infopasti.net

PTK SD PKn Melalui Model Pembelajaran CTL Kelas VI

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKn MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTECTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 NGASINAN  KECAMATAN BONOROWO KABUPATEN KEBUMEN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar PKn setelah diterapkannya model pembelajaran kontekstual. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar PKn setelah diterapkannya model pembelajaran kontekstual. (c) Memberikan gambaran model pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan merangsang keaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap, yaitu : rencana, kegiatan dan pelaksanaan,refleksi dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Ngasinan Semester 2  tahun pelajaran 2015/2016 dengan pokok permasalahan hasil rerata nilai studi awal 60,71 dan ketuntasan siswa 28,57%. Dengan pelaksanaan tindakan kelas melaalui pendekatan pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) selama dua putaran prestasi belajar siswa selalu mengalami peningkatan yaitu siklus I (6,21%), siklus II (21,4%). Simpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning) dapat berpengaruh positif terhadap keaktifan proses kegiatan belajar mengajar, prestasi dan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Kata Kunci : PKn, metode pembelajaran kontekstual

 

PENDAHULUAN

Pengembangan model pembelajaran merupakan suatu keniscayaan yang harus dipersiapkan dan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran. Perubahan-perubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan model pembelajaran, strategi pembelajaran, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses pembelajaran. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan untuk mengembangkan bahan pelajaran dengan baik.

Dari data observasi pada pra kegiatan penelitian berupa tes awal menunjukkan nilai rata-rata kelas IV mata pelajaran PKn 59,62. Siswa tuntas 25,9 % dan belum tuntas 74,1 % dari 28 siswa. Atas nilai tersebut menunjukkan di bawah standar kompetensi yang ditetapkan yaitu >75-90% tuntas atau skor minimal 75. Disimpulkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran belum berjalan secara efektif.

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

  1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar PKn dengan diterapkannya model pembelajaran Kontekstual (Contectual Teaching and Learning) pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Ngasinan Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 ?
  2. Bagaimanakah pengaruh model pembelajaran Kontekstual (Contectual Teaching and Learning) terhadap motivasi belajar PKn pada siswa?

KAJIAN TEORI

Kemp (1995); strategi adalah suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif  dan efisien. Roy Kellen (1998); dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction) pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositeri. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran inkuiri dan diskoveri serta pembelajaran induktif. (Joyke & Weil: 1980); model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Elain B. Jonson (Riwayat, 2008) kontekstual (Contectual Teaching and Learning) pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang mmenghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.

Inti pendekatan kontekstual adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya dilakukan dengan berbagai cara, selain materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual juga bisa disiasati dengan ilustrasi atau contoh, sumber belajar, media dan lain sebagainya secara langsung maupun tak langsung diupayakan terkait dengan pengalaman hidup nyata.

Atas dasar berbagai pendapat diatas disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual bahwa mengajar merupakan transformasi pengetahuan dengan lebih menekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya.

Desain/skenario pembelajaran kontekstual meliputi: 1) mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru yang harus dimiliknya; 2) melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik yang diajarkan; 3) mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan; 4) menciptakan maasyarakat belajar,  berdiskusi, tanya jawab, dsb; 5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media sebenarnya; 6) membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan; 7) melakukan penilaian secara obyektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

Atas dasar kerangka berpikir di atas maka diperoleh hipotesis tindakan sebagai berikut: 1) meningkatnya prestasi belajar PKn setelah diterapkannya model pembelajaran Contectual Teaching and Learning (CTL) dengan rata-rata ketuntasan 75-90%; 2) meningkatnya motivasi belajar PKn bagi siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Kontekstual (Contectual Teaching and Learning); 3) menjadikan siswa  aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan sebagai tolok ukur keberhasilan penelitian tindakan ini adalah:

  1. Guru menyajikan perencanaan pembelajaran dalam bentuk RPP dengan baik.
  2. Guru mengembangkan materi pembelajaran dengan berbagai sumber bahan yang ada khususnya di lingkungan sekitar siswa.
  3. Guru mennggunakan metode pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa belajar merupakan perpaduan dari melihat, mengamati, dan memahami sesuatuyang ada di sekitar siswa.
  4. Guru bertindak menjadi fasilitator yang baik dalam proses pembelajaran.
  5. Guru menciptakan keaktifan siswa secara maksimal dalam proses pembelajaran yang berlangsung.
  6. Prestsi hasil belajar PKn meningkat dengan rata-rata ketuntasan mencapai 75-90% . .

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 2 Ngasinan pada bulan Februari – Juni 2016. Teknik pengumpulan data meliputi teknik kualitatif dan kuantitatif. Teknik kualitatif dapat melalui wawancara dan obervasi data kelas dan data yang dimiliki siswa. Teknik Kuantitatif tes buatan guru.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Data awal tentang efektifitas pembelajaran sebelum dilaksanakan penelitian tindakan peneliti bersama guru senior sebagai observer ternyata kegiatan pembelajaran di kelas belum berjalan maksimal.

Nilai prestasi siswa dengan nilai rata-rata kelas 60,71, siswa tuntas sebanyak  8 siswa atau 28,57%, belun tuntas ,71,43% dari 28 siswa. Berdasarkan refleksi dari pelaksanaan pembelajaran bersama teman sejawat diperoleh  kemungkinan penyebab terjadinya prestasi belajar yang masih rendah diduga antara lain: a) dalam kegiatan pembelajaran guru belum membuat renc pembelajaran dengan baik; b) guru belum menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang tepat; c) guru belum menggunakan media dan sumber bahan yang tepat; d) guru dalam pembelajaran belum memberikan penilaian dan tindak lanjutyang tepat.

Deskripsi Siklus I

Tahap perencanaan guru mempersiapkan perangkat pembelajaran model pembelajaran kontekstual, dan lembar observasi aktifitas guru dan siswa.  Tahap kegiatan dan pelaksanaan guru menyusun tahap kegiatan meliputi: (1) Pelaksanaan pembelajaran; (2) Diskusi kelompok; (3) Tes; (4) Penghargaan kelompok; (5) Menentukan nilai individual dan kelompok.

Tabel 1 Rekap Hasil Tes Siklus I

No Uraian Hasil Siklus I
1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Presentase ketuntasan belajar

66,92

10

35,71

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebesar 66,92% lebih kecil dari presentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 75-90 disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual.

Refleksi pada tindakan siklus 1 adalah Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru masih terlalu banyak mengarahkan siswa secara teknis tentang model pembelajaran kontekstual. Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu. Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung.

Oleh karen itu tindakan siklus 2 merevisi kegiatan sebagai berikut: Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang  dilakukan dalam pembelajaran. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

Deskripsi Siklus II

Tahap Perencanaan; peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.  Tahap kegiatan dan pengamatan meliputi; (1) Pelaksanaan pembelajaran, (2) Diskusi kelompok, (3) Tes, (4) Penghargaan kelompok, (5) Menentukan nilai individual dan kelompok.

Rata-rata tes formatif sebesar 88,32 dan dari 28 siswa yang telah tuntas sebanyak 25 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar.  Ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 89,29%.

Refleksi pada silus 2 adalah selama proses belajar mengajar guru telah mekasanakan semua pembeljaran dengan baik. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar mengajar berlangsung. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Hasil belajar siswa pada siklus II  telah mencapai rata-rata ketuntasan kelas yaitu >75-90%.

Revisi pelaksanaan, proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan penerapan model pembelajaran kontekstual sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

 

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Ketuntasan belajar meningkat dari siklus I dan II yaitu masing-masing 68,2%dan 94,74%. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran.

Aktifitas siswa yang paling dominan adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru dan diskusi antar siswa /antara siswa dengan guru.

Sedangkan untuk aktifitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dan menerapkan model pembelajaran konstektual dengan baik. Pencapaian kenaikan hasil pembelajaran dari studi awal, siklus I dan II dapat diuraikan sebagai berikut: Terjadi kenaikan nilai rata-rata kelas studi awal/pra siklus 60,71 dibanding siklus I sebesar 6,21.Terjadi kenaikan nilai rata-rata kelas studi awal/pra siklus I dibanding siklus II sebesar 21,4. Terjadi kenaikan jumlah siswa tuntas studi awal/pra siklus dibanding siklus I sebesar 2. Terjadi kenaikan jumlah siswa tuntas siklus I dibanding siklus II sebesar 15. Terjadi kenaikan prosentase ketuntasan studi awal/pra siklus dibanding siklus I sebesar .7,13. Terjadi kenaikan prosentase ketuntasan siklus I dibanding siklus II sebesar 53,58

 

PENUTUP

Simpulan:

  1. Model pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar siswa pada siklis I dan siklus II.
  2. Model pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, dan pertanyaan.
  3. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan tugas individu maupun kelompok.
  4. Penerapan model pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning) mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Saran :

Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan model pengajaran kontekstual(Contectual Teaching and Learning), walaupun dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Milles, 2007.Penelitian Kualitatif. Universitas Indonesia

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon .

Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarata:Rineksa  Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.

Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses Belajar Mengajar Pendidikan.  Jakarta: Usaha Nasional.

Daroeso, Bambang. 1989.  Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo

Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universiats Press.

Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan.  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nur,Moh. 2001. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Surabaya. University Press.Universitas Negeri Surabaya.

Rustiyah, N.K.1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Bina Aksara.

Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

BIODATA PENULIS

NAMA                        : SLAMET, S.Pd

NIP                             : 19640911 198608 1 001

JABATAN                  : KEPALA SEKOLAH

UNIT KERJA             : SD NEGERI 2 NGASINAN, BONOROWO, KEBUMEN

PANGKAT,GOL       : PEMBINA, IV/A




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *