infopasti.net

PTK SMP Menganalisis Unsur Instrinsik Cerpen Metode Kooperatif

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN MELALUI METODE KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA PESERTA DIDIK KELAS IXG SEMESTER 1 SMP NEGERI 1 PREMBUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan hasil belajar menganalisis unsur intrinsik  cerpen peserta didik kelas IXG  SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penerapan metode kooperatif tipe jigsaw. (2) untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IXG  SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penerapan metode kooperatif tipe

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015. Jumlah peserta didik 31 anak dan guru bahasa Indonesia kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer meliputi: (1) hasil setiap siklus (2) soal-soal (3) daftar pengamatan peserta didik (4) hasil wawancara dengan peserta didik (5) angket penilaian terhadap guru. Sumber data sekunder meliputi: (1) RPP (2) Daftar hadir peserta didik (3) Daftar hasil pengamatan peserta didik (4) rekap hasil pemantauan guru. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode. Triangulasi sumber berasal dari hasil pengamatan peserta didik terhadap guru dan hasil pengamatan guru terhadap peserta didik saat pembelajaran. Triangulasi metode diperoleh melalui presensi peserta didik, hasil peroleh setiap siklus, hasil pengamatan motivasi per siklus, hasil pengamatan guru dan wawancara.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa melalui metode kooperatif tipe jigsaw, hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen dan motivasi belajar pada peserta didik kelas IXG Semester 1 SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 meningkat. Rata-rata hasil belajar menganalisis unsur intrinsik sebelum tindakan mencapai 74,93 dengan prosentase ketuntasan klasikal 45,16%. Pada siklus I meningkat menjadi 77,80 dengan prosentase ketuntasan klasikal 74, 19%. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 83,16 dengan prosentase ketuntasan klasikal 93,54%. Motivasi peserta didik  juga mengalami peningkatan. Sebelum ada tindakan, ada 6 anak atau 19,35% peserta didik tidak termotivasi, 20 anak atau 64,51% anak kurang termotivasi, dan hanya ada 4 anak atau 12,90% anak yang termotivasi. Pada siklus I motivasi belajar peserta didik meningkat, 3 anak atau 9,67% peserta didik tidak termotivasi, 4 anak atau 12,90% peserta didik kurang termotivasi, dan 20 anak atau 64,51% peserta didik termotivasi dan 4 anak atau 12,90% peserta didik sangat termotivasi. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 18 anak atau 58,06% peserta didik termotivasi dan 13 anak atau 41,93% peserta didik sangat termotivasi.

Kata kunci: unsur intrinsik cerpen, motivasi belajar, metode kooperatif tipe jigsaw


PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Standar kompetensi merupakan salah satu acuan guru untuk mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia. Isi dari standar kompetensi dituangkan pada silabus yang memuat kompetensi dasar. Materi kompetensi dasar 7.1 adalah Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen – cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen. Indikator dari kompetensi dasar tersebut adalah: (1) Peserta didik mampu mengidentifikasi tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen; (2) Peserta didik mampu menemukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen.

Berdasarkan hasil belajar  menganalisis unsur intrinsik  cerpen dan motivasi belajar peserta didik  SMP Negeri 1 Prembun kelas IXG  Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015 diketahui hasilnya masih rendah. Rata-rata hasil  belajar peserta didik di kelas IXG   yang memperoleh  nilai di atas KKM atau tuntas 14 peserta didik atau 45,16% peserta didik dari 31 peserta didik,  sedangkan  peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM sebanyak 17 peserta didik atau 54,83%.

Rendahnya hasil belajar peserta didik dikarenakan oleh dua faktor. Yaitu faktor yang muncul dari peserta didik dan faktor yang muncul  dari guru. Faktor dari guru adalah bahwa guru cenderung menggunakan pembelajaran konvensional, guru belum mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan tepat. Hal ini berdampak pada   motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam memahami unsur intrinsik cerpen berkurang atau rendah.

Faktor yang muncul dari peserta didik  antar lain: lingkungan tempat tinggal peserta didik, lingkungan belajar peserta didik, dan faktor dalam diri peserta didik. Faktor yang muncul dari lingkungan tempat tinggal peserta didik  yaitu adanya kondisi tempat tinggal peserta didik yang sebagian besar berasal dari keluarga yang kondisi ekonominya lemah. Sebagian besar orang tua pekerjaannya sebagai buruh tani atau penjual sayuran.

Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar  kemampuan menganalisis unsur intrinsik  cerpen pada peserta didik SMP Negeri 1 Prembun kelas IX G   yaitu melalui  pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw.

 Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopsin (Arends, 2001 dalam alloforado.blogspot.com/2011/07pengertian-dan-karakteristik.html).

             Pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran yang menuntut rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain. Dalam hal ini, siswa berperan sebagai “guru” bagi anggota kelompok lain.

Teknik  pembelajaran ini dipilih karena mudah pelaksanaannya dan menyenangkan.  Selain itu, teknik pembelajaran ini menuntut adanya kreativitas peserta didik. Harapannya pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya kemampuan menganalisis unsur intrinsik  cerpen , akan menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dan diharapkan membantu peserta didik dalam meningkatkan motivasi dan pencapaian hasil belajar dalam  memahami unsur intrinsik.

Dengan memerhatikan hal di atas, maka ditentukanlah penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan  Motivasi dan Hasil Belajar Menganalisis Unsur Intrinsik  Cerpen  Melalui Metode Kooperatif Tipe Jigsaw pada Peserta Didik Kelas IX G Semester 1 SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah melalui pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw hasil menganalisis unsur intrinsik  cerpen peserta didik kelas IXG  SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 meningkat?
  3. Apakah melalui penerapan metode kooperatif tipe jigsaw motivasi belajar peserta didik kelas IXG SMP   Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 meningkat?
  4. Tujuan Penelitian
  5. Untuk meningkatkan hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen peserta didik kelas IXG  SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penerapan metode kooperatif tipe jigsaw.
  6. Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penerapan metode kooperatif tipe jigsaw.
  7. Manfaat Penelitian
  8. Bagi peserta didik, meningkatkan motivasi belajar peserta didik, meningkatkan hasil belajar peserta didik
  9. Bagi guru, memberikan informasi yang penting mengenai pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode kooperatif tipe jigsaw sebagai menggunakan metode pembelajaran dalam mengajarkan kemampuan dalam memahami unsur intrinsik cerpen.
  10. Bagi peneliti, mendapatkan metode pembelajaran yang tepat untuk materi pembelajaran pemahaman unsur intrinsik cerpen dalam rangka meningkatkan kompetensi peserta didik.

KAJIAN TEORI

Motivasi Belajar

Motivasi (Motivation) berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan atau daya penggerak”(Hasibuan, Malayu.S.P,2003: 92). Motivasi secara umum didefinisikan sebagai inisiatif dan pengarahan tingkah laku dan pelajaran motivasi sebenarnya merupakan pelajaran tingkah laku (Made J. Moskowits dalam Hasibuan, Malayu S.P,2003: 96). Sukmadinata (2004: 61) menyatakan bahwa motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu yang menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakkan individu tersebut melakukan kegiatan mencapai suatu tujuan.

Dari pendapat  di atas dapat di simpulkan bahwa motivasi adalah dorongan dari dalam diri peserta didik agar berperilaku mau mengikuti pembelajaran untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

Hasil Belajar

Belajar

Menurut Nasution (1992: 3 dalam Uno 2011: 141) belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial. Perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemungkinan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. Slameto(1991: 2 dalam Uno, (2011: 141) mendefinisikan belajar sebagai proses perubahan dalam diri seseorang pada tingkah laku sebagai akibat/hasil interaksi dengan lingkungannya dalam kebutuhan, sedangkan menurut Sudjana (2002: 280 dalam www.sarjanaku.co/2011/05motivasibelajar siswa.html). Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan dalam diri seseorang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitar.

Hasil Belajar

Purwanto (2011:46 dalam http://arrox.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-hasil-belaja-menurut-para.html) hasil belajar adalah perubahan perilaku peserta didik akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa hasil belajar dapat berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Sudjana(2003:3, dalam http://aroxx.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-hasil-belajar-menurut-para.html) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar, sedangkan Nana Sujana (1989:3) menjelaskan bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.

Berdasarkan pendapat yang  dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku pada diri seseorang akibat tindak belajar yang mencakup aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik.

Hakikat Cerpen (cerita pendek)

Menurut Nurgiyantoro ( 1994:10)  cerpen sesuai dengan namanya adalah cerita yang pendek. Akan tetapi berapa ukuran pendek itu memang tidak ada aturannya, tak ada kesepakatan diantara para pengarang dan ahli. Kurniawan dkk (2012: 54)menyebutkan cerpen(cerita pendek sebagai genre fiksi) adalah rangkaian peristiwa yang terjalin menjadi satu yang di dalamnya terjadi konflik antar tokoh atau dalam diri tokoh itu sendiri dalam latar danalur, sedangkan J.S.Badudu(1975:53,dalam http://www.cerdaskan.com/2014/12/pengertian-cerpen-menurut-para-ahli.html) cerpen adalah cerita yang menjurus dan konsentrasi berpusat pada satu peristiwa, yaitu peristiwa yang menumbuhkan peristiwa itu sendiri.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa cerpen pada hakekatnya  adalah cerita fiksi atau rekaan yang relatif singkat, mengungkapkan suatu kesan dari pragmen kehidupan manusia, berpusat pada suatu peristiwa dan merupakan suatu kesatuan yang utuh serta dinyatakan dalam bahasa tulis.

Unsur Intrinsik Cerpen

Sumarjo (1994:37 dalam nusantaralink.blogspot.com/2009/01/ptk-cerpen-dikelasix.html) mengemukakan unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan struktur karya sastra yang meliputi tema, latar, penokohan/perwatakan, alur, sudut pandang, gaya, suasana, dan amanat, sedangkan menurut  Waluyo (2011:6) menyebutkan  bahwa unsur-unsur pembangun cerita fiksi meliputi tema cerita, plot atau kerangka cerita, penokohan dan perwatakan, setting atau tempat kejadian cerita, atau disebut juga latar, sudut pandang atau point of view, gaya bahasa, waktu penceritaan dan amanat.

Berdasar pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik adalah unsur yang ada di dalam dan ikut membangun cerpen meliputi tema, tokok/penokohan, perwatakan, plot/alur, latar, dan amanat.

Pembelajaran Menganalisis Unsur Intrinsik  Cerpen

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dalamhttps://trys99.wordpress.com/2014/08/17/pengertian-pembelajaran-menurut-para-ahli/ menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran, sedangkan Oemar Hamalik (239: 2006 dalam https://trys99.wordpress.com/2014/08/17/pengertian-pembelajaran-menurut-para-ahli/  ) pembelajaran adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam istilah ”pembelajaran” lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasil-hasil teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar, siswa diposisikan sebagai subyek belajar yang memegang peranan utama sehingga dalam setting proses mengajar siswa dituntut beraktivitas secara penuh, bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian, kalau dalam istilah “mengajar” (pengajaran) atau “teaching” menempatkan guru sebagai “pemeran utama” memberikan informasi, maka dalam “instruction”guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa.

Sudjana(1989 :27) menyatakan analisis sebagai usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang dilakukan hingga jelas hierarkinya dan atau susunannya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilahkan integritas menjadi bagian yang terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain memahami cara bekerjanya, untuk hal lain lagi memahami sistematikanya.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Kurniawan (2011;14) menyatakan bahwa hasil belajar analisis yaitu kemampuan untuk memecah suatu kesatuan entitas tertentu sehingga menjadi jelas unsur-unsur pembentuk kesatuan suatu entitas.

Hakekat  Pembelajaran Kooperatif

Slavin (1994 dalam http://www.warnadi.kapuas.org/2013/02/artikel.html) menjelaskan bahwa belajar kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Lebih lanjut Watson (Jufri, 2000:14 dalam http://www.warnadi.kapuas.org/2013/02/artikel.html) menyatakan bahwa: Cooperatif learning (belajar kelompok) merupakan suatu lingkungan belajar di kelas, di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan umum. Belajar kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan agar siswa dapat bekerja sama dengan yang lain untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerja sama secara aktif dalam menyelesaikan tugas.
Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian pada akhir tugas.

 Evaluasi Pembelajaran

Nana Sudjana (1989: 3) menjelaskan evaluasi adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek berdasarkan suatu kriteria tertentu. Sejalan dengan itu, Stufflebeam (1971) dalam http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/pengertian-dan-Peranan-evaluasipembelajaran.html mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Evaluasi adalah suatu proses untuk merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat beberapa alternatif dalam mengambil keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja dilaksanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat keputusan. Di mana informasi data yang dikumpulkan itu haruslah data yang sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan. Tujuan evaluasi bisa berbeda dengan tujuan dari ujian. Secara sederhana evaluasi digunakan untuk memperbaiki sistem dengan cara memberi penilaian berdasarkan data yang diambil dari suatu atau sekelompok objek. Sedangkan ujian dapat dilakukan tanpa ada tujuan untuk memperbaiki nilai. Ujian juga dapat dilakukan hanya untuk menyaring dan menentukan kelas dari kumpulan objek.

Teknik Penilaian Proses Pembelajaran

Nana Sujana (1989: 56) mengungkapkan bahwa apa yang dicapai oleh siswa merupakan akibat dari proses yang ditempuhnya melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian proses juga patut untuk diperhatikan mengingat hasil  pembelajaran merupakan kibat dari proses pembelajaran. Lebih lanjut, Nana Sujana (1989: 61) menyatakan keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditunjukkan oleh para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat dalam hal; 1) minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran; 2) semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya; 3) tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya; 4) reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru; 5) rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

  1. rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Kerangka berpikir

Pada kondisi awal, motivasi dan hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015 rendah. Oleh karena itu diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi peserta didik. Metode kooperatif tipe jigsaw merupakan metode yang diharapkan mampu membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Melalui aktivitas bersama dalam kelompok, peserta didik berbagi pengetahuan dan ketrampilan yang memungkinkan mereka saling belajar membentuk kompetensi diri ke arah yang lebih baik.

Berdasar hal tersebut, pada kondisi akhir diperoleh bahwa dengan metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015.

Hipotesis Penelitian

  1. Penerapan metode kooperatif tipe jigsaw diduga dapat meningkatkan hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015;
  1. Penerapan metode kooperatif tipe jigsaw diduga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Seting Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun Tahun Pelajaran 2014/2015, beralamat di jalan Slamet Riyadi 11 Prembun, kabupaten Kebumen. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Juli 2014 sampai bulan Desember 2014.

Subjek Penelitian          

Peserta didik kelas IX G SMP Negeri 1 Prembun Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 31 anak yang terdiri dari 14 anak perempuan dan 17 anak laki-laki.

Prosedur Penelitian

  • Tahap perencanaan: menyusun RPP, lembar observasi kegiatan peserta didik dan guru, dan wawancara.
  • Tahap pelaksanaan: melaksanakan pembelajaran sesuai RPP yang telah disusun dengan diikuti kegiatan pemantauan.
  • Tahap Observasi: mengamati dan menginterpretasi aktivitas pembelajaran kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode kooperatif tipe jigsaw.
  • Tahap refleksi: menganalisis hasil pengamatan dan interpretasi sehingga diperoleh simpulan tentang bagian akhir yang perlu diperbaiki di bagian yang telah mencapai tujuan penelitian.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, tes yang berhubungan dengan materi pembelajaran , dan angket. Alat pengumpulan data berupa hasil pekerjaan peserta didik meliputi: (a) daftar absensi kehadiran peserta didik; (b) daftar nilai tes  peserta didik mulai dari siklus pertama dan siklus kedua; (c) daftar pengamatan motivasi belajar peserta didik selama pelaksanaan program perbaikan pembelajaran dilaksanakan setiap siklusnya; (d) hasil pengamatan catatan belajar peserta didik; (e) pengumpulan hasil angket peserta didik.

Analisis Data

Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif  dan analisis deskriptif komparatif. Teknik analisis interaktif merupakan perpaduan antar empat komponen, yaitu: pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan penarikan simpulan. Teknik analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil penelitian antar siklus, baik membandingkan kondisi penelitian awal dengan siklus I, siklus I dengan siklus II. Hal yang dibandingkan berupa motivasi belajar dan hasil belajar kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen  maupun kinerja guru.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Deskripsi Kondisi Awal

Hasil pengamatan motivasi belajar peserta didik pada kondisi awal dapat disimpulkan sebagian besar kurang.  Sebanyak 6  atau 19,35 % peserta didik tidak termotivasi, 20 atau 64,51% peserta didik kurang termotivasi.  Ada 4 atau 12.90% peserta didik yang termotivasi dan hanya ada 1 atau 3,22% peserta didik yang sangat termotivasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar peserta didik masih rendah. Motivasi belajar peserta didik rendah mempengaruhi hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen. Hal tersebut dapat dilihat dari pekerjaan peserta didik yaitu: peserta didik yang mendapat nilai di atas  KKM sebanyak 14 anak atau 45,16% dari 31 peserta didik. Jumlah peserta didik yang tidak tuntas sebanyak 17 anak atau 54,82%. Nilai tertinggi 88, nilai terendah 64. Nilai rata-rata hasil belajar menganalisis unsur intrinsik cerpen peserta didik kelas IXG adalah 74.

  1. Deskripsi Siklus 1
  2. Perencanaan Tindakan

Peneliti menyiapkan semua perangkat yang diperlukan: RPP siklus I, Daftar Hadir Peserta Didik, Lembar Kerja Siswa, dan Lembar Pengamatan.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan sesuai RPP yang telah disusun, meliputi kegiatan awal, inti, dan akhir. Kegiatan awal dengan langkah-langkah berdoa, presensi kehadiran peserta didik, Peneliti menyiapkan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar, menerangkan tujuan pembelajaran, mengajak peserta didik untuk mencari informasi yang menarik atau penting dari cerpen, kemudian membentuk kelompok yang terdiri atas 6 – 8 peserta didik/kelompok secara heterogen, peneliti memberi materi yang berbeda(tema, karakter, dan latar)  pada peserta didik dalam kelompok tim. Peserta didik dari tim yang berbeda bertemu dalam satu kelompok yang sama untuk mempelajari materi yang akan ditugaskan.

Kegiatan inti, peserta didik mencermati pembacaan cerpen yang dibacakan oleh model dengan cermat. Dalam kelompoknya peserta didik mengidentifikasi isi cerpen dengan tepat, kemudian dalam  kelompok yang berbeda, berdiskusi untuk menemukan tema, karakter /penokohan, dan latar cerpen dengan tepat. Setiap anggota/peserta didik kembali ke kelompok asal dan melaporkan hasil diskusi yang diperoleh dari kelompok tim sesuai materi yang ditugaskan. Salah satu peserta didik dari kelompok asal melaporkan hasil diskusi dengan jelas. Peserta didik dari kelompok lain menilai dan menanggapi dengan kalimat logis dan bahasa yang santun. Peneliti memberikan penegasan hasil pembelajaran dengan jelas. Pada kegiatan akhir, peneliti dan peserta didik melakukan  refleksi.

  1. Observasi

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus 1 belum berjalan dengan  lancar. Banyak peserta didik bingung ketika berpindah  dari kelompok asal ke kelompok ahli dan kembali ke kelompok asal lagi. Suasana kelas ramai, masih ada beberapa peserta didik yang saling bercerita dengan temannya karena jumlah anggota dalam diskusi masih banyak. Ada beberapa peserta didik yang  tidak konsentrasi dalam memecahkan soal dengan teman kelompoknya. Berdasar hasil pengamatan ada 3 anak yang tidak aktif atau 9.67% dari 31 anak, 8 anak atau 29,03% yang masih bermalas-malasan atau kurang termotivasi. Adapun hasil pembelajaran siklus 1, peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM (78) yaitu sebanyak 8 anak atau 25,80%, dan peserta didik yang mendapat nilai sama atau di atas KKM yaitu 23 anak atau  74,19 % . nilai tertinggi 86 dan nilai terendah 72.

  1. Refleksi

Berdasarkan  hasil belajar yang telah diurai di atas, tindakan yang dilakukan pada siklus I belum mencapai indikator kinerja yang diharapkan, perlu adanya perbaikan yang dilanjutkan pada penelitian siklus II.

  1. Deskripsi Siklus II
  2. Perencanaan

Peneliti menyiapkan  perangkat yang diperlukan: RPP siklus II, Daftar Hadir Peserta Didik, Lembar Kerja Siswa, dan Lembar Pengamatan.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan sesuai RPP yang telah disusun, meliputi kegiatan awal, inti, dan akhir.  Peneliti menyiapkan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan berdoa, presensi kehadiran peserta didik, menerangkan tujuan pembelajaran, kemudian membentuk kelompok yang terdiri atas 4 – 5 peserta didik/kelompok secara heterogen, peneliti memberi materi yang berbeda(tema, karakter, dan latar)  pada peserta didik dalam kelompok tim. Peserta didik dari tim yang berbeda bertemu dalam satu kelompok yang sama untuk mempelajari materi yang akan ditugaskan.

Kegiatan inti, peserta didik mencermati pembacaan cerpen yang dibacakan oleh model dengan cermat. Dalam kelompoknya peserta didik mengidentifikasi isi cerpen dengan tepat, kemudian dalam  kelompok yang berbeda, berdiskusi untuk menemukan tema, karakter /penokohan, dan latar cerpen dengan tepat. Setiap anggota/peserta didik kembali ke kelompok asal dan melaporkan hasil diskusi yang diperoleh dari kelompok tim sesuai materi yang ditugaskan. Salah satu peserta didik dari kelompok asal melaporkan hasil diskusi dengan jelas. Peserta didik dari kelompok lain menilai dan menanggapi dengan kalimat logis dan bahasa yang santun. Peneliti memberikan penegasan hasil pembelajaran dengan jelas. Pada kegiatan akhir, peneliti dan peserta didik melakukan  refleksi.

  1. Observasi

Berdasar hasil observasi selama pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen  siklus II , suasana kelas sudah tenang dan tertib. Peserta didik sudah paham ketika berpindah dari kelompok asal ke kelompok ahli begitu sebaliknya. Jumlah anggota kelompok yang kecil menjadikan peserta didik antusias dan semangat dalam membahas tugas yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan pengamatan motivasi peserta didik. Sebanyak 20 anak atau 70,96% peserta didik termotivasi dan 9 anak atau 29,03 % dari 31 anak yang sangat termotivasi/aktif. Hasil belajar pada siklus II, peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM sebanyak 2 anak atau 6,45% dari 31 anak, sedangkan peserta didik yang mendapat nilai sama atau di atas KKM sebanyak 29 anak atau 93,54%.

  1. Refleksi

Berdasar hasil belajar dan motivasi belajar di atas maka indikator keberhasilan telah dicapai sehingga penilaian ini selesai pada siklus II ini.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil belajar dan motivasi belajar yang dicapai peserta didik, penerapan metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan  kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen  pada peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik. Rata-rata hasil belajar menganalisis unsur intrinsik sebelum tindakan mencapai 74,93 dengan prosentase ketuntasan klasikal 45,16%. Pada siklus I meningkat menjadi 77,80 dengan prosentase ketuntasan klasikal 74, 19%. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 83,16 dengan prosentase ketuntasan klasikal 93,54%. Motivasi peserta didik  juga mengalami peningkatan. Sebelum ada tindakan, ada 6 anak atau 19,35% peserta didik tidak termotivasi, 20 anak atau 64,51% anak kurang termotivasi, dan hanya ada 4 anak atau 12,90% anak termotivasi. Pada siklus I motivasi belajar peserta didik meningkat menjadi 3 anak atau 9,67% peserta didik tidak termotivasi, 8 anak atau 29,03% peserta didik kurang termotivasi, dan 16 anak atau 51,61% peserta didik termotivasi dan 4 anak atau 12,90% peserta didik sangat termotivasi. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 20 anak atau 70,96% peserta didik termotivasi dan 9 anak atau 29,03% peserta didik sangat termotivasi.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, dengan menerapkan  metode kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen  pada peserta didik kelas IXG SMP Negeri 1 Prembun, hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik meningkat. Rata-rata hasil belajar menganalisis unsur intrinsik sebelum tindakan mencapai 74,93 dengan PR ketuntasan klasikal 45,16%. Pada siklus I meningkat menjadi 77,80 dengan PR ketuntasan klasikal 74, 19%. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 83,16 dengan prosentase ketuntasan klasikal 93,54%. Motivasi peserta didik  juga mengalami peningkatan. Sebelum ada tindakan, ada 6 anak atau 19,35% peserta didik tidak termotivasi, 20 anak atau 64,51% anak kurang termotivasi, dan hanya ada 4 anak atau 12,90% anak termotivasi. Pada siklus I motivasi belajar peserta didik meningkat menjadi 3 anak atau 9,67% peserta didik tidak termotivasi, 8 anak atau 29,03% peserta didik kurang termotivasi, dan 16 anak atau 51,61% peserta didik termotivasi dan 4 anak atau 12,90% peserta didik sangat termotivasi. Pada siklus II meningkat lagi menjadi 2 anak atau 6,45% peserta didik kurang termotivasi, 20 anak atau 70,96 % peserta didik termotivasi dan 9 anak atau 29,03% peserta didik sangat termotivasi.

Dengan demikian, penerapan metode kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dan motivasi belajar peserta didik IXG SMP Negeri 1 Prembun tahun Pelajaran 2014/2015.

Saran

  1. Bagi peserta didik, hendaknya dapat berperan aktif dalam pembelajaran sehingga mendapat hasil belajar yang baik.
  2. Bagi guru, hendaknya menerapkan metode kooperatif tipe jigsaw sebagai metode pembelajaran untuk mengajarkan kompetensi dalam memahami unsur intrinsik cerpen.
  3. Bagi sekolah, sebaiknya sekolah mengadakan pelatihan bagi guru agar dapat berinovasi menerapkan model pembelajaran sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan aktif , kreatif, inovatif dan berjalan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anindyarini, Atikah, Sri Ningsih. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas IX. Jakarta:Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional BSE.

Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gajah Mada  University Press.

Nuryatin, Agus. 2010. Mengabadikan Pengalaman Dalam Cerpen: 7 Langkah Pembelajaran Menulis Cerpen. Rembang: Yayasan Adhigama.\

Sudjana, Nana.1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: P.T. Remaja Posdakarya.

Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sukmadinata, N.S. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung.P.T Remaja Rosdakarya.

Sutopo, H,B.2006..Metodologi Penelitian Kualitatif. Dasar Teori dan terapannya dalam pendidikan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret..

Waluyo, Herman. 2011. Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi. Surakarta: UNS Press

Winataputra. 1996. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Bahan ajar

nusantaralink.blogspot.com/2009/01/ptk/cerpen-d kelas X.html. Jumat, 25 April 2014. Pukul 09.15.

https://trys99.wordpress.com/2014/08/17/pengertian-pembelajaran-menurut-para-ahli/ diunduh Minggu, 10 April 2016, pkl 22.05

http://maidastp.blogspot.co.id/2014/04/manfaat-penerapan-model-pembelajaran.html diunduh Senin, 11 April 2016 pkl.16.45

http://modelpembelajaranmukhlis.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-langkah-langkah%20kelebihan_85.html diunduh senin, 11 April 2016 pkl.19.07

repository.uksw.edu/bitstream/123456789/3/T1_292008157_Bab%2011  diunduh Senin, 11 April 2016 pkl. 20.10

http://www.warnadi.kapuas.org/2013/02/aartikel.html Sabtu, 9 April 2016 pkl.17.40




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *