UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI MAPEL MATEMATIKA MATERI PENGERJAAN HITUNG BILANGAN BULAT DENGAN METODE TUTOR SEBAYA BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 TELUK SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh:

SITI NURUL ZANAH, S.Pd.SD

ABSTRAK

Hasil evaluasi mata pelajaran matematika materi operasi hitung bilangan bulat yang dicapai siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk belum memuaskan. Lebih dari separuh siswa nilainya di bawah KKM. Siswa juga terlihat kurang tertarik dan termotivasi pada mata pelajaran matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode tutor sebaya dalam meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Teluk dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VI. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode tutor sebaya mampu meningkatkan prestasi mapel matematika materi hitung bilangan bulat siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 24 siswa atau 85,7% mampu mencapai nilai 68 atau lebih. Hal ini melampaui kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu minimal 70% dari siswa dapat memperoleh skor 68 atau dalam tes formatif yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini diterima. Saran yang diajukan: guru agar lebih bervariasi dalam menerapkan metode pembelajaran guna memacu keaktifan siswa serta mewujudkan proses pembelajaran yang bermakna. Untuk itu, pelatihan metode pembelajaran bagi guru hendaknya dapat dilakukan lebih intensif.

Kata kunci: Hasil belajar, Metode tutor sebaya, matematika.

Latar Belakang Masalah

Kegiatan berhitung merupakan bagian dari matematika awal akan mempengaruhi pengembangan kognitif siswa dan kegiatan ini dapat dijumpai setiap hari dan dimana-mana. Begitu dekatnya kegiatan berhitung dengan kehidupan, membuat pengembangan berhitung untuk siswa sekolah dasar menjadi hal yang signifikan. Di dalam perkembangan kemampuan matematika, siswa diharuskan menguasai konsep bilangan, yaitu angka-angka yang merupakan dasar ilmu pengetahuan. Pada kenyataannya, siswa di Sekolah Dasar banyak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika pada operasi hitung bilangan bulat, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar matematika secara keseluruhan.

Hasil evaluasi mata pelajaran matematika pada materi operasi hitung bilangan bulat yang dicapai siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk belum memuaskan. Lebih dari separuh siswa nilainya di bawah KKM. Siswa terlihat kurang tertarik dan termotivasi pada mata pelajaran matematika. Hal ini dikarenakan sejak awal siswa terkesan sudah mempersepsikan matematika sebagai pelajaran yang sulit, sehingga pelajaran matematika dianggap sebagai beban dan terasa berat dalam mengikuti pembelajaran matematika.

Langkah aplikatif yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika, salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Dalam hal ini, terdapat banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan yang masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Di antara metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah tutor sebaya. Metode  ini dapat membantu memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran matematika, sehingga dapat mendukung peningkatan hasil belajarnya.

Tujuan Penelitian

untuk mengetahui penerapan metode tutor sebaya dalam meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk.

Kajian Teori

Prestasi belajar adalah suatu hasil usaha yang telah dicapai oleh siswa yang mengadakan suatu kegiatan belajar di sekolah dan usaha yang dapat menghasilkan perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku. Hasil perubahan tersebut diwujudkan dengan nilai atau skor (Winkel, 2009 : 53). Menurut Syah (2004: 141), prestasi belajar adalah setiap macam kegiatan belajar menghasilkan sesuatu perubahan yang khas yaitu hasil belajar. Menurut Ali, dkk (1995: 76) dikatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha yang telah dicapai atau yang telah dikerjakan untuk mendapatkan suatu kecakapan dan kepandaian.

Prestasi belajar dapat diukur dan dievaluasi langsung dengan tes dan hasil inilah yang disebut dengan prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang meliputi perubaha tingkah laku, perubahan sikap, perubahan kebiasaan, perubahan kualitas penguasaannya. Prestasi belajar dapat juga digunakan untuk mengetahui kualitas materi pelajaran yang diberikan sampai di mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Selain itu prestasi belajar siswa merupakan hasil belajar yang bisa menentukan perubahan sikap.

Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloom, yang secara garis besarnya membagi dalam tiga ranah yaitu, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Menurut Johnson dan Rising (dalam Murniati, 2007:46) menyatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik: matematika itu adalah bahasa, bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai arti dari pada bunyi; matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide, dan matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisan. Menurut Reys matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

James dan James (dalam Subarinah (2006: 1) mengatakan bahwa Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Johnson dan Rising dalam Subarinah (2006: 1) mengatakan bahwa Matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi. Berkaitan dengan hal tersebut, Sumardyono (2004: 29-42) menjelaskan Matematika memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 1) Memiliki objek kajian abstrak, 2) Berpola pikir deduktif, 3) Memiliki simbol yang kosong dari arti, 4) Bertumpu pada kesepakatan.

Mengingat hakikat Matematika berkenaan dengan konsep abstrak, sementara tingkat perkembangan kognitif siswa SD masih dalam tahap operasional konkret, maka pembelajaran matematika dilaksanakan dengan menggunakan benda-benda nyata supaya siswa dapat memahami materi yang sedang dipelajari. Guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran yang disertai dengan penggunaan media dalam melaksanakan pembelajaran matematika, agar konsep yang abstrak dapat dipahami oleh siswa. Pembelajaran matematika akan lebih bermakna apabila disajikan dengan suasana yang menyenangkan, sehingga siswa termotivasi untuk belajar matematika (Yusuf dan Auliya 2011: 10).  Jadi, pembelajaran matematika di SD harus memperhatikan perkembangan dan karakteristik siswa.

Salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan partisipasi siswa adalah metode tutor sebaya. Ahmadi dan Supriyono (2003: 45) mengatakan bahwa tutor adalah siswa yang sebaya yang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang mengalami kesulitan. Pemilihan tutor ini didasarkan atas prestasi, punya hubungan sosial baik dan  cukup  disenangi oleh  teman-temannya.  Tutor  berperan  sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagi pengganti guru.

Teori perkembangan Piaget memperkuat pendapat di atas yakni perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya beragumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu lebih logis (Nur, 1998; dalam Trianto, 2009: 29). Selanjutnya Sutikno (2007) mengatakan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dianjurkan agar pendidik membiasakan diri menggunakan komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi, yakni tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara pendidik dengan siswa melainkan juga melibatkan interaksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.

Djamarah (2010:25) mengemukakan bahwa dalam pemilihan dan penentuan siswa sebagai tutor sebaya diperlukan pertimbangan tersendiri. Seorang tutor belum tentu siswa yang paling pandai. Yang penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan tutor adalah sebagai berikut:

1.Dapat diterima (disetujui) oleh siswa sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya.

2.Dapat menerangkan pelajaran yang dibutuhkan oleh siswa yang mendapat bantuan.

3.Tidak tinggi hati, keras hati, sombong terhadap sesama

4.Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.

Untuk  dapat menentukan dan memilih siswa yang memenuhi kriteria dan syarat-syarat di atas memang sulit, tapi hal ini dapat diatasi dengan jalan guru memberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya kepada tutor sebaya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui jenis kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu perbaikan, bukan mendiagnosa.

Menurut Djamarah (2010:26-27), kelebihan pelaksanaan tutor sebaya sebagai berikut:

1.Adakalanya hasil lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan bertanya kepada gurunya.

2.Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan bermanfaat bagi dirinya sendiri  untuk memperkuat konsep yang dibahas.

3.Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri, memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas, dan melatih kesabaran.

4.Mempererat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.

Adapun kekurangan dari pelaksanaan tutor sebaya adalah:

1.Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius karena merasa hanya berhadapan dengan temannya.

2.Ada beberapa anak yang malu bertanya karena takut rahasianya diketahui oleh teman sebayanya.

3.Bagi guru sulit menentukan tutor yang tepat bagi seseorang atau beberapa orang yang dibimbingnya.

Hipotesis Tindakan

Penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Teluk dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VI. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

1.Deskripsi Hasil Siklus I

Ringkasan nilai tes formatif pada Siklus II Penelitian dapat diuraikan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.2 dapat diketahui nilai tertinggi sebesar 80 diraih oleh 2 siswa, sedangkan nilai terendah sebesar 50 diraih oleh 1 siswa. Nilai rata-rata kelas pada siklus I adalah 67,50. Nilai tersebut sedikit di bawah nilai KKM, yaitu 68

 

 

 

 

Berdasarkan tabel 4.3, dari 28 siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk terdapat 18 siswa atau 64,3% mencapai nilai KKM atau lebih. Berdasarkan hasil tersebut, pembelajaran pada siklus I belum memenuhi kriteria keberhasilan penelitian tindakan ini, yaitu minimal 70% siswa mencapai nilai KKM.

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel 4.4 dapat diketahui bahwa respon siswa pada siklus pertama cukup positif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya respon yang baik pada tiga indikator. Hasil ini sudah memenuhi kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini, yaitu minimal 3 indikator dalam kategori baik.

2.Deskripsi Siklus II Penelitian

Ringkasan nilai tes formatif pada Siklus II Penelitian dapat diuraikan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai tes formatif pada Siklus II penelitian sudah memuaskan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya siswa yang mampu mencapai nilai di atas KKM. Nilai rata-rata kelas pada siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 74,71 dan nilai tersebut melampaui nilai KKM sebesar 68.

 

 

 

 

 

Berdasarkan Tabel 4.7, sebanyak 24 siswa atau 85,7% nilainya sudah mencapai KKM atau lebih. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan metode tutor sebaya sudah berhasil karena sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel 4.8 dapat diketahui bahwa hasil pada siklus kedua sudah menunjukkan hasil yang benar-benar positif dan karena siswa sudah menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator atau 100%, yang berarti melampaui kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini.

3.Perbandingan Antarsiklus

Berikut ini disajikan data perbandingan hasil penelitian antara Siklus I dan Siklus II, sehingga dapat diketahui perkembangan nilai siswa pada dua siklus penelitian yang sudah dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa nilainya mengalami peningkatan pada Siklus II penelitian. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode tutor sebaya memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan prestasi belajar matematika khususnya pada materi hitung bilangan bulat pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk.

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa nilai siswa pada kedua siklus mempunyai perbedaan yang cukup menyolok. Pada Siklus I siswa yang memperoleh nilai 68 atau lebih sebanyak 18 orang atau 64,3%. Sementara pada Siklus II, siswa yang memperoleh nilai 68 atau lebih sebanyak 24 orang atau 85,7%. Jadi dapat disimpulkan tindakan pada siklus II sudah memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini.

4.Pembahasan

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono  (2003:45) mengatakan bahwa  tutor adalah siswa yang sebaya yang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang mengalami kesulitan. Pemilihan tutor ini didasarkan atas prestasi, punya hubungan sosial baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.

Dua siklus tindakan dalam penelitian ini telah menerapkan pembelajaran  mapel matematika dengan menggunakan metode tutor sebaya pada materi hitung bilangan bulat. Tindakan pada siklus I dinyatakan belum berhasil karena belum mencapai kriteria keberhasilan yang dipersyaratkan dalam penelitian ini. Pada siklus I siswa yang mencapai nilai KKM atau lebih hanya sebanyak 18 orang atau 64,3%. Nilai rata-rata kelas juga masih di bawah KKM, yaitu sebesar 67,5.

Hasil pembelajaran yang dilakukan pada siklus II meningkat dibandingkan dengan siklus I.  Pada siklus II nilai rata-rata kelas naik menjadi 74,71. Kenaikan nilai rata-rata diikuti dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM atau lebih. Siswa yang memperoleh nilai KKM atau lebih pada siklus II sebanyak 24 atau 85,7%. Dengan hasil tersebut dapat disimpulan bahwa pada siklus II pembelajaran dengan menggunakan tutor sebaya dinyatakan berhasil, karena telah melampaui kriteria keberhasilan pembelajaran yaitu 70% siswa memperoleh nilai KKM atau lebih.

Simpulan

Metode tutor sebaya mampu meningkatkan prestasi mapel matematika materi hitung bilangan bulat siswa kelas VI SD Negeri 1 Teluk. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 24 siswa atau 85,7% mampu mencapai nilai 68 atau lebih. Hal ini melampaui kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, yaitu minimal 70% dari siswa dapat memperoleh skor 68 atau dalam tes formatif yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. (2003). Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal. Buletin Puspendik.

Ali, Lukman, dkk. (1995). Managemen Sumber Belajar. Yogyakarta: UNY Press.

Djamarah, Syaiful Bachri. (2010). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Murniati, Endyah. (2007). Kesiapan Belajar Matematika di Sekolah Dasar. Surabaya: Surabaya Intelectual Club (SIC).

Subarinah, Sri. (2006). Inovasi Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas.

Sumardyono. (2004), Karakteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap Pembelaiaran Matematika. Yogyakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika.

Sutikno, M. Sobry. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama.

Syah, Muhibbin. (2004), Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Trianto, (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif Konsep Landasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP. Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri.

Winkel, WS. (2009). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

Yusuf dan Auliya. (2011). Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Pelatihan. Jakarta : Rine

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *