melanjutkan demonstrasi/menyampaikan dan menirukan  gerak berdasar level dan pola lantai sesuai hitungan.

gambar-1     gambar-2

Pelaksanaan pada  siklus  I  menekankan  pada  pembelajaran  seni tari dengan  menggunakan  metode demonstrasi

Tabel 4.4       Rekapitulasi Aktivitas belajar Seni tari Materi Meragakan

                        Gerak Tari pada Siklus I

NO Kualifikasi Jumlah Siswa
1 Sangat Baik 0
2 Baik 12
3 Cukup 20
4 Kurang 0

 

Tabel 4.5       Rekapitulasi Nilai Tes Praktek Pembelajaran Seni Tari  pada Siklus I

Sudah ada peningkatan kemampuan siswa dapat dilihat pada tabel 4.5

NO Aspek Nilai
1 Nilai terendah 66
2 Nilai tertinggi 85
3 Rerata nilai 73,19
5 Rentang nilai 19

Data tersebut dapat divisualisasikan dengan diagram berikut ini:

siklus-1

Gambar 4.6 Grafik hasil belajar Siklus I

Dari tabel di atas tentang Rekapitulasi Nilai praktek pada pembelajaran seni tari materi pokok meragakan gerak tari  dengan menerapkan metode demonstrasi pada Siklus I  di atas dapat diterangkan sebagai berikut:

Nilai rata-rata hasil belajar pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus pertama  sebesar 73,19, siswa yang tuntas 12 siswa atau sebesar 37,50%, siswa yang belum tuntas belajarnya sebanyak 20 siswa atau sebesar 62,50%

Hasil nilai praktek mengalami peningkatan dari pada kondisi awal, karena pada saat sebelum perbaikan nilai praktek terendah 60 meningkat menjadi 66, sedangkan nilai tertinggi dari 82 meningkat menjadi 85 dan nilai rerata dari 70,44 meningkat menjadi 73,19.

Refleksi Tindakan

Setelah mengamati pelaksanaan pada siklus  I, maka guru perlu dibenahi lagi agar dapat diperoleh hasil refleksi tindakan pembelajaran pada siklus II yang lebih baik.

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II

Setelah mempertimbangkan hasil refleksi pada siklus pertama, maka pada siklus kedua peneliti mencoba menyempurnakan pelaksanaan perbaikan pembelajaran meragakan gerak tari berdasakan level dan pola lantai sesuai iringan.

gambar-3    gambar-4

Refleksi Tindakan

Data hasil penilaian siklusII  dapat  dilihat  pada  tabel di bawah

ini.

Tabel    4.7 Rekapitulasi Aktivitas belajar Seni tari Materi Meragakan Gerak Tari pada Siklus II

NO Kualifikasi Jumlah Siswa
1 Sangat Baik 4
2 Baik 28
3 Cukup 0
4 Kurang 0

Tabel  4.8   Rekapitulasi Nilai Praktek Pembelajaran Seni Tari  pada Siklus II

Sudah ada peningkatan kemampuan siswa dapat dilihat pada tabel 4.8

NO Aspek Nilai
1 Nilai terendah 79
2 Nilai tertinggi 90
3 Rerata nilai 84,37
5 Rentang nilai 11

Data tersebut dapat divisualisasikan dengan diagram berikut:

nilai

Gambar 4.9 Grafik hasil belajar Siklus II

Dari tabel di atas tentang Rekapitulasi Nilai praktek pada pembelajaran seni tari materi pokok meragakan gerak tari  dengan menerapkan metode demonstrasi pada Siklus II  sebagai berikut:

Nilai rata-rata hasil belajar siklus II sebesar 84,37, tuntas belajar  32 siswa atau sebesar 100%, dan Jumlah siswa belum tuntas belajarnya 0 siswa atau  0%.

Refleksi Tindakan

Setelah  mengamati  pelaksanaan  tindakan  pembelajaran  pada  siklus  II, maka dapat diperoleh hasil refleksi tindakan pembelajaran sebagai berikut: Guru sudah banyak memberikan motivasi dan kesempatan kepada siswa untuk bisa mengembangkan kreativitasnya dalam proses pembelajaran.

Penggunaan  model pembelajaran demonstrasi  akan  sangat  membantu  dalam  meningkatkan kreativitas membuat gerak tari,  ini  terbukti  dari  hasil  belajar  yang  diberikan  pada  setiap  siklusnya  mengalami  peningkatan di mana pada  kondisi awal sebesar 70,44, meningkat pada siklus  I  nilai  rata-rata  yang  diperoleh  siswa  adalah  73,19 dan pada siklus II rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 84,37.  Rekapitulasi  nilai  hasil  praktek  siswa  dari kondisi awal, siklusI  dan siklus II dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.10 Rekapitulasi Nilai praktik  Awal,  Siklus I  dan Siklus II

No Siklus Nilai Rata-2 Tuntas % Blm Tuntas %
Awal 70,44 6 18,75 26 81,25
I 73,19 12 37,50 20 62,50
II 84,37 32 100 0 0,00

hasil-akhir

Gambar     4.11     Grafik Peningkatan dan Penurunan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan II

Dengan penerapan metode demonstrasi  para  siswa  diajak  memahami  konsep  kebebasan mengekspresikan diri yang  berlangsung dengan  alamiah  dalam  bentuk  kegiatan  siswa  berkarya  dan  mengalami sendiri untuk mencipta gerakan tari,  bukan meniru semua gerakan tari hasil kreativitas teman dalam kelompoknya. Dengan demikian mereka memposisikan sebagai  pribadi yang percaya diri  sebagai  bekal  untuk  hidupnya  nanti.  Mereka mempelajari  apa  yang  bermanfaat  bagi  dirinya  dan  berupaya  menggapainya, dengan demikian diharapkan kelak mereka bisa berani dan percaya diri dalam kehidupan kesehariannya. Keberhasilan penerapan pendekatan demonstrasi pada penelitian ini tergambar dari  peningkatan motivasi dan hasil belajar  siswa  yang  meningkat  dari  setiap  siklusnya.  Penerapan pendekatan  demonstrasi yang dikemas dalam skenario  yang  terarah  dan  didukung  dengan  materi  pembelajaran yang  menarik  serta  disesuaikan  dengan  kondisi  siswa ternyata  dapat  mendorong  siswa  untuk  terlibat  lebih aktif  dalam  pembelajaran  sehingga kreativitas siswa menjadi meningkat.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan hasil temuan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Penerapan model pembelajaran demonstrasi pada  mata pelajaran seni tari materi meragakan gerak tari dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan motivasi belajar dari 18,75% atau 6 siswa  pada kondisi awal menjadi, 37,50% atau 12 siswa, dan pada akhir siklus kedua menjadi 100% atau semua siswa menyatakan termotivasi.
  2. Penerapan model pembelajaran demonstrasi pada pembelajaran seni tari dapat meningkatkan hasil dan ketuntasan belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa, di mana nilai rata-rata kelas terus mengalami peningkatan dari 70,44 menjadi 73,19 pada siklus pertama, dan siklus kedua menjadi 84,37 dengan tingkat ketuntasan belajar  meningkat yaitu 6 orang siswa (18,75%) menjadi 37,50% atau 12 siswa, dan siklus terakhir menjadi 100% atau 26 siswa.

Saran

  1. Peserta didik hendaknya dapat berperan aktif dengan menyampaikan ide atau pemikiran pada proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan lancar optimal.
  2. Siswa lebih mempersiapkan diri agar focus ketika mengikuti pelajaran.Siswa juga diharapkan lebih aktif saat mengikuti pelajaran dan tidak tergantung pada guru.
  3. Guru juga harus mampu melakukan perbaikan pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung, melibatkan siswa sepenuhnya untuk aktif secara emosional dalam mengikuti proses pembelajaran.
  4. Kepala sekolah juga senantiasa memantau guru dengan memberikan masukan-masukan atau saran terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru guna mewujudkan peningkatan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Akdon & Riduwan, 2007, Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika, Cet 2,Bandung : Alfabeta.

Oemar Hamalik, 2003. Proses belajar Mengajar.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Suharsimi Arikunto. 1998 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, rev. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

PENULIS

>Triyani, S.Pd.

>SMPN 5 Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *