http://www.infopasti.net/upaya-peningkatan-hasil-belajar-ipa-hubungan-antar-gaya-melalui-penggunaan-alat-peraga-kit-ipa/

PTK SD IPA Hubungan Antar Gaya Melalui Penggunaan Alat Peraga KIT

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA HUBUNGAN ANTAR GAYA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA KIT IPA

 

Oleh:Wiarso, S.Pd

 

 

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten pada semester II tahun pelajaran 2015/2016. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknis tes. Sesuai dengan materi pelajarannya yaitu tentang hubungan antara gaya, gerak dan energi (gaya gesek dan gaya magnet) maka tes yang dilaksanakan adalah tes tertulis. Dari rata-rata nilai kondisi awal yang hanya 55,21 dapat ditingkatkan menjadi 71,38 diakhir siklus I dan menjadi 81,03 diakhir siklus II.Kesimpulan berdasarkan data empirik sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis yaitu : “Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar gaya bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

Kata kunci: Lembar kerja, Alat peraga KIT IPA, dan Hasil belajar

PENDAHULUAN

Mengapa hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan alam kelas V masih rendah? Apakah karena materi pelajaran Ilmu Pengetahuan alam masih terlalu sukar untuk tingkatan siswa sekolah dasar kelas V? Apakah karena alokasi waktu yang tersedia untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alamterlalu sedikit? Apakah karena tidak tepatnya teknik penanaman konsep dasar pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam? Apakah karena minimya atau bahkan tidak adanya alat peraga untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan alam? Apakah dikarenakan belum optimalnya penggunaan alat peraga untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam?

Memang banyak sekali kemungkinan penyebab masih rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPA materi pelajaran hubungan antar gaya untuk diteliti, namun tidak mungkin dalam satu kesempatan peneliti dapat untuk meneliti semua faktor penyebab rendahnya hasil belajar IPA materi pelajaran hubungan antar gaya. Agar bisa fokus dan mendalam maka hanya diambil satu kemungkinan penyebab masih rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPA materi pelajaran hubungan antar gaya, yaitu belum optimalnya penggunaan alat peraga untuk mata pelajaran IPA materi pelajaran hubungan antar gaya. Secara berjenjang peneliti ingin mengoptimalkan penggunaan alat peraga KIT IPA dalam pembelajaran hubungan antar gaya pada siswa SD Kelas V mulai dari siklus I dan lebih meningkat kwantitas penggunaan alat peraga KIT IPA di siklus II.

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah maka dibuatlah rumusan masalah dalam PTK ini sebagai berikut: “ Apakah melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar gaya bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten pada semester II tahun pelajaran 2015/2016?”

KAJIAN PUSTAKA

  1. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Hubungan Antar Gaya
  1. Hakekat Belajar

Apakah belajar itu ? banyak pakar bidang pendidikan yang merumuskan teori tentang belajar. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis menyajikan dua teori tentang belajar dari dua tokoh pendidikan, satu tokoh dari dalam negeri yaitu Masyhuri HP dan satu tokoh pendidikan dari luar negeri yaitu Withering dalam Ngalim Purwanto .

Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pada diri individu. Bahwa perubahan yang diharapakan itu berupa kemampuan-kemampuan baru dalam memberikan respon terhadap stimulus yang diterima. (Masyhuri HP, 1990 : 52). Perumusan belajar Menurut Withering (Ngalim Purwanto, 1996 : 82) belajar adalah perubahan didalam kepribadian yang menyatakan dirinya sebagai suatu pola baru daripada yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian suatu pengertian. Orang yang belajar akan memiliki kecakapan, sikap, dan kepandaian yang baru.

1.Hasil Belajar IPA

Yang dimaksud dengan hasil belajar IPA adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran IPA setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar IPA dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu.

2. Gaya

Gaya sering diartikan dorongan atau tarikan. Gaya tidak dapat dilihat, tetapi pengaruhnya dapat dirasakan. Besarnya gaya dapat diukur dengan alat yang disebut dinamometer. Satuan gaya dinyatakan dalam Newton (N) (AZMIYATI, Choiril, Depdiknas,2008 : ..)

 1.Hasil Belajar Hubungan Antar Gaya

Hasil belajar IPA yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran IPA hubungan antar gaya yang diperoleh siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester II Tahun Pelajaran 2015/2016. Hubungan antar gaya  yang dimaksud adalah meliputi kompetensi dasar 5.1 Mendiskripsikan antara gaya, gerak, dan energi melalui percobaan ( gaya gravitasi, gaya gerak, gaya magnet ).

2.Alat Peraga KIT

3.Alat Peraga

Alat peraga yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jelas, belum dimengerti ataupun masih dirasa sulit.

  •  KIT IPA

Alat peraga KIT IPA adalah kotak yang berisi alat-alat Ilmu Pengetahuan Alam tersebut mengarah pada kegiatan yang berkesinambungan atau berkelanjutan.

Menurut Purwa (2004) menyatakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa untuk berfikir logis dan sistematis sehingga mereka pada akhirnya mempunyai pola pikiran yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

KERANGKA BERPIKIR

  1. Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis dilatar belakang masalah dalam pembelajaran hubungan antar gaya pada kondisi awal guru belum melakukan optimalisasi dalam penggunaan alat peraga KIT IPA dalam pembelajaran sehingga mengakibatkan hasil belajar siswanya menjadi rendah.

  1. Tindakan

Terdorong oleh rasa tanggung jawab, peneliti sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan nilai hasil belajar siswa dikelasnya. Peneliti peneliti melakukan optimalisasi dalam penggunaan alat peraga dalam menyelenggarakan pembelajaran hubungan antar gaya. Rangkaian kegiatan optimalisasi penggunaan alat peraga KIT IPA dilakukan dalam dua siklus secara berturut-turut, yaitu pada siklus I dan siklus II. Kegiatan siklus II merupakan pengembangan dari kegiatan siklus I. Kegiatan pada siklus II lebih optimal atau lebih baik jika dibandingkan dengan kegiatan di siklus I.

Pada pembelajaran siklus I penggunaan alat peraga KIT IPA secara berkelompok, sehingga hanya ada beberapa anak yang aktif yang dapat memahami dan menguasai materi pembelajaran.

Pada pembelajaran siklus II penggunaan alat peraga KIT IPA secara individual, dalam satu kelompok setiap siswa menggunakan alat peraga KIT IPA dengan teknik secara bergantian kelompok dikarenakan jumlah alat peraga KIT IPA terbatas.

Masing-masing siklus dilaksanakan dalam waktu satu minggu. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan sesuai dengan jadwal pelajaran untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tiap minggunya. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam diberikan dua kali (setiap hari Senin dan Jum`at). Pengambilan data atau Acting selesai dalam waktu dua minggu.

  1. Kondisi Akhir

Pembelajaran dengan menggunakan prosedur PTK merupakan langkah peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Mulai dari siklus I, guru secara cermat telah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari penguasaan materi, penyusunan strategi pembelajaran, persiapan alat bantu pembelajaran sampai dengan perangkat tes akhir siklusnya. Masing-masing kegiatan mulai dari apersepsi, kegiatan inti, ampai dengan penutup telah dihitung durasinya secara cermat pula.

Alur cerita dari kondisi awal, tindakan yang dilakukan oleh guru dalam siklus I dan siklus II, sampai dengan bagaimana dugaan hasil belajar yang dicapai pada kondisi akhir, dapat dilihat dalam gambar kerangka berfikir berikut ini :
wiarsom

Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka berpikir diatas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: “Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar gaya bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

METODOLOGI PENELITIAN

Subyek Penelitian Tindakan ini adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pada semester II tahun pelajaran 2015/2016. Ditahun pelajaran 2015/2016 ini, siswa kelas V sd Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng berjumlah 19 siswa yang terdiri dari 12 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki.

Sesuai dengan obyek penelitiannya, yaitu hubungan antar gaya untuk kepentingan pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan teknik tes. Dari tiga tes yang ada, yaitu tes lisan, tertulis, dan perbuatan hanya dipilih salah satu diantaranya. Sesuai dengan obyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V ‘hubungan antar gaya’ maka bentuk tes yang digunakan untuk pengumpulan data adalah tes tertulis. Karena teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik tes tertulis maka alat pengumpulan datanya adalah berupa perangkat tes tertulis.

Analisis data dalam penelitian tidakan kelas adalah menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata kondisi awal, nilai rata-rata kondisi akhir siklus I, dan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II.

Deskriptif komparatif tersebut meliputi:

  1. Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I. Nilai rata-rata pada kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus I.
  2. Deskriptif komparatif kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata tes akhir siklus I diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II.
  3. Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir (kondisi akhir siklus II ). Nilai rata-rata kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II/kondisi akhir.

Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian mengalami peningkatan. Nila rata-rata pada kondisi awal mengalami peningkatan pada kondisi akhir. Atau dapat dikatakan pula bahwa penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir siklus II lebih tinggi daripada nilai rata-rata pada kondisi awal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi awal penelitian kelas ini, nilai hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng tahun pelajaran 2015/2016 rata-ratanya masih rendah. Hasil belajar yang masih rendah dapat dilihat pada daftar nilai yang merupakan kumpulan nilai harian. Rata-rata perolehan nilai masih belum memenuhi harapan. Dari 19 siswa kelas V yang mengikuti ulangan harian diperoleh nilai rata-rata 55,21 (lima puluh lima koma dua puluh satu ) nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 29.

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 19 siswa yang mengikuti ulangan harian hanya 4 siswa (21,05 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 15 siswa (78,95 %). KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V adalah 70.

  1. Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada   minggu ke-4 pada bulan Februari 2016. Yaitu tanggal 22 Februari 2016 sampai dengan tanggal 26 Februari 2016. Siklus I direncanakan selesai dalam waktu satu minggu. Dalam satu minggu terdapat dua kali pertemuan. Pertemuan pertama pada hari Senin tanggal 22 Februari 2016 dan pertemuan kedua pada hari Jum`at tanggal 26 Februari 2016.

Pembelajaran pada siklus I untuk menyampaikan materi kompetensi dasar 5.1 mendiskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gerak, gaya magnet), dengan indikator 5.1.1 Membandingkan gerak benda pada permukaan yang berbeda-beda(kasar-halus), 5.1.2 Menjelaskan berbagai cara memperkecil atau memperbesar gaya gesekan, dan 5.1.3 Menjelaskan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan oleh gaya gesekan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran, siswa menggunakan alat peraga secara kelompok, yaitu tiap kelompok menggunakan satu set alat peraga. Alat peraga tersebut berupa batu kecil, bola kecil, kertas HVS, kertas kardus, kertas amplas, kertas minyak, klip kertas, koin, penggaris, pensil runcing . Kegiatan  inti diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Guru membimbing siswa mencari contoh benda-benda yang permukaannya kasar dan halus.
  • Guru membimbing siswa mengadakan percobaan adanya gaya gesek yang ditimbulkan oleh suatu benda dengan alat peraga yang sudah disediakan.
  • Guru membimbing siswa untuk menjelaskan kegunaan/manfaat dan kerugian yang ditimbulkan oleh gaya gesek dalam kehidupan sehari-hari.
  • Siswa dapat mencari solusi cara mengatasi akibat gaya gesekan.
  • Guru membimbing siswa dalam usaha/cara memperbesar atau memperkecil gaya gesekan.
  • Memfasilitasi siswa untuk mengerjakan lembar kerja secara kelompok.
  • Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.
  • Guru melakukan tindakan penguatan dengan cara memberi beberapa pertanyaan.

Diakhir siklus I diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individual. Waktu yang dipergunakan tes akhir siklus I adalah satu jam terakhir, yaitu selama 35 menit.

Observing

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus I.Subjek penelitian diberi tugas untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa dengan bentuk tes pilihan ganda dan isian dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang telah dipelajari. Dari 19 siswa kelas V SD Negeri 1Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 71,38. Nilai tertinggi 90,00 dan nilai terendah 50,00.Perhatikan tabel di bawah ini :

RENTANG NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS I

NO RENTANG NILAI JUMLAH SISWA KET
1 90 s.d. 100 1
2 80 s.d. 89 6
3 70 s.d. 79 4
4 60 s.d. 69 4
5 50 s.d. 59 4

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 19 siswa yang mengikuti tes akhir siklus I terdapat 11 siswa ( 57,89 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 8 siswa ( 42,10 %). KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V adalah 70.

Reflecting

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 55,21 meningkat menjadi 71,38 pada akhir siklus I (meningkat sebesar 29,29%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 75,00 meningkat menjadi  90,00 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar  20 %) . Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 29 meningkat menjadi   50 pada akhir siklus I  (meningkat sebesar  72,41%). Perhatikan tabel berikut ini:

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS I

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS I KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 75,00 90,00 20 %
2 Rata-rata 55,21 71,38 29,29 %
3 Terendah 29,00 50,00 72,41 %
  1. Deskripsi Siklus II

Siklus II dilaksanakan minggu ke-1 pada bulan Maret  2016. Yaitu tanggal 1 Maret 2016 sampai dengan tanggal 4 Maret 2016. Siklus II direncanakan selesai dalam waktu satu minggu. Dalam satu minggu terdapat dua kali pertemuan. Pertemuan pertama pada hari Selasa tanggal 1 Maret 2016 dan pertemuan kedua pada hari Jum`at tanggal 4 Maret 2016.

Dalam pembelajaran, siswa menggunakan alat peraga secara individu, yaitu tiap siswa  menggunakan satu set alat peraga. Alat peraga tersebut berupa paku, penghapus, pulpen, peniti, magnet batang, magnet silinder/tabung, magnet jarum, magnet U, magnet ladam/tapal kuda. Kegiatan inti diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Guru membimbing siswa mencari contoh benda-benda yang yang dapat ditarik magnet dan yang tidak dapat ditarik magnet (magnetis dan nonmagnetis).
  • Guru membimbing siswa mengadakan percobaan bahwa gaya magnet dapat menarik benda-benda yang terbuat dari logam tertentu.
  • Guru membimbing siswa mengadakan percobaan bahwa gaya magnetis dapat menembus benda non magnetis.
  • Guru membimbing siswa mengadakan percobaan bahwa gaya tarik magnet dipengaruhi oleh ketebalan benda dan jarak magnet dengan benda nonmagnetik.
  • Guru membimbing siswa mengadakan percobaan bahwa gaya tarik magnet yang paling kuat terletak dibagian kutubnya.
  • Guru menjelaskan bahwa magnet mempunyai dua kutub, kutub senama tolak menolak dan kutub tidak senama tarik menarik.
  • Guru membimbing siswa untuk menjelaskan kegunaan/manfaat dari magnet.
  • Memfasilitasi siswa untuk mengerjakan lembar kerja secara individu.
  • Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.
  • Guru melakukan tindakan penguatan dengan cara memberi beberapa pertanyaan.

Diakhir siklus II diadakan tes. Dalam pembelajaran ini bentuk tes yang digunakan adalah tes tertulis. Setiap siswa mengerjakan soal-soal tes tertulis secara individual.

Observing

Setelah dilakukan penilaian, nilai rata-ratanya mencapai angka 81,03.  Padahal KKM mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng tahun 2015/2016 adalah 70. Ada 17 siswa ( 89,47 %) yang dapat mencapai nilai ketuntasan minimal. Sebanyak 2 siswa ( 10,53 %) lainya belum mampu memperoleh nilai ketuntasan minimal.

Subyek penelitian yang memperoleh nilai  90 s.d 100 ada 5 siswa, nilai 80 s.d 89 ada 5 siswa, nilai 70 s.d 79 ada 7 siswa, dan nilai 60 s.d 69 ada 2 siswa.

RENTANG NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS II

NO RENTANG NILAI JUMLAH SISWA KET
1 90 s.d. 100 5
2 80 s.d. 89 5
3 70 s.d. 79 7
4 60 s.d. 69 2

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 19 siswa yang mengikuti tes akhir siklus II terdapat 17 siswa ( 89,47 %) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 2 siswa ( 10,53 %). KKM mata pelajaran IPA kelas V adalah 70.

Reflecting Kondisi Akhir Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 71,38  meningkat menjadi 81,03  pada akhir siklus II  ( meningkat sebesar 13,52  %).  Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar  90  meningkat menjadi   100  pada akhir siklus II (meningkat sebesar  11,11 %) nilai terendah pada kondisi siklus I sebesar  50,00   meningkat menjadi  66,6  pada akhir siklus II (meningkat sebesar  33,20  %).

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

NO NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS I KONDISI AKHIR SIKLUS II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 90,00 100 11,11 %
2 Rata-rata 71,38 81,03 13,52 %
3 Terendah 50,00 66,6 33,20 %

Reflecting Kondisi Awal dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar  55,21  meningkat menjadi  81,03   pada akhir siklus II (meningkat sebesar  46,77 % ). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar  75,00  meningkat menjadi  100   pada akhir siklus II (meningkat sebesar 33,33 %). Nilai terendah pada kondisi awal sebesar  29  meningkat menjadi  66,6   pada akhir siklus II (meningkat sebesar  129,66  %)

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

NO NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
1 Tertinggi 75,00 100 33,33 %
2 Rata-rata 55,21 81,03 46,77 %
3 Terendah 29,00 66,60 129,66 %

Pembahasan Antar Siklus

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi diakhir siklus I, sampai dengan kondisi diakhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saat kondisi awal nilai rata-rata subyek penelitian hanya 55,21. Setelah peneliti melakuk can tindakan disiklus I, nilai rata-rata subyek penelitian menjadi  71,38. ketika dilakukan penilaian diakhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subyek penelitian menjadi 81,03. Data hasil belajar subyek penelitian mulai dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus II dapat disimak pada tabel berikut ini :

DATA NILAI HASIL BELAJAR SUBYEK PENELITIAN

NO KONDISI NILAI RATA-RATA
1 Awal 55,21
2 Siklus I 71,38
3 Siklus II 81,03

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi diakhir siklus I, sampai dengan kondisi diakhir siklus II ( kondisi akhir) akan lebih jelas terlihat dalam diagram dibawah ini :

wiarsoma

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subyek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis dibagian terdahulu bahwa nilai rat-rata subyek penelitian pada saat kondisi awal adalah  55,21  sedangkan nilai rata-rata subyek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah  81,03 . Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subyek penelitian mengalami peningkatan sebesar  25,82 poin ( 46,77 % ). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini :

wiarsomb

 

PENUTUP

Data-data empirik yang ditulis dengan seksama yang semuanya menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti yang berupa optimalisasi dalam penggunakan alat peraga KIT IPA dalam proses pembelajaran telah berhasil meningkatkan hasil belajar subyek penelitian dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam hubungan antar gaya. Tindakan peneliti dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari dua pertemuan. Dari dua siklus tersebut diperoleh data nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 55,21  dapat ditingkatkan menjadi 81,03 pada saat kondisi akhir.

Berdasarkan data empirik penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam  Hubungan Antar Gaya melalui Penggunaan Alat Peraga KIT IPA bagi Siswa Kelas V SD Negeri 1 Keniten pada Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016. Sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis: “Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar gaya bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini terbukti, yaitu : Melalui penggunaan alat peraga KIT IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA hubungan antar gaya bagi siswa kelas V SD Negeri 1 Keniten Unit Pendidikan Kecamatan Kedungbanteng pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

 

DAFTAR  PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dr, Prof, Penelitian Tindakan 2010, Aditya Media, Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi, 1983, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, YP  Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

AZMIYAWATI, Choiril,2008, IPA Salingtemas untuk Kelas V SD/MI , Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Masyhuri HP, 1990, Azas-Azas Belajar, IKIP Semarang Press, Semarang.

……………., 2002, Petunjuk Pelaksanaan Penilaiaan Kelas Di SD, SDLB, SLB Tingkat Dasar dan MI, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Jakarta.

 

 

BIODATA

Nama guru                  : Wiarso,S.Pd.

NIP                               : 19661216 199110 1 001

Gol / Ruang                : Pembina, IV/A

Jabatan                        : Guru Kelas

Unit Kerja                   : SDN 1 Keniten UPK Kedungbanteng Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *