infopasti.net

PTK SD IPS Kegiatan Jual beli Melalui Metode Kerja Kelompok

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS III SD NEGERI KAWUNGANTEN LOR 02 KECAMATAN KAWUNGANTEN KABUPATEN CILACAP TERHADAP ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) KEGIATAN JUAL BELI MELALUI METODE KERJA KELOMPOK

ABSTRAK

Dalam penelitian ini berjudul “UPAYA MENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KEGIATAN JUAL BELI” pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Penelitian ini di lakukan di kelas III sekolah Dasar Negeri Kawunganten Lor 02. Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap.

Penelitian ini dilakukan melalui terapan penelitian tindakan kelas yang memfokuskan perbaikannya pada peningkatan pemahaman siswa terhadap kegiatan jual beli. siswa yang tuntas belajar sebanyak 17 siswa atau 51 % dan siswa yang belum tuntas belajar sebanayak 16 siswa atau 49 %. Namun setelah di adakan perbaikan pembelajaran sebanyak dua siklus yang bertujuan utama meningkatkan pemahaman siswa terhadap kegiatan jual beli pada siklus kedua.

Dari hasil belajar dan pemahaman siswa mencapai 94 % dapat di simpulkan bahwa dengan metode kerja kelompok dapat meningkatkan pemahaman siswa.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Salah satu tugas guru adalah menstransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, melalui penyusunan rencana, penyajian, evaluasi, analisis hasil evaluasi, Penyusun Program Perbaikan dan Pengayaan bimbingan dan konseling pada bidang tugasnya itu adalah tugas pokok guru di dalam kelas walaupun masih banyak tugas lain yang perlu di kerjakan oleh seorang guru, penulis hanya menyampaikan tugas pokoknya saja.

Tugas-tugas tersebut dapat di kerjakan dengan baik atau tidak tergantung individu, tiap-tiap individu sangat di pengaruhi oleh kondisi dan lingkungan. Pada umumnya guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran menghadapi kendala atau hambatan. Namun tidak semua guru peka terhadap kendala atau hambatan yang di hadapi.Walaupun guru mengetahui hambatannya belum tentu mau mencari solusinya. Kondisi yang demikian sampai berlarut-larut sehingga menghasilkan proses pembelajaran kurang optimal. Proses pembelajaran kurang optimal berdampak pada pencapaian hasil belajar siswa kurang optimal juga.

Hal ini dijumpai pada siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Kawunganten Lor 02 Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap.Tahun Pelajaran 2013-2014, terungkap bahwa hasil yang diperoleh dalam tes formatif sangat rendah.

KERANGKA TEORI

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (learning is a change of behavior as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari alan Behavioural Approach. Perubahan yang di hasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (Cognitive Domain), aspek efektif (Efective Domain) maupun aspek psikomotorik (Psychomotoric Domain). Belajar merupakan suatu proses usaha yang di lakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Slamet, 1998:2).

Ada empat pilar belajar yang di kemukakan oleh UNESCO, yaitu :

Learning to know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semat-mata hanya  memperoleh pengalaman.

Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controling, Monitoring, Maintening,Designing,Organising. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam prestasi yang konkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanitis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik.

Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi , saling pengertian dan tanpa prasangka.

Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini di perlukan dukungan keberhasilan dari pihak pertama,kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya  siswa yang mampu mencari  informasi  dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggangrasa dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa sehingga menjadi manusia  yang mampu mengenal dirinya, kepribadian mantap dan mandiri memiliki kemantapan emosional dan intelktual yang dapat mengendalikan  dirinya dengan konsisten yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).

Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

IPS seperti halnya IPA, Matematika, Bahasa Indonesia merupakan bidang studi.Dengan demikian, IPS sebagai bidang studi memiliki garapan yang di pelajari cukup luas, bidang garapannya itu meliputi gejala-gejala dan masalah kehidupan manusia di masyarakat.Tekanan yang dipelajari IPS berkenaan dengan gejala dan masalah kehidupan masyarakat bukan pada teori keilmuannya melainkan pada kenyataan kehidupan kemasyarakatan.Dari gejala dan masalah sosial tadi ditelaah, dianalisis faktor-faktornya sehingga dapat dirumuskan jalan pemecahannya.Memperhatikan kerangka kerja IPS, seperti yang dikemukakan di atas, dapat di tarik pengertian IPS senagi berikut.

IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. Jika diartikan seperti di atas, apakah bedanya dengan studi sosial?jawabannya adalah tidak ada bedanya atau apa yang diistilahkan sebagai studi sosial di negara-negara yang berbahasa inggris itu sama dengan IPS di negeri kita. Oleh karena itu sifat IPS sama dengan studi sosial, yaitu praktis, interdisipliner, dan diajarkan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial melalui metode kerja kelompok, Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari serta sikap dan cara berfikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran IPS berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang. Hasil belajar di dapat baik dari hasil tes (formatif, subformatif dan sumatif), penugasan (proyek), hasil kerja (produk) sikap serta penilaian diri.

HIPOTESIS TINDAKAN

Berdasarkan kajian teoritik dan pengembangan kerangka konseptual di atas, maka diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut:

Pembelajaran dengan metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS kelas III SD Negeri Kawunganten Lor 02 Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap

Pendekatan metode kerja kelompok dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran efektif, aktif dan kreatif.

INDIKATOR DAN KRITERIA KEBERHASILAN

Penelitian Tindakan Kelas ini berhasil apabila :

Hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas III SD Negeri Kawunganten Lor 02 Kecamatan Kawunganten  Kabupaten Cilacap dengan metode kerja kelompok nilai rata-rata > 6.50 dan ketuntasan kelas (banyaknya siswa yang mendapat nilai > 6.50) sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa. Berdasarkan lembar pengamatan siswa maka keaktifan siswa meningkat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian

            Pada siklus pertama sampai siklus ketiga rencana perbaikan pembelajaran dan skenario tindakan di laksanakan sesuai dengan langkah-langkah atau prosedur PTK, namun hasilnya masih belum memuaskan. Untuk mengamati proses pembelajaran pada setiap siklus, di susun lembar obsevasi siswa dalam kegiatan kerja kelompok.

Data Hasil Pelaksanaan Tindakan

            Setelah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran IPS kelas III untuk materi ”Kegiatan jual beli” melalui metode kerja kelompok siklus demi siklus, peneliti mencoba mendeskripsikan hasil dalam kegiatan perbaikan tersebut. Deskripsi per siklus tersebut dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Evaluasi Tiap Siklus

No Uraian Studi Awal Siklus I Siklus II Siklus III
Banyaknya siswa yang tuntas belajar 17 17 24 31
Presentase 51 51 73 94
Banyaknya siswa yang belum tuntas belajar 15 15 8 1
Presentase 60 60 32 4
Nilai rata-rata 62 67 74 80

Dari tabel hasil evaluasi siswa kelas III SD Negeri Kawunganten Lor 02 di atas, dapat diperoleh keterangan sebagai berikut:

1

Studi Awal

            Pada studi awal, sebelum menggunakan alat peraga dan hanya menggunakan metode ceramah, siswa yang tuntas belajar sebanyak 17 siswa atau 51 % dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 13 siswa atau 39 % dengan rata-rata nilai 62

Siklus I

            Pada perbaikan pembelajaran siklus pertama dengan menggunakan metode kerja kelompok ternyata hasil yang diperoleh masih sama dengan hasil pada studi awal yaitu 17 siswa atau 51 % siswa yang memperoleh nilai tuntas. Namun, rata-rata nilai yang diperoleh meningkat dari studi awal, yang semula 64 meningkat menjadi 67

Siklus II

            Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua dengan mengaitkan materi pada contoh nyata di kehidupan siswa dan menggunakan metode kerja kelompok ,mengalami peningkatan siswa yang tuntas belajar pada siklus ini mencapai 24 anak atau 73 % dan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 21 % dengan rata-rata nilai 74.

Siklus III

            Pada pelaksanaan perbaikan siklus ketiga, peneliti mengganti metode ceramah dengan metode kerja kelompok Untuk memotivasi siswa dalam menemukan informasi, akan di berikan penghargaan kepada siswa yang berhasil mendapatkan nilai tuntas. Hasil tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus ketiga adalah siswa yang tuntas belajar mencapai 94 % yaitu 31 siswa tuntas belajar. Dalam siklus ini, ada peningkatan sebanyak 7 siswa atau 28% siswa tuntas belajar dan hanya 1 siswa yang tidak tuntas belajar , dengan rata-rata nilai 80.

            Dari keterangan di atas dapat di cermati pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.2 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa

No Jumlah Siswa Pelaksanaan Siswa tuntas Siswa belum tuntas Nilai Rata-rata
F % F %
1 33 Studi Awal 17 51 16 48 62,00
2 33 Siklus I 17 51 16 48 67,00
3 33 Siklus II 24 73 9 27 74,00
4 33 Siklus III 31 94 2 6 80,00

Dari tabel 4.2 terlihat jelas bahwa :

Setelah perbaikan pembelajaran, pada siklus pertama ketuntasan belajar siswa belum mengalami kenaikan dari studi awal.Pada siklus kedua terjadi kenaikan ketuntasan belajar sebesar 23% dari siklus pertama.Pada siklus ketiga terjadi kenaikan ketuntasan belajar sebesar 21% dari siklus kedua.Analisis perkembangan kenaikan ketuntasan belajar siswa sebagai upaya perbaikan pembelajaran dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 4.1 Grafik Rekapitulasi Kenaikan Ketuntasan Belajar

            Dari semua hasil pengolahan data di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut

Siklus Pertama

            Pada pembelajaran siklus pertama, belum menunjukan peningkatan ketuntasan belajar. Siswa yang tuntas belajar masih sama dengan studi awal yaitu sebanyak 17 siswa.

Siklus Kedua

            Pada pembelajaran siklus kedua, terjadi peningkatan belajar dari siklus pertama yaitu sebesar 23%.Perubahan ini akibat guru mengkaitkan materi dengan contoh nyata di kehidupan siswa dan menggunakan metode kerja kelompok.

Siklus Ketiga

            Pada pembelajaran siklus ketiga, dengan mengganti metode ceramah dengan metode kerja kelompok telah memberi kontribusi dalam keberhasilan pembelajaran.Kegiatan tersebut memungkinkan seluruh siswa terlibat secara aktif, terbukti dengan terjadinya peningkatan ketuntasan belajar yang telah ditentukan.

Data Hasil Pengamatan (Obervasi)

            Berdasarkan hasil pengamatan (Observasi) selama proses perbaikan pembelajaran dari siklus pertama sampai ketiga, didapat data bahwa keaktifan siswa setelah menggunakan metode kerja kelompok mengalami peningkatan dalam setiap siklus. Peningkatan keaktifan siswa pada setiap siklusnya dapat dilihat pada hasil observasi (terlampir). Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.3 Rekapitulasi Data Hasil Observasi

No. Kegiatan Pembelajaran Keaktifan Bekerja Dalam Kelompok Keaktifan Bertanya Kepada Guru
F % F %
1 Siklus I 15 45 12 36
2 Siklus II 23 70 19 58
3 Siklus III 32 97 26 79

Berdasarkan tabel rekapitulasi data hasil observasi, diperoleh data sebagai berikut:

Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada siklus pertama sebanyak 41 %.

Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada siklus kedua sebanyak 64 %.

Keaktifan siswa baik dalam kerja kelompok maupun bertanya kepada guru pada siklus ketiga sebanyak 88 %.

Dari keterangan tersebut, dapat dicermati pada tabel dan grafik di bawah ini:

Tabel 4.4 Rata-rata persentase tiap fokus observasi

No. Kegiatan Pembelajaran Respon Siswa
Aktif (%) Belum aktif (%)
1 Siklus I 41 59
2 Siklus II 64 36
3 Siklus III 88 12

2

 Grafik 4.2 Hasil Analisa Keaktifan Siswa

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, diperoleh keterangan sebagai berikut:

Keaktifan siswa pada siklus pertama sebanyak 41 % dan siswa yang belum aktif sebanyak 59 %.

Keaktifan siswa pada siklus kedua sebanyak 64 % dan siswa yang belum aktif sebanyak 36 %.

Keaktifan siswa pada siklus ketiga sebanyak 88 % dan siswa yang belum aktif sebanyak 12 %.

Data Hasil Refleksi

            Setelah penelitian selesai, penulis merefleksikan untuk mengkaji, menilai, dan menganalisis pelaksanaan penelitian dan tindakan perbaikan.Setelah merefleksi diri, penulis menyimpulkan bahwa tidak semua masalah dalam pendidikan yang menyangkut prestasi belajar siswa dapat diselesaikan hanya dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Selain itu penulis menemukan kelemahan dan kelebihan setelah penelitian ini berlangsung yang mempengaruhi hasil perbaikan pembelajaran. Beberapa kelemahan yang dijumpai penulis antara lain:

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran sampai siklus ketiga, ternyata masih ada satu siswa atau 6 % yang belum tuntas belajar.

Alat pengumpul data yang digunakan dalam tindakan perbaikan masih terbatas pada lembar observasi dan lembar analisis hasil belajar siswa, sehingga belum dapat menggali data selengkapnya.

            Selain kelemahan di atas, penulis juga menemukan kelebihan selama tindakan perbaikan pembelajaran.Kelebihan tersebut adalah ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus dapat meningkat dan melebihi kriteria ketuntasan perbaikan pembelajaran yang ditentukan.

  1. Pembahasan Setiap Siklus

Siklus Pertama

            Pada siklus ini siswa yang tuntas belajar masih jauh di bawah target yang direncanakan karena masih banyak siswa yang belum berhasil menjelaskan tempat-tempat jual beli. Sebagaimana yang terungkap dari dua data yang dikumpulkan oleh pengamat, hal ini disebabkan karena guru hanya menggunakan metode kerja kelompok, serta tidak melibatkan siswa pada contoh-contoh yang abstrak di lingkungan sekitar siswa. Penyebab lain dikarenakan guru tidak mengkondisikan siswa yang aktif bermain sendiri untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Siklus Kedua

            Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus kedua menggunakan media gambar dan menggunakan metode kerja kelompok ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.Hasil perolehan nilai tes belajar mengalami peningkatan. Siswa yang tuntas belajar atau telah menguasai materi sebanyak 24 siswa atau 73 % dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 9 siswa atau 27 % dengan rata-rata nilai 74,00. Peningkatan prestasi belajar tersebut belum mencapai kriteria yang ditentukan. Faktor penyebab kurang berhasilnya perbaikan pembelajaran pada siklus kedua adalah guru hanya menggunakan metode gambar, bukan mempraktekkan secara langsung pada siswa tentang materi ajar tersebut.

Siklus Ketiga

            Pada perbaikan pembelajaran siklus ketiga, penulis mengganti metode ceramah dengan metode kerja kelompok.Dengan metode kerja kelompok siswa di libatkan langsung sebagai seorang penjual dan pembeli.Ternyata hal ini memberi dampak yang baik pada siswa, terbukti dengan siswa yang tuntas belajar pada siklus ketiga ini melebihi target yang ditetapkan. Pada siklus ketiga, siswa yang tuntas belajar mencapai 31 siswa atau 94 % dengan rata-rata nilai 80,00.

            Dengan melihat keseluruhan semua siklus dari siklus pertama, kedua, dan ketiga untuk menjawab rumusan masalah pada bab I, dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

Keaktifan Siswa

            Hasil obervasi kegiatan pengamatan pada akhir siklus (tabel 4.4) tampak bahwa keaktifan siswa baik dalam belajar kelompok maupun dalam bertanya kepada guru sebanyak 88 %.Dengan demikian, berdasarkan pertimbangan hal ini termasuk dalam kategori baik.Menurut kelas, hal ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya yang masih banyak siswa yang tidak aktif.

Prestasi Belajar

Tabel 4.5 Ringkasan prestasi belajar IPS dan kreatifitas siswa

Prestasi belajar dan keaktifan siswa Prestasi Belajar
Siklus I Siklus II Siklus III
Nilai terendah

Nilai tertinggi

Rata-rata kelas

Ketuntasan belajar

Keaktifan bekerja dalam kelompok

Keaktifan dalam bertanya

50

90

68

51 %

45 %

36 %

60

95

74

73 %

70 %

58 %

60

100

81

94 %

97 %

79 %

Dari tabel 4.5 Ringkasan prestasi belajar IPS dan keaktifan siswa, tampak bahwa penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar baik dari rata-rata maupun ketuntasan klasikal dan dapat meningkatkan keaktifan siswa.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan dan hasil yang diperoleh, dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:

Penerapan metode kerja kelompok dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada materi kegiatan jual beli melalui penelitian tindakan kelas di kelas III SD Negeri Kawunganten Lor 02 Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap terbukti dapat memberikan tingkat pemahaman siswa.

Peningkatan pemahaman dan keaktifan siswa berdampak pada peningkatan prestasi . Hal ini dapat di lihat pada nilai rata-rata kelas dari 62,00 menjadi 81,00. Ketuntasan belajar siswa meningkat 51 %.Dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 73 %.Sedangkan pada siklus ke III siswa yang tuntas 94 %.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran, guru hendaknya menyiapkan rencana pembelajaran, sarana dan prasarana, metode yang tepat serta alat peraga sehinggapelaksanaan pembelajaran dapat berhasil dengan baik. Siswa di sarankan pula mengikuti pelajaran tambahan, khususnya untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan orang tua diharapkan dapat memberi motivasi agar lebih giat mempelajari materi ajar Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya materi kegiatan jual beli.

DAFTAR PUSTAKA

Slamet. (1998). Manajemen Kelas,Jakarta : Debdikbud

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Poerwadarminta, W.J.S. 1984. Kamu Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka

Ristasa, Rusna Drs. M. Si. Dan Drs. H. Prayitno. M.Pd. 2006 Panduan Penulisan Laporan Perbaikan Pembelajaran (Penelitian Tindakan Kelas). Purwokerto : UPBJJ Universitas Terbuka.

Sudjana, Nana. 2008. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Aglesindo.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif  R& D. Bandung : Alfabeta

.

BIODATA

Nama               : Semugati, S.Pd.SD

NIP                  : 19580609 199203 1 002

Pangkat/Gol     : Penata Tingkat 1 / IIId

Jabatan            : Guru Kelas

Unit Kerja        : SD Negeri Kawunganten Lor 02

                          JL Makam Pahlawan Sureng yudha No.13

                          Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap 53253

Alamat Rumah  : Dusun Karangsari RT.03/02 Desa Kawunganten Kec. Kawunganten Kab. Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *