Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

UPAYA PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI  PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW KELAS VII B  SMPN 1 PURWOKERTO

Oleh : Elias Noer Wibowo

ABSTRAK

Proses pembelajaran yang kurang berhasil dapat menyebabkan minat belajar siswa menjadi berkurang. Permasalahan penelitian adalah bagaimana peningkatan mutu pembelajaran Matematika setelah mengikuti pembelajaran kooperatif Jigsaw di kelas VII B SMPN 1 Purwokerto? Tujuan penelitian ini adalah ingin meningkatkan mutu dan minat siswa pembelajaran Matematika melalui pembelajaran kooperatif sehingga nilai yang diperoleh melebihi KKM yang ditetapkan sekolah. Hasil penelitian yang dapat peneliti sajikan adalah sebagai berikut: Pada siklus I setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, secara klasikal siswa yang belajar tuntas hanya 61,8%, sehingga belum mencapai ketuntasan kelas sebesar 85%. dengan hasil belajar rata-rata siswa 79,4 (3,19) dengan Predikat B sehingga belum mencapai rata-rata 80,0(3,20) dengan Predikat B+.  Pada siklus II, hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 82,6 (3,24) dengan predikat B+ dan ketuntasan belajar mencapai 81,3% atau ada 26 siswa  dari 32 siswa sudah tuntas belajar. Simpulan yang dapat diambil adalah bahwa melalui pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatan mutu proses pembelajaran yang ditandai semakin kooperatif siswa dalam pembelajaran Matematika yang berdampak pada prestasi belajar siswa.

Kata kunci : Cooperative Learning, Tipe Jigsaw, Hasil  Belajar Matematika

LATAR BELAKANG

Pelaksanaan Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintific dalam pembelajarannya adalah perubahan kurikulum untuk menjawab tantangan globalisasi. Dengan menggunakan Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintific ini diharapkan peserta didik memiliki kompetensi untuk menghadapi tantangan kehidupan secara mandiri, cerdas, kritis, rasional, kreatif dan mampu menanggapi secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta tuntutan desentralisasi.

Pada pembelajaran di SMP Negeri 1 Purwokerto, guru matematika Kelas VII B, hanya dengan pendekatan saintifik dan kurang dipadukan dengan model kooperatif sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan, mereka merasa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit. Disamping itu aktifitas siswa selama proses belajar mengajar juga masih sangat kurang sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa menjadi rendah, dengan nilai rata-rata ulangan harian pada semester gasal tahun 2015/2016 adalah 78.2 masih di bawah KKM yang telah ditetapkan.

Model pembelajaran kooperatif jigsaw, dirasa selaras dengan model pembelajaran kurikulum 2013 yang tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep matematika yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kerjasama, berfikir kritis, kemauan membantu teman dan sebagainya.  Guna  meningkatkan mutu pembelajaran di kelas VIIB SMP Negeri 1 Purwokerto dan mengatasi permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “ Bagaimanakah  peningkatan mutu pembelajaran Matematika setelah mengikuti pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di kelas VII B SMPN 1 Purwokerto?”

KAJIAN TEORI

Berhasil atau tidaknya suatu kegiatan seseorang dipengaruhi oleh tumbuhnya minat dalam diri seseorang sehingga memberikan dorongan bagi orang tersebut untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu dalam rangka mencapai tujuan. Kecenderungan rasa suka terhadap sesuatu dibandingkan dengan yang lain inilah yang disebut minat. Sikap awal yang positif berupa rasa suka dari siswa turut menentukan keberhasilan proses belajar yang dilakukan. Semakin tinggi gairah atau keinginan terhadap sesuatu menjadi langkah awal menuju keberhasilan selanjutnya.

Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.jadi disini siswa dikatakan telah mengalami kegiatan belajar jika prilakunya, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotornya telah mengalami perubahan menuju arah yang lebih baik.

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan Kelakuan. (Oemar Hamalik, 2005:36). Pendapat lain mengatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003:2).

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan tetapi tidak semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat hasil belajar.

Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif mengubah norma budaya dan membuat norma budaya lebih dapat menerima prestasi sehingga dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelsaiakan tugas-tugas akademik

Menurut Mohammad Nur (dalam Amin Suyitno, 2004: 36) mengatakan Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif yang menekankan kerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama tanpa membedakan tingkat kemampuan atau jenis kelamin atau latar belakang. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar yang menenpatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4 – 6 siswa. Model pembelajaran cooperative dikembangkan untuk mencapai sekurang-kurangnya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial. Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, model ini sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerjasama.

Langkah-lakah model pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut:

1. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4 – 6 orang pada setiap kelompok. Setiap kelompok oleh Aronson dinamai kelompok jigsaw (gigi gergaji). Pelajaran dibagi dalam beberapa bagian sehingga setiap siswa mempelajari salah satu bagian pelajaran tersebut.

2. Semua siswa dengan bagian pelajaran yang sama belajar bersama dalam sebuah kelompok dan dikenal sebagai “counterpart group” atau Kelompok Ahli (KA).

3. Dalam setiap KA siswa berdiskusi dan mengklarifikasi bahan pelajaran dan menyusun sebuah rencana bagaimana cara mereka mengajarkannya teman mereka sendiri.

4. Jika sudah siap, siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka, dan mengajarkan bagian yang dipelajari masing-masing kepada temannya dalam kelompok jigsaw tersebut. Hal ini memberikan kemungkinan siswa terlibat aktif dalam diskusi dan saling komunikasi baik di dalam grup jigsaw maupun KA. Keterampilan bekerja dan belajar secara kooperatif dipelajari langsung di dalam kegiatan pada kedua jenis pengelompokan. Siswa juga diberikan motivasi untuk selalu mengevaluasi proses pembelajaran mereka.

5. Setelah kegiatan diskusi kelompok, siswa diberikan tes secara individual.

6. Peningkatan skor individu (Skor Perkembangan). Kelompok diharapkan mencapai skor tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.

7. Penghargaan Kelompok, diberikan berdasarkan nilai rata-rata peningkatan individu seluruh anggota kelompok, ditetapkan nilai kelompok. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok sesuai dengan nilai yang dicapai. Penghargaan ini dengan pemberian medali(stiker) emas, perak dan perunggu.

Dari kajian teori di atas penulis menggambarkan kerangka pikir dalam penelitian  sebagai berikut:

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, maka dapat diasumsikan hipotesa  tindakannya adalah: Dengan menerapkan model pembelajaran  tipe Jigsaw dalam pembelajaran Matematika, maka mutu pembelajaran Matematika akan meningkat.

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMPN 1 Purwokerto   yang berjumlah 34 siswa, yang terdiri atas 14 siswa putra, 20 siswi putri., Kabupaten Banyumas, Semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Obyek penelitian ini adalah kegiatan selama proses pembelajaran dan hasil belajar. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini adalah pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2015.

Teknik pengumpulan data merupakan teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian tindakan, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kuis dan tes akhir siklus, dokumentasi serta wawancara . Setelah data terkumpul kemudian diprosentasikan, hasil prosentasi tersebut dianalisa dengan menggunakan analisi deskriftif  kwantitatif.

Keberhasilan tindakan yaitu peningkatan hasil belajar siswa dalam penelitian ini diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari nilai kuis yang  diperoleh siswa pada akhir pembelajaran.

Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar, seorang siswa telah tuntas belajar bila mencapai skor 80% atau nilai 80. Dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 80%.

Apabila kelas belum mencapai ketuntasan belajar, maka penelitian tindakan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Tindakan yang dipilih pada siklus ini direncanakan berdasarkan hasil refleksi dari tindakan pada siklus sebelumnya.

Penelitian ini dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas atau Clasroom Action Research (CAR) yang terdiri atas minimal dua siklus. Langkah-langkah penelitian yang akan dilaksanakan mengacu pada modek Kemis dan  Mc. Taggart (1988;14). Setiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Alasan peneliti menggunakan minimal dua siklus adalah agar diperoleh hasil yang optimal dari penerapan metode ini. Dari hasil refleksi siklus I akan diperoleh permasalahan yang diduga menjadi factor kendala pencapaian mutu pembelajaran dan nilai hasil belajar siswa yang belum cukup tinggi, serta diketahui factor-faktor penghambat atau kelemahan dalam proses penerapan pendekatan dan metode selama kegiatan pembelajaran siklus I. hal itu akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi perencanaan (planning) dalam siklus II.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran Sebelum Pelaksanaan

Peningkatan dalam bidang pendidikan perlu dilakukan secara terus menerus termasuk dalam pendidikan matematika. Ada beberapa masalah yang dihadapi dan salah satunya adalah masih rendahnya aktivitas belajar Matematika yang ditandai saat proses pembelajaran berlangsung banyak siswa yang tidak berani bertanya pada kegiatan “Ayo Menanya”, dalam melakukan kegiatan “Ayo Menalar” atau berdiskusi tidak aktif, berbicara sendiri, kurang berani menjawab soal, rendahnya rasa percaya diri, dan kurangnya daya kreatif siswa dalam menciptakan alternatif-alternatif baru untuk memecahkan masalah atau soal serta siswa sudah terbiasa dengan hal-hal yang bersifat rutin pada suatu pembelajaran khususnya matematika.

Selain itu, rendahnya aktivitas dan hasil belajar matematika siswa dipengaruhi juga oleh guru, yang dalam proses pembelajarannya guru tetap bertahan pada pola lama yaitu kooperatif yang konvensional yaitu dengan  kegiatan siswa adalah lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru dilanjutkan dengan diskusi.  Hal ini membuat siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran dan  membuat siswa merasa membosankan.

Hasil belajar matematika siswa dalam menyelesaikan ulangan atau ujian matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Purwokerto, peneliti belum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, belum mencapai hasil yang diharapkan. Dari 34 siswa sebanyak 22 siswa masih tergolong rendah, dengan nilai rata-rata yang diperoleh adalah 78,05 dimana Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) di SMP Negeri 1 Purwokerto yaitu sebesar 80 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%.

Deskripsi Kondisi Siklus I

Kegiatan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan alur pembelajaran yang direncanakan dalam RPP Siklus I, yakni pembelajaran saintific yang dipadukan dengan kooperatif tipe Jigsaw dengan diawali kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup yang diakhiri dengan  pemberian kuis untuk memacu aktivitas kelompok dan pemberian evaluasi (tes akhir siklus). Diakhir pertemuan, guru juga memberikan soal kuis individu dan menentukan penilaian kelompok.

Hasil belajar Matematika  yang ditunjukkan melalui hasil tes akhir siklus I, terdapat 12 siswa yang mendapat nilai di bawah 80 dengan nilai terendah 35 dan nilai tertinggi 95 serta nilai rata-rata 72,9. Berikut perbandingan nilai hasil belajar setelah diberikan tindakan pada siklus I secara lengkap dapat penulis paparkan pada tabel di bawah ini.

Dengan melihat data tersebut di atas, maka pada pembelajaran siklus I sudah nampak  perubahan baik proses pembelajaran maupun hasil belajarnya. Dan berdasarkan hasil pengamatan, hasil analisis, hasil angket dan hasil wawancara informal dengan siswa pada silkus I diperoleh refleksi pembelajaran sebagai berikut:

1. Siswa masih kelihatan canggung dalam pembelajaran dengan tipe Jigsaw. Mereka belum begitu paham dengan tugas-tugas yang diberikan guru, karena biasanya mereka pasif dalam setiap KBM. Mereka bingung ketika diskusi kelompok dan presentasi kelas. Ketika harus menerangkan kepada kelompok lain dalam diskusi kelas, sehingga sebagian besar hanya membacakan apa yang mereka tulis.

2. Siswa yang pandai terlihat menguasai/mendominasi jalannya diskusi, karena mereka memahami apa yang diminta dalam LKS yang dikehendaki guru. Di samping itu mereka terbiasa membaca atau memahami materi pelajaran.

3. Kurangnya buku sumber yang dipakai siswa, karena hanya sebagian yang memiliki buku referensi lain, selain buku paket Matematika.

4. Siswa memerlukan bimbingan dan motivasi individu atau kelompok, sehingga guru Matematika dan kolaborator ikut membimbing siswa dalam diskusi.

5. Dari 7 kelompok, 4 kelompok memperoleh penghargaan  medali perunggu (Good Team) dan 3 kelompok belum memperoleh penghargaan.

Berdasarkan hasil refleksi di atas, maka perlu dicarikan alternatif  perbaikan dari permasalahan yang berkaitan dengan menyempurnakan tindakan yang dipilih dan meningkatkan keadaan yang telah baik pada siklus I.

Deskripsi Kondisi Siklus II

Pada dasarnya pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II sama halnya dengan sikulus I. pelaksanaan pembelajaran pada siklus  I, adalah perbaikan dalam proses pembelajaran pada siklus I. berdasarkan hasil observasi,  hasil tes akhir siklus II dan diskusi dengan observer, ternyata pembelajaran Matematika dengan kooperatif tipe Jigsaw memberikan banyak perubahan aktivitas belajar siswa. Siswa merasa senang dalam pembelajaran dengan tipe Jigsaw, tanggungjawab siswa sangat nampak dan kerjasama dalam diskusi sudah semakin hidup dalam kelompok ahli maupun kelompok asal. Ketergantungan antar siswa dalam satu kelompok sangat terlihat, siswa bersemangat karena mereka tidak ingin predikat kelompoknya jelek. Hasil penilaian kelompok diperoleh,  empat kelompok memperoleh penghargaan (Great Team) atau medali perak dan satu memperoleh penghargaaan (Good Team) atau medali perunggu serta dua kelompok memperoleh penghargaan Super Time atau medali emas.

Adapun hasil belajar Matematika  yang ditunjukkan melalui hasil tes akhir siklus II, terdapat 5 siswa yang mendapat nilai di bawah 80 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 96 serta nilai rata-rata 80,0. Berikut perbandingan nilai hasil belajar setelah diberikan tindakan pada siklus II secara lengkap dapat penulis paparkan pada tabel di bawah ini.

Dengan melihat data tersebut di atas, sudah tergambar adanya peningkatan Hasil belajar Matematika pada materi Perbandingan hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata  siswa mulai dari kondisi awal, siklus I hingga siklus II. Berdasarkan hasil observasi di atas, maka peneliti beserta pengamat memutuskan untuk menghentikan penelitian ini karena indikator kinerja sudah tercapai, maka penelitian tindakan dihentikan pada siklus II.

Keberhasilan proses pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif dapat dilihat lebih jelas  dalam diagram di bawah ini.

Gambar 2: Diagram hasil belajar siswa

Gambar 3: Diagram ketuntasan belajar secara klasikal

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

Pelajaran Matematika dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan semakin kooperatifnya siswa dalam pembelajaran Matematika sejak siklus I hingga siklus II. Di samping itu kooperatifnya siswa dalam pembelajaran juga berdampak pada prestasi belajar siswa. Ketuntasan belajar secara klasikal naik secara signifikan yaitu sebesar 23,5%  dari 61,8% pada siklus I menjadi 85,3% pada siklus II. Nilai rata-rata pada siklus I sebesar 79,2 menjadi 82,6 pada siklus II. Siswa kelihatan senang dan berani mengemukakan pendapatnya di dalam kelompok ahli maupun kelompok asal.

Berkenaan dengan hasil penelitian ini, peneliti mengajak para guru untuk terus berinovasi dalam melaksanakan tugas profesinya, salah satunya dalam inovasi pembelajaran yang akan berdampak pada peningkatan kualitas proses dan hasil belajar anak bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Arens.1997. Model  Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia.

Dahar, R. W. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga, (online), (http://www.p4tkipa.org/jurnal/index.html?maman_wijaya.htm, diakses 28 Januari 2011)

Dikmenum,2005. Kurikulium Mapel Matematika (Bag. 1) Http://www.dikmenum.go.id/article.php?readld=70

Fathudin (2007), Model pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa MTs Miftahul ‘Ulum Sumbarang Jatinegara Tegal, Penelitian  UNNES

Lie, A. 2008. Cooperatif Learning. Jakarta : PT. Gramedia.

Muhammad Surya. 2008. Pengertian Pembelajaran. Diakses pada tanggal 4 Desember 2008. Tersedia dalam : http:// mrmpams.blgspot.com/2008/12/b-pengertian pembelajaran. html.\

Suherman, E, dkk.2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Surabaya: University Pres UNS

Slavin, 1999. Cooperative learnin theory, research, and practice, second edition. London Allynand Bacon.

Tim PPPG Matematika. 2006. Type Pembelajaran Matematika. Yogyakarta:

Depertemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Matematika




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *